
Setelah sabtu yang menyenangkan mereka semua beristirahat dihari minggu.
Senin dipagi hari, cuacanya cukup mendung meski masih ada sinar matahari di sela-sela awan, mereka tak sabar menceritakan pada Bian dan Jeisis yang memberikan ide liburan tapi tak ikut karena urusan keluarga.
Terdengar sapaan selamat pagi disepanjang koridor maupun di dalam kelas, siswa siswi mulai berdatangan untuk memulai belajar di minggu yang baru setelah ujian, begitu juga dwngan para penghuni X Bahasa 1.
Kurang dari 5 menit, kelas akan dimulai dan mereka menunggu kedatangan Ian yang tak kunjung muncul dari ambang pintu.
" Apa Ian tidak datang?"
" Dia tidak mungkin sakit kan..."
" Sabtu kemarin sia baik-baik saja, jangan bicara sembarangan, ucap adalah doa..."
" Baiklah baiklah..."
" Duduk di tempat duduk masing-masing..." ibu Ani masuk untuk memberi beberapa pengarahan "...tak ada yang perlu disampaikan, jaga kebersihan kelas, jangan membuat masalah, kalian cukup lihai menyembunyikan keonaran kalian..." ucapnya sambil tersenyum pada seisi kelas. "...Ardian izin tak masuk hari ini, ikuti kelas dengan baik, selamat pagi..."
" Ian kemana bu?" tanya Betty dan Angel bersamaan sambil mengangkat tangan.
" Tak ada alasan kenapa dia izin, ibu menerima kabar dari ibu Siska, kalian bisa menanyakan pada beliau..." ujar ibu Ani kemudian pergi.
Betty mencari keberadaan handpone-nya, mencari nama Ian dalam kontaknya.
" Halo, Ian? kenapa kau tak datang?" tanya Betty tanpa menyapa terlebih dahulu.
" Halo, selamat pagi, maaf sebelumnya saya bukan bermaksud lancang mengangkat panggilan teman nona Ar, tapi beliau masih tertidur..." jawab Anisa, pelayan yang melayani Ar sekaligus anak pembantu rumah tangga Harna.
" Ah iya saya juga minta maaf tanpa menyapa terlebih dahulu, saya Betty, teman sekelas Ardian, kalau mau tanya, apa Ardian baik-baik saja?" tanya Betty sopan membuat yang lain heran dengan kesopanannya itu.
" Maaf nona, tapi saya tak berani mengungkapkan kondisi nona muda pada anda..." kata Anisa lagi.
" Baiklah, maaf mengganggu anda yang sedang bekerja pagi-pagi begini, tolong rawat Ardian dengan baik, selamat pagi..." ucap Betty.
" Iya nona, selamat pagi juga untuk nona..." Dan Bettypun menutup telponnya.
" Bagaimana? apa terjadi sesuatu dengan Ian?" tanya Joana yang mendekat saat mengetahui Betty menelpon Ian.
" Entahlah, kata pelayannya dia masih tidur, sepertinya dia memang sakit..." kata Betty menyimpulkan.
" Ian kan orang berada, pasti kerumah sakit kalau dia sakit..." Kata Angel yang ikut gabung.
" Ada kakaknya yang dokter lagi kuliah S2, tinggalnya gak jauh dari rumah kak Harna jadi mereka gak perlu ke rumah sakit kalau lagi sakit..." kata Benny.
__ADS_1
Dan kesalah pahaman tentang Ar terus berlanjut.
...****************...
Ar bangun, merenggangkan otot-ototnya yang kaku saat tidur. Jam menunjukan pukul 07.30. Waktu yang tidak baik untuk seorang gadis muda bangun. Kata mama nanti jodohnya jauh kalau bangun kesiangan.
" Selamat pagi nona..." sapa Anisa yang baru selesai memberi makanan pada ketiga baby dog dan membersihkan kamar Ar.
" Selamat pagi kak Nisa..." kata Ar membalas sapaan. Ia memperhatikan Anisa yang saat dia bangun dari tidurnya Anisapun bangun dari duduknya, membuka gorden jendela dan balkon tanpa membuka pintu kaca balkon tersebut.
" Tadi ada temen nona yang telpon, nanyain nona tapi kata saya nona lagi tidur, itu aja..."
" Oh iya nanti aku telpon mereka lagi, makasih kak,.Ar mandi dulu ya..."
Setelah mandi dan bersiap Ar turun ke bawah dengan pakaian sederhana, jelana panjang no jeans, kaos big size, dan dibalut cardigan yang dibiarkan terbuka atau tidak dikancing. Tema pakaiannya berwarna coklat cream, dengan tas selempang yang mengisi 'sesuatu' yang pasti dibutuh Ar.
