Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 43 Ada apa dengan Delia?


__ADS_3

"Nampaknya kau semangat sekali hari ini!?" kata Gibran sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Delia yang sedang buru-buru mengeringkan rambutnya yang basah.


"Sudah pasti lah, kau akan mengajakku menaiki menara itu!" ucap Delia sambil tersenyum dan menunjuk ke Menara Eiffel.


"Sebaiknya kita sarapan dulu!" ucap Gibran sambil membuka sarapannya dan memulai menikmati sarapannya itu sambil menunggu Delia yang sedang memakai sebuah kerudung segi empatnya.


"Kau bilang di Menara Eiffel ada restaurantnya?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Kenapa kita tidak sarapan disana saja?" rengek Delia.


"Jangan, aku yakin kau tak akan sempat untuk sarapan jika disana, lebih baik kita sarapan dulu disini, jangan sampai perutmu kosong saat kita jalan-jalan nanti!"


"Baiklah!" kata Delia yang akhirnya mau memakan sarapannya itu. Delia yang sudah tidak sabar ingin segera pergi jalan-jalan hanya memakan dua gigitan roti saja, lalu meminum susu hangatnya.


"Kenapa tidak di habiskan sarapannya?" tanya Gibran.


"Sudah kenyang!" kata Delia sambil nyengir.


"Mubadzir!" kata Gibran sambil sedikit melotot pada Delia, dan akhirnya dengan terpaksa Delia memakan roti pain aux itu dengan habis.


Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka akhirnya turun menaiki lift dan seperti biasa menitipkan kunci kamar mereka ke resepsionis yang ramah itu.


"J'espere que vous etes heureux aujourd'hui!" (Semoga hari kalaian bahagia).


ucap resepsionis dengan papan nama Pauline itu dengan senyum manisnya.


"Merci!" ucap Delia yang sudah sedikit banyak paham dengan bahasa Perancis. Delia begitu semangat sekali hari ini, saking semangatnya dia sedikit tergesa-gesa berjalan, hingga ia tak menyadari bahwa dia menabrak seseorang yang akan masuk ke hotel. Seorang lelaki dengan tubuh tinggi besar, khas orang Afrika itu menabrak tubuh Delia yang terbilang mungil, hingga Delia terpental ke belakang, beruntung dengan sigap Gibran menangkap tubuh Delia, hingga Delia tak terjatuh.


"Sorry i did not mean it!" ucap lelaki itu, nampaknya ia juga tidak sengaja menabrak Delia karena dia berjalan sambil menerima telephone.

__ADS_1


"it's oke, my wife also didn't do it on purpose!" ucap Gibran sambil memapah Delia yang sepertinya sedikit kesakitan. Dan nampaknya lelaki itu tak mau memperpanjang hal itu, dia pun langsung pergi setelah meminta maaf pada Gibran dan Delia.


"Apa ada yang sakit?" tanya Gibran.


"Sedikit, tapi sudah tidak apa-apa!" kata Delia yang sedikit menahan rasa sakitnya itu, agar Gibran tak memperpanjang, bisa-bisa rencana jalan-jalan ke menara Eiffel akan tertunda.


"Apanya yang sakit?" tanya Gibran dengan wajah serius, nampak dia sangat khawatir pada Delia, karena sedari tadi wajah Delia terlihat meringis seperti menahan sakit dan tangannya memegangi perut bagian bawahnya.


"Sudah, aku tidak apa-apa, sebaiknya kita pergi sekarang!" ucap Delia mulai merengek lagi.


"Ya sudah, makanya kalau jalan hati-hati, jangan terburu-buru!" kata Gibran sedikit dongkol pada tingkah Delia.


"Baik boss!" ucap Delia sambil nyengir.


Mereka pun melanjutkan berjalan-jalan menuju menara Eiffel yang memang sangat dekat dengan hotel yang mereka tempati, cukup dengan berjalan kaki saja, sambil menikmati pemandangan sekumpulan burung-burung yang sedang beterbangan, dan bunga-bunga musim semi yang berwarna-warni, sungguh membuat Delia melupakan rasa sakitnya yang sedari tadi teramat nyeri dia rasakan.


"Sayang, lihat deh! Itu ada kolam air mancur, aku pengen main air disana!"


Melihat ada kolam air mancur Wasarwa di Trocaderro membuat Delia kembali bersemangat, dan rasanya ingin bermain air. Dengan bersemangat Delia pun berlari dan lansung membuka sepatunya, duduk di tepi kolam dan mencelupkan kakinya di kolam itu. Gibran hanya tersenyum melihat wajah ceria Delia, dia hanya bisa mengabadikan keceriaan wajah Delia dengan kameranya.


"Sudah semakin siang, katanya pengen naik ke menara Eiffel?" kata Gibran mengingatkan Delia.


"Oh! Iya aku hampir lupa karena keasikan bermain air!" kata Delia.


