Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 45 Tuan dan Nyonya yang baik hati


__ADS_3

Dering telephon mengagetkan seorang wanita yang tengah menikamati sarapannya, entah mengapa tiap kali ada telephon masuk, dia selalu merasa takut dan waspada, apalagi saat ia mendapat telephon pada pagi buta tempo hari, suara lelaki yang terdengar kasar dan menakutkan itu tengah mengacamnya akan mencarinya dimanapun ia berada, dan pastinya akan membuat perhitungan padanya dan lelaki pujaannya itu, rasa frustasi selalu bergelayut di hatinya, karena sang pujaan hati masih belum tau dimana keberadaannya, sudah satu minggu dia berada di Jakarta.


Ia mengangkat telephonnya yang ternyata adalah rekan kerjanya, yang menyuruhnya agar datang lebih awal karena akan ada buku-buku baru yang harus di data. Wanita itu dengan segera menghabiskan sarapannya dan tidak lupa segera memesan taxy online untuk mengantarnya ke tempat kerja.


Tak lupa ia selalu mengunci pintu dan jendela dengan rapat, karena yang dia dengar dari beberapa sumber di media sosial, bahwa Jakarta itu adalah kota keras, bagaimana tidak, terlalu banyak penjahat yang berkeliaran di malam ataupun di siang hari, rumah yang dijaga satpam saja bisa dibobol rampok, apalagi dia hanyalah seorang wanita pendatang dan tinggal seorang diri di rumah kontrakan.


Namun apapun itu, dia tak pernah takut pada siapapun sekalipun itu rampok, yang dia takutkan hanyalah lelaki yang selalu menelephone dan mengancamnya, yang membuatnya kadang tak bisa tidur semalaman karena waspada, dia takut lelaki itu akan datang menjemputnya dengan paksa.


Dia pun berjalan dan menunggu taxy online pesanannya di depan rumah. Sebuah rumah mewah didepan rumahnya selalu mencuri perhatiannya dikala ia sedang menunggu taxy didepan rumah, bagaimana tidak, selama ia tinggal di rumah kontrakannya, rumah mewah itu selalu nampak sepi, seperti tak ada penghuninya bahkan gerbangnya nampak di gembok, atau mungkin rumah itu telah ditinggalkan oleh penghuninya, dari rumah-rumah yang lain di kompleknya, memang hanya rumah itu yang nampak mewah dan minimalis, pemiliknya sudah pasti orang kaya, pikirnya. Suara clakson mobil mengagetkannya dari lamunannya tentang rumah mewah itu, akhirnya dia pun bangkit membuka pintu taxy dan masuk kedalamnya. Suara deru mobil pun terdengar.


*****


Gibran bersiap packing barang-barang mereka yang ada di Hotel, sedangkan Delia hanya duduk di balkon menikmati sarapannya sambil memandang menara eiffel diseberangnya, tangannya masih tertancap selang infus.


"Sayang! Kamu nggak sarapan dulu?" kata Delia, mengingatkan Gibran agar memakan sarapannya, sebenarnya dia kasihan pada Gibran, sedari tadi Gibran mengurusnya dari mandi hingga packing-packing barang.


"Sebentar sayang, tanggung!" ucap Gibran sambil memasukkan alat-alat make-up Delia yang ada di meja rias.

__ADS_1


"Kamu dari tadi belum makan sesuatu loh!"


"Iya!" Gibran pun menghampiri Delia yang ada di balkon, dia duduk di samping Delia sambil memakan roti buggetinya dengan selai kacang.


"Kau jangan terlalu banyak minum minuman bercaffein, nggak baik untuk kesehatan!" kata Gibran yang sedari tadi melihat Delia meminum kopi. Delia hanya nyengir saat Gibran menyinggung minuman favoritnya itu.


Pintu kamar tiba-tiba diketuk, Gibran dengan sigap bangkit dan membuka pintu kamar. Ternyata mereka adalah Tuan Aderald dan Nyonya Emilie dan juga seorang Dokter yang tadi malam memeriksa keadaan Delia.


"Selamat Pagi Gibran!" ucap Tuan Aderald, dan mereka pun di persilahkan masuk oleh Gibran. Nyonya Emilie langsung menghampiri Delia yang berada di balkon.


"Alhamdulillah sudah mendingan, Bu! Terima kasih atas bantuannya semalam!" ucap Delia dengan tulus.


