Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Pesta


__ADS_3

Ar melihat keluar dari tirai jendela kamar, semua sudah ada. Ia menjadi tak sabar untuk segera turun dan memberikan hadiahnya secara langsung pada Win. Ia mendesak Anisa agar lebih cepat merapikan rambutnya.



Gaun putih dengan bunga lili sebagai hiasan ditangannya Ar turun dengan anggun dan bergabung dalam pesta.


Seperti kata orang, pemeran utama memang selalu datang paling akhir sepertinya benar.


Ia bisa merasakan tatapan seluruh tamu datang pada dirinya. Ia menjadi malu pada Win karena mengambil semua perhatian.


Ia mendekati Win, mengecup pipi Win dan mengucapkan selamat ulang tahun. Tak lupa ia memberikan hadiah berupa box sedang yang dipikul oleh Anisa dan mengikutinya dari belakang sejak tadi.


Win yang melihat hadiah pemberian Ar tersebut tersenyum senang dan memeluk Ar yang masih menyejajarkan tingginya.


Setelahnya Ar bertegur sapa dengan guru BK yaitu Ibu Siska yang datang sebagai sahabat Harna, ada juga Brian anak Siska yang jadi pendampingnya sarena sang suami sedang tak bisa hadir.


Ia langsung menuju kumpulan teman-teman sekelasnya.


" Kamu kaya bidadari..."


" Ngak, lebih cantik dari bidadari..."


" Malaikat..."


" Paling cantik yang pernah kutemui..."


" Aku iri sama cantiknya kamu..."


" Tumben tinggi..." Semua tau suara siapa ini, tentu Daniel.


" Biarin, sirik aja lo, iri bilang, mau pinjamin heels kak Harna..." balas Ar.


" Eh eh darting, stroke baru tau rasa lo..." balas Daniel.


Daniel ini entak kenapa selalu saling mengejek jika bersama Ar.


" Kalian berdua kaya kucing pengen kawin, ribut dulu baru nyoblos..." suara Veron. Ia langsung digeplak Lynden di sampingnya.


" Kucing emang ikut pemilu?" tanya Ar dengan polosnya. Mendengar itu semua langsung menepuk jidat. " Ditanya malah nepuk jidat, lama-lama bego..." sambung Ar. " Eh bener kucing juga nyoblos, mereka emang punya pemerintahan?" tanya Ar lagi.

__ADS_1


" Ngak ada Iang sayang, mending ikut mas Mario, otak mereka semua emang agak rada-rada..." Ajak Mario, ia merangkul Ar dan menjauhi dari kumpulan omes yang mikirnya cuman kawin. (Gak semua juga gitu Yo).


Ar dijauhkan Mario dari mereka semua. Mario mendudukannya di sebuah kursi pada meja kue utama Win.


" Kamu masih sakit, masih pucat, jangan banyak berdiri, pusing gak? Butuh sesuatu? Makan? Minum? Atau..."


" Wow Yo, please jangan jadi wartawan, kalau aku masih sakit aku gak mungkin dibolehin disini, aku memang belum sembuh total makanya masih pucat, lagian kulitku memang gini kok, aku juga gak pusing yang sampai kunang-kunang, gak butuh seauatu, tadi udah makan, minum dikit tapi blom obatnya..." jawab Ar.


" Aku kawatir aja..."


" Woi elah pacar disini, orang mau potong kue..." Brian mendekat.


" Cik, udah tau orang pacaran gangu aja..." Ar sinis. Terakhir kali mereka bertemu, Brian hampir membuatnya ketahuan punya jantung yang lemah mwmbuatnya selalu bersikap sinis pada orang bernama Brian ini.


" Masih bocil juga..."


" Kakak sirik, jomblo kan?" tanya Ar dijawab Brian dwngan anggukan " Mampus..." sambung Ar dengan diikuti tawa yang nyaring namun serak membuat seluruh hadirin memperhatikan mereka bertiga.


Dalam hati mereka yang melihat Ar tertawa bahagia adalah mengapa ada manusia suci diantara semua manusia tercela ini. Inilah isi hati teman sekelas Ar dan remaja kompleks.


