Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 65 Pak Joni


__ADS_3

Gibran baru saja selesai rapat bersama client, ini adalah pertama kali bagi Gibran, walaupun begitu ia masih di bimbing oleh Ayahnya yang saat ini sebagai Presdir di perusahaannya.


Gibran sangat merasa gugup saat pertama kali berhadapan dengan client, namun nampaknya clientnya saat ini merasa puas dan senang bisa bekerja sama.


Clientnya saat ini berasal dari luar Jawa tepatnya dari Sumatra utara, Pak Joni adalah pria paruh baya yang memiliki berpuluh-puluh toko elektronik yang tersebar di daerah Sumatra, sedangkan Ayah Gibran adalah seorang importir barang elektronik, maka dari itu mereka bisa bekerja sama dalam pemasaran.


Setelah rapat selesai mereka yang ada diruangan itu semua berjabat tangan, Pak Joni begitu puas dengan penjelasan Gibran hingga ia menyepakati untuk bekerja sama.


"Pak Gibran, apa masih ingat dengan saya?" tiba-tiba Pak Joni berkata saat mereka selesai berjabat tangan.


Gibran mencoba mengingat-ingat, dengan menatap lelaki paruh baya yang ada di hadapannya itu.


"Saya Joni, Pak!" ucap lelaki itu, sedangkan Gibran hanya tersenyum bingung, ia tak berhasil mengingat apapun, seingat Gibran ini adalah pertama kali mereka bertemu, ia tak ingat kapan mereka bertemu selain hari ini.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Pak?" tanya Gibran dengan sopan.


"Pak Gibran ternyata sudah lupa ya, bapak pernah hampir menabarak saya dulu waktu mobil bapak baru keluar dari bandara beberapa bulan yang lalu!" kata Pak Joni, menjelaskan.


Gibran kemudian ingat tentang kejadian itu, namun ia tak menyangka bahwa lelaki di depannya ini adalah lelaki yang sama saat kejadian itu, walaupun begitu sebenarnya Gibran tak ingat dengan wajah lelaki yang nyaris dia tabrak waktu itu, Gibran hanya ingat dengan kejadian itu.


"Masya Allah, jadi yang waktu itu hampir saya tabrak itu adalah bapak?" Gibran benar-benar tidak percaya, mendengar itu Pak Joni hanya tertawa renyah.


"Iya, Pak! Saya sangat berterima kasih karena Pak Gibran membantu saya waktu itu, jika tidak ada bapak, entah bagaimana nasib saya waktu itu di Jakarta ini!" kata Pak Joni, ia mengingat kebaikan Gibran yang memberinya uang karena ia baru kearampokan.(bab 47)


"Apa benar waktu itu adalah bapak, yang hampir saya tabrak?" kata Gibran masih tak percaya, karena melihat penampilan lelaki di depannya ini sungguh beda jauh dengan lelaki yang hampir ia tabrak waktu itu, lelaki dihadapannya saat ini begitu gagah dengan setelan jas yangbia pakai, sedangkan yang Gibran ingat lelaki yang dulu hampir ia tabrak terlihat begitu jauh penampilannya dengan yang sekarang, sedikit kumal dan seperti tak pernah merawat dirinya.


"Iya, waktu itu saya sedang kalut karena tunangan saya pergi dan meninggalkan saya, niat saya datang ke Jakarta ini adalah mencari tunangan saya yang kabur, namun setelah sampai di Jakarta saya malah kerampokan!" ucap Pak Joni sedikit merasa. getir saat mengingat tunangannya itu.


"Jadi uang yang Pak Gibran kasih waktu itu saya pergunakan untuk pulang kembali ke Sumatra, dan kini saya kembali ke Jakarta memang untuk urusan bisnis, tapi juga untuk mencari tunangan saya itu."

__ADS_1


"Astaga!! Jadi bapak belum bertemu dengan tunangan bapak?!" Gibran nampak prihatin dan sedikit bingung, lelaki paruh baya ini ternyata belum berumah tangga, bahkan masih menjalin pertunangan.


"Belum Pak!" ucap Pak Joni sambil menggeleng lemah.


