Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Liburan


__ADS_3

Beberapa hari di Inggris membuat Hendri kembali melepaskan perusahaannya kepada Max, yap Max adalah kepala kantor cabang di Inggris yang ada di sini.


Sebenarnya jika bukan karena memiliki relasi dengan Nicolas, Hendri tak sampai sesukses ini, Nicolas terlalu baik pada sahabatnya itu, mungkin karena dulu tak ada yang mau berteman dengannya dan hanya Hendri seorang sehingga ia sudah menganggap Hendri sebagai sosok saudara yang menemani kesepiannya karena ia anak tunggal.


" Aku ikut dengan kalian ke Austria..." kata Nicolas saat sarapan pagi dihari keberangkatan mereka.


Hendri sendiri sudah curiga karena sejak beberapa hari lalu Nicolas selalu menempeli dia yang pasi ia tau bahwa Nicolas pasti ada maunya, dan benar saja.


" Baiklah..." jawab Herman dengan malas. Tentu ia malas menolak kekeras kepalaan Nicolas. Ia tau Nicolas tak akan membiarkan ia lepas begitu saja karena setelah ia kembali ke tanah airnya u tuk merintis karirnya dalam berbisnis disana, Hendri memang jarang kembali ke Eropa tempatnya mengumpulkan ilmu sejak sekola menengah dulu.


Dulunya Hendri hanya anak petani biasa, namun karena pintar ia mengikuti program pertukaran pelajar, dalam program itu, karena kejeniusannya sekolah yang menaunginya itu tidak ingin memulangkannya dan membiayai penuh hidupnya di Eropa, hingga ia bekerja sambil merintis bisnis bersama sang sahabat yaitu Nicolas.


Saat mendengar kabar kedua orang tuanya telah berpulang barulah ia kembali ke Indonesia dan menetap kembali di tanah airnya. Meski begitu, Nicolas memberikan kepadanya seluruh usaha yang mereka berdua bangun karena Nicolas tak mau banyak bekerja, apalagi perusahaan milik keluarga yang dibilang sangat banyak harus dikelolanya sendiri yang merupakan anak tunggal.


" Bukannya papi bilang kita natalnya di Prancis?" tanya Ar. Yang ia tau mereka hanya akan ke Inggris, Jerman, dan berakhir di Prancis. Kalau pergi ke negara lain lagi berarti mereka tak bisa natal di Prancis karena telah menghabiskan waktu lebih dari jadwalnya saat di Inggris sini.


" Iya sayang, kita cuma sehari di Austria, ada laporan penting yang akan papi ambil disana, trus kita langsung ke Prancis, gak ke Jerman lagi, nanti lain kali aja baru kesana..." jelas Hendri pada Ar.


" Ar ikut saja sama papi..." jawab Ar.


***

__ADS_1


Rencana awal hanya 1 hari di Austria menjadi 3 hari karena masih cukup waktu dan kembali lagi jadwal Ar sama seperti di Inggris.


Dihari pertama ia anak bepergian, hari kedua ia menemani Hendri di kantor, dan hari ketiga ia menerima kuliah bisnis dari Nicolas, meski Nicolas pusing sendiri mengajari seorang jenius yang banyak keingintahuannya itu.


Masih seminggu lagi natal, membuat negara Jerman kembali terjadwalkan dalam perjalanan mereka, tentu karena usulan Nicolas. Ia cukup senang menjadi pemandu sang sahabat barunya itu. Ya, ia sudah menganggap Ar sahabat karena selagi Hendri berada di kantor, ia selalu mengekori Ar dengan alasan menjadi pemandunya berkeliling padahal Hendri sendiri memberikan seorang yang memang telah mengenal kawasan sini dengan baik.


Akhirnya dimalam 22 Desember mereka tiba di Prancis. Ah Ar sangat senang dengan negara seni ini, ya meski bukan menjadi nomor 1 dalam urutan negara seni tapi Ar menyukai negara menara Eiffel ini.


Tentu Ar sangat ingin menjepret langsung menara tinggi ini dengan kameranya sendiri.


