Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Yang Ar Rasakan


__ADS_3

Sebuah Aturan tak langsung dimana seminggu sebelum ujian adalah hari libur bagi seluruh klub-klub dan eskul apapun.


Dan disinilah mereka, sabtu pagi yang biasanya dilakukan untuk eskul seharian full diliburkan. Di lapangan dekat sekolah mereka duduk melingkar sambil mendiskusikan sesuatu menunggu ketua mereka tiba.


Disisi lain.


Dengan enggan Ar turun sarapan mengikuti Harna sambil mengucak matanya. Ar tak sempat melihat pukul berasa sekarang, ia tadi malam begadang, bukan karena belajar tapi kantuknya tak datang hingga membuatnya belajar agar rasa ingin tidur dan mata yang berat datang padanya. Alhasil Ar tidur pukul 2 malam.


" Kak yang lain kemana?" tanya Ar, ia menyeret kakinya menuruni tangga sambil berpegangan, takut jatuh karena belum sepenuhnya nyawa ia kumpulkan dari alam mimpi.


" Pergi sekolah dek, ini udah setengah 8 ..." Jawab Harna. Setelah mengguncang tubuh Ar agar bangun, ia menunggu Ar dan menyuruh Ar sikat gigi saja tanpa cuci muka, bukan apa-apa tapi Ar makan terakhir kemarin jam 4 sore, malamnya ia tak ikut makan bersama dan pagi ini ia berniat melewatkan sarapan? Harna tak akan membiarkannya semudah itu.


Harna cukup dibuat uring-uringan beberapa minggu lalu saat adik bungsunya terbaring lemas. Ia sebenarnya tak mau mengganggu pengidap insomnia akut itu tidur tapi jika maag Ar kambuh maka ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.


Ar tengah duduk di meja berbentu oval itu, menantikan sarapannya yang dibawa Ar dari dapur.


" Itan mana kak?" tanya Ar saat melihat kakaknya berjalan menuju dirinya.


dreett dreett


Ar melihat nama Betty tertera pi handpone canggihnya itu.


" Halo, selamat pagi..." jawab Ar sopan.


" Ian dimana? Katanya ngumpul dilapangan, masa Tristan datang sendiri?" tanya Betty dari seberang.

__ADS_1


" Ian lupa, ini lagi sarapan, nanti Ian kesana, dadah..." Ar menutup teleponnya swbelum diamuk Cris yang ia dengar sepertinya tepat disebelah Betty saat ditelepon tadi.


" Kakak gak bangunin Ar dari tadi, ih Itan ninggalin Ar..." kata Ar menyuapi dirinya dengan nasi goreng dengan suapan besar.


Harna hanya terkekeh melihat adik menggemaskannya itu. Dimana ia selama ini yang tidak mengetahui keimutan adik bungsunya. Harna memang dulu membenci Ar, kehadiran Ar mengubah segalanya, semuanya menjadi berantakan, seperti nama Ar yang diberi asal oleh ia dan mamanya pada bayi tak diinginkannnya itu.


Sebelum beberapa kejadian menimpa Ar, Ar hanyalah seorang anak buangan dirumahnya sendiri. Ar dibesarkan oleh pengasuh hingga umurnya 3 tahun kemudian ia sering ditinggal pergi oleh mama yang mengajar atau kakak-kakaknya yang masih menjalani masa studi mereka.


Ar takut bahagia, ia pernah bahagia namun tak akan bertahan lama karena tawa kebahagiaan akan berganti menjadi jerit kesedihan diiringi pipi yang basah mengaliri airmata yang tak bisa ditahan.


Ar orang yang tertutup, Ar akan menjadi bibi yang paling ceria di hadapan keponakan- keponakan kecilnya karena tak mau mereka sepertinya, Ar akan gadis yang tersenyum jika didepan kakak serta orang tuanya, tersenyum menerima sumpah serampah mereka yang dilontarkan kepadanya.


Ar tidak ingin egois, ia baru mendapatkan kasih sayang mama, Rian, Ronald, dan Andi saat orang tuanya memutuskan pensiun dan pindah ke desa.


Ar terlalu banyak berbohong pada orang lain, pada dunia, pada keluarganya, sangat banyak topeng ekspresi yang Ar punya, dan banyak sekali naskah hidup yang ia buat dan akan ia lakoni di panggung sandiwara yang menjadi pijakannya.


Bukankan benar jika bumi merupakan sebuah panggung sandiwara, semua orang memiliki peran, semua orang telah diatur menjadi seperti apa karakter mereka, berakting sangat pandai adalah bakat dari spesies manusia, memiliki naskah masing-masing, mengikuti alur drama hingga kehilangan jati diri karena terlalu banyak kepalsuan.


Ar berendam santai didalam badtube, dengan mata terpejam ia bisa mendengar pergerakan kakaknya di ruang gantinya itu.


