Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 15 Rumah Baru untuk Pengantin Baru


__ADS_3

Pagi buta, saat suara adzan subuh berkumandang, Delia terbangun, biasanya ia rutin bangun jam tiga dini hari, kebiasaan saat di pesantren, namun kali ini dia baru bangun setelah jam empat subuh, mungkin karena capek karena acara kemarin.


Sebuah selimut tebal menyelimuti tubuhnya saat ini, seingat Delia dia tidur semalam tak memakai selimut, atau mungkin si lelaki menyebalkan itu yang menyelimutinya, Delia menengok ke kasur, Gibran sudah tidak ada disana, tempat tidurnya sudah rapi, membuat Delia berdecak kagum,'Cukup rajin' ucapnya dalam hati. Delia bangkit dari sofa itu dan menuju kekamar mandi, dia mendesah, bagaimana cara ia bisa keluar kamar, dia tak mungkin bisa keluar kamar dengan pakaian seperti ini. Delia ingin melaksanakan sholat subuh, tapi dikamar Gibran tak ada mukena, akhirnya Delia hanya bisa kembali lagi di sofa tempat ia tidur setelah selesai dari kamar mandi.


Tak lama kemudian, sebuah ketukan di pintu kamar membuat ia langsung bangkit dan membukanya, dan ternyata dia adalah Kalina. Adik Gibran itu menyambutnya dengan senyuman hangat.


"Kak Delia mau sholat?" tanya gadis manis itu.


"Iya, tapi kakak tidak bisa keluar dengan pakaian seperti ini!" ucap Delia dengan malu-malu.


"Ini pakaian ganti untuk kakak ya, dan ini kerudungnya juga!" ucap Kalina sambil memeberikan sebuah baju ganti.


"Terimakasih Kalina!" ucap Delia dengan tulus.


"Oh iya kakak, setelah sholat subuh, ayah sama ibu mau bicara sama kakak!" Delia sedikit terperanjat mendengar mertuanya ingin berbicara sesuatu kepadanya, hingga ia menerka-nerka pembahasan apa yang akan diutarakan mertuanya padanya.


Delia cepat bergegas mengganti pakaiannya dengan sebuah dress berlengan panjang berkain rayon twill itu. Dan segera ia pergi ke mushola rumah Gibran dan melaksanakan sholat subuh dengan khusuk.


Setelah selesai dengan sholatnya Delia langsung bergegas menemui mertuanya yang mungkin sudah menunggunya.


Delia berjalan dan melihat dari atas tangga seluruh anggota keluarga Gibran berkumpul kecuali Kalina, mereka berkumpul diruang keluarga, Delia berjalan menuruni tangga dengan perasaan canggung. Tatapan dari beberapa pasang mata sedang tertuju ke arahnya, hanya Gibran yang tak memandangnya sedikit pun, terlihat sekali bahwa pria itu memang tak menginginkan Delia dihidupnya. Tatapannya selalu dingin.

__ADS_1


Delia hanya bisa menunduk resah menantikan sesuatu hal yang ingin mertuanya sampaikan. Begitu ragu saat Delia ingin menatap kumpulan orang diruangan itu. Sekujur tubuhnya terasa dingin. Hatinya mendadak tidak tenang. Delia menghentikan langkahnya. Ia sengaja menunggu perintah salah seorang yang berkumpul disana. Akhirnya, ayah mertuanya bersuara mempersilahkan Delia duduk disebelah Gibran, Delia pun menurut, meski terasa berat berkumpul bersama mereka.


Delia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sebelumnya, ia tak pernah berada dalam posisi seperti itu. Bagaikan sidang skripsi beberapa bulan yang lalu, dengan debat panjang yang melelahkan, namun kali ini, Delia dituntut untuk tak berdebat sedikit pun, yang harus dia lakukan saat ini hanya menurut dan mendengarkan baik-baik apa yang di utarakan mertuanya.


Delia memberanikan diri memandang mereka sekilas, meminta jawaban atas panggilan mertuanya itu.


"Ayah memanggil saya?" tanya Delia sedikit kaku, dan Ayah mertuanya itupun mengangguk sekilas.


"Begini, Delia, karena kalian baru menikah, ayah harap kalian berdua bisa saling mengerti dan mengenal satu sama lain!" ujar ayah Gibran menasehati, Delia hanya diam saja, begitu pula dengan Gibran.


