
Kakak petugas itu datang dengan membawa dot berisi susu untuk anaka anjing ini, ia mendapati Ar sedang memangku anak anjing berwarna hitam ini, tentu saja ia merasa sedikit kagum, ya Seorang anak di depannya ini membujuk anak anjing yang bahkan sulit untuk ditangani oleh dokter hewan.
Ia memberikan sebotol susu yang ia pegang tadi kepada Ar, Ar menerimanya dengan tangan kakannya sedangkan tangan kirinya tidak berhenti mengelus kepala anak anjing yang gemetarannya mulai berkurang.
" Ade, apa ade ingin memeliharanya?" tanya kakak petugas pada Ar yang sepertinya cukup senang memberi susu tersebut pada anak anjing ini.
" Aku tidak tau apakah kakakku akan mengizinkannya atau tidak." kata Ar.
" Apa ade juga ingin memberi susu kepada kedua anak anjing ini?" tanya kakak petugas ini kepada Ar lagi.
" Apa kakak sudah memberi nama pada mereka?" tanya Ar.
" Belum, mereka bahkan tidak mau digendong olehku." kata kakak petugas.
" Apa saya boleh menamai mereka?" tanya Ar.
" Boleh, mereka akan senang jika punya nama..."
" Mana yang paling dulu datang ke sini?" tanya Ar kemudian kakak petugas itu mengeluarkan anak anging chow chow kepadanya. " Dia kuberi nama Ad, kemudian yang sedang kelaparan ini kita panggil Ri, dan baby besar ini diberi nama An..."kata Ar saat kakak petugas mengeluarkan anak anjing yang sekandan dengan Ri tadi.
Kedua anak anjing yang baru dikeluarkan itu sangat kegirangan mendekati Ar seperti Ar adalah majikan mereka yang sangat dinanti.
Kakak petugas itu sangat senang dengan melihat ketiga anak anjing itu yang sangat bergembira saat Ar menglus mereka satu persatu. Ia berpamitan sebentar untuk membawa susu sebagai sebagai makan sian anak anjing tanpa gigi ini, tentu saja karena merwka masih bayi.
__ADS_1
Indah yang sejak tadi mencari Ar karena diomeli oleh Harna dan Herman yang menunggu makan siang akhirnya merasa lega karena tidak kehilangan saudara dari ipar sekaligus sahabatnya itu.
Ia merekam Ar yang sedang asik memberi susu pada anjing berwarna hitam dan mengenakan tangan lainnya u tuk bermain dengan dua anak anjing lain berwarna coklat dan cream ini.
Ia mengirimkan kepada Harna dan Herman, kemudian memesan makanan dua porai untuk Ar dan dirinya.
...****************...
" Dek makan dulu ya..." bujuk Ar karena Ar sedang asik bermai dengan ketiga anak anjing ini sehingga ia bilang akan makan nanti.
" Nanti saja kak, kapan lagi kita datang dan bertemu mereka..." kata Ar.
" Kakak bisa minta kak Herman adopsi mereka, kakak suapi ya, tangan kamu kotor." kata Harna, ia mulai membuka kotak makanannya dan mulai menyuapi Ar.
Selesai menyuapi Ar ia keluar dari kandang belakang menemui Herman.
" Kak, Ar mau melihara anak anjing, kakak ada laergi sama bulu anjing atau kakak gak suka anjing?" tanya Harna pada Herman.
" Tidak, kakak malah senang dengan anjing, ayo kita beli kandangnya, pasti bukan Ar saja yang suka tapi anak-anak juga suka..."
" Tapi Ar pilih 3 anak anjing yang masih bayi dan agak..."
"Agak apa sayang?"
__ADS_1
" Duanya buta dan satunya gangguan mental karna dianiaya majikan sebelumnya..." kata Ar.
" Tidak apa-apa, itu yang dia pilih, ayo kita beli kandangnya, ngomong-ngomong anjing jenis apa saja yang dia pilih?" tanya Herman.
" Tidak tau, emang anjing punya berapa jenis?" tanya Harna polos.
" Ayo masuk ke dalam..." kata Herman pada Harna, Harun dan yang lain sedang melihat jenis reptil dibagian paling sudut kandang.
" Kak, apa aku boleh membawa mereka?" tanya Ae saat Harna dan Herman masuk. Pertanyaannya ditujukan pada Herman.
" Apa tidak apa-apa kau memilih mereka, kakak bisa membeli yang lebih bagus dari mereka..." kata Herman.
" Tidak, aku ingin mereka, bukankah mereka lucu..."
" Tapi mereka cacat..." kata Harna.
" kak Harna tidak boleh ngomong seperti itu, bukan keinginan mereka untuk terlahir cacat..." tegas Ar pada Harna membuat Herman tersenyum.
" Apa kau sudah punya nama untuk mereka?" tanya Herman yang sudah berjongkok di samping Ar.
" Iya, ini Ad, ini Ri, dan ini An, apa kakak mengijinkan aku membawa mereka?" tanya Ar lagi.
" Boleh, kakak cari kandangnya dulu ya." Herman bangun ia mengacak rambut Ar pelan seperti yang dia lakukan saat ia bangga pada anak-anaknya dan pergi.
__ADS_1