
"Sayang, kau mau kemana?!" Gibran terkejut saat mengetahui Delia sedang memasukkan baju-bajunya ke sebuah tas besar.
"Aku mau pergi!!" jawab Delia, ketus.
"Ada apa denganmu, sayang!" Gibran nampak risau.
Delia tak menghiraukan kata-kata Gibran, tangannya tetap sibuk memasukkan baju-bajunya.
Gibran mencoba memegang tangan Delia, berharap ia menjelaskan duduk perkara yang membuat ia berniat pergi, Gibran nampak cemas dan bingung, ada apa dengan istrinya kini.
Delia menepis tangan Gibran dengan kasar, raut wajahnya nampak marah, namun matanya nampak menggenang air mata, terlihat wajahnya seperti menahan amarah dan kecewa.
"Sayang!? Ada apa denganmu? Coba jelaskan, apa salahku?!" hati Gibran benar-benar gusar.
"Kau tak jujur padaku!!" ucap Delia, sambil menahan gemuruh di dadanya yang saat ini sedang naik turun karena amarah.
Gibran terdiam, ia mencoba mencari kesalahannya, sebenarnya apa yang dimaksud oleh Delia, sehingga ia sebegitu marah dan kecewa.
"Coba jelaskan padaku sayang! Kumohon, kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin, apa yang membuatmu marah?!" Gibran mencoba bersikap lembut pada Delia, namun Delia masih menyikapi dengan marah dan sedikit kasar.
"Berhenti kau panggil aku 'Sayang' Gibran!!!" teriak Delia. "Atau, aku panggil saja kau, Hamdan!!" ucap Delia sambil menunjuk pada Gibran.
Gibran nampak terkejut, dengan ucapan Delia, bagaimana bisa Delia mengetahui semua tentang dirinya.
"Sayang! Apa yang kau katakan? Coba kau jelaskan dulu padaku!?" Gibran masih mencoba mengelak dan menenangkan Delia.
"Aku bilang berhenti kau panggil aku 'sayang'!!" Delia nampak kalap, kali ini air matanya tak bisa terbendung lagi.
"Sebaiknya kau ceraikan aku!! Aulia sudah datang padamu!" kali ini Delia sedikit menurunkan nada bicaranya.
"Apa maksudmu! Aku tak mencintai Aulia!" kali ini Gibran sedikit tak sabar karena mendengar ucapan Delia karena menyinggung soal Aulia.
Nampaknya Delia tak menggubris kata-kata Gibran, ia seketika menarik tasnya dan meninggalkan Gibran.
"Delia!!!" teriak Gibran sambil mencoba menggapai Delia yang seketika menjauh, Gibran terus memanggil-manggil Delia sambil mengejar Delia, tapi sudah terlambat, Delia pergi dan menaiki sebuah mobil.
Gibran terus saja memanggil Delia hingga tak terasa ia menangis, Gibran menangis sejadi-jadinya karena tak bisa mempertahankan Delia.
Gibran tersadar, dan seketika ia membuka matanya, ia seperti sedikit linglung, menatap langit-langit kamarnya, air matanya mengalir, ia baru tersadar bahwa dirinya sedari tadi tidur dan bermimpi.
Gibran segera mengusap air matanya yang mengalir karena mimpi itu, Gibran masih merasakan gemuruh didadanya, sungguh ini mimpi terburuk yang pernah Gibran alami, terasa seperti nyata, ia mimpi Delia pergi.
__ADS_1
Seketika Gibran terperanjat, saat ia berbalik Delia sudah tidak ada disampingnya, wanita itu seharusnya berada disampingnya, kemana ia saat ini?
Gibran bangkit dari tempat tidur, entah kenapa mimpi itu terasa menghantuinya, hingga membuat dadanya sedikit sesak saat mengetahui Delia tidak ada
Gibran mencarinya di kamar mandi, sanbil memanggilnya, namun dia tak menemukannya disana, Gibran benar-benar gusar, hatinya tak tenang. Gibran keluar dari kamar lalu mencarinya.
Terdengar ada suara air dari wastafel dapur, Gibran segera pergi ke dapur dan mendapati Delia tengah mencuci piring disana, sungguh seketika hati Gibran terasa lega dan begitu tenang.