Ia tersenyum, kakaknya menjadi perhatian, sejak menginjakan kakinya dirumah ini, Ar selalu diperlakukan bak seorang putri. Ia pernah bertanya pada Harna, Harna menjawab bahwa ia sangat ingin mendandani seorang cewe tapi semua anaknya cowo.


Ia juga bertanya pada Hendri, papa Herman dan pria tua itu menjawab kalau Ar itu imut-imut menggemaskan, tak seperti kedua anaknya yang amit-amit mengesalkan atau amis-amis membusuk. Ar tertawa mendengar jawaban pria tua yang memintanya memanggil papi.


Ia juga bertanya kepada Herman, kakak iparnya kenapa baik padanya. Jawabannya tak jauh berbeda dengan Harna maupun papanya ia ingin anak perempuan dan adik perempuannya tak menggemaskan sama sekali.

__ADS_1


Sedangkan saat ia bertanya pada Indah, ia dihadiahi sejuta kecupan diwajahnya karena wajak ngambeknya sangat lucu apalagi bibirnya dikerucutin dan wajahnya ditekuk. Indah menjawab jika tak dimarah papinya, Indah akan mengurung Ar untuk dirinya sendiri (psyco sekali mbak cantik satu ini) ya, wajah imut Ar selalu membuat Indah harus mengubur niat jahatnya ingin memasukan Ar kedalam karung dan dibawa pulang.


Ar memang mempunyai pesona imut yang papi harus menugaskan 2 bodyguard pada anak kesayangannya, entah sejak kapan ia mengkalim Ar sebagai anak bungsunya. Ar memiliki daya tarik untuk bisa menarik pelindung-pelindung kuat. Rian bahkan ditaklukan oleh Ar. Hanya ayahnya, kakak pertama, serta kakak kedua yangtelah dibutakan kebencian hingga membenci Ar.


***


" Maaf terlambat..." kata Ar yang baru saja datang.



Fashionable sekali ibu ketua mereka, tapi ini bukan Ar yang pilih. Si kakak perempuannya seperti ibu-ibu rempong saat mendengar Ar akan keluar bersama teman-teman sekelompok belajarnya itu.


Dan hari ini Ar bangun terlambat, ia melupakan janji mereka yang akan berkumpul di lapangan dekat rumah hingga Betty menwlponnya saat sarapan tadi.


Mereka bersemangat membicarakan akan melakukan apa saat liburan nanti, pagi hingga siang sebwlum makan siang mereka akan bercerita tentang liburan sedangkan selesai makan, mereka harus mengikuti les tambahan yang digurui oleh Ar.


Ya, awalnya Ar menolak namun ditawari akan digaji perjam membuat mata Ar berbinar. Entah sejak kapan ia sangat tertarik pada uang, meaki tak serakah karena ia akan meminta jika ia bekerja, ia juga pernah berjanji pada kakak-kakak yang memberikannya uang bahwa jika ia sudah berpenghasilan maka ia akan mengembalikan uang mereka.


Dan sekarang Ar memang sedang bekerja namun ia sembunyikan, Ar bekerja sebagai penerjemah, penulis, dan guru les. Tentu saja ketiga pekerjaan itu dilakukan secara online. Ar itu pintar, ia jenius, ia melompat dari TK ke kelas 2 SD, namun banyak teman yang menjauhinya karena itu, inilah salah satu alasan kenapa ia menyembunyikan kepintarannya itu, ia ingin punya teman tapi mereka menolak berteman dengannya.


Ar itu cerdas, ia memisahkan uang bulanan yang memang wajib ia terima dan uang jajan bonus dari kakaknya. Dari, Ronald, Rian, dan Harna, ia juga melakukan hal yang sama untuk uang jajan dari medua orang tuanya. Ia telah berjanji akan mengganti kembali, ia yakin akan mengembalikannya secara utuh pada mereka.


Ia mengecualikan keluarga Herman karena ia bekerja untuk mereka, menjadi guru privat keempat bocah itu cukup membuatnya senang karena keempat keponakannya itu sangat menurut padanya, mereka sudah dianggap Ar sebagai sumber uang saat Ar menerima gaji pertama dari Herman dan Hendri secara terpisah, gaji yang tak bisa dibilang sedikit, karena keduanya menolak dikembalilan padahal ia tau bahwa pekerjaannya tak terlalu sulit. Ia bahkan mendapat bonus sebelum digaji oleh Hendri karena keempat cucunya memiliki nilai tertinggi di setiap angkatan UTS beberapa waktu lalu.


Ar berencana setelah Ujian dan libur semester, ia akan tinggal bersama Hendri karena kakak perempuannya serta keponakan-keponakannya akan natal bersama di desa dan akan kembali dan tahun baru di opa mereka yang di kota.

__ADS_1


__ADS_2