
"Delia, aku mencintaimu!" kata-kata Gibran itu yang selalu terngiang di telinga dan hati Delia, entah mengapa semenjak dia merasakan berhubungan suami istri dengan Gibran tadi siang, dia merasa gelisah tak menentu bahkan kadang jantungnya tiba-tiba berdebar sendiri, rasa nyeri yang ia rasakan sudah mulai berkurang. Delia saat ini sedang tiduran di sofa sambil menonton acara televisi kesukaannya sambil menunggu Gibran yang kembali lagi ke kampus siang tadi.
Dulu, saat Delia masih sering berseteru dengan Gibran, waktu-waktu seperti ini yang paling dia favoritkan, bersantai didepan televisi sambil makan cemilan kesukaannya, dan mulai bosan ketika Gibran sudah kembali lagi ke rumah. Tapi sekarang rasanya berbeda, tiap menit tiap jam dia gelisah menunggu datangnya Gibran, bahkan acara televisi pun membuatnya bosan, cemilan di toples masih banyak, rasanya tak berselera untuk memakan sesuatu.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, sudah malam begini Gibran tak kunjung pulang, padahal dari dulu Gibran tak pernah pulang hingga jam segini, paling lama mungkin jam delapan sudah sampai dirumah, membuat Delia benar-benar gelisah, akhirnya dia memutuskan untuk menelephon suaminya itu. Sudah berkali-kali namun tetap tak ada jawaban, membuat Delia menjadi kesal.
Delia pun mematikan televisi dengan remote lalu membanting remote itu ke sofa, Delia berlari ke kamar lalu menjatuhkan badannya ke tempat tidur, dia menangis sejadi-jadinya, sungguh dia tak pernah melakukan hal secengeng ini, menangisi pria yang saat ini menjadi suaminya bahkan hanya karena dia terlambat pulang dan tak mengangkat telephone darinya.
Suara deru mobil terdengar memasuki halaman rumah, membuat Delia langsung bangkit dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu.
"Kenapa pulang terlambat?" tanya Delia, wajahnya sedikit masam dan terlihat sembab di matanya. Gibran yang baru sampai itupun sedikit terkejut dengan penyambutan Delia.
"Ada apa denganmu?" Gibran malah bertanya balik.
"Aku tanya kenapa kamu terlambat? kenapa juga telephon ku tak diangkat?" suara Delia kini sedikit keras, membuat Gibran sedikit kesal namun dia berusaha bersabar, dia berusaha menghindari Delia dengan pergi ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Delia, membuat Delia semakin sebal dan hatinya merasa sakit karena sikap Gibran itu. Delia tak mengerti, kenapa saat ini dia menjadi sensitif, dan rasa gelisah selalu menghantui pikirannya.
Delia pun pergi ke kamar Gibran, menggedor-gedor pintu kamar itu.
"Gibrann!!! Buka pintunya!!" teriak Delia sambil tangannya terus menggedor pintu kamar Gibran.
"Kenapa kau menyakiti aku dengan sikapmu itu?!!" Delia masih terus menggedor sambil berteriak dan menangis.
Gibran yang sedang merebahkan diri hanya bisa bingung dengan perubahan sikap Delia itu. Padahal saat ini dia sedang capek dan ingin bermanja-manja dengan Delia, namun melihat sikap Delia yang kasar itu membuat dia semakin malas dan capek. Sebenarnya apa yang wanita itu pikirkan, renungnya. Padahal tadi siang saat mereka pertama kali berhubungan suami istri, Delia masih terlihat biasa saja bahkan nampak begitu sangat mencintainya. Akhirnya dengan setengah hati Gibran pun bangkit membuka pintu kamarnya dan mendapati Delia sedang duduk bersandar di tembok sambil memeluk kakinya dan dia nampak menangis sesenggukan. Gibran yang nampak iba melihat Delia yang terlihat kacau itu pun ikut duduk disebelah Delia dan meraih pundaknya, menyandarkan kepala Delia di dadanya.
"Ada apa dengan mu?" tanya Gibran, lembut, namun tak ada jawaban dari wanita itu, hanya suara tangisnya yang masih terdengar.
"Tenanglah! Aku tak mengerti jika kau tak menjelaskannya, ada apa sayang?" tanya Gibran lagi sambil mengusap kepala Delia.
__ADS_1
"Aku khawatir kepadamu!" ucap Delia kemuadian disela tangisnya.
"Kenapa? Aku tidak apa-apa!" Gibran nampak bingung dan mengernyitkan dahinya.
"Kau pulang terlambat, dan kau tak mengangkat telephonku!"
"Astaga, jadi kau marah karena itu?" Delia tak menjawab dia hanya semakin mempererat pelukannya pada Gibran.
