
Gibran tersadar ketika hidungnya mencium aroma parfum yang terpercik dari kerudung Aulia, dan wajah Aulia kini semakin mendekat dan nyaris hidung mereka bersentuhan.
Gibran yang kaget tiba-tiba dengan refleks mendorong tubuh Aulia dengan kasar hingga tubuh Aulia terpental di jok mobil dan seketika mata Aulia terbelalak tak percaya dengan perlakuan Gibran terhadapnya.
"Hentikan Aulia!!!" bentak Gibran hingga membuat Aulia tersentak dan hatinya pun langsung menciut. "Apa yang kau lakukan!!?" Gibran benar-benar marah.
"Hamdan....! Aku...!?" air mata Aulia kini mengalir lagi, mengapa ia sebodoh itu melangkah tanpa berfikir, bahkan rasanya hatinya malu saat ini.
"Keluar!!!" Gibran benar-benar emosi.
"Tapi, Hamdan!" Aulia tak bisa berkata-kata lagi, hatinya hancur dan rasanya kesempatan untuk mencuri hati Gibran kembali kini telah berantakan.
"Aku bilang keluar!!!" bentak Gibran sekali lagi, mata yang dahulu memandang dengan penuh kelembutan, kini mata itu benar-benar bak mata harimau yang siap menerkam mangsa, dan seketika Aulia benar-benar merasa takut.
Seketika Aulia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Gibran, karena saking gugup dan takut Aulia tak mengetahui ada seseorang yang lewat di dekat mobil Gibran dan Aulia bertabrakan dengannya.
"Au!!" kata seseorang yang Aulia tabrak yang ternyata seorang wanita, hati Aulia semakin berdebar karena kejadian itu.
"Aulia!" kata wanita itu yang ternyata adalah Zahra.
"Maaf!!" ucap Aulia namun ia langsung berlari dengan air mata yang mengalir.
Zahra mendapati hal yang aneh, Aulia keluar dari mobil Gibran, dan Aulia seperti sedang menangis. Zahra ingin minta penjelasan pada Gibran namun mobil Gibran sudah bergerak akan meninggalkan kampus, akhirnya Zahra menahan diri untuk tidak bertanya apa-apa, lebih baik dia mengikuti Aulia yang sudah jalan seperti orang berlari itu.
Aulia terus menangis sambil berjalan, dia benar-benar tak bisa menahan tangisnya karena hatinya sangat kecewa, para mahasiswa yang kebetulan berpapasan dengan Aulia bertanya-tanya, bahkan menduga-duga melihat wanita menangis berjalan di kampus mereka.
Aulia cuek saja ketika semua mata memandangnya penuh tanya, ia terus saja berjalan sambil sesekali mengusap matanya yang penuh dengan air mata.
__ADS_1
Namun tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya dan membawanya ke suatu tempat. Aulia masih bingung saat Zahra menarik tangannya itu, namun ia tetap mengikuti langkah Zahra.
Saat mereka berada di tempat yang posisinya agak jauh dari orang-orang baru Zahra melepas tangan Aulia dan hendak meminta penjelasan.
"Ada apa denganmu?" tanya Zahra lansung bertanya. Aulia masih bingung dengan pertanyaan Zahra yang spontan itu, dia hanya diam sambil mengusap air matanya.
"Aulia!! Jawab aku? Kau keluar dari mobil Gibran dengan keadaan menangis, ada apa sebenarnya?" Zahra yang memang sedikit curiga mulai tidak sabar karena penasaran.
"Tidak apa-apa!" kata Aulia singkat dan sedikit ketus, tangisnya sedikit demi sedikit menghilang.
"Tidak mungkin tidak ada apa-apa, lalu kenapa kamu menangis?" tanya Zahra mulai sensi.
"Pleace, Zahra ini bukan urusan kamu, lebih baik kamu urus usrusanmu sendiri!" nada Aulia sedikit tegas dan kasar, Aulia pergi dari hadapan Zahra yang masih dengan ekspresi bingung dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Aulia.
"Bukankah Aulia orang baru di lingkungan kampus ini? Bagaimana mungkin dia bisa dekat dengan Gibran?" kata Zahra dalam hati.
Aulia sudah sampai di perpustakaan kampus, dia melihat Delia dari jauh sedang menata sebuah buku bersama Bu Vera, ada perasaan kesal saat ia melihat Delia yang selalu terlihat riang itu, bahkan Bu Vera selalu berkata lembut terhadapnya.
