Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 51 Wanita Dari Masa Lalu


__ADS_3

Di sebuah gedung serba guna, tepatnya di aula pondok pesantren Darul Ulum, seorang ustadz sedang duduk bersila sambil membuka sebuah buku yang begitu tebal dengan judul sampul 'Tauqul Hammamah', tak jauh dari ustadz itu duduk, seorang wanita sedang duduk sambil bersandar di tembok aula, tangannya tak henti-hentinya memilin jilbabnya yang berwarna merah muda itu.


Ustadz Arif adalah seorang ustadz dan juga seorang dosen di Pondok Pesantren Darul Ulum, bisa dibilang ia adalah ustadznya para mahasiswa di sana, karena sikap dan wibawanya, serta nasehat-nasehatnya yang menyejukkan bagi para mahasiswa, tak heran membuat ustadz Arif begitu disegani oleh semua mahasiswa disana.


Wanita yang sedang bersamanya saat ini adalah seorang mahasiswi yang baru saja selesai sidang skripsi. Di hari ini sudah beberapa kali ustadz Arif didatangi oleh mahasiswa-mahasiswa yang baru sidang, tepatnya yang sudah mau lulus kuliah hanya untuk meminta nasehat-nasehatnya. Mahasiswi di depannya itu adalah salah satunya.


Tak lama berselang, seorang lelaki datang ke aula tersebut karena memenuhi panggilan dari ustadz Arif, ia adalah mahasiswa yang baru sidang skripsi juga. Biasanya para mahasiswa yang mencari ustadz Arif, namun kali ini ustadz Arif sendiri yang memanggilnya secara pribadi, dan itu sungguh suatu kehormatan bagi lelaki itu.


"Assalamu'alaikum ustadz!" ucap lelaki itu lalu kemudian menyalami ustadz yang usianya sudah berkepala lima itu.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab ustadz Arif sambil membalas uluran tangan mahasiswanya.


Mereka pun berbincang ringan untuk mengawali pertemuan mereka, sesekali lelaki itu melirik pada wanita yang tak jauh duduk di antara mereka, wanita yang sedari tadi hanya menunduk sambil memilin hijabnya.


Hamdan, siapa yang tak kenal dengan nama itu, di kalangan para mahasiswa itu, Hamdan memang sungguh nama yang populer, karena dia adalah seorang qori' yang suaranya begitu lembut dan menyejukkan, banyak para santriwati yang penasaran dengan identitas dan wajah asli dari seorang Hamdan, karena memang antara sakan putra dan sakan putri ada sebuah tembok pembatas yang cukup tinggi, jadi mereka hanya bisa mendengar suara lembut dari Hamdan tanpa tau wajah aslinya.


"Nak Hamdan! Saya memanggilmu karena saya ingin bertanya satu hal!" ucap Ustadz Arif mengawali pembicaraan intinya.


"Iya, ustadz, silahkan apa yang akan ustadz tanyakan?" jawab lelaki bernama Hamdan itu, wajahnya begitu teduh.


"Apa sebelumnya, Nak Hamdan kenal dengan Santriwati bernama Aulia Nafisyah?" tanya Ustadz Hamdan.


"Tidak, ustadz! Saya tidak kenal!" Hamdan nampak mengerutkan keningnya, pertanda dia tak bohong dengan ucapannya.


"Kalau begitu, apakah boleh saya kenalkan kau dengannya?" tanya ustadz Arif lagi, wajahnya mengukir senyum.

__ADS_1


Hamdan nampak berpikir dan menimbang ucapan ustadz Arif, "Tidak masalah ustadz!" jawab Hamdan kemudian.


Ustadz Arif pun memanggil wanita bernama Aulia Nafisyah itu dan dengan secara bersamaan Hamdan menoleh dan memandang wajah Aulia. Saat sorot mata itu saling menatap, seakan ada sesuatu yang berdesir di dada Hamdan, namun dengan seketika Hamdan pun menunduk lagi.


"Nak Aulia, perkenalkan namamu!" perintah Ustadz Arif dan Aulia pun menganggukkan kepalanya.


"Assalamua'alaikum, Hamdan, saya Aulia Nafisyah, boleh saya tau nama panjangmu?" ucap Aulia, sedikit malu-malu.


"Wa'alaikum salam, Aulia, sebelumnya saya sangat senang bisa mengenalmu! Nama saya Muhammad Gibran Hamdani!" ucap Hamdan sambil tetap menunduk tak berani menatap wajah wanita di seberangnya itu.