"Kami hanya tidak ingin kalian menjadi orang asing dalam rumah tangga kalian sendiri, kalian harus bisa beradaptasi. Perlu ayah ingatkan, pernikahan karena perjodohan itu tidaklah selalu buruk. Kalian belum mengenal, tapi mungkin setelah pernikahan ini, kalian bisa saling mengenal."


Sebenarnya Gibran sangat malas mendengarkan ceramahan ayahnya yang membahas pernikahannya dengan Delia namun dia hanya diam dan menutup diri untuk berkomentar. Ia perhatikan wanita dengan dress navy disampingnya itu. Ya, memang dia cantik, tapi dia wanita galak dan judes. Hidungnya mancung dengan pahatan sempurna, bibirnya tipis kemerahan, pipinya tirus, tulang wajahnya tegas menambah kesan galak pada dirinya. Gibran menggeleng pelan menghapus pikirannya tentang Delia.


"Oh..iya ibu..insya Allah!" ujar Gibran gelagapan.


"Ayah sudah berencana akan memajukan resepsi pernikahan kalian, dua minggu lagi!"


"Apa?" Gibran dan Delia kompak berseru terkejut.


"Iya, Tidak baik kalau ada orang menikah ditutup-tutupi. Tujuannya kan baik, untuk memberi tahu kepada masyarakat, bahwa kalian sepasang suami-istri, jadi mereka tak berpikir macam-macam tentang kalian nantinya" ujar ibu Gibran panjang lebar, membuat mulut Delia dan Gibran yang menganga terkejut kini tertutup kembali.

__ADS_1


"Sekarang ayah ingin menyampaikan sesuatu hal penting yang lain, yaitu masalah tempat tinggal kalian, Gibran, ayah sudah pernah bilang kan, kalau ayah membeli sebuah rumah untuk menantu ayah kelak?" tanya ayahnya menggegerkan ingatan Gibran.


"Oh..emh iya ayah!" ucap Gibran yang sebenarnya sudah lupa akan hal itu.


"Jadi kalian akan tinggal disana. Bisa besok, minggu depan, bulan depan, terserah kalian. Yang terpenting, ayah sudah menepati janji ayah untuk memberikan rumah itu untuk kalian berdua. Kalian bisa tinggal dirumah itu. Yang jelas tugas ayah sudah selesai, Gibran. Ayah sudah menyekolahkan kamu, dan sekarang waktunya kamu untuk memberikan nafkah pada istrimu dan anak-anakmu kelak!"


Delia begitu risih mendengar kata anak disebutkan dalam perbincangan itu.


"Dan satu lagi, ayah sudah siapkan kedudukan sebagai manager diperusahaan ayah, dan untuk melanjutkan S2 mu, ayah masih tetap akan bertanggung jawab untuk membiayainya, jadi kau tinggal mengatur waktumu, diperusahaan dan juga untuk study mu!" ucap ayah lagi, Gibran hanya mengangguk.


Orang tua Gibran menunggu respons dari Delia dan juga Gibran untuk masalah rumah yang barusan disinggung yang akhirnya mereka pun menyepakati akan tinggal di rumah itu, dan itu harus dilaksanakan besok. Dengan begitu mereka tak perlu berpura-pura di hadapan orang lain, jika mereka hanya tinggal berdua saja maka tidak akan ada orang lain yang mengganggu urusan mereka, kalau mereka dirumah itu. Delia hanya tersenyum kecut mendengar persetujuan Gibran. Sebenarnya ia sudah tau Gibran punya rencana sesuatu setelah ini.


"Dan ini cek dari ibu dan ayah, Delia. Kamu bisa gunakan uang ini untuk kebutuhan sehari-hari" kata ibu memberikan kertas bertuliskan senilai uang. Delia langsung menggeleng dan menolak pemberian mertuanya itu karena dia tak ingin dianggap matre atau semacamnya.


"ibu dan ayah tidak perlu melakukan hal ini."


Ibu Gibran lalu memberikan cek itu pada Gibran.


"Gunakan cek ini sebaik mungkin" Gibran hanya mengangguk kecil.


Sungguh bagi Gibran dan Delia, pertemuan keluarga tadi lebih menakutkan daripada sidang narapidana. Mereka harus berhadapan dengan kedua orang tua Gibran, membicarakan sesuatu yang sangat pribadi. Setelah kedua orang tua Gibran meninggalkan mereka berdua, Delia dan Gibran kini sibuk dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2