"Sepertinya, anda begitu mencintai tunangan anda ya pak!" kata Gibran


"Ya, saya sangat mencintainya, walaupun kami dijodohkan oleh orang tua kami, dan usia kami juga terpaut agak jauh, mungkin karena itu dia kabur dari saya!" Pak Joni sedikit menceritakan kisah percintaannya yang begitu pelik itu pada Gibran.


"Ah sudah lah! Tapi saya cukup senang karena bisa bertemu lagi dengan anda bahkan menjalin kerja sama dengan anda Pak Gibran!" ucap Pak Joni dengan wajah semringah.


"Semoga anda cepat dipertemukan dengan tunangan anda!" kata Gibran sambil memegang pundak lelaki itu.


"Amin!! Terimakasih Pak, Oh iya bagaimana kabar istri anda, Pak?" tanya Pak Joni kemudian.


"Alhamdulillah, baik, oh iya! Di Jakarta bapak tinggal dimana?"


"Kebetulan saya sudah membeli sebuah rumah di Jakarta ini, karena rencananya saya juga akan mendirikan toko elektronik di Jakarta juga!"


Pak Joni pun undur diri, dan Gibran segera pergi ke ruangannya, ia baru ingat bahwa gadgetnya ada disana. Jam masih menunjukkan jam sembilan pagi, jadwal menjemput Delia masih jam tiga sore nanti.


Gibran segera membuka gadgetnya yang dalam mode silent itu, ada puluhan panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan masuk. Gibran membuka panggilan dan terlihat nama Zahra yang ternyata menelphonnya, dan juga pesan masuk dari Zahra juga.


Gibran bingung kenapa gadis itu menghubunginya, sedangkan tak ada sekalipun nomor Delia yang menghubunginya, segera ia buka pesan dari Zahra itu.


Betapa terkejutnya saat Gibran membaca pesan dari Zahra bahwa Delia saat ini sedang berada di sebuah klinik akibat jatuh di Perpustakaan tadi. Gibran segera menghubungi Zahra untuk mengetahui keadaan Delia.


"Halo, Zahra!!" saking paniknya hingga ia lupa mengucap salam.


"Baiklah, aku akan segera kesana!" ucap Gibran setelah itu, dia pun bergegas untuk melihat kondisi Delia.

__ADS_1


.


.


.


.


"Delia!!!" teriak Zahra, saat melihat Delia telah terjatuh dalam posisi duduk sambil memegangi perutnya.


"Perutku!!!" rintih Delia. Ada sedikit noda merah di rok Delia.


"Aulia! Ini semua karena perbuatan kamu!!" teriak Zahra, pada Aulia.


"Tidak.. Aku tidak sengaja, sungguh!!" Aulia benar-benar merasa takut saat Zahra berteriak padanya.


"Kamu nggak mau ngaku!!! Kalau sampai terjadi apa-apa sama Delia, aku tuntut kamu, Aulia..!!" teriak Zahra lagi sambil membantu Delia untuk berdiri.


"Sudah Zahra, Aulia memang tak sengaja, sekarang tolong bawa aku ke klinik!" ucap Delia sambil merintih kesakitan.


Tatapan Zahra masih tajam menatap Aulia, perasaan Aulia benar-benar kacau saat ini, dia tak menyangka bahwa apa yang ia lakukan terhadap Delia akan seperti ini jadinya, ia benar-benar tak bisa berfikir jernih dan berfikir panjang, jika sampai terjadi apa-apa pada Delia terlebih pada kandungan Delia, Hamdan pasti tak akan pernah memafkannya.


Kini Aulia merasa serba salah, ada rasa sesal yang kini memenuhi perasaanya, namun semua sudah terjadi, kini yang bisa ia lakukan saat ini ikut membantu Zahra memapah Delia untuk membawa ke klinik kampus.


"Astaga!! Apa yang terjadi padamu, Delia!!" kata Bu Vera, saat mengetahui Delia telah dipapah oleh Zahra dan Aulia.


"Delia terjatuh saat menata buku di atas!!" ucap Zahra sambil menatap Aulia dengan tajam, membuat Aulia langsung memalingkan wajahnya karena takut. Dengan segera Bu Vera ikut membantu memapah Delia yang terlihat kesakitan itu.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa kasi likomnya ya, makasih🙏🙏😍


__ADS_2