Herman sendiri meninggalkan pekerjaan kantornya dan ingin berkencan bersama Ar katanya, namun tetap saja tak bisa berdua dilarenakan memiliki seorang pengganggu alias Nicolas.


Entah sejak kapan Nicolas terus terusan membujuk Ar agar tinggal bersamanya dan ingin menjadi anaknya saja. Memang selama menikah ia dan Merry belum memiliki seorang anak, dan kesalahannya terdapat pada dirinya. Meski dengan uang melimpah dan banyak kekayaan, ia tak memiliki anak yang akan menjadi pewarisnya, ia dan seluruh generasi diatasnya merupakan anak tunggal sama seperti istrinya.


Ketiganya menghias pohon natal, Ar dibagian memotret meski tak memotret Hendri dan Nicolas, ia hanya memotret pohon natalnya saja.


Bruno, Ema, dan William kembali ke ruangn ketiga tuannya berada dan mendapati mereka telat tidur bersimpuh di karpet didekat perapian. Bengan sigap ketiganya kembali dan membawa selimut tambahan untuk mereka yang hanya menggunakan satu selimut.


Setelah dirasa pas, mereka ke dapur untuk sarapan sebentar meski sekarang sudah pukul setengah 10, tentu mereka bangun terlambat karena mengambil alih pekerjaan ketiganya pada malam itu dan alhasil mereka tidur tak beberapa lama sebelum ketiga majikannya juga tertidur.


***

__ADS_1


Ar merasa terhimpit, dibukanya perlahan kelopak mata, pandangannya kabur karena baru bangun tidur juga mata minusnya. Ngomong-ngomong, Ar berencana setelah kembali ia ingin mengganti lensa kacamatanya karena pandangannya kembali terganggu seperti tak memakai kacamata.


" Papi, om, Ar sesak..." kata Ar kemudian mendorong keduanya yang berada disisinya.


Dengan enggan keduanya bergeser tanpa mau bangun, siapa yang tak mau libur apalagi orang sibuk seperti mereka yang jarang tidur karena bekerja.


Ar kekamarnya, ia ingin mandi untuk menyegarkan diri, tentu dwngan bantuan seorang pelayan yang menyiapkan air mandi untuknya selebihnya ia sendiri yang melakukan karena tak mau dianggap manja.


Ia cukup terlejut karena ia bangun di jam 11 lewat, ia melewatkan sarapan dan bahkan hampir jam makan siang sekarang.


Turun kembali ke ruang makan, kesua pria dewasa tersebut sudah menunggunya disana. Mengucapkan selamat natal, kemudian menyantap makan siang dengan buru buru agar bisa membuka kado yang diterima.


Akhirnya ketiganya bersimpuh di karpet mereka tidur. Tentu ruangan yang berantakan ini telah rapih setelah mereka bangun tadi.


Ketiganya memegang masing masing 2 hadiah. Tentu Ar memperingatkan mereka untuk masing masing memberikan 1 kado kepada yang lainnya atau merwka sendiri tau apa konsekuensinya.


Awalnya keduanya menolak namun dengan ancaman Ar membuat keduanya bungkam. Ar lah yang paling dulu membuka kadonya. Ia mendapat 2 sepatu sekolah dengan heel yang cukup tinggi membuatnya geram kepada yang memberinya kado ini, ia tau ini pasti pemberian Nicolas yang selalu mengejeknya pendek atau bocah. Sedangkan Hendri memberinya tas selempang cantik kepadanya.


Hendri menerima parfum dari Ar dan cat rambut berwarna pirang yang ia tau dari Nicolas.


Nicolas sendiri menerima cardigan dan syal dari Ar, alasanyan Ar bilang Nicolas terlihat tua karena terus mengenakan jas atau kemeja membuat Hendri tertawa. Hendri sendiri memberi wig berwarna hitam.

__ADS_1


Keduanya memang pernah menginginkan warna rambut satu sama lain sehingga setiap natal mereka selalu saling memberikan wig atau cat rambut yang tak pernah swlwsai hingga natal kali inipun sama.


__ADS_2