Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 48 Kerja Lagi


__ADS_3

Hari ini Delia berencana akan memulai aktifitasnya lagi, setelah sekian lama cuti dari kerja, dia akan kembali melakukan pekerjaan, alias kerja lagi di kampus tepatnya di perpustakaan tempat ia bekerja. Delia sudah tidak sabar ingin beraktifitas kembali bahkan sudah rindu sama teman-teman kerja yang lain. Walaupun harus melewati perdebatan yang panjang antara Delia dengan Gibran. Menurut Gibran Delia masih harus istirahat dan tak boleh terlalu banyak beraktifitas berat, namun Delia berdalih jika hanya berdiam diri dirumah Delia akan merasa stres dan itu akan memperburuk kehamilannya juga.


Akhirnya setelah Gibran menimbang itu semua, dia pun mengijinkan Delia untuk kembali beraktifitas lagi, toh pekerjaan Delia nggak begitu berat, hanya duduk sambil mendata buku, kalau nggak ada buku yang harus didata ya bisa santai sambil sesekali baca buku dan minum kopi. Itu dulu sebelum Delia hamil dia pasti akan baca buku sambil menikmati minuman bercaffein itu, tapi sepertinya susu hangat akan lebih enak ditengah kondisi kehamilannya saat ini.


Jadi ingat sama orang yang selalu memesankan susu hangat untuk Delia, siapa lagi kalau bukan Pak Edo, setelah dua minggu tak bersua dengannya entah perubahan apa yang ada pada dirinya. Delia benar-benar sudah kangen sama Pak Edo dan Bu Vera, teman kerja Delia di Perpustakaan, dan Delia sudah menyiapkan buah tangan kecil untuk mereka yang Delia beli saat di Paris dan tak lupa Delia membuat salad buah untuk cemilan buatnya nanti. Akhir-akhir ini Delia lebih suka mengkonsumsi makanan segar seperti buah.


Setelah selesai membuat sarapan untuk Gibran dan dirinya, Delia pun memanggil suaminya itu untuk segera sarapan. Mereka pun menikmati sarapan mereka walau hanya dengan lauk omelet dan nugget goreng tak lupa saus sambal.


Gibran memang tak pernah rewel dengan menu apapun yang Delia buat, dia selalu menikmati makanan itu dengan lahap membuat Delia bersyukur dalam hal itu. Sesekali Delia melirik suaminya yang sedang makan itu, semakin terlihat ganteng saja di mata Delia, membuat Delia senyum-senyum sendiri.


"Kenapa?" tanya Gibran yang memergoki Delia menatapnya sambil senyum-senyum.


"Hah? Apa?" kata Delia seperti orang blo'on. "Kamu senyum-senyum sendiri sambil liatin aku, apa ada yang aneh sama aku?" Gibran memeriksa dirinya sendiri.


"Nggak kok, gak ada yang aneh, kamu makin Ganteng aja!"


"Hmm! Bisa aja!" ucap Gibran sambil senyum "Beneran sayang, aku nggak bohong!" ucap Delia benar-benar serius.


"Ya sudah, kamu lebih baik cepat habiskan sarapannya, jangan sampai menu sarapanku selanjutnya adalah kamu ya!" ucap Gibran sambil melahap suapannya yang terakhir, dan itu membuat Delia terpingkal hingga tersedak.

__ADS_1


...****************...


Gibran telah memarkirkan mobilnya di tempat parkir kampus, seperti biasa sebelum keluar dari mobil mereka selalu melakukan ritual dulu yaitu cium pipi kanan dan kiri, cium hidung kening dan tak lupa kecupan bibir, biasanya gak pernah pake kecupan segala, tapi karena efek gak berhubungan suami-istri, membuat Gibran sedikit geregetan dan gemas pada Delia, hingga Gibran kebablasan menggigit bibir bawah Delia.


"Aww!! Sakit tau! Lipstik aku jadi nggak rapi nih!" Delia sedikit sebal pada Gibran. Namun Gibran hanya tertawa dan keluar dari mobil, sedangkan Delia masih merapikan lipstiknya sebelum keluar.