" Kak Herman juga udah pergi kak?" tanya Ar sambil menduduki kursi yang sering ia tempati.
" Iya, Harun dan yang lain juga udah pergi sekolah, tumben bangun kesiangan..."
Harna menunggu Ar turun dan makan bersamanya.
" Sesekali kak..." Ar mengunyah sarapan didepannya.
" Bukannya kakak ijin sehari kata kakak sebelumnya..." kata Ar.
" Setengah hari, kakak hanya ijin setengah hari..." ujar Harna membenarkan kata-kata Ar.
" Baiklah..."
...****************...
Pemeriksaan mata, Ar yang telah memerlukan alat bantu sejak kecil harus mengganti lensa yang lebih besar lagi.
Ar yang dulu sering mematahkan kacamatanya karena terus memakainya, entah sejak kapan ia menggunakan kacamata hanya untuk keperluan membaca atau kadang tidak sama sekali.
" Adik Ardian pasti sering menabrak barang-barang kecil kan? Adik tak perlu malu menggunakan kacamata, kadang orang berpikir anak-anak yang menggunakan kacamata itu anak yang jenius..." kata Dokter setelah selesai pemeriksaan.
" Pak emm, adi..."
" Maaf pak, jika pak dokter mengira saya masih SD, pak dokter salah besar, saya memang pintar tapi saya sudah SMA..." kata Ar angkuh, dia paling tak suka dianggap anak-anak.
" Ahahaha adiknya ibu Harna ini agak tidak suka bercanda ya, ini resepnya, ibu tau tempat obtik mana yang bagus untuk adiknya ibu..." kata pak dokter.
__ADS_1
Mereka pulang, singgah di toko optik disebelah rumah sakit.
...****************...
" Kenapa kau tak menggunakan kacamatanya?" tanya Harna. Mereka sedang menuju ke kantornya.
" Nanti sering patah kalau dipakai terus, dulu juga begitu, kadang ditindih, tidur juga lupa lepas, dulu papa sering marah kalau Ar terus patahin..." ujar Ar, dulu memang dia sering mematahkan gagang kacamatanya.
" Gak masalah, kakak bisa beli yang baru, kak Herman punya beberapa persen saham di toko optik tadi jadi tak masalah jika mematahkannya karna kita bisa membeli lagi..."
" Baiklah..." kata Ar kemudian menggunakan kacamata yang baru diganti gagang dan lensanya tadi.
" Nah ayo turun, kakak kenalin kamu ke temen-temen kantor kakak, liat kantornya kak Herman, baru kita ke perpustakaan."
Ar diajak berkeliling kantor pusat Yayasan Pranata, kantor tersebut terdiri dari 16 lantai, untungnya Harna memiliki akses kusus untuk menggunakan lift kusus direktur, jadi mereka tak perlu bersusah payah menggunakan lift karyawan yang sesak pada jam makan siang seperti sekarang ini.
Ar juga menyapa Herman di ruangannya, ia bahkan diberi uang ( Ar sangat dimanja oleh Herman ). Selesai berkeliling, Harna mengantarnya ke perpustakaan umum di sebelah jalan.
" Telpon kakak kalau kau butuh sesuatu..." pesan Harna pada Ar.
" Pasti kak Andi ada di dalam..." gumam Ar pelan tapi tetap didengar Harna.
" Buat apa Andi di sini, dia kan paling malas baca buku?" kata Harna.
" Kak Andi lagi dekan dengan salah satu pegawai magang di sini..." kata Ar.
" Ayo masuk..." kata Harna sambil menggandeng tangan Ar.
" Katanya hanya ngantar sampai sini aja, kenapa sekarang kakak juga ikutan masuk?" tanya Ar yang sengaja karena ia sudah tau jawabannya.
Masuklah mereka kedalam.
Ar yang sudah beberapa kali datang sudah terbiasa, mulai dari menitipkan barang, menulis daftar kunjungan, dan Harna mengikuti setiap gerakan Ar.
Masuk ke dalam, mata Harna langsung menelusuri tempat dan sudut yang nampak dari tempatnya berdiri dan ia melihat sosok tak asing yang bahkan sangan akrab dengan matanya itu. Ia mendekat.
" Ehem..." batuknya dengan tujuan menyadarkan adik sepupunya yang sedang kasmara itu.
" Eh ada kak Harna, tumben datang ke sini, kakak gak ke kantor?" basa-basi Andi.
" Jaga adikmu dengan baik, jika kau meninggalkan dia lagi, ucapkan selamat tinggal pada mobil didepan..." kata Harna dengan berbisik namun Andi yang mendengar menjadi merinding.
" Siap bu bos..." kata Andi kaku, iya takut dengan ancaman tersebut.
__ADS_1
Dan begitulah hari pertama dalam minggu baru setwlah ujian tengah semester.