Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 35 Dinner


__ADS_3

Malam yang hangat, dengan langit yang penuh bintang, Gibran baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah restaurant, dilihat dari arsitektur bangunan restaurant, terlihat bahwa restaurant ini sangat mewah, Delia sedikit canggung ketika Gibran membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya pada Delia, namun dengan senyum yang sedikit malu-malu Delia meraih uluran tangan Gibran itu.


Suasana didalam restaurant cukup ramai, namun sepertinya Gibran mengajak Delia untuk menaiki sebuah tangga dan Delia hanya menurut saja ketika Gibran mengajaknya untuk naik ke lantai atas. Saat ini Delia mengenakan jubah berwarna pastel dengan kerudung warna senada, sedangkan Gibran memakai setelan jas dan pastinya malam ini Gibran terlihat tampan di mata Delia, awalnya Delia bingung, mengapa Gibran berdandan seperti itu, padahal mereka hanya akan pergi ke kedai kopi, bahkan Delia yang awalnya hanya memakai baju dress biasa harus mengganti pakaiannya karena disuruh oleh Gibran, rupanya Gibran mengajak Delia ke sebuah restaurant mewah ini, sungguh ini pertama kalinya bagi Delia masuk ke restaurant mewah.


Sampai di lantai atas yang ternyata sebuah rooftop dangan pemandangan kota yang penuh gemerlap lampu, di sini suasananya lebih tenang dari lantai bawah, hanya beberapa meja yang terisi, Gibran memilih di sebuah meja yang paling tepi, agar bisa melihat pemandangan kota dari atas, bahkan dengan romantisnya Gibran menarik kursi dan mempersilahkan Delia untuk duduk disana, membuat Delia tersipu.


"Kau terlihat sangat cantik hari ini!" ucap Gibran sambil terus memandang pada wajah istrinya itu, membuat Delia sedikit malu dan canggung, seperti dua sejoli yang sedang kasmaran dan dimabuk cinta.


"Kau juga, hari ini kau terlihat sangat tampan!" ucap Delia sambil mengikuti gaya Gibran yang memandangnya tadi, dan itu membuat Gibran tertawa geli. Selama mereka menikah, ini adalah pertama kalinya mereka dinner di sebuah restaurant.


"Kenapa rasanya aku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama ya!"


"Mungkin karena suasana restaurant ini yang terkesan romantis."


"Ya, aku setuju sama kamu, by the way, kamu mau makan apa?" ucap Gibran sambil membuka-buka buku menu. Delia juga turut membuka buku menu itu, namun Delia sedikit terbelalak dengan harga yang tertera disana yang terkesan mahal.


"Sayang! Apa aku tidak salah lihat? Harga di menu-menu ini sepertinya sangat mahal!" ucap Delia sambil menunjukkan buku menu pada Gibran, melihat itu Gibran hanya tertawa.


"Kau tak perlu melihat harganya, pilih aja menu yang kau mau!" ucap Gibran, namun Delia hanya membolak-balik buku menu itu.


"Jika kau bingung, aku saja yang akan memilihkannya untukmu!" Gibran memanggil pelayan, dan memesan sebuah menu untuk dua orang beserta minumannya. Dan mereka pun menunggu pesanan mereka sambil beromantis ria.


Setelah beberapa menit, pesanan mereka pun datang, dan sama-sama mereka pun menyantap makanan itu, apa yang Gibran pesan ternyata adalah menu beef steak.

__ADS_1


"Selamat makan sayang!" ucap Delia, dan sepertinya dia tidak sabar ingin segera memakan makanannya, Gibran hanya tersenyum.


"Bagaimana dengan pekerjaan mu di kampus? Apa kau betah disana?" tanya Gibran tiba-tiba disela makannya. Mendengar itu Delia seperti mengingat sesuatu, gara-gara hanyut dengan suasana romantis, membuat Delia melupakannya, hingga Delia sedikit terperanjat, ketika Gibran menyinggung soal kampus.