"Aku tadi ditelephon ayah untuk datang ke perusahaan, bulan depan aku sudah bisa masuk keperusahaan sebagai manager disana, ya walaupun aku hanya bisa datang setelah pulang kuliyah diperusahaan. Jadi jadwal aku akan lebih padat dari biasanya!" kata Gibran sambil memeluk tubuh Delia itu.
"Tapi kenapa kau tak menjawab telephon aku?" tanya Delia, kali ini nadanya sedikit manja.
"Maaf, tadi hanphone aku ada di mode hening, jadi bukan karena aku sengaja, tapi karena memang aku tak mendengarnya!"
Tiba-tiba tangis Delia semakin kencang membuat Gibran semakin bingung.
"Ada apa lagi?" tanya Gibran.
"Sudahlah, jangan menangis lagi, aku saat ini sedang lapar, apa kau sudah memasak?"
Delia hanya mengangguk sambil tangannya mengusap bekas air matanya.
"Tapi, sepertinya aku ingin memakan sesuatu yang beda!" ucap Gibran, sambil tersenyum smirk kepada Delia, dan Delia hanya mengernyitkan dahinya, tak mengerti maksud dari ucapan Gibran itu.
"Maksud kamu?" tanya Delia.
Tiba-tiba Gibran menarik tangan Delia dan menyeretnya di dalam kamar, Delia yang semula tak paham maksud dari Gibran kini dia pun menyadari apa yang suaminya itu inginkan.
__ADS_1
"Gibran...apa-apaan sih? Katanya mau makan?" ucap Delia sok jual mahal saat Gibran memberikan sentuhan-sentuhan erotis pada tubuhnya.
"Hey! Kenapa kau tak panggil aku dengan sebutan 'Sayang'?" tanya Gibran pura-pura marah, sontak Delia pun mencoba untuk meralat ucapannya, dan meminta maaf pada suaminya itu.
"Oh, iya aku minta maaf sayang, iya-iya mulai sekarang aku akan memanggilmu 'Sayang'!" ucap Delia sambil memeluk suaminya itu, namun Gibran malah pura-pura merajuk hingga Delia harus memohon agar Gibran tak marah padanya.
"Sayang...! Udah dong marahnya!" ucap Delia wajahnya kini terlihat sedih, membuat Gibran tak tega melihatnya.
"Baiklah, aku tak marah, tapi aku mau makan dulu!" ucap Gibran.
"Iya, sudah aku siapkan sayang!"
"Maksud aku, aku mau makan kamu dulu!"
Gibran pun langsung menarik tubuh Delia di atas kasur, dan langsung membekap mulut Delia dengan mulutnya, Delia yang sudah terbiasa dengan hal itu pun mulai bisa mengimbanginya. Gibran pun kini semakin menggila dengan permainannya, kini dengan rakusnya dia melahap gunung kembar milik Delia, membuka seluruh kain yang melekat pada tubuh Delia dan mereka pun bermain malam itu hingga dua ronde.
Gibran kini ambruk disamping tubuh Delia. Rasanya memang sungguh membuat candu, bahkan kini Gibran seakan makin menyayangi istrinya itu.
"Sayang kita mandi yuk!" ucap Gibran sambil berbisik di telinga Delia.
"Kamu mandi saja, biar aku menghangatkan sup mu dulu!" ucap Delia, dia tau bahwa suaminya ini tak dapat dipercaya, jika mereka harus mandi bersama, bisa-bisa mereka akan melakukan permainan ronde ke tiga, dan bisa-bisa Delia akan dibuat tak sanggup lagi berjalan karena lemas.
"Ah...! Aku ingin mandi bersamamu!" ucap Gibran sedikit kecewa.
"Sayang, kau mandi saja dulu ya, setelah mandi kau bisa langsung makan, oke!" ucap Delia sambil mengecup bibir Gibran.
"Baiklah kalau begitu, aku mandi dulu!" ucap Gibran yang kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Delia nampak tersenyum melihat tingkah suaminya itu, entah mengapa saat ini perasaannya sudah mulai membaik, dia sudah melupakan perseteruannya tadi dengan Gibran. Dia juga tak habis pikir, kenapa dia bisa sesensitif tadi, apa mungkin karena ini adalah efek dari hubungan int1m itu, yang bisa membuat orang bisa dimabuk kepayang dan bisa membolak-balikkan mood seseorang, entahlah, ini adalah pengalaman pertama yang Delia rasakan setelah berhubungan int1m dengan Gibran, orang yang dulu ia sangat benci dan sangat ia ingin jauhi, namun kini dia adalah orang yang sangat ia cintai bahkan dia tak bisa jauh darinya, dan tak bisa jika harus berpisah lama dengannya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like🤗😍