Perbincangan mereka selanjutnya tak lain memperkenalkan diri masing-masing, walau begitu ustadz Arif tetap menjadi juru bicara untuk mereka. Hamdan nampaknya mulai tertarik pada Aulia pada pandangan pertama, sedangkan Aulia, dia memang sudah ada rasa pada Hamdan.


Pertemuan mereka ini terjadi karena Aulia mendapat teguran dari dua orang santriwati yang menemukan surat cintanya dan menyarankan Aulia untuk melakukan cara lain agar bisa bertemu dengan pujaan hatinya itu.


Setelah saling memeperkenalkan diri masing-masing, dan dirasa perbincangan mereka sudah cukup, Aulia pun pamit undur diri, walau hanya terjadi beberapa menit perbincangannya dengan Hamdan namun itu sudah cukup bagi Aulia, hatinya saat ini mulai merasa tenang.


"Bagaimana Hamdan? Apa pendapatmu tentang gadis itu?" tanya ustadz Arif sambil tersenyum. Hamdan pun tak kalah sumringah.


"Saya ingin mengenalnya lebih jauh, ustadz!" tutur Hamdan yang memang sudah tertarik pada Aulia pada pandangan pertama itu.


"Alhamdulillah! Tapi saya mau tanya dulu pada Aulia, apakah dia bersedia dengan rencanamu itu!" ucap ustadz Arif dan Hamdan pun mengangguk mantap.


Waktu pun berjalan, dan ustadz Arif sudah memberitahukan pada Aulia tentang rencana Hamdan untuk mengenalnya lebih jauh tak ayal membuat Aulia benar-benar merasa bahagia. Setelah pertemuannya dengan Hamdan di Aula, dia memang tak pernah bertemu lagi dengan Hamdan, karena Ustadz Arif tak mengijinkan mereka untuk sering bertemu.


Dengan adanya kabar baik dari ustadz Arif itu, cukup mengganti kerinduannya pada Hamdan selama beberapa minggu terakhir ini. Dia tak sabar menunggu hari dimana Hamdan akan datang ke rumahnya untuk melamarnya.

__ADS_1


Namun Hamdan masih belum meminta restu pada kedua orang tuanya, rencananya setelah wisuda besok, dia akan pulang ke Jakarta untuk memberi tahu pada Ibu dan Ayahnya untuk meminang wanita pujaannya. Dan kebetulan setelah wisuda orang tuanya menyuruhnya cepat pulang karena ada sesuatu hal yang penting yang ingin mereka bicarakan dengan Hamdan.


...****************...


Waktu pun mengalir hingga membawa Gibran ke fase saat ini, dimana ia sudah merasakan terombang-ambing oleh ombak kehidupannya bersama Delia, hingga ia memilih menyerah pada takdir, dan menyerah pada wanita yang saat ini telah mencuri seluruh cintanya, bahkan ia telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk wanita yang kini telah menjadi pendampingnya.


Namun kini wanita masa lalu itu hadir ditengah-tengah kebahagiaannya, bahkan membuka kembali lembaran yang dulu pernah indah, dan mengingatkan pada Gibran tentang sebuah dosa. Yah! Mungkin itu termasuk dosa yang sangat menyakitkan bagi wanita masa lalunya.


Gibran masih fokus mengemudikan mobilnya, hening masih merajai mereka yang ada di dalam mobil itu, hanya suara mesin mobil yang terdengar halus, berjalan di atas aspal, mungkin salah satu dari mereka tak merasakan bahwa ada dua orang yang sedang perang dingin.


Sesekali Gibran menatap spion yang berada di atasnya, dan mencuri pandang pada wanita yang berada di belakang Delia, namun ternyata wanita itu juga menatapnya lewat kaca spion itu, dan tatapan mereka bertemu kembali, sungguh membuat dada Gibran bergetar hebat, karena terkejut dan mengingat kembali saat pandangan itu bertemu untuk pertama kalinya.


"Lia, rumah kamu yang mana? Ini sudah masuk blok komplek kita!" ucap Delia memecah keheningan diantara mereka.


Aulia baru menyadari itu " Oh, emh! Masih terus, itu di sebelah kiri!" ucap Aulia sedikit gelisah.


"Yang mana? Ini?" tunjuk Delia.


"Iya yang ini!" kata Aulia cepat.


"Masya Allah ini rumah aku, pas didepan rumah kamu loh! Gak nyangka kita sedekat itu rumahnya!" Delia benar-benar merasa senang. Namun Aulia hanya menanggapinya dengan senyum yang kaku.


Bersambung...


Jangan lupa like ya, biar aku semangat updatenya😘😍

__ADS_1


__ADS_2