Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Cewe centil


__ADS_3

Sementara berbicara seru mengenai belajar kelompok dan rencana persiapan ujian semester, datanglah sekumpulan cewe-cewe yang entah dari mana.


Mereka senggeser Ar yang duduk diantar Lynden dan Tristan. Karena bangku kantin adalah bangku panjang, dengan masuknya kedua orang tersebut diantara mereka bertiga membuat Ar terhimpit.


Sedangkan dua cewe lainnya bergelantungan di lengan Daniel dan Veron.


Ar batuk, ia tersedak saat meminum susu keduanya.


" Lo apa-apaan sih..." bentak Tristan yang langung bangun dari duduknya menbuat si cewe sedikit tergeser dan Ar sedikit mendapat ruang.


" Loh Tan, kok gitu Ara, kan Itan sama Ara udah pacaran, Itan kasar manget sama pacar sendiri..." kata cewe itu manja. Teman Ar yang satu meja dengan mereka memasang raut wajah seperti ingin muntah.


" Sejak kapan kita pacaran, nama lo aja siapa gue gak tau..." kata Tristan. "...ingat ya nama Itan itu hanya boleh di panggil sama Ian, Ardian Adeliana, bukan lo, bahkan sodara, keluarga gue gak ada yang boleh panggil gue gitu apalagi lo yang pake mulut busuk itu..." sambung Tristan sadis.


Sekarang, menja mereka menjadi perhatian, apa lagi Triatan sedang berdiri dan memarahi Sarah, bunganya kelas 10, incaran kakak kelas, dan terkenal menolak semuanya dan telah jatuh hati pada Tristan.


" Harusnya lo mati gak usah balik lagi kesekolah ini..." umpat pada Ar.


Tristan dan yang lain sangat geram mendengar ucapan Sarah itu, memang saat Ar sedang terbaring di rumah sakit Sarah menjadi semakin gencar pada Tristan karena sebelumnya Ar dan Triatan seperti magnet yang tak terpisahkan.


" Aku juga pengen mati, hanya banyak yang perjuangin aku buat hidup..." kata Ar dengan suara tenang, membuat keheningan menyeluruh pada kantin. Kantin seperti tak berpenghuni.


Sarah pikir Ar tak mendengar karena ia menggunakan earpone.


Saat sedang hening-heningnya, Lynden menggebrak meja.


Disaat bersamaan dengan itu ia menghempas kasar cewe yang bernama Faya. Faya sedikit tergeser.


Lynden bangun dengan kasar, sambil mengusap pipinya. Wajanya merah dengan raut wajah penuh amarah.


" ******..." begitulah kata Lynden.

__ADS_1


" ****** mana, gue apa dia, kalian berempat diembet, gak rakus..." kata Faya menunjuk Ar.


" Gue ingetin ya sama lo, kalo lo berani katain Ian ******, siap-siap perusahan papa lo hancur..." ancam Lynden.


" Sayang, kamu lebih milih ****** ini dari pada aku..." dengan langkah cerdik, Faya menjadi lembut padahal tadi ia sangat agresif pada Lynden. Ya, Faya tadi berniat mencium bibir Lynden namun Lynden yang sadar memalingkan wajahnya sehingga yang disentuh bibir Faya adalah pipi Lynden.


" Pergi lo sekarang sebelum gue beneran amcurin perusahan keluarga lo..." bentak Lynden.


Sama seperti Sarah dan Faya, kedua temannya yang bergelantungan pada Veron dan Daniel diusir juga oleh mereka.


Mereka pergi dengan menatap tajam Ar. Ar dengan kecuekan yang melebihi tingkat dewa itu kembali menghabiskan kotak ketiga susu-nya sambil menonton anime yang masih diputarnya.


" Bibi gak apa-apa?" tanya Tristan.


" Gak, jangan ribut, Ar lagi nonton nih..." kata Ar. Ia sengaja agar mereka tak bertanya banyak dan tidak terlalu mengkawatirkannya.


" Okay..." kata Tristan. Ia mengisyaratkan Lynden untuk ikutan duduk dan dengan tatapannya serasa diartikan oleh mereka untuk tidak mengganggu bibinya.


Bel masuk mereka kembali ke kelas masing masing. Ar tak mengikuti pelajaran dengan baik meski tidak hadir selama 2 minggu.


Ditengah penjelasan, telepon ibu Putri, ia keluar sebentar dan menerima panggilan tersebut.


Masuk kembali, ia terburu-buru. Ibu putri adalah salah satu mahasiswa magang yang sementara bertugas menggantikan ibu Maria yang telah mengundurkan diri.


"Pelajaran hari ini sampai disini saja, ibu sedang ada urusan jadi kerjakan latihan soal halaman 79, Ardian ikut ibu..."


Ar mengikuti ibu Putri, ke ruang guru. Ia diberikan beberapa pengarahan serta beberapa materi yang telah diringkas. Materi-materi pelajaran yang tidak ia ikuti selama 2 minggu.


Atas permintaan kepala Yayasan Pranata saat ini yaitu mertua kakak perempuannya, Harna yaitu pak Hendri.


Ar pamit untuk pergi setelah ia menerima kumpulan materi copy-an yang ditujukan untuknya.

__ADS_1


Berjalan menyusuri lorong yang sepi karena masih jam pelajaran.


Ada yang menghadangnya, menyeretnya ke pojokan yang tak mendapat sorotan kamera cctv.


" Lo itu gak usah ganjen sama cowo-cowo kita..." kata si ketua geng, siapa lagi kalau bukan Sarah.


" Ta tapi..."


" Apa, mau ngelak lo, gue itu pacarnya Tristan, lo mending jauhin dia deh, lo itu hanya sekedar teman gak lebih, gak usah gatel cama cowo orang..." timpal Faya.


" Lo juga harus jauhin Veron..." teman Faya dan sara bernama Vanilla


" sama Daniel juga..." tambah Dela.


" Ini peringatan terakhir kita ke lo..." kata Sarah lagi. Ia merampas materi-materi pelajaran yang sedang Ar peluk.


" Lo kan pinter jadi gak butuh ini..." kata Faya sambil tersenyum pada Sarah.


" Bagi uang lo sekarang..." minta Dela.


" Aku gak bawa dompet..." jawab Ar.


Vanila menjambak rambut Ar sehingga membuat Ar memandang mereka sebab sejak tadi dia hanya menatap lurus dan ia pendek sehingga yang ditatap bukan wajah mereka tapi dada mereka yang memakai pakaian ketat hingga serasa ingin keluar saja.


" Lo gak bohong kan?" tanya Vanilla penuh selidik, dwngan isyarat mata ia meminta Dela untuk memeriksa saku Ar. Hasilnya ia mendapat 5 lembar uang merah disaku Ar dan 3 lembar uang biru di saku baju.


" Sakit, tolong lepas..." rintih Ar kesakitan.


" Makanya kalau gue minta ya dikasih..." kata Vanila kemudian menghempaskan Ar ke lantai.


" Udah kan, ayo pergi..." kata Sarah dan mereka pergi meninggalkannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2