Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Hari biasa


__ADS_3

" Astaga dek, ya Tuhan kamu dari mana saja? Kakak kawatir sama kamu, baru sembuh kamu udah jalan kemana? Kenapa gak bilang dulu sama kakak? Kenapa kamu gini? Siapa yang bikin adek imut kakak ini nangis..." cerocos Harna sambil memegang kedua pipi adiknya tepat saat Ar memasuki rumah dan melewati ruang tengah.


" Sayang, Ar-nya gak bisa ngomong kalau kamu gituin..." kata Herman yang sedang santai diaofa ruang tengah.


Buru-buru Harna melepaskan tangannya dari pipi Ar. "... Maaf dek, kakak kawatir sama kamu, jadi?"


" Ar tadi ziarah ke makamnya Susan, Ar lapar kak..." ucap Ar memegang perutnya.


" Kenapa ga makan diluar aja kalau tadi lapar, ayo, mas, aku siapin Ar makan dulu ya, atau mas juga udah mau makan?" tanya Harna pada suaminya, sekarang memang baru setengah 7, masih 1 jam lagi dari waktu makan malam.


" Biar mas nanti sama anak-anak, sana, Ar gak boleh kelaparan, nanti maag-nya kambuh..." kata Herman yang masih duduk santai menemani kelima bocah ini belajar.


" Yaudah, aku kebelakang dulu ya..."


***


" Kak, kak Herman mana?" tanya Ar, ia tak ikut makan malam karena telah makan malam terlebih dahulu. Saat Harna yang lain makan malam, ia memutuskan untuk belajar sebentar di kamarnya.


" Kak Herman di ruang kerjanya, pekerjaannya masih banyak tadi jadi dibawa pulang, kamu disuruh ke sana tadi, katanya ada yang mau diomongin..." jelas Ar.


" Iya kak..." kata Ar, ia langsung meninggalkan ruang tengah tersebut.


Berjalan menuju lantai 2, Ar berhenti di sebuah ruangan dengan 2 pintu didepannya. Ruang kerja Harna sama dengan Herman, ruang tertutup yang merupakan kamar terbesar setelah kamar tidur utama milik keduanya dan kamar tidur Ar.


Herman sangat ingin adik perempuan, meski ia memiliki Indah, Indah besar sendirian di Jerman untuk menempuh pendidikan sedangkan dirinya pulang pergi Taiwan. Herman memilih kuliah di Asia saja agar bisa pulang pergi juga dapat membantu papanya mengembangkan bisnis.


" Kak..." panggil Ar.


" Masuk aja dek..." kata Herman. Ia tau dirumah ini hanya adik iparnya saja yang memanggilnya kakak.


Ar masuk, ia bisa melihat beberapa map yang ditumpuk. Ia mengambil tempat di sofa, menyandarkan punggungnya agar menjadi nyaman, dengan ipad ia menghibur dirinya sambil menunggu kakak iparnya itu.


Herman tersenyum melihat Ar yang asik sendiri tanpa mengelus saat ia panggil dan ditinggal bekerja, adik iparnya yang satu itu sangat perhatian dan selalu mementingkan orang terlebih dahulu dari pada dirinya sendiri, dan Herman tau itu.

__ADS_1


" Maaf ya kakak lama..."


" Gak kok kak, kata kak Harna kakak bawa pulang pekerjaan kakak jadi Ar nunggu juga gak apa-apa..." ujar Ar pengertian.


" Udah, yang penting udah diberesin sisanya biar besok aja..."


" Jadi, kenapa kakak manggil Ar kesini?" tanya Ar.


" Gimana jawaban kamu soal yang minggu kemarin kakak tanyakan?" tanya Herman serius.


Hari minggu kemarin, Herman mendapat informasi dari dokter Emelia bahwa Ar pernah depresi dan sekarang insomnia akut, dokter Emelia sendiri menyarankan Ar mengobati insomnianya di psikiater. Herman memintanya mempertimbangkan saran dokter Emelia pada Ar, namun Ar masih meminta waktu, ia juga meminta Herman untuk tidak mengatakan kepada yang lain agar mereka tidak kawatir.


" Gak apa-apa kalau Ar swndiri yang milih dokternya?" tanya Ar.


" Dokter yang ngasih kamu obat tidur itu?" tanya Herman.


" Iya kak, Ar udah kenal sama kak Echa jadi mungkin Ar bisa lebih leluasa kalau sama dia..."


" Iya kak..."


" Ar gak butuh sesuatu?" tanya Herman.


" Gak ada kak..."


***


Pagi-pagi sekali, seperti kemarin Ar turun kebawa dwngan menggendong keranjang ketiga baby dog yang masih terlelap, kali ini Anisa membawa tas milik Ar. Ia tentu tak boleh melalaikan tugasnya, menjadi asisten pribadi Ar adalah tugas yang diberikan majikannya.


" Selamat pagi semua..." sapa Ar pada seisi dapur.


" Selamat pagi nona..." Jawab, kedua koki, mbak Anin, Gabby dan Jacob juga yang sudah berada di sana.


Ia meletakan keranjang baby dog ke lantai, membuat susu tapi stoplesnya masih terletak diatas, tak dapat dijangkau, namun sebuah tangan yang melewatinya mengambilkan untuknya.

__ADS_1


" Makasih..."


***


Berjalan menelusuri koridor sepi, Ar sampai ke kelasnya. " Pagi Bian, pagi Jeisis..." sapa Ar.


Masih terlalu pagi ia datang, baru ada kedua orang ini.


Mereka sempat mengobrol sebentar hingga beberapa teman sekwlas datang membuat Ar mengenakan earpone-nya.


Hari ini berjalan seperti biasanya, mereka mengikuti pelajaran, istirahat mereka makan dikantin, Gabby dan Jacob datang membawa makanan untuk Ar.


Masuk kembali ke kelas saat mendengar bel berbunyi.


Tak ada yang berubah dari rutinitas disekolah. Bel istirahat makan siang mereka menuju ke kantin, memesan makanan, Gabby dan Jacob mengantar makan siang Ar.


Desas desus bahwa Ar orang berpunya mulai tersebar. Selain teman sekelasnya dan beberapa orang teman dekatnya disekolah tau bahwa ia masih berkerabat dengan pemilik sekolah, selain itu semua siswa siswi tau bahwa Ar masuk dengan jalur beasiswa seperti beberapa teman dekatnya.


Namun kehadiran Gabby dan Jacob membuat mereka yakin bahwa Ar memang orang berada.


Tak memedulikan, earpone Ar teeus berdwndang musik klasik yang menjadi favoritnya beberapa saat lalu tak perna ia lepas agar menutupi bisingnya dunia bagi seorang dengan telinga yang sangat peka itu.


***


Setelah 2 minggu kelompok belajar berjalan tanpa adanya guru pengasuh sekaligus ketua kelompok mereka yang memang sedang sakit, semuanya menantikan dengan semangat.


Mereka belajar lebih lama dari biasanya, pertanyaan yang telah dikumpul selama 2 minggu ditanyakan semua pada Ar.


Biasanya mereka hanya belajar selama satu setengah jam yaitu dari pukul 14.30 sampai 16.00 kali ini mereka betah hingga langit luarpun tak merwka sadar telah gelap.


Mereka dikejutkan dengan deringan handpone Betty, ternyata kakaknya menelpon menanyakan keberadaannya yang tak ada di apartemen mereka.


Akhirnya mereka berpisah di parkiran...

__ADS_1


__ADS_2