
Delia menyeret Gibran keluar dari taman belakang rumah, langkahnya berhenti saat mereka kini berada jauh dari kumpulan anggota keluarga Gibran, dan Delia pun melepaskan tangan Gibran dengan kasar, sedangkan Gibran kini hanya memasang wajah datar, dia tau apa yang akan Delia utarakan padanya.
"Kau tak bisa melakukan apapun semaumu!" kata Delia memberi peringatan pada Gibran yang terlihat tenang menanggapi keadaan itu.
Dengan ringan Gibran pun menjawab.
"Lalu aku harus berbuat apa ? Kau yang tadi memintaku untuk bersikap seolah-olah aku senang dengan semua kejutan ini !"
"Bukan itu maksudku ! Kau tak bisa semaumu menyentuh ku, kau tak bisa menjaga perjanjian kita!"
"Menjaga ? Kalau keadaan seperti tadi, apa kau bisa mengatasinya seperti perjanjian itu? Kalau begitu, ajari aku bagaimana cara mengatur strategimu itu!" ujar Gibran sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Delia hingga Delia pun melangkah mundur seketika, kalau begini ia tak bisa harus berbicara apa lagi, ia tak akan menemukan cara lain selain berpura-pura menjadi istri Gibran.
"Kita tidak seharusnya menikah!" ujar Delia kemudian.
"Aku tidak pernah mengharapkannya, jadi kau tidak perlu menyesali !"
"Tapi aku tidak ingin kau menyentuhku !"
"Kenapa? Kau adalah istriku, kenapa aku tak boleh jika hanya menyentuhmu sedikit!"
Gibran semakin mendekatkan tubuhnya pada Delia hingga Delia tak sadar ada tembok dibelakangnya dan dia semakin dipepet oleh Gibran.
Delia menelan ludahnya denga gugup, ia tak tau harus berbuat apa lagi. Laki-laki itu hampir saja memeluknya kalau saja ibunya tidak datang dengan pandangan heran dan tersenyum-senyum kecil, sontak Gibran pun langsung menjauh dari Delia dan menatap ibunya dengan senyuman tipis.
"Kalian berdua ngapain disini ?" Tanya ibunya sambil menghampiri menantunya yang sudah pucat pasi itu dan menggandeng tangannya.
"Ayo kita ketaman belakang lagi, ada kejutan buat kalian !" sontak Delia mulai menegang lagi tubuhnya.
'Kejutan apa lagi ini Tuhan !'
Seperti biasa ibu mertua Delia itu akan menuntun menantunya berjalan mendahului Gibran, sehingga tampak Gibran seperti pengawalnya.
Mereka pun tiba di beranda belakang nampak seluruh anggota keluarga pun berkumpul dan berdiri mengelilingi sebuah kue tart besar, diatasnya terdapat sebuah patung seorang gadis yang tertawa bahagia bersama pasangannya, jelas itu sungguh mengganggu pikiran Delia sejak tadi. Ia melihat senyuman gadis itu, Delia tak mungkin tersenyum sebahagia itu malahan dia akan semakin terpuruk dengan perayaan ini.
__ADS_1
Ibu mertua datang sambil membawa sebuah pisau pemotong kue yang cukup panjang, dilihat dari ukurannya memang cocok dengan kue tart yang ada dihadapannya saat ini yang besar dan tinggi. Dipegangan pisau itu berhiaskan pita berwarna merah, Ibu Gibran memberikan pisau itu pada Delia.
Delia hanya bisa menatap pisau itu dengan ragu. Ia hanya bisa membayangkan seandainya pisau ini menusuk manusia menyebalkan di sampingnya itu mungkin ia akan bahagia dan tak merasa khawatir lagi. Namun cepat-cepat Delia membuang pikiran buruknya itu dan menghembuskan nafasnya pelan.
Delia pun mulai menggerakkan pisau itu hendak memotong kue yang ada dihadapannya namun Ibu Gibran segera menghentikannya dan menyuruhnya untuk memotong kue itu bersama Gibran. Itulah yang Delia khawatirkan, semua orang disini bisa saja bertingkah aneh.
Akhirnya Gibran pun ikut memegang pisau itu dengan menyentuh tangan Delia. Sekali lagi Delia merasakan tangan lelaki itu, yang membuatnya panas dingin. Gibran mengarahkan pisau itu kearah kue tart besar itu dan mulai memotongnya, walau agak ragu Gibran melakukannya namun apa boleh buat, ini hanya akting, bukan sungguhan bagi Gibran dan Delia.