Tak mau menunggu lama, acara potong kue dilakukan, awalnya merwka menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Lagunya agak kacau karena ada yang menyanyi dalam bahasa korea, bahasa inggris dan bahasa Indo secara bersamaan. Bukan kacau tapi hancur lagu orang dibuat mereka.


Seperti yang Win janjikan, potongan kue pertama disuapinya Ar. Potongan kue yang kedua ia potong dengan ukuran besar dan dia meminta kedua orang tuanya makan bersama di sisi yang berbeda.


Mendekati kue hampir habis, Ronald menutup mata Win, Tristan menutup mata Vian, Siska menutup mata Vin, Andi menutup mata Harun, dan Mario serta Tristan bersamaan menutup mata Ar/Ian. Maklum adegan dewasa.


Potongan ketiga, Win memotong lebih besar lagi. Kemudian dipotongnya menjadi 5 bagian, disodongkan piring beriai 5 potong kue tersebut pada Tan, Tian, Vin, Vian, dan Harun. Ow manis sekali Win pada kakak dan sepupunya itu.


Sisanya memotong kue sendiri jika ingin.


***


Pesta berakhir setengah jam yang lalu. Herman mengantar pulang Hendri dan Indah sekalian menginap disana sesuai permintaan yang ultah. Win memang meminta Opanya untuk menginap disini malam ini tapi karena sang Opa tak mau jadinya ia meminta papanya untuk menemani Opa, katanya takut kesepian.


Jadi sekarang ini diruang tengah duduklah 5 bocil didepan tumpukan hadiah bersama Andi dan Tristan juga Ronald, di sisi lain duduklah Ardan dan Mariana, Rian dan Fitri, Adrin dan Hardian atau kakek nenek Win dan lainnya, Harna dan Ar.


" Kamu sakit nak?" tanya mama membuka pembicaraan.


" Iya ma, tapi udah sehat kok, Ar ceroboh aja ngajak Tan mandi hujan, jadi sakit deh..." kata Ar.

__ADS_1


" Jangan ngajak Tristan main hujan, kalau mau sakit, sakit sendiri aja..." suara Ardan dingin.


" Kakak apa-apaan sih..."


" Kamu mau ngebantah kakak kamu Harna..." suara Ardan menjadi lebih dingin membuat Harna bungkam.


" Maaf kak, Ar gak ngulangin lagi..." ucap Ar menunduk.


" Aku gak mau kamu peduli, mau kamu sakit atau mati sekalipun jangan ngajak yang lain..."


Ingin sekali mereka protes dengan kata-kata menyakitkan Ardan tapi mereka tak berani. Lebih lebih Harna, ia memang sering membantah ucapan papanya tapi kalau Ardan ia tak berani.


" Om apa-apaan suru bibi gituan, om gak pikir dulu sebwlum omong..." suara Vin. Meski membantu membuka kado bersama saudara-saudaranya, ia sempat mendengarkan pembicaraan orang dewasa.


" Andi, Tristan, Ronald, sekarang waktunya anak-anak tidur..." Ucap Ardan lagi.


Tak mau mendengar suara dingin itu berkata kedua kalinya, ketiganya membawa adik serta sepupu mereka kekamar.


" Kenapa kemarin libur pulangnya gak pamit?" kali ini suara papa.


" Kakak dan papa membenci Ar jadi Ar pamit lewat kak Ana..."


" Bagua kalau kau sadar..." ucap Ardan.


Kepala Ar yang sudah berdenyut ditahan. Ia tak mau terlihat lemah dihadapan mereka.


Rian tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya anak ke-4 kang memiliki sedikit hak untuk bersuara, itupun jika diperlukan.


Ardan dan Mariana langsung pamit karena merwka tak sempat ijin untuk besok sedangkan nenek dan kakaek tersebut pulang bersama Ronald dan Andi.


Bubar dari ruang tengah, Ar langsung kekamar tanpa mengantar kakak pertama serta papa mama serta Ronald dan Andi pulang.


Ia sampai kekamarnya dengan susah payah. Tanpa mengganti pakaiannya ia mencari handponnya.


Entah mengapa ia menelpon Mario.


" Halo, malam, ada apa? Gak kangen kan?"


" Ceritakan aku sesuatu..." minta Ar dengan suara yang ia buat agar tidak terdwngar serak.

__ADS_1


" Okey, ...."


__ADS_2