
Setelah melaksanakan sholat ashar di sebuah masjid di kampusnya, Gibran melanjutkan pekerjaannya di luar masjid. Dia terlihat sangat sibuk hari ini. Beberapa pekerjaan tambahan belum selesai, padahal deadline sudah berada di depan mata. Gibran kembali menghidupkan laptop lalu membuka pekerjaan yang belum tuntas. Ditengah kesibukannya mengerjakan tugas dia teringat bagaimana tadi siang saat ia berdebat dengan Delia.
Mengingat gadis itu entah kenapa hati Gibran sedikit merasa risau, dia selalu ingat bagaimana gadis itu yang selalu uring-uringan terhadapnya dan Gibran sangat membenci gadis itu ketika Delia selalu mendebat dengannya. Entah mau sampai kapan dirinya akan terperangkap dalam pernikahan ini bersama Delia.
Sesekali ia memejamkan matanya mengingat betapa hidupnya saat ini yang telah berubah seratus delapan puluh derajat, ia sungguh rindu hidupnya yang dulu berada di pesantren, yang setiap hari selalu mendengar kumandang ayat-ayat al-qur'an, ia sangat suka suara deru isi mushaf penopang hidupnya. Ia merindukan moment saat ia berdiam diri untuk menikmati firman Allah, ia rindu itu.
Namun sesuatu kemudian mengusik pikirannya. Wajah seorang wanita tiba-tiba menguasai pikirannya. Wanita itu tersenyum, namun hanya sekali. 'Astaugfirullah....' Gibran tiba-tiba menyadari tanpa sadar ia merekam moment saat Delia tersenyum tapi bukan untuk dirinya, melainkan saat Delia tersenyum dan berbicara pada ibunya.
Di tengah kesibukannya yang sedang memikirkan Delia, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sebelahnya sedang membetulkan lengan kemejanyayang di gulung. Gibran memandangnya sekilas, tapi tak lama kembali ia kembali fokus pada layar laptopnya.
"Gibran?" sapa seorang laki-laki ditengah-tengah keseriusan Gibran.
Gibran berhenti mengetik di laptopnya, ia pun beralih menatap seorang pria yang tengah menyapanya. Gibran baru menyadari bahwa yang menyapanya adalah pria yang sedang duduk di sampingnya, dan dia adalah Kepala perpustakaan di kampusnya.
"Pak Edo?" ucap Gibran sambil tersenyum kepada kepala perspustakaan itu. Pak Edo baru mejabat setahun ini jadi kepala perpustakaan, menggantikan Pak Henry yang sudah pensiun, umurnya tak beda jauh dengan Gibran, dan dia masih lajang.
"Gibran, bisakah kita bicara sesuatu?"
Ucap Pak Edo, raut wajahnya terlihat serius, dan mendengar itu Gibran langsung menepikan laptopnya yang menyala itu di sebelahnya. Mereka memang jarang terlibat percakapan serius, mungkin hanya sesekali bertegur sapa saat kebetulan Gibran berada di perpustakaan.
"Ada apa Pak?" tanya Gibran.
"Begini, saya butuh staf di perpustakaan, karena perpustakaan kampus sangat banyak pengunjungnya, buku-bukunya juga banyak, tentu saja kami harus memberikan pelayanan yang ekstra dalam hal ini!" jelas Pak Edo panjang lebar. Gibran mengangguk mengerti.
"Maka dari itu kami membutuhkan staf baru diperpustakaan ini segera mungkin, sudah seminggu berlalu, tapi belum ada yang mengisi posisi itu!" keluh Pak Edo.
"Apa kau punya kerabat yang bisa bekerja disini?" tanya Pak Edo, namun Gibran tak langsung menjawab, ia mengingat-ingat siapa kerabatnya yang belum bekerja.
"Saya minta tolong saudara untuk menawarkan pekerjaan ini, saya tunggu infonya besok!" kemudian Pak Edo mengambil beberapa lembar kertas di tasnya dan menyerahkannya pada Gibran.
__ADS_1
"Ini persyaratan dan perjanjian. Ya, ini mendesak. Semakin lama menunggu staf baru, maka semakin banyak buku baru yang terbengkalai, belum didata. Ah, iya. Saya ada keperluan ke rektorat, jadi saya permisi dulu, tapi sebelumnya, terimakasih atas bantuannya, assalamu'alaikum!" Kepala perpustakaan yang berpostur tinggi itu meninggalkan Gibran yang melongo bingung.
"Walikum salam!" ucap Gibran kemudian.
