
Sepuluh tahun Delia menjadi seorang santri dan selama empat tahun pula dia tak pernah pulang ke Jakarta, dia kini sungguh rindu pada Ibu, Ayah dan Dimas adiknya, dia sudah rindu dengan semua yang ada di Jakarta, walau Jakarta terkenal dengan kemacetannya.
Delia sudah di wisuda hari ini dan rencananya besok pagi dia akan pulang ke Jakarta melalui jalur udara. Delia dan Hana adalah teman satu kamar, Hana adalah santriwati yang berasal dari Medan dan setelah lulus S1 rencananya dia akan meneruskan S2 di Tareem Yaman.
"Wah, senangnya bisa meneruskan S2, diluar negri lagi !" ujar Delia pada Hana yang saat ini sedang bersantai dikamar.
"Alhamdulillah, rencananya Ayah dan Ibuku juga akan pindah disana, Kau sendiri, apa akan melanjutkan S2 atau tidak ?"
"Aku tak tau, tapi sepertinya aku akan mencari pekerjaan saja setelah ini di Jakarta!" ucap Delia dengan murung.
"Atau jangan-jangan kau akan menemukan jodoh setelah ini !" ucap Hana sambil terkekeh.
"Ah, jangan ngaco, untuk urusan jodoh, mungkin masih jauh dari pemikiranku, aku masih ingin bebas." ucap Delia menerawang.
...****************...
Setelah pesawat mendarat dengan mulus, semua penumpang jurusan Padang-Jakarta bersama-sama turun, sebelumnya Delia mengecek barang-barang bawaannya, ia khawatir ada yang tertinggal dipesawat, ternyata tidak ada yang tertinggal dipesawat. Ia bergegas turun dari pesawat, setelah menjejakkan kakinya di tanah, ia pun merasa lega karena akhirnya selama empat tahun tidak pulang membuatnya sangat-sangat rindu, dan ingin tahu ada banyak perubahan apa saja didaerah tempat tinggalnya itu selama dia tak pulang empat tahun dari Padang.
Delia mendapat telephone dari sang adik bahwa mereka sudah sampai di pintu masuk bandara untuk menjemput Delia, dan Delia pun segera bergegas berjalan sambil menarik kopernya. Tampak dari jauh Ayah, Ibu dan adiknya sedang melambai kearah Delia dan Deliapun mempercepat langkahnya.
Delia begitu rindu pada keluarganya dan memeluk mereka satu persatu.
"Bagaimana kabarmu Nak ?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah, Delia sehat, ayah dan ibu bagaimana ?"
"Alhamdulillah sayang !"
"Hey Dim, bagaimana sekolahmu !"
Ucap Selia sambil merangkul adiknya yang kini sudah mau masuk universitas itu.
"Baik dong! kak."
Merekapun pulang menuju kerumah. Dalam perjalanan mereka tak henti-hentinya bercanda, dalam hal ini, ketika sudah berkumpul yang selalu dapat bullyan adalah Delia, bahkan hingga Delia ngambek, namun untuk saat ini dia tidak akan ngambek karena hal ini yang paling dia rindukan saat masih di pesantren. Ayah Delia yang selalu membela anak sulungnya itu jika sang adik, Dimas keterlaluan membully kakaknya.
__ADS_1
"Del, besok malam akan ada tamu datang kerumah!" ucap ibunya kemudian.
"Siapa, Bu?" tanya Delia, sepertinya tamu yang datang adalah tamu penting hingga sang ibu harus mengatakannya padanya.
"Mereka teman baik Ayah, Delia! Mereka datang bersama anak mereka yang kebetulan baru datang dari Padang!"
Mendengar itu Delia hanya manggut-manggut, namun ketika Delia melihat raut wajah ibu yang terlihat berseri-seri Delia pun bertanya.
"Memangnya untuk apa mereka datang bertamu, Bu?" ucap Delia, walau sebenarnya dia tak mau tau karena yang datang adalah teman baik ayah dan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Delia.
"Mereka ingin sekali bertemu dengan mu!" ucap ibu yang masih berseri-seri.
"Hah?! untuk apa?" seketika Delia terkejut mendengarnya.
"Ya mereka akan melamarmu lah Kak, gitu aja nggak paham sih!" ujar Dimas, matanya tetap fokus dengan layar handphonenya.
"Apa-apaan sih! Ayah, Ibu? Delia tidak mau?" ucap Delia dengan sedikit berteriak.
"Apa maksudmu, Del? Memang kau pikir kau tak akan menikah?" ucap ibu sedikit dongkol.
Delia benar-benar gusar.
