
Gibran melempar tas Delia ke atas kasur hingga tas itu terpental beberapa kali, baju-baju Delia terlihat berserakan di atas kasur, segera Delia memunguti pakaian itu, melipatnya dengan asal lalu memasukkannya lagi ke dalam tas.
Sepertinya Delia akan menginap dalam waktu yang sedikit lama di rumah orang tuanya, terlihat tasnya yang menggembung karena terisi oleh baju-baju Delia.
Rasa nyeri di sekujur tubuhnya juga semakin terasa, gara-gara aktifitasnya tadi bersama Gibran di sofa ruang tamu, Delia benar-benar dongkol pada Gibran yang telah membuatnya lebam-lebam seperti disiksa.
Dan yang paling membuatnya dongkol, Gibran tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan duduk perkaranya. Kini dengan mudahnya ia ingin meminta maaf dan mengatakan bahwa ia cemburu, dasar cemburu buta, kesal Delia dalam hati.
"Bisa tidak kau memepercepat mengemasi baju-bajumu itu? Lama sekali!" kata Gibran dengan nada kasar, seketika Delia menatap Gibran dengan tatapan yang membunuh membuat Gibran langsung menghindari tatapan itu.
Hati Delia benar-benar kesal pada Gibran saat ini, jangan harap dia bisa memberikan maaf dengan mudah pada lelaki itu, kata Delia dalam hati.
Setelah selesai mengemasi bajunya, Delia mengangkat tas itu dengan susah payah, karena saking banyaknya baju yang Delia bawa. Gibran tak memperdulikan walau Delia kesusahan membawa tas itu, ia terus saja berjalan mendahului Delia, membuat Delia semakin dongkol.
Saat berada di mobil, Delia memilih duduk di belakang, tak seperti biasanya yang selalu duduk di depan bersebelahan dengan Gibran. Gibran hanya bisa memperhatikan Delia dari kaca spion dan mereka tak berkata apapun selama di perjalanan.
Perjalanan menuju rumah orang tua Delia hanya memerlukan waktu dua puluh menit dengan kecepatan sedang. Namun karena Gibran mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi sepuluh menit pun mereka telah sampai di depan rumah orang tua Delia.
Kedatangan mereka disambut oleh ibu Delia dengan wajah yang berseri-seri, walau ibu sempat bingung karena kedatangan mereka yang mendadak tanpa mengabari dulu.
"Ada apa nih, kok gak ngasi kabar dulu?" tanya ibu, walau hatinya begitu senang saat anak dan menantunya itu mengunjunginya.
"Nggak ada apa-apa ibu, Delia bilang bahwa dia sangat rindu pada ibu, iya kan sayang?!" kata Gibran terlihat lembut dan mesra sambil menggandeng tangan Delia, walau Delia masih dongkol pada Gibran dia harus bisa menyembunyikan kedongkolannya itu didepan ibu, karena bagaimanapun dia tak ingin ibunya sampai berpikiran macam-macam.
"Ayah sama Dimas ada dirumah?" tanya Delia, mengalihkan pembicaraan.
"Nggak, Ayah sedang ngantor, kalau adekmu ada tuh dikamarnya, biasalah lagi ngegame, kalau udah seperti itu gak bisa di ganggu tuh anak!" ucap ibu, terlihat bahwa dia begitu dongkol pada putranya itu.
__ADS_1
Delia pun masuk kerumahnya itu dengan perasaan campur aduk, apalagi saat Gibran ikut masuk kedalam rumahnya perasaan canggung seperti saat dulu ia baru pertama kali menikah pun terjadi lagi.
"Delia pengen nginep disini bu!" kata Delia saat mereka sudah duduk bersama di ruang tamu. Sungguh rasanya benar-benar canggung, Delia yang biasanya selalu ceria kini jadi lebih banyak diam.
"Ibu senang jika kau ingin menginap disini, tapi bagaimana dengan suamimu, kasian dia, apapun yang biasanya disiapin istri malah harus dilakukan sendiri!" kata ibu begitu bijaksana.
"Nggak apa-apa....
"Gibran rencananya mau nginap disini juga bu, boleh tidak?" Gibran langsung memotong pembicaraan Delia, dan mengatakan hal yang berhasil membuat Delia semakin kesal padanya.
