
Dalam perjalanan dari mengantar Zahra pulang, Delia hanya diam tak bersuara, dia masih duduk di kursi belakang. Delia masih ingat bagaimana wanita bernama Zahra itu begitu memperlihatkan pada Delia bahwa dirinya begitu ingin mendekati Gibran, jika saja dia tau bahwa Delia adalah istri dari Gibran apakah dia masih punya keberanian untuk mendekati Gibran? Tapi seperti kata Gibran dia harus merahasiakan pernikahan mereka, mungkin karena memang Gibran masih belum siap jika semua teman-temannya di kampus tau bahwa sebenarnya dia telah menikah, dan yang menjadi istrinya adalah orang yang tak dia inginkan. Sungguh miris sekali, Delia merasa ada yang sakit di hati nya jika mengingat hal itu, seakan dia memang seorang wanita yang tak diinginkan. Namun Delia kini bingung dengan pikirannya sendiri, sejak kapan dia peduli dengan sikap Gibran dan kenapa dia harus peduli jika Zahra memang menyukai Gibran, bukankah itu lebih baik, jika Gibran bisa menemukan wanita untuk dia cintai, pasti proses perceraian mereka akan cepat dan Delia bisa merasakan kebebasan yang ia inginkan. Delia menjadi murung karena memikirkan hal itu.
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Delia yang mungkin sedang melamun.
"Kita sudah sampai!" ucap Gibran yang ternyata sudah keluar dari mobil sambil mengetuk kaca jendela mobil belakang. Delia terperanjat karena kini mereka sudah sampai di halaman rumah mereka. Delia pun keluar dari mobil dan terus menuju pintu hendak masuk rumah, tapi lagi-lagi Gibran memanggil Delia membuat ia harus berbalik ke belakang.
"Kau ingin menjadi Tuan Putri? Dan kau pikir aku pengawalmu? Cepat bantu aku membawa barang-barang belanjaan ini!" ucap Gibran sambil berdecak. Delia hanya memasang wajah dongkol dan langsung mengambil belanjaannya sebagian, dan sebagian lagi dibawa oleh Gibran.
Masih dengan wajah yang masam, Delia langsung menuju ke dapur untuk menyimpan bahan-bahan pokok yang tadi dia beli.
"Tolong siapkan aku makanan, aku sedari tadi sudah lapar!" ucap Gibran.
"Kenapa kau tidak pergi makan sama Zahra tadi?" ucap Delia sedikit judes.
"Kau sendiri yang tidak mau, bukannya kau bilang sedang capek?" tanya Gibran masih dengan sabar mengahadapi Delia.
"Ya itu kan aku, kau dan Zahra kan tidak?"
"Maksudmu, kau menyuruhku untuk makan berdua dengan Zahra?"
"Kenapa tidak? Bukannya kalian memang dekat?" ucap Delia sedikit menjurus. Gibran yang sedari tadi tenang sambil duduk di kursi makan menjadi terpengaruh dengan ucapan Delia itu.
"Siapa yang dekat dengan Zahra? Aku tak merasa aku dekat dengan wanita siapapun!"
"Jika kalian tidak dekat, untuk apa kau mengizinkan dia ikut bersama kita, dan kamu biarkan dia duduk di depan bersamamu!" ucap Delia sedikit keras, tangannya masih sibuk sambil menyiapkan makanan.
"Bukan maksudku mengizinkannya, tapi dia memaksa karena dia ingin dekat dan menjadi temanmu, soal duduk didepan, maaf, aku pikir kau mengijinkannya tadi, tapi rupanya kau tidak suka, dan aku berjanji hal itu tidak akan terjadi lagi!" ucap Gibran, sungguh mengejutkan bagi Delia, apakah dia kini memahami perasaannya. Namun Delia tak menjawab lagi perkataan Gibran barusan, dia hanya diam dan terus berkatifitas membuat makan siang, hingga dia tak menyadari ternyata Gibran kini ada didekatnya sambil memperhatikan Delia yang sedang beraktifitas itu namun pikirannya jauh melayang entah kemana.
__ADS_1
Saat Delia berbalik hendak mengambil sesuatu, dia terperanjat karena ada Gibran didekatnya, hingga Delia bingung harus berbuat apa, laki-laki itu tak pernah sedekat ini dengan Delia dalam keadaan sadar, hingga membuat Delia tak bisa bernafas karena dia merasakan tangan kokoh Gibran tiba-tiba memegang pinggulnya. Darah Delia seakan berdesir dan rasanya Delia tak mampu lagi untuk menghindar.
