Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Main


__ADS_3

Dengan banjir keringat Ar masuk kedalam rumah yang kelihatan sepi. Ia mendapati mamanya sedang duduk di dapur dengan bawang