Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Keributan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, sejak Tristan pindah Ar mulai dekat dengan Lynden dan dua teman curutnya. Mereka juga bergabung dengan kelompok belajar sehingga mereka semakin dekat.


Kedekatan Ar dengan most wanted membuat banyak siswa cewe yang tak suka melihatnya.


2 minggu sudah Tristan pindah dan 1 menggu terakhir ini Ar sering diganggu. Tristan tau bibi mochi-nya itu tak akan cerita atau mengatakan bagaimana perasaannya atau sekedar mengatakan bahwa ia tak baik baik saja.


Pagi ini, ia berangkat dengan bibinya, memarkir mobil saat memasuki pekarangan sekolah dan bergandengan tangan dengan Ar memasuki lobi sekolah.


Ar berjalan keloketnya yang sudah beberapa hari ini tak ia buka karena ia tak mengisi apapun. Ia melihat keramaian didepan loketnya. Ia ingin melihat tapi banyak sekali yang mengerubuninya.


Ar merasa sesak karena berdesakan " Lo semua minggir gak..." bentak Tristan dari belakangnya. Seketika tribun membelah memberikan jalan pada keduanya.


Banyak di sana yang menutup hidung, ia memandang Tristan sekilas kemudian, dilihat Tristan mengangguk dan ia berjalan. Tristan ikut dibelakangnya, ia menutup hidungnya karena bau busuk.


Ar membuka loker dan ia melihat mayat kucing abu-abu. Ia hanya bisa mendengar suara bisikan karena matanya ditutup oleh Tristan.


" Siapa yang lakuin ini ha?" tanya suara disamping Ar. Ar kenal suara ini, suara milik Lynden yang berat namun merdu ditelinga.


" Jawab kalau orang tanya?" Ini suara Veron, suara yang biasa jahil, tengil, dan sering menggoda Ar, terdengar membentak sekelilingnya.


" Ki-kita gak tau..." ucap salah satu cewe diantara kerumunan mereka.

__ADS_1


" Kaliankan benci sama Ian karena dia deketin kita, coba sini liat mukannya, cih main belakang, takut muka jeleknya kelihatan kali, eman hanya BABY Ian yang paling manis..." ucap sadis Daniel seperti biasa.


" Bi, gak apa-apa kan? Itan antar ke kelas aja yah..." Ajak Tristan. Mereka berlima sedang menjadi pusat perhatian.


" Biar aku beresin dulu bangkainya..." Suara Ar akhirnya keluar karna sejak tadi ia diam saja.


" Gak, biar Itan minta cleaning servis yang beresin ya..." Ajak Tristan lagi. Tristan dan Ar pergi.


Ketiganya sedang mengancam tribun ini, akhirnya ikut Tristan mengantar Ar ke kelasnya.


Mereka sampai di kelas X BAHASA 1, kelas yang sangat berterima kasih pada Ian karena dipagi hari, mereka disuguhkan dengan ketampanan most wanted kelas 10 yang menyegarkan mata.


Ar mulai terbiasa datang kurang 10 atau 5 menit bel masuk karena ulah Tristan.


" Sejak kapan bibi gue jadi BABY kalian?" tanya Tristan tak suka, ya hanya anak-anak kelas ini yang tau kalau Ian dan Tristan itu bibi dan keponakan. Karena Veron sialan keceplosan dan ancaman mematikan Tristan akhirnya hubungan tersebut menjadi rahasia kelas ini serta ketiga sahabat barunya itu.


" Sejak gie tau kalau lo sama Ian itu sodaraan..." jawab Veron.


" Awas ya, lo macam-macam, gue giling motor lo..." ancam Veron.


" Cik, lo itu hanya sebatas ponaan Ian, gak usah sok-sokan, gue embet dia, tau rasa lo..." ucap Daniel ikut nimbung.

__ADS_1


" Oi, bel semenit lagi, kelas orang lo pada jadiin panggung drama, dibayar berapa noh sekali peran?" sarkas Jeisis yang muak dengan rutinitas barunya dipagi hari.


Selalu ada perdebatan antara pengawal Ian, dan dia malas dengan mereka yang juga ikut bersaembara memenangkan hati Ian.


" Tan, ke kelas sana, kakak yang lain juga kesana, udah mau bel..." uh, suara imut Ar yang keluar ini mampu menenangkan keempat rusuh ini. Ribut malah dikelasnya orang.


" Ya udah, bi, Itan ke kelas dulu ya...cup..." pamit Tristan disertai kecupan di pipi kanan Ar.


" Aku juga ya..." kata Veron yang berniat mengecup pipi Ar namun kerah belakangnya langsung ditarik Lynden.


Keempatnya pergi


***


Pulangnya, Ar bersama teman sekelasnya yang merupakan kelompok belajar menuju kelas kesenian lama.


Mereka belajar bersama, Ar berperan sangat aktif sebagai guru mereka, tak pernah ia tak menjawab pertanyaan mereka, meski yang bertanya itu Tristan atau Lynden atau dua curut yang berada di kelas IPA, maupun Reno dan alfin yang kelas 3.


2 minggu mereka membentuk kelompok belajar, Ar tak pernah absen, yang lain kadang sibuk dengan eskul atau urusan lain.


" Hari minggu keponakan aku ultah, kak Harna bilang kalian boleh datang ke rumah..." ucap Ar sambil membereskan buku-bukunya, memasang earpon ke telinganya.

__ADS_1


" Yuk bi, nanti kan bisa lewat grup wa, Itan lapar nih..." Ucap Tristan yang menarik pelan Ar yang masih ingin mendengar, karena ia merasa Priscilla ingin menanyakan seauatu.


Mereka pun bubar melihat guru mereka telah pulang. Ar sekarang dipanggil miss oleh mereka, awalnya mereka ingin memanggil Ar dengan sebutan ma'am tapi kedengaran seperti orang tua jadinya mereka memanggil sang teacher mereka dengan sebutan miss.


__ADS_2