Gibran menatap lembaran itu ditangannya dan berpikir, memangnya ada kerabatnya yang mau jadi penjaga perpustakaan? Ia tidak yakin kalau keluarganya akan mau, namun kemudian sebuah ide tercetus. Gibran mengurungkan niatnya yang akan berdiam di masjid hingga nanti malam dan ia pun pergi untuk merealisasikan idenya itu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, Gibran sudah sampai di depan rumahnya. Gibran tidak menyangka, rencananya tadi siang untuk menghindari wanita itu gagal. Malah kini ia yang datang untuk menemuinya. Gibran juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, keraguan sempat melandanya, namun ia memberanikan diri untuk memanggil sebuah nama milik gadis yang sedang serius mencuci piring di dapur itu, dan tanpa sadar perasaan Gibran lebih tenang melihat gadis itu nampak riang. Gibran pun menghampirinya.
"Apa kau sedang sibuk?"
Delia benar-benar terkejut, tiba-tiba lelaki itu sudah berada di rumah.
"Aku tidak bermaksud mengganggu mu, tapi ada sesuatu yang harus kita bicarakan ," ujar Gibran, membaca ekspresi wajah Delia yang nampak terkejut itu. Delia pun mengangguk dan kemudian ia berjalan ke ruang keluarga.
"Bukannya banyak pekerjaan, kenapa pulang cepat?" tanya Delia setelah ia duduk disebuah sofa.
"Aku tidak akan lama, maaf padahal aku yang janji untuk tidak sering didekatmu, tapi kini aku sendiri yang datang padamu, tapi memang ada sesuatu yang penting!"
Gibran mengeluarkan beberapa lembaran yang berisi persyaratan dan kontrak kerja yang tadi Pak Edo kasih kepadanya dan memberikannya kepada Delia.
"Kampusku, lebih tepatnya kepala perpustakaan, memintaku untuk mencarikan staf tambahan. Ini mendesak dan perpustakaan sangat membutuhkan pegawai baru, jadi apa kau mau menerima lamaran itu?" itulah ide yang tadi tercetus di pikiran Gibran, menawarkan lowongan pekerjaan ini pada Delia. Namun Delia tidak menjawab, dia hanya menatap Gibran tanpa berkedip.
"Ada apa?" tanya Gibran heran.
"Kau tidak bercanda kan?"
"Jadi bagaimana, apa kau mau?" Delia langsung mengangguk semangat dan berteriak riang.
"Tentu saja aku mau, tapi?" ucap Delia, tiba-tiba wajah riangnya menghilang.
__ADS_1
"Ada apa lagi, kau ingin pekerjaan itu kan?"
Gibran melihat Delia masih menimbang-nimbang jawabannya. Delia menunduk sambil *******-***** jari tangannya.
"Tapi aku takut, kau tidak mengizinkan aku!" aku Delia muram.
"Meskipun kita berjanji untuk menjalani hidup kita masing-masing, tapi kau tetaplah suamiku yang sah secara hukum dan agama bagiku. Jadi kurasa.... Semua keputusan ada ditanganmu!"
Gibran sungguh terkejut dengan perkataan Delia, meskipun hubungan pernikahannya dengan Delia dibilang sangat buruk, namun dia tak menyangka jika pemikiran Delia akan seperti itu terhadapnya. Saat ini Delia menyerahkan sepenuhnya pada Gibran, padahal Gibran sendiri sudah tidak bisa berfikir apa-apa setelah ia mendengar ucapan Delia barusan.
"Bekerjalah disana, mereka sangat membutuhkanmu."
Jawaban Gibran adalah jawaban yang sangat terbaik yang pernah Delia dengar selama ia mengenalnya. Delia tersenyum dan nampak semakin riang. Tak disangka saking riangnya Delia menghambur ke tubuh Gibran dan memeluknya. Gibran yang terkejut hanya bisa membalas pelukan Delia itu tanpa bisa berkata-kata.
Namun Delia sadar karena dirinya kini melanggar perjanjian yang telah ia buat dulu, hingga ia terperanjat dan menjauh dari Gibran.
"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat hingga melanggar peraturan yang telah kubuat sendiri!" ucap Delia sambil menunduk malu.
"Tidak apa-apa, kau adalah istriku yang sah secara hukum dan agama!" ucap Gibran kemudian.
"Sekali lagi terima kasih Gibran, emhh... Apa kau sudah makan?" ucap Delia, dia bingung harus berkata apa lagi pada laki-laki itu.
"Belum!" ucap Gibran singkat.
"Baiklah, akan aku siapkan makananmu!"
Delia pun bergegas dari ruang keluarga, dan pergi ke dapur, sebenarnya dia mencari alasan untuk pergi dari hadapan laki-laki itu, agar dia bisa mengendalikan perasaannya. Sedangkan Gibran hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan seulas senyum tiba-tiba terukir diwajahnya.
Bersambung......
__ADS_1