Beberapa detik kemudian setelah Delia dan Gibran berhasil melewati momen menegangkan itu, semua anggota keluarga yang ada disana pun memberikan tepuk tangan yang meriah. Tepuk tangan mereka hanya Delia balas dengan senyuman dari mulutnya yang kaku. Sementara itu Gibran menyuguhkan kue itu kepada Ayah dan Ibunya, namun Kalina tiba-tiba nyeletuk.
"Kenapa kalian tidak saling suap ?"
Ucapnya yang kemudian memicu yang lain juga menyetujui saran Kalina itu.
"Iya, ayo saling menyuapi, biar kita abadikan momennya !"
Seru Tante Eli yang sudah siap dengan kamera handphone nya.
Delia benar-benar dibuat tak berkutik kali ini, akhirnya tangan kaku itu menyuapinya dan diapun menyuapi lelaki menyebalkan itu dan..
Tante Eli sudah memotret namun..
"sepertinya kurang pas deh, Gibran kamu jangan buru-buru menjatuhkan tanganmu, coba ulangi sekali lagi, biar dihitung dulu, baru di foto !"
'Apa ? Diulangi lagi, Ya Tuhan kenapa mereka senang sekali jika aku tersiksa begini' keluh Delia dalam hati.
Akhirnya mereka pun mengulang lagi momen suap-menyuap itu, dan semua yang ada disana kompak saling menghitung, Gibran dan Delia sama-sama menganga sambil tangannya menyuapi satu sama lain.
Tapi ada yang aneh dengan hitungan mereka, sepertinya mereka sengaja berlama-lama menghitung untuk mengerjai kedua pengantin baru itu. Sialan rutuk Delia. Semua anggota keluarga bersorak ria lagi karena berhasil mengerjai Gibran dan Delia.
Akhirnya akting melelahkan itupun sudah selesai dan merekapun mulai dengan acara makan-makan.
Lauk dengan berbagai macam masakan tersedia dimeja makan. Delia menunggu antrean mengambil lauk kepiting dengan bumbu merah pedas dibelakang Kalina adik Gibran.
__ADS_1
Setelah Delia sudah mendapatkan menu makanan yang ia inginkan tiba-tiba Kalina mengajak Delia untuk makan semeja dengannya.
"Kak, makan denganku disana yuk !"
Mendengar ajakan Kalina Delia langsung tersenyum kearah gadis manis itu.
Setelah mereka duduk bersama, Kalina memperhatikan piring yang Delia bawa yang penuh dengan lauk itu, menyadari hal itu Delia jadi tak enak sendiri.
"Maaf, kakak terlihat seperti kelaparan!"
Dari tadi siang Delia memang belum makan sesuatu gara-gara sibuk berantem dengan Gibran, maka tak ayal melihat makanan sebanyak itu disini membuat Delia langsung lapar mata.
"Tidak apa-apa kak, jika kakak masih mau Kalina bisa ambilin lagi kok !" ujar Kalina sambil tersenyum dan langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Delia.
"Kakak tahu, kakak makan sebanyak itu belum apa-apa dibanding dengan kak Gibran yang bisa menghabiskan tiga piring nasi plus lauk sekaligus !" mendengar hal itu Delia sungguh terkejut, membayangkan Gibran yang sok bijaksana dan sok cuek itu ternyata juga bisa melakukan hal konyol semacam itu, Delia pun langsung tertawa hingga tersedak, iapun segera meminum air mineral yang ada dimejanya itu.
"Benarkah Gibran melakukan hal itu ?"
Tanya Delia sambil menahan tawa.
"Beneran kak, coba deh sekarang kakak lihat tuh, Kak Gibran sedang makan dengan porsi banyak, bahkan aku perhatikan dari tadi Kak Gibran bolak-balik ke meja makan untuk menambah nasi dan lauk !"
Delia menurut saja saat intruksi Kalina memaksa otaknya untuk ikut memperhatikan tingkah Gibran. Dan benar saja, melihat lelaki menyebalkan itu makan dengan rakus seperti orang kelaparan membuat Delia dan Kalina terpingkal-pingkal.
"Berhentilah mentertawakan kakakmu sendiri !" kata Delia sambil dirinya mencoba meredakan tawanya sendiri, memang lucu sekali melihat Gibran yang seperti itu.
"Oke, oke ! Kak, kapan-kapan bagaimana kalau kita liburan bersama-sama !"
Terdengar sangat menyenangkan, tapi Delia masih menimbang ucapan Kalina itu, bagaimana pun Delia membayangkan dia harus bersama keluarga Gibran dia harus akting berat.
"Jangan terlalu banyak mikir kak, mau tidak ?"
"Boleh, kapan-kapan !"
__ADS_1
Ucap Delia akhirnya.
Bersambung.....