Gibran sedikit berlari menghampiri Delia lalu memeluknya dari belakang, membuat Delia terperanjat karena kaget.
"Astaugfirullah, kau mengagetkanku!!" ucap Delia sedikit sebal.
Namun Gibran semakin mempererat pelukannya.
"Ada apa denganmu?!" Delia menghentikan aktifitasnya, ia merasa bingung.
"Kau meninggalkan ku!" kata Gibran, suaranya sedikit bergetar.
"Aku hanya di dapur, kau tidur begitu nyenyak tadi!"
"Kenapa kau melakukan aktifitas, kau kan harus istirahat total!"
"Maaf, aku hanya memasak dan mencuci piring, tadinya setelah selesai pekerjaan ini aku mau membangunkamu, biar kita bisa makan bareng!" ucap Delia, sambil berbalik dan memeluk suamunya itu.
"Iya maaf!" ujar Delia sedikit menunduk karena menyesal.
"Setelah ini gak boleh ngapa-ngapain, kamu harus banyak istirahat!" kata Gibran, walau dia terlihat sebal namun hatinya saat ini banar-benar lega.
"Iya sayang!" ucap Delia sambil mengecup pipi suaminya itu, dan Gibran membalasnya dengan mengecup kening istrinya itu.
"Baiklah, biar aku yang meneruskan pekerjaanmu!"
"Tanggung sayang, ini sudah tinggal dikit kok!"
"Sudah, kamu duduk saja, biar aku yang terusin!"
Akhirnya Delia hanya bisa menurut, ia duduk sambil memperhatikan Gibran yang meneruskan pekerjaannya mencuci piring, ia begitu bersyukur memiliki suami seperti Gibran yang begitu penyayang dan pengertian kepadanya.
Setelah selesai Gibran menghampiri Delia yang menunggunya di meja makan.
"Sayang, apa kau tak sibuk hari ini?!" tanya Delia.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Emmm!! Aku ingin periksa kandungan!"
"Cepat kau selesaikan makanmu, setelah itu kita pergi periksa!" kata Gibran lembut. Begitu senang hati Delia.
"Baiklah!" Delia pun segera menyelesaikan makanannya.
Lalu kemudian Gibran menghubungi seseorang dengan handphone nya.
.
.
Mereka kini telah sampai disebuah klinik milik sorang dokter kandungan. Hari ini klinik itu terlihat ramai, setiap hari memang klinik itu selalu ramai pasien, dari periksa kandungan, bersalin dan pelayanan Keluarga Berencana (KB), bahkan poli umum pun juga ada di klinik ini, selain fasilitas yang sangat lengkap, pelayanannya juga terkenal sangat bagus.
Dokter Winarto adalah pemilik klinik itu, dia juga teman baik Ayah Gibran, Gibran juga mengenal Dokter Winarto dengan baik, apalagi dengan istrinya yang bernama Dokter Anisa yang juga seorang dokter kandungan.
Gibran dan Delia menunggu di sebuah kursi tunggu di dekat ruangan dokter Winarto, karena saat ini dokter Winarto sedang memeriksa seorang pasien.
Setelah menunggu beberapa menit kemudian, dokter Winarto sudah selesai memeriksa pasien dan Gibran pun bangkit sambil menggandeng tangan Delia untuk masuk kedalam ruangan Dokter Winarto.
"Assalamualaikum, Om Win!" ucap Gibran setelah masuk.
"Wa'alaikum salam, wah ponakan Om, akhirnya berkunjung ke tempat Om!" sambut Dokter Winarto begitu senang melihat kedatangan Gibran.
"Apa kabar om?!" tanya Gibran sambil bersalam bahkan mereka saling berpelukan.
"Alhamdulillah!" Dokter Winarto kemudian menangkupkan tangannya didepan dada dengan maksud memberi salam pada Delia.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya dokter Winarto pada Delia begitu ramah dan lembut.
"Baik, alhamdulullah, Om!" jawab Delia sambil pula menangkupkan tangannya di depan dada.
"Maaf, Om tidak bisa hadir ke pernikahan kalian waktu itu!"
"Tidak apa-apa Om, kami mengerti kesibukan Om!" kata Gibran.
"Kini kalian datang kesini, pasti mau memberi kabar baik pada Om?"
Gibran dan Delia seketika tersenyum bersamaan.
__ADS_1
Bersambung.....