Aulia berjalan tanpa menyapa mereka berdua dia melewati mereka begitu saja, rasanya sangat malas bertutur sapa dengan Delia, apalagi pada Bu Vera yang selalu judes terhadapnya.
"Lia!!!" panggil Delia, rasa ingin menghindar dari Delia buyar sudah, ternyata Delia menyapanya terlebih dahulu, dan mau tidak mau dia harus menoleh pada Delia dan berpura-pura senyum padanya, rasanya malas dan berat sekali bagi Aulia.
"Del..! Aku ke atas dulu ya!" ucap Aulia dengan senyum yang kaku, melihat wajah Bu Vera yang sepertinya cuek terhadapnya, dan Aulia merasa bodo amat terhadap wanita tua itu.
Delia hanya mengangguk ramah dan melanjutkan aktifitasnya menata buku-buku bersama Bu Vera. Aulia berjalan menaiki tangga menaruh tasnya dengan kasar di mejanya.
Hari ini adalah hari yang benar-benar membuat Aulia kacau, gara-gara kejadian di mobil Hamdan, rasanya dia tak cukup punya muka lagi muncul di hadapan lelaki itu, ini benar-benar sial, rutuk Aulia dalam hati.
__ADS_1
Suara derap langkah kaki berjalan di tangga, Aulia sudah mengira bahwa dia adalah Delia, wanita yang paling tidak ingin ia lihat hari ini, namun Aulia hanya bisa pasrah dengan keadaan yang membawanya ke lingkungan yang selalu berhubungan dengan Delia bahkan dengan Hamdan, bukankah itu tujuannya datang ke Jakarta. Namun setelah ia bisa bertemu dengan Hamdan malah seperti ini jalan ceritanya, ini benar-benar sial bagi Aulia.
"Lia, ini buku register yang harus kamu lengkapi ya!" ucap Delia dengan senyum tulus, dan selalu hangat pada Aulia. Sungguh Aulia tak mengharap senyum itu dari Delia, itu sungguh membuatnya tersiksa.
"Ba..baik..lah..!!" ucap Aulia terbata-bata sambil menunduk.
"Ya sudah, kalau ada sesuatu yang tidak kamu mengerti kamu bisa panggil aku ya, aku ada di bawah bantu Bu Vera menata buku!" ucap Delia lagi sambil berlalu dan Aulia hanya mengangguk.
Setelah Delia pergi, Aulia menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Seharusnya dia pulang saja tadi, karena dia yakin bahwa pekerjaannya hari ini pasti akan berantakan, karena suasana hatinya.
Namun Aulia tetap membuka pekerjaannya itu, dari pada kena omel oleh Bu Vera yang mungkin akan menambah buruk suasana hatinya.
Aulia membuka-buka dan menulis sesuatu, sungguh suasana hatinya tambah memeperburuk pekerjaannya, hingga membuat Aulia sebal dan tak sengaja mencoret buku itu, dan dia harus menghapus coretan itu.
"Ahhggrrhhh!!! Ya Tuhan, mengapa begini amat nasib aku!!" ucap Aulia pada diri sendiri.
Aulia mencari-cari penghapus untuk menghapus tulisan yang salah itu, namun apa yang terjadi dia malah tak membawanya dan dia benar-benar marah sendiri dengan memukul-mukulkan tangannya di meja.
Aulia mencari-cari ke meja Delia, siapa tahu Delia punya penghapus dan menyimpannya di meja, Aulia begitu sibuk membuka-buka laci di meja Delia.
Namun matanya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya, sebuah lembaran berwarna biru muda, bertuliskan tinta warna-warni sungguh manis sekali. Aulia ingin membiarkan kertas biru muda itu, namun karena dia begitu penasaran, akhirnya dengan tanpa ijin dia pun membukanya dan sungguh terkejut saat membaca isinya.
Seulas senyum terukir di wajah Aulia, perasaannya yang sedari tadi begitu buruk, kini berubah seratus delapan puluh derajad, bahkan perasaannya saat ini begitu bersemi, seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa.
"Baiklah, hari ini aku harus semangat dan melakukan pekerjaan hari ini dengan baik!" ucap Aulia pada diri sendiri, senyumnya selalu terukir di wajahnya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa kasi like ya, berikan cintamu pada author dengan selalu memberi jejak dukungan kalian😘