
Suasana perpustakaan kampus sedang ramai pengunjung, dari lantai bawah dan lantai atas dipenuhi para mahasiswa yang sedang membaca buku. Delia begitu kuwalahan karena jadwalnya yang seharusnya mendata buku, kini harus menata buku-buku yang masih didalam kardus ke rak-raknya.
Delia begitu sibuk, karena nampaknya Aulia tidak masuk kerja hari ini, seharusnya ia yang menata buku-buku itu. Bu Vera juga kuwalahan ketika ada beberapa mahasiswa yang menanyakan sebuah buku namun ternyata bukunya masih belum didata.
"Delia, kau lanjut mendata buku saja, biar saya yang menatanya di rak!" ucap Bu Vera, wajahnya nampak dingin.
"Siap, bu!" ucap Delia, yang kemudian bergegas ke meja kerjanya untuk melanjutkan mendata bukunya,
Bu Vera nampak sebal karena beberapa buku yang belum terdata itu adalah bagian pekerjaan Aulia. Pekerjaannya sungguh lambat dan selalu ada yang salah dalam mendata buku.
Delia begitu fokus dalam mendata buku-buku itu, takut-takut ada yang salah bisa-bisa Bu vera akan marah padanya, karena Delia melihat Bu Vera saat ini sedang bad mood, karena banyaknya buku yang lambat di data.
"Sibuk aja!!" tiba-tiba Delia terkejut oleh suara seseorang yang langsung duduk di depan mejanya, Delia mengangkat wajahnya dan mendapati Zahra yang sedang duduk didepannya.
"Mau aku bantuin nggak?" ucap Zahra sambil memasang wajah manis.
"Memangnya kamu nggak ada kelas sekarang?" tanya Delia sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Udah kelar kok, tadinya mau pulang, tapi aku kangen sama bestie aku!" ucap Zahra sambil nyengir.
Zahra sebenarnya menyimpan pertanyaan besar, saat ia memergoki Aulia keluar dari mobil Gibran dalam keadaan menangis beberapa hari lalu, namun ia ragu mengatakannya pada Delia.
"Sebenarnya aku butuh sekali bantuan, jika kamu bersedia membantu, aku sungguh sangat berterima kasih!" ucap Delia sambil menampakkan wajah capeknya.
"Siap-siap, kasian banget bu-mil ku." ucap Zahra sambil tertawa dan Zahra pun membantu Delia untuk mendata buku.
"Zahra, aku mau turun sebentar, membeli susu hangat, apa kau juga mau?" tanya Delia.
"Wauww, mantap tuh, tapi aku mau espresso aja!"
"Oke, tunggu ya!"
Delia pun turun dari lantai atas, suasana lantai atas memang tak seramai tadi, namun dilantai bawah masih terlihat ramai pengunjung, Bu Vera masih sibuk mengangkat kardus-kardus buku itu, Delia berniat ingin membelikan wanita paruh baya itu minuman hangat juga.
__ADS_1
Hari ini Gibran tak di kampus, dia sedang kerja di kantor Ayah, selama aktif di kantor, Gibran hanya di kampus dua hari, yaitu sabtu dan minggu saja, jadi jadwal weekend mereka juga sedikit dikurangai. Delia tak mempermasalahkan hal itu, yang penting Gibran bisa konsisten dengan tugas dan pekerjaannya.
Setelah selesai membeli minuman di kantin ia kembali ke perpustakaan sambil membawa nampan dengan tiga gelas minuman hangat diatasnya. Namun baru saja ia ingin masuk ke dalam, terdengar suara bentakan dari Bu Vera yang ditunjukkan pada seseorang.
"Kamu fikir ini perpustakaan milik kakek kamu, seenaknya saja datang jam segini!" sembur Bu Vera yang ternyata sedang marah pada Aulia.
Terlihat Aulia sedang menunduk, tak berani menatap wajah Bu Vera. Tak biasanya ia terlambat hingga setengah jam begini, biasanya dia memang selalu terlambat datang namun hanya terlambat beberapa menit, entah kenapa akhir-akhir ini kinerjanya memang selalu menurun, dan semakin memperburuk imagenya di mata Bu Vera.
"Ya sudah, cepat kerjakan pekerjaanmu!" sekali lagi Bu Vera sedikit membentak dan hanya dibalas anggukan oleh Aulia.
Delia kemudian meletakkan kopi di meja Bu Vera setelah kepergian Aulia. Dia sungguh kasihan melihat temannya itu selalu di marahin oleh Bu Vera, yang sebenarnya memang karena kesalahannya sendiri.
