Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 16 Perubahan Sikap Gibran


__ADS_3

Pelaksanaan pesta resepsi pernikahan Delia dan Gibran sudah berlangsung tiga hari yang lalu, semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada yang tahu bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya. Namun, entah mengapa sejak resepsi pernikahan kemarin, Delia merasa ada yang aneh dan berbeda dari sikap Gibran. Dia lebih pendiam, sedikit mengurangi volume perdebatan terhadap Delia, dia juga sering pulang malam, walau jarang terlibat dalam suatu percakapan yang serius dengan Delia, namun sikap Gibran masih dingin.


Siang ini, Delia berdiam diri dirumah tanpa ada orang yang mengganggunya, Delia pun bisa bersantai karena baru saja dia mendapat pesan dari Gibran yang mengatakan akan makan di luar. Itu adalah kesenangan tersendiri dalam hati Delia, walaupun agak aneh, karena Gibran tidak suka makan di luar, dia lebih suka makanan rumahan.


Seharian penuh ini Delia bisa bersantai dulu sebelum ia nanti berhadapan dengan Gibran lagi. Delia memutuskan untuk berbaring di sofa sambil mendengarkan lagu favoritenya di handphone sambil menggunakan handseat dan tak lupa makan cemilan dalam toples yang sudah tinggal setengah itu, betapa enaknya rasanya.


Namun perasaan santainya itu tidak berlangsung lama manakala Delia mendengar suara pintu dibuka oleh seseorang, yang membuat Delia bangkit seketika, dan kedua netranya melihat si pembuka pintu itu, seraut wajah dingin yang tiba-tiba masuk dan mengucapkan salam dengan ekspresi datar.


"Assalamualaikum!" ucap Gibran tanpa menoleh pada Delia dan langsung pergi begitu saja ke kamarnya.


"Walikumsalam!" ucap Delia dengan perasaan heran.


'Baru saja bisa santai, sudah datang lagi, padahal belum jam pulang!' ucap Delia dalam hati.


Tak berselang lama Gibran keluar dari dalam kamarnya dan membawa tas laptop, mungkin ia pulang karena untuk mengambil laptopnya yang ketinggalan, dan nampaknya dia akan pergi lagi setelah ini. Namun karena merasa tak enak dari kemarin hanya diam tanpa bercakap dengan Gibran akhirnya Delia memberanikan diri untuk membuka percakapan dengan lelaki itu, walau sekedar percakapan ringan.


"Gibran!" panggil Delia, yang membuat Gibran langsung menghentikan langkahnya dan menoleh pada Delia dengan wajah datar.


"Apa kau sudah makan?" tanya Delia dengan sedikit gugup karena tatapan Gibran masih terlihat dingin.


"Sudah!" hanya sesingkat itu, tapi rasanya Delia ingin melanjutkan percakapan itu.


"Apa kau sibuk!" ucap Delia, pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa dipikirkan oleh Delia sebelumnya.'Kenapa aku jadi kepo gini sih' kata Delia dalam hati, sebal dan bingung dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa?" Gibran tak menjawab pertanyaan Delia, malah dia balik bertanya. Dan pertanyaan itu lagi-lagi membuat Delia bingung harus menjawab apa, namun ia tidak mengabaikan pertanyaan Gibran itu, malahan ia mencari kata-kata lagi untuk disampaikan. Delia menggigit bawah bibirnya dan berkata.


"Nanti malam kau pulang telat atau tidak?".


Gibran tak segera menjawab, sepertinya ia menimbang-nimbang jawabannya.


"Aku tidak tahu. Di kampus masih banyak pekerjaan, tugas kuliah belum selesai, mungkin aku lembur," Gibran menjawabnya dengan nada lelah. Sepertinya dia memang memiliki tugas yang menumpuk.


Delia hanya diam, dia tak tau harus berbicara apa lagi, karena sepertinya Gibran buru-buru akan kembali lagi ke kampusnya.