"Tidak usah sungkan, aku ini ibumu, Ibu sangat khawatir kepadamu, yang penting kamu harus jaga kesehatan ya, untuk kesehatan bayimu juga!" Nyonya Emilie pun memapah Delia untuk masuk kekamar, Delia akan di kontrol kesehatannya oleh dokter yang samalam menangani Delia.


Dari hasil pemeriksaan Dokter itu, kesehatan Delia sudah 75% pulih dan selang infusnya sudah di buka, rasa nyeri di perut Delia memang sudah hilang dari semalam, walau Delia masih belum boleh melakukan perjalanan jauh. Selesai memeriksa Delia, dokter itu pun pamit setelah memberi beberapa vitamin yang harus Delia minum.


Pintu kamar diketuk lagi oleh seseorang, yang ternyata adalah pelayan hotel yang memberikan sebuah kursi roda, Delia sempat bingung mengapa pelayan hotel itu mengantar kursi roda kekamar, ternyata memang Nyonya Emilie yang memintanya tadi ke resepsiaonis agar menyiapkannya.

__ADS_1


"Sayang! Kata Dokter kesehatanmu masih belum sepenuhnya pulih, jadi kamu naik kursi roda saja ya, biar tidak kecapekan!" ucap Nyonya Emilie, mendengar itu Delia menjadi sungkan, apalagi dia sudah mendingan dan sanggup untuk berjalan, namun jika menolak kebaikan Nyonya Emilie sungguh tak punya hati rasanya. Delia melirik pada Gibran, melihat bagaimana responnya, namun ternyata dia pun mengangguk pada Delia, dan itu artinya dia setuju jika Delia menaiki kursi roda itu.


Setelah check-out dari hotel, mereka pun pergi kerumah Tuan Aderald, Delia dan Gibran akan tinggal disana beberapa hari hingga kesehatan Delia pulih sepenuhnya, dan Gibran sudah mengabari orang tuanya maupun orang tua Delia bahwa mereka akan terlambat pulang, namun tak memberitahukan perihal kondisi Delia, agar mereka tidak khawatir.


Sampai di rumah istana Tuan Aderald, mereka begitu disambut oleh pelayan-pelayan Tuan Aderald, jamuan makanan sudah tersedia di meja makan dan pastinya apa yang mereka persiapkan adalah makanan yang halal, karena Nyonya Emilie mengatakan bahwa tamunya yang akan datang nanti adalah orang muslim bahkan Nyonya Emilie mengundang seorang chef yang berasal dari Indonesia yang kebetulan juga memang berada di Perancis saat ini karena mengikuti organisasi chef Perancis The Disciples Oscoffier yaitu Chef Stefu Santoso, bahkan dia melakukan atraksi memasak Teppanyaki di depan Delia dan yang lainnya untuk menyenangkan hati tamu Tuan Aderald dan Nyonya Emilie. Sungguh hati Delia begitu senang dan terharu, karena bisa dipertemukan dengan orang-orang seperti Tuan Aderald dan Nyonya Emilie yang begitu baik hatinya.


Acara penjamuan selesai, Delia dan Gibran diantar oleh Nyonya Emilie dan seorang pelayan untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Kamar yang begitu cantik dan mewah, seperti kamar-kamar seorang putri kerajaan di negeri dongeng, bahkan Delia tak pernah membayangkan akan merasakan tidur di kamar seperti ini, kalau bukan karena kebaikan Tuan Aderald dan Nyonya Emilie mungkin Delia tak akan pernah merasakan tidur ditempat seperti ini.


"Kalian beristirahatlah dulu, jika perlu sesuatu, kalian tinggal mengatakannya pada pelayan!" ucap Nyonya Emilie.


"Delia, kau harus jaga kesehatanmu, nanti kita ambil buah segar di kebun, karena wanita hamil harus banyak makan buah segar untuk kesehatan bayimu!" ucap Nyonya Emilie lagi dengan lembut sambil mengusap perut Delia.


"Iya ibu!" ucap Delia dengan senyum.


"Semoga kamu betah tinggal disini ya!" ucap Nyonya Emilie dan ia pun oergi meninggalkan Delia dan Gibran untuk beristirahat, Setelah kepergian Nyonya Emilie, Gibran mengajak Delia untuk segera beristirahat dan mengingatkan Delia untuk segera meminum vitaminnya. Sepertinya Gibran akan lebih posesif pada Delia.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2