Niat ingin menghindari Gibran malah terjebak pada suatu yang tak memungkinkan untuk dirinya bisa jauh dari suaminya itu, bahkan harus selalu terlihat bersama di rumah ibunya itu, ini benar-benar membuat Delia jengkel.
"Wah, kalau begitu ya sangat boleh!" ucap ibu begitu senang mendengar anak dan menantunya itu mau menginap dirumahnya.
"Ngapain kamu nginap disini juga?" tanya Delia begitu dongkol, saat ibu sudah masuk kedalam dan tinggal mereka berdua di ruang tamu itu.
Seketika Delia mengertakkan giginya karena merasa kesal, Delia pun bangkit meninggalkan Gibran sendirian di ruang tamu, sambil melangkah dengan kasar, membuat Gibran tak bisa menahan tawanya.
Delia tak habis pikir dengan jalan pikiran Gibran yang sedikit-sedikit marah bahkan tak bisa mengontrol emosinya, tiba-tiba bersikap manja bahkan seperti bayi, esoknya bisa jadi akan menjadi lelaki menjengkelkan, labil banget dah kaya orang hamil, sebenarnya yang hamil itu aku atau dia sih? Kata Delia dalam hati.
Berada di antara keluaraga Delia ternyata sungguh menguntungkan bagi Gibran, ia tak sungkan memperlihatkan kemesraannya bersama Delia di depan orang tua Delia, walau Delia benar-benar risih karena harus meladeni Gibran, namun mau tidak mau dia harus mengimbangi semua itu, agar ayah maupun ibunya tak curiga.
Malam ini saat makan malam, Gibran sengaja menyuapi Delia, dan mau tidak mau Delia menurut saja saat Gibran menyuruhnya untuk membuka mulutnya. Ayah dan ibu begitu senang melihat keakraban mereka, kecuali Dimas yang sedari tadi rasanya mual melihat kedekatan mereka yang kelewat lebay itu.
"Del! Ibu perhatikan kamu gak seperti biasanaya?" tanya ibu kemudian yang tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan putrinya itu.
"Ah..ma..masa sih bu?" ujar Delia sedikit gelagapan, mencoba menutupinya dengan bertanya balik pada ibunya.
__ADS_1
"Emm.. Apa mungkin cuma perasaan ibu ya, atau mungkin bawaan bayi!?" kata ibu lagi.
"Iya, biasanya kan jadi ratu berisik tuh!" ucap Dimas sambil terkekeh.
"Apaan sih, enak aja dibilang ratu berisik!!" Delia menjadi dongkol.
"Jadi ibu hamil itu harus ceria, biar babynya juga bahagia!" kata ibu, yang masih tidak peka dengan kedongkolan Delia, sedangkan ayah seperti biasa tidak respon dengan candaan mereka, namun bukan berarti tidak fokus dengan apa yang mereka ucapkan, dan akan selalu jadi pembela jika nantinya Delia menjadi korban bully adik atau ibunya.
"Iya Kak! Tapi bagus sih sebenarnya kalau banyak diamnya, coba kalau berisik, apa nggak kejer tuh dedek bayinya karena keget sama suara emaknya!!" Dimas benar-benar tidak mengerti mood Kakaknya, malah nambahin ngebully Delia yang memang sudah kesal dari tadi saat ia baru tiba dirumah.
"Bisa diam gak sih kamu bocill!!!" teriak Delia membuat semua yang ada di meja makan sedikit kaget. Delia bangkit dari meja makan dan pergi masuk kamar, Gibran pun ikut tertegun dengan hal itu.
"Ibu, Adek!! Bisa nggak sih kalau kalian jangan bikin Delia kesal?!" kata Ayah dengan nada lembut namun tegas.
"Niat ibu kan pengen bercanda Yah!" kata ibu.
"Iya, lagian kakak kenapa sih gitu saja marah, ck ck!" ujar Dimas sambil geleng-geleng kepala.
"Ya sudah, Ibu, Ayah biar Gibran yang membujuk Delia!" kata Gibran.
"Ya sudah, Nak, tolong bujuk Delia ya, dia biasanya nggak bersikap seperti itu, entah mungkin karena bawaan bayi dia jadi bersikap demikian."
"Iya ibu, akan Gibran coba membujuknya sekarang!" Gibran pun bangkit meninggalakan meja makan.
Bersambung...
Yukkk di like.... Jangan sampe lupa ya😍
__ADS_1