"Apakah kamu cemburu?" tanya Gibran sedikit berbisik di telinga Delia, membuat sekujur tubuh Delia merinding mendengarnya. Hati Delia mengatakan tidak, namun mulutnya sepertinya berkhianat dengan mengatakan 'Iya' membuat Delia seketika menutup mulutnya dengan tangan, sambil memejamkan matanya. Namun tangan kokoh Gibran itu tiba-tiba menurunkan tangan Delia dari mulutnya dan memegang erat tangan itu, membuat Delia terkesiap. Aroma kolonye dari tubuh Gibran begitu merasuk dalam penciuman Delia, membuat Delia seakan candu dengan aroma itu.
"Aku suka kau mengatakan itu!" bisik Gibran lagi.
"Kenapa kau menyentuhku?" ucap Delia yang kini juga berbisik, namun tubuhnya pasrah.
"Aku tak, perduli, kau adalah istriku!" Gibran kini tak hanya mendekatkan tubuhnya, namun dia kini mendekatkan wajahnya pada wajah Delia yang kini sudah pasrah dengan apapun yang akan Gibran lakukan terhadapnya. Semakin dekat wajah Gibran, Delia kini memejamkan matanya, hingga Delia bisa merasakan nafas Gibran yang seakan meniup-niup pipinya.
Tapi, sebuah aroma tercium di hidung Delia, aroma yang seakan mencemari perasaan Delia dan Gibran, yang membuat Delia tersadar seketika hingga terperanjat.
"Telurnya!!!" pekik Delia, membuat Gibran juga terlonjak kaget, gara-gara ulah Gibran Delia jadi lupa tak membalik telur yang dia goreng, hingga gosong disalah satu sisinya.
"Yahhhhh.... Jadi gosong deh!" ucap Delia, sambil mengangkat telur itu.
"Kau ini, hanya menggoreng telur saja apa harus diajari? Sini biar aku yang menggoreng telurnya" ucap Gibran, lalu mengambil alih pekerjaan Delia itu.
"Sudah kau duduk saja, biar aku yang melakukan pekerjaan ini!" ucap Gibran lagi, tangannya kini sibuk mengiris bawang. Sedangkan Delia hanya bisa bengong melihat Gibran, dia takut mengeluarkan suara lagi.
"Jika kamu mau membantu, cepat menanak nasi!" ucap Gibran tanpa menoleh lagi pada Delia, Delia pun langsung bergegas melakukan apa yang Gibran suruh.
Setelah selesai dengan aktifitas memasaknya, Gibran pun meletakkan hasil masakannya di meja makan. Ada telur dadar, tempe goreng dan sambal terasi, makanan sederhana itu mengingatkan Gibran saat dia masih di pesantren dulu. Delia hanya tersenyum kagum dengan hasil masakan Gibran. Mereka pun bersiap untuk makan siang.
"Ayo buka mulutmu!" ucap Gibran, hendak menyuapi Delia.
"Apa!" ucap Delia sambil membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Hey, aku menyuruhmu membuka mulut, bukan melotot padaku!" ujar Gibran sambil menggelengkan kepalanya. Delia pun membuka mulutnya dengan ragu, dan seketika Gibran menyuapinya dengan tangan langsung tanpa sendok.
"Gimana?" tanya Gibran.
"Apanya?" ucap Delia bingung, mulutnya penuh dengan makanan.
"Ya masakan aku, enak tidak?"
"Eh.. Enak kok!" ucap Delia ragu, karena saat ini dia tak fokus dengan rasa masakan Gibran, dia malah fokus dengan sikap Gibran yang berubah seratus delapan puluh derajat itu, baru kemarin dia mengatakan bahwa dia tak akan berdekatan dengan Delia, tapi sekarang sikapnya malah seperti seorang suami yang benar-benar menyayangi istrinya.
Delia hanya bisa pasrah menghadapi sikap Gibran itu, bisa saja nanti sikap Gibran akan berubah lagi seperti biasanya, dingin dan menyebalkan. Delia akan mengikuti alur dari kisah pernikahan ini. Mungkin ini adalah sebuah toleransi dari hatinya menjalani hubungan dengan Gibran.
"Gibran, aku lupa mengatakan padamu!" ujar Delia yang tiba-tiba ingat sesuatu.
"Apa?"
"Tadi waktu belanja, aku bertemu Kalina!"
"Kalina? Sama siapa dia?"
"Sama ibu, tapi aku tak bertemu ibu, dia sedang ada di toilet tadi!"
"Oh, lalu?"
"Kalina mengatakan, nanti malam ibu mengajak kita makan malam!"
Seketika Gibran tersenyum, namun senyumnya seperti ada sesuatu yang ia rencanakan.
__ADS_1
"Oke, persiapkan saja! Nanti kita akan menjadi pasangan yang paling romantis!" ujar Gibran sambil tersenyum simpul dan langsung pergi meninggalka Delia yang masih melongo di meja makan.
Bersambung.....