"Jika tidak ada yang mau kau sampaikan lagi, aku akan pergi lagi ke kampus!" ucap Gibran dengan nada sinis, membuat hati Delia merasa di cubit dan seketika itu Delia merasa sebal.


"Pergilah!!" ucap Delia tak kalah sinis.


Gibran mulai melangkahkan kakinya namun dia berhenti lagi dan kembali menatap Delia.


"Maksud kamu apa Gibran?" ucap Delia gusar.


"Maksud aku, aku akan belajar untuk sering berada jauh dari mu!" mendengar itu seketika Delia bangkit dari sofa.


"Jika memang ada masalah, jelaskan padaku, jika mungkin aku punya salah padamu, katakan saja padaku, agar semua jadi fair."


"Tidak, kau tak salah apa-apa, hubungan ini yang salah!"

__ADS_1


Delia semakin terperangah mendengar kata-kata Gibran itu.


"Jika memang hubungan ini salah, mengapa kau tak menceraikanku saja!" ucap Delia sedikit berteriak, dan Gibran hanya menggeleng pelan.


"Kenapa? Kau tau mau berpisah denganku, tapi kau selalu ingin menjauhiku! Apa bedanya jika kita bercerai saja!" hati Delia semakin gusar dan frustasi.


"Maaf kan aku, tapi bisakah kau tidak membahas hal itu untuk saat ini? Kita baru kemarin melaksanakan resepsi pernikahan, apa kata orang tua kita nanti, apa kau ingin melihat mereka sedih!"


Jelas hati Delia tak ingin membuat hati orang tuanya bersedih, apa lagi jika ia mengingat ibu Gibran, wanita itu selalu memperlihatkan kasih sayangnya terhadap Delia, dia sama sekali tidak punya niatan untuk menyakiti hatinya, tapi dia sungguh tak tahan jika harus hidup bersama Gibran yang selalu dingin dan menyebalkan, entah sebenarnya apa yang Delia inginkan saat ini, apa dia harus memperbaiki hubungannya denga Gibran atau dia ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Gibran.


Delia menunduk murung, perasaannya saat ini benar-benar kacau, namun tak disangka Gibran mendekat pada Delia, membuat Delia langsung terkesiap. Gibran metap mata Delia dalam, seakan banyak uneg-uneg dikepalanya yang ingin dia sampaikan pada Delia.


"Aku hanya ingin menjadi apa yang kau inginkan, jika kau lebih suka aku tak berada di dekatmu, maka aku akan berusaha jauh dari mu!" Delia tak bisa berkata-kata lagi, apa yang dikatakan Gibran sungguh menerobos hatinya, membuat otaknya berfikir berat dan berusaha mencerna kata-kata Gibran, apakah itu artinya dia sudah lelah jika hanya berdebat dengan Delia, dan ingin hubungan ini berjalan normal tanpa harus diisi dengan perseteruan saja.


"Jika aku ingin kau disini?" ucap Delia, sungguh kata-kata itu terlontar begitu saja, Delia pun terkejut dan sebal dengan mulutnya sendiri, mengapa dia harus mengatakan hal itu kepada pria yang selalu membuat hatinya sebal.


Dan tanpa disangka Gibran kembali bergerak dan semakin mendekat pada Delia, membuat Delia takut dan memejamkan matanya.


"Aku akan selalu menjadi yang kau inginkan, dan aku akan selalu berada didekatmu, jika kata-katamu itu memang benar keinginan dari hatimu!" ucap Gibran membuat Delia semakin terkejut lalu membuka matanya. Gibran pun segera pergi dari hadapan Delia dan mengucap salam.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam!" jawab Delia, dengan perasaan yang campur aduk, Delia kembali duduk pada sofa, suara deru mobil Gibran kini terdengar meninggalkan rumah.

__ADS_1


Sungguh hati Delia bertanya-tanya, kenapa Gibran mengatakan hal itu padanya, apakah kini Gibran sudah mulai ingin membuaka hatinya untuknya. Delia tak tau apa yang sebenarnya ada dalam fikiran laki-laki itu.


Bersambung....


__ADS_2