"Sebenarnya, ada hal yang ingin aku bicarakan!" ucap Delia, wajahnya sedikit serius. Melihat perubahan di wajah Delia membuat Gibran mengernyitkan dahinya dan mulai fokus memperhatikan Delia. Namun melihat wajah Gibran yang juga berubah serius membuat Delia ragu mengatakannya, masalahnya dia hatus memulai dari mana untuk menceritakan hal itu pada Gibran.


"Sayang, apa tak sebaiknya, kita katakan pada semua orang, khususnya pada teman kampusmu, bahwa kita ini adalah suami-istri?!" ucap Delia, sedikit ragu-ragu, namun Gibran tak menjawab, dia ingin mendengar kata-kata selanjutnya yang akan Delia sampaikan, sebenarnya Gibran memang ingin mengatakan pada semua orang bahwa dia dan Delia sudah menikah, mengingat Pak Edo yang telah mengakui bahwa dia menyukai Delia waktu itu padanya.


"Sayang! Apa kau masih ragu?" tanya Delia.


"Aku tidak ragu, namun, apa yang membuat dirimu menyinggung hal itu?"


"Ini soal Zahra!"


"Tadi dia nangis diperpustakaan, dia bilang bahwa dia cemburu melihat kita bersama!" Gibran seperti tidak terkejut mendengarnya, dia memang sudah tau jika dari dulu Zahra menyukainya.


"Katakanlah yang sesungguhnya padanya!" Gibran seakan tak peduli, dia melanjutkan mengunyah makanannya.


"Kenapa aku? Harusnya kau! Dan asalkan kau tau, tadi Pak Edo mengajakku untuk dinner!" seketika Gibran terperanjat.


"Bicara apa saja dia padamu?" ucap Gibran, nadanya seperti tak suka dan terkesan sedikit marah.


"Tidak ada, dia hanya mengatakan hal itu!"

__ADS_1


"Lalu?"


"Ya aku menolak saja, dan dia tidak keberatan dengan penolakanku!" Gibran hanya menganggukkan kepalanya.


"Tapi jika kita tidak segera memeberi tahu yang sebenarnya pada mereka, hal-hal seperti ini pasti akan terjadi lagi!" sambung Delia penuh penekanan.


"Sebentar lagi kita akan bulan madu, aku akan merasa lebih tenang jika mereka tahu hal yang sebenarnya sebelum kita berangkat nanti!" ucap Delia lembut, sambil menggenggam jemari Gibran, dan Gibran turut membalas genggaman Delia dengan mempererat genggaman itu.


"Baiklah, aku akan segera bertindak dalam hal ini!" ucap Gibran dengan lembut pula.


Mereka pun melanjutkan makan malam mereka, dalam suasana yang romantis.


Perasaan Delia sedikit lebih tenang saat ini karena dia sudah mengatakan hal yang sedari tadi siang mengganggu pikirannya, Gibran bahkan akan segera bertindak untuk mengatakan pada Zahra maupun Pak Edo bahwa mereka adalah sepasang suami-istri, jadi tidak akan ada lagi yang akan ditutup-tutupi, namun kini yang Delia pikirkan adalah perasaan Zahra, entah bagaimana reaksinya nanti setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Pasti gadis itu akan sangat kecewa padanya, tapi biarlah, sekarang ataupun nanti, semua orang pasti akan mengetahui semuanya, dan lambat laun mereka pasti akan memahami keadaan itu, walau ada yang harus tersakiti, namun itu adalah sebuah konsekwensinya.


Delia dan Gibran kini sedang menatap pemandangan kota dari atas rooftop restourant, langit yang begitu cerah dengan banyak bintang, dan suasana yang sejuk membuat Delia sedikit kedinginan namun dengan sigap Gibran membuka jasnya dan memakaikannya pada Delia membuat Delia benar-benar merasa tersanjung oleh perhatian Gibran.


"Terima kasih sayang!" ucap Delia dengan senyum yang lembut, dan Gibran membalas senyuman itu.


Suasana malam itu benar-benar menghanyutkan perasaan Delia maupun Gibran.


Bersambung....


Maksih yg sudah like,dan selalu setia membaca karya saya, karena kesibukan yang tak bisa ditinggalkan jadi baru bisa update🙏

__ADS_1


__ADS_2