Setelah rapi kembali Delia keluar dari mobil dan langsung berjalan menyusuri koridor kampus bersama Gibran, rasa nyeri dibibir Delia masih terasa akibat gigitan Gibran, namun walaupun Delia sebal tapi sebenarnya dia senang diperlakukan demikian oleh suaminya itu.


Sampai di depan Perpustakaan, Gibran pamit tidak mengantar Delia sampai atas tempat meja Delia, biasanya Gibran akan menemani Delia sebentar di tempat Delia kerja namun karena dia harus pergi ke kantor kemahasiswaan, akhirnya dia pun hanya bisa mengantar Delia sampai depan perpustakaan saja, dan Delia sungguh tak keberatan dengan hal itu.


Delia berjalan melewati meja Pak Edo, namun nampaknya dia masih belum datang, mejanya masih kosong, biasanya jam segini dia sudah stan by di meja kerjanya sambil membaca sebuah buku fiksi dan tak lupa segelas susu hangat di meja kerjanya, namun kini gelas susu itu tak nampak di meja kerjanya, entah tak seperti biasanya saja Pak Edo terlambat datang ke Perpustakaan. Padahal Delia ingin menyapanya dan memberikan bingkisan kecil yang sudah ia siapkan untuknya.


"Assalamualaikum, Bu Vera!" ucap Delia. "Wa'alaikum salam, masya allah, yang baru datang bulan madu!" kata Bu Vera sambil tersenyum dan menerima uluran tangan Delia.


"Saya ada sesuatu untuk Bu Vera!" ucap Delia sambil mengambil bingkisan kecil itu di tasnya. Sebuah gantungan kunci berbentuk menara eiffel yang Delia beli waktu itu di Paris.


"Masya Allah terimakasih Delia!" nampaknya Bu Vera menyukai oleh-oleh dari Delia itu.


"Pak Edo belum datang ya Bu?" tanya Delia.

__ADS_1


"Loh, Pak Edo sudah resign, sudah sekitar satu minggu yang lalu!" sungguh Delia kaget mendengar berita itu.


"Kenapa resign, bu?" tanya Delia yang rasanya sedih karena teman baiknya ternyata harus resign.


"Saya juga tidak tahu alasan dia, karena dia memang tak pernah terbuka kepada saya." terlihat wajah sesal Bu Vera.


"Jadi, siapa yang menjadi pengganti Pak Edo sebagai Kepala Perpustakaan, bu?"


"Untuk sementara saya yang di tunjuk oleh kepala rektorat, sampai ada kebijakan lagi!" ucap Karyawan senior itu.


"Jadi kita saat ini kekurangan staf ya bu?" "Tidak juga, karena setelah Pak Edo resign dari pekerjaannya ada staf baru yang masuk, tapi dia sering terlambat, dan nggak konsisten, bahkan gak mau rajin, saya sampai pusing sebenarnya, kalau bisa nanti kau ajarin anak baru itu!" keluh Bu Vera.


"Siap Bu, nanti Delia akan mengajarinya!" ucap Delia, walau rasanya masih nggak percaya dengan resign nya Pak Edo, namun dia harus tetap semangat bekerja. Delia berjalan menaiki tangga, menuju meja kerjanya yang sudah sekitar dua minggu ini ia tinggalkan.


Jam-jam segini perpustakaan memang masih sepi, apalagi di lantai atas. Delia berinisiatif untuk menyapu lantai atas dan merapikan rak-rak buku yang berantakan dan mengembalikan buku-buku yang berada di meja baca ke rak buku sesuai dengan genrenya, lumayan pagi-pagi sudah berolahraga, dan itu bagus untuk ibu hamil seperti dirinya.


Delia merapikan meja kerjanya, yah! Lumayan berdebu, Delia sampai menutup mulut dan hidungnya dengan hijab, setelah selesai membersihkan meja, Delia membuka laci mejanya, dan Delia menemukan sesuatu disana.


Sebuah surat dengan amplop berwarna biru muda dan bertuliskan 'From Delia' membuat Delia benar-benar penasaran, apakah ini sebuah surat, batin Delia yang hanya bisa menduga namun ia ragu untuk membukanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2