"Baiklah, kita naik sekarang, sambil makan siang disana!" kata Gibran, Delia masih mengencangkan tali sepatunya, rasa nyeri di perutnya mulai terasa lagi, walau tak sesakit yang dirasakan tadi, namun rasa nyeri ini membuat Delia terganggu, tapi Delia berusaha tak menampakkannya pada Gibran.


Mereka melewati Palais de Challiot, yaitu teras dari menara eiffel yang sangat luas itu, banyak patung-patung di area itu, seperti patung L'homme yaitu patung alki-laki yang terlihat seluruh lekuknya karena telanjang, Delia hanya bisa memejamkan mata ketika melewati patung itu, membuay Gibran tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Dan ketika melewati patung La famme atau patung perempuan yang sama telanjang, Delia dengan segera menutup mata Gibran.


"Kenapa?" tanya Gibran bingung.


"Ada patung cewek, kamu gak boleh lihat!" kata Delia dan Gibran pun tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Merekapun berjalan melewati patung-patung perunggu, Taureau et daim, chevaux et chien (monumen aux combattants) serta melewati taman pohon ek, beech dan katanye. Sungguh membuat Delia seperti berada di negeri dingeng saja.


Gibran dan Delia kini telah menaiki lift menuju lantai dua menara eiffel, setelah melewati antrian panjang di loket pembelian tiket. Mereka akan ke lantai dua dimana disana ada sebuah restaurant bernama Le Jules Verne, disana bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan kota Paris dari atas Eiffel dengan view yang sangat bagus.


Menaiki lift dengan banyak orang didalamnya membuat Delia sedikit pusing dan mual, namun Delia hanya bisa menahannya sambil merangkul tangan Gibran dengan erat.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gibran, Delia hanya menggeleng, namun melihat wajah Delia yang pucat membuat Gibran khawatir.


"Wajahmu pucat sekali, sayang!" kata Gibran sambil meraih kedua pipi Delia dan mengangkat wajahnya.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya merasa tidak nyaman saja berada di lift dengan banyak orang seperti ini!" ucap Delia, dan syukurlah semua itu tak berlangsung lama, pintu lift pun terbuka dan mereka yang ada di lift sebagian keluar. Gibran mengajak Delia menuju ke restaurant Le Jules Verne, dan kebetulan mereka mendapat meja yang pas untuk menikmati pemandangan kota.


"Masya Allah, indah sekali pemandangan kota Paris jika dilihat dari atas sini!" ucap Delia dengan sangat kagum. Gibran hanya tersenyum melihat tingkah Delia yang sangat senang itu.


"Sebaiknya kita pesan makanan dulu, kau ingin makan apa sayang?" tanya Gibran sambil membuka-buka buku menu.


"Apakah makanan disini halal, sayang?" tanya Delia yang sedikit khawatir dengan menu-menu yang ada di restaurant ini.


"Ada yang halal kok, tenang saja, akan aku pilihkan menu untukmu!" kata Gibran lalu memanggil pelayan restaurant dan memesan makanan. Di restaurant Le Jules Verne ini tidak hanya terkenal dengan makanannya yang enak tapi juga keramahan para pegawai restaurant.


Delia masih berdiri sambil memandangi pemandangan kota, begitu luas dan terlihat berwarna-warni dari atas, membuat Delia enggan untuk duduk. Namun tiba-tiba rasa nyeri di perutnya kini terasa lagi, dan bahkan tak tertahankan, pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang, membuat Delia terduduk di kursinya sambil memegangi perutnya yang sangat nyeri itu. Gibran yang menyadari perubahan dari Delia itu seketika terkejut dan khawatir.


"Sayang! Ada apa dengan mu?" tanya Gibran.


"Perut aku, sakit!" jawab Delia dengan sedikit meringis, namun karena rasa nyeri itu tak bisa tertahan membuat suara Delia terdengar bergetar.


"Kita ke dokter ya!" kata Gibran sambil merangkul Delia, tubuh Delia seperti gemetar.


"Kita pulang saja ke hotel, sepertinya aku butuh istirahat!" ucap Delia.


"Baiklah, tunggu aku akan ke resepsiaonis restaurant dulu untuk membatalkan pesanan kita!" ucap Gibran lalu bergegas. Sedangkan Delia menahan rasa sakit di perutnya itu yang kini semakin terasa nyeri.

__ADS_1


Setelah selesai membatalkan pesanan, Gibran dengan segera memapah tubuh Delia menuju lift untuk turun. Padahal Delia menantikan saat-saat ia naik menara eiffel, namun karena rasa sakit diperutnya sudah tak tertahan membuat Delia gagal menikmati moment indah di sana, tapi setidaknya Delia sudah merasakan bagaimana naik ke menara eiffel, walau belum sampai ke puncaknya.


Bersambung!!!


__ADS_2