"Kau bantu pekerjaan Aulia, hari ini saya mau semua buku harus terdata!" ucap Bu Vera, suaranya masih meninggi karena kemarahannya masih belum hilang, wajahnya masih dingin, sedangkan Delia hanya mengangguk dan bergegas pergi.
"Delia, kopi ini siapa yang pesan?" tanya Bu Vera membuat Delia kembali berbalik.
"Oh, itu saya yang beli untuk Ibu!" ucap Delia sambil tersenyum.
"Ya Tuhan, terima kasih ya!" ucap Bu Vera dan akhirnya ia tersenyum.
"Lia!!" panggil Delia dan membuat Aulia seketika menoleh, wajahnya tampak memerah, seperti menahan kesal.
"Kenapa terlambat?" tanya Delia berusaha ramah.
"Macet!" ucap Aulia sedikit ketus, lalu meneruskan langkahnya, sedangkan Delia hanya mengikuti langkahnya dari belakang, mungkin perasaan Aulia sedang tidak baik karena kena marah barusan.
Dilantai atas terlihat Zahra masih fokus dengan pekerjaannya, Delia menghampiri Zahra dan meletakkan espressonya di dekat wanita itu.
"Makasih bestie!!" ucap Zahra sambil tersenyum.
Aulia berjalan dengan kasar ke mejanya yang ada di sebelah meja Delia, Zahra hanya memangdang sekilas tanpa menyapanya.
"Lia, apa mau sekalian aku pesankan kopi atau susu hangat?" kata Delia mencoba tetap ramah.
__ADS_1
"Tidak usah, terimakasih!" ucap Aulia tanpa menoleh, Zahra seketika merasa sebal dengan nada bicara Aulia yang terkesan sinis, padahal Delia sudah berusaha ramah.
"Ya sudah, oh iya! Buku-buku yang ada dikardus itu belum didata, kata Bu Vera itu harus secepatnya di data, kalau kamu butuh bantuan.....
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" belum sempat Delia meneuskan kata-katanya Aulia sudah memotongnya, Delia hanya bingung kenapa hari ini Aulia seketus itu terhadap dirinya, apakah karena Bu Vera atau apa? Delia bingung.
Delia pun tak berkata apa-apa lagi, ia menghampiri Zahra untuk mengecek pendataan buku-bukunya.
"Apa sudah selesai Zahra?" tanya Delia.
"Sudah kok!" ucap Zahra lalu kemudian sedikit berbisik pada Delia.
"Kamu nggak usah ngerendahin dirimu di depan orang yang nggak bisa menghargai kebaikan kamu!" bisik Zahra yang dibalas senyuman oleh Delia.
"Ya sudah, kita beresin pekerjaan kita ya, biar aku bantu menata buku-buku ini!"
"Nggak usah Zahra, kamu sudah bantu aku mendata buku-buku ini, selanjutnya biar aku saja yang menatanya di rak, kamu istirahat dulu nikmatin espressonya!"
"Oke, bumilku!" ucap Zahra dengan riang, Aulia sungguh sebal melihat keakraban mereka.
Zahra pun meregangkan otot-otot tangannya, ia duduk sambil menikmati espresso yang dibelikan Delia tadi.
Delia mengangkat buku-buku itu ke dekat rak yang ada didekat meja Aulia, ia mulai menatanya, Aulia menatap punggung Delia, ia begitu benci melihat Delia, benci karena Bu Vera yang selalu baik pada Delia, benci karena Delia memeiliki teman baik seperti Zahra, dan yang paling Aulia benci, Hamdan lebih memilih Delia dibanding dirinya. Mungkin ini memang takdir, dulu ia sering belajar tentang takdir atau ketentuan Tuhan yang begitu misteri, dulu ia yakin bahwa ketentuan Tuhan adalah hal terbaik, namun kenapa kini ia merasa Tuhan tidak adil.
Semakin ia memandang Delia, ia semakin membencinya. Aulia melihat Zahra tengah bersantai di tempat duduknya sambil menikmati minumannya, dan melihat Delia yang tampak menata buku membelakanginya.
Entah setan apa yang membisikinya, tiba-tiba Aulia berdiri mendekati Delia, berpura-pura mengambil buku didekat Delia, lalu dengan sekali gerakan kakinya menyenggol kaki Delia hingga..
Bruuukkkk...
Delia yang tidak siap dengan gerakan kaki Aulia pun terjatuh dengan posisi duduk, seketika ia menjerit karena merasa sakit dibagian perutnya.
"Delia...!!!" teriak Zahra yang mendapati Delia telah duduk dilantai sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Perutku!!!"
Bersambung....