"Usiamu itu sudah matang, memang sudah saatnya kau memikirkan hal itu!"
"Sudah-sudah, sebenarnya teman ayah hanya ingin memperkenalkanmu dengan anaknya, jika memang kalian berdua saling cocok, apa salahnya jika diteruskan, tapi kalau memang kalian tidak cocok satu sama lain, ya apa boleh buat, kita sebagai orang tua hanya bisa berusaha, Delia!" ucap ayah kemudian, menengahi.
'Cukup adil, tapi kenapa mereka harus secepat ini memikirkan hal itu, bukankah ini terlalu dini, seharusnya aku tak secepat ini pulang ke Jakarta, oh Tuhan !!!'
Ucap Delia dalam hati, rasanya dia benar-benar tertekan saat ini, dan rasa ingin kembali ke Padang sangat menggebu-gebu.
...****************...
Lelaki itu baru saja mendarat dengan pesawat jurusan Padang-Jakarta, selama empat tahun dia tak pulang ke Jakarta, dia sudah rindu pada ayah, ibu dan adik perempuannya yang kini mungkin sudah kuliah, sebenarnya dia masih betah berada di Padang, dia ingin melanjutkan studinya disana, namun sang ibu memaksa agar dia melanjutkan S2 di Jakarta saja, sebagai anak lelaki tertua dia memang harus selalu bersikap patuh kepada kedua orang tuanya, terlebih pada ibunya. Apalagi sang ayah juga menyuruhnya agar mulai bekerja diperusahaan ayahnya sendiri, kedudukan sebagai manager sudah dipersiapkan untuknya, maka dari itu dia harus meneruskan S2 agar nanti dia menjadi penerus ayahnya sebagai presdir di perusahaan itu.
Gibran kembali berjalan menuju pertokoan di bandara. Ia membetulkan kemeja lalu menarik kopernya, sesaat dia berhenti disebuah toko souvenir, dengan ragu ia berjalan memasukinya, banyak barang-barang yang disukai wanita disana, seperti tas, trench coat, scarf, atau perhiasan. Ini agak aneh kalau melihat seorang pria datang sendirian tanpa seorang pasangan, itu artinya dia ingin membelikan sesuatu untuk seorang wanita. Dengan cepat ia mengambil sebuah tas berwarna navy dengan pelat kecil ditengahnya dan membayar tas itu di kasir. Setelah itu ia meraih handphone di saku kemejanya dan menelphon seseorang.
__ADS_1
"Assalamualaikum, ibu! Gibran sudah sampai, ibu dimana?" ucap Gibran tidak sabar.
"Ibu ada di depan pintu bandara, cepatlah kemari!" Gibran pun menganggukkan kepalanya seolah ibu melihatnya.
Sesampainya di pintu masuk bandara, Gibran melihat dua orang wanita yang sungguh ia rindukan, dia adalah ibu dan adiknya, Kalina.
Gibran menghampirinya dan memeluk mereka satu per satu.
"Ibu sehat kan, dimana ayah?"
"Alhamdulillah sayang, ayah sedang ada pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan!"
"Kau sendiri, bagaimana sekolahmu?" tanya Gibran pada sang adik.
"Baik dong, kak! Aku sudah diterima di UI!"
Ucap Kalina sambil bergelayut manja ditangan sang kakak.
"Wah hebat sekali kalau begitu!" Gibran menowel hidung adiknya itu.
"Oh iya, ini oleh-oleh untuk ibu!" ucap Gibran sambil menunjukkan tas yang ia beli barusan ditoko souvenir, dan ibunya begitu terpana melihat tas ditangan Gibran itu, sekalipun ia tahu bahwa tas itu sebenarnya Gibran belikan dari pertokoan di bandara, namun itu membuat hatinya tentram.
"Kau hanya memikirkan ibu!" sungut Kalina.
"hey jangan marah dulu, nanti kau bongkar saja koperku ini!" kata Gibran sambil mengacak rambut adiknya itu, dan Kalina hanya bisa tersenyum, baginya kedatangan kakaknya ini adalah hadiah terbesar tahun ini.
"Ayo lekas pulang, dan besok ayah akan mengajak kita kesuatu tempat!"
Kata ibunya merasa bahagia dan berseri-seri.
"Kemana, bu?" tanya Gibran sedikit mengernyitkan dahinya.
"Nanti saja lah, kau akan tau sendiri, biar ayah yang jelasin ke kamu!" ucap ibunya, ambigu.
Gibran hanya bisa mengangguk tanpa bertanya lagi, karena dia sudah ingin cepat-cepat sampai dirumahnya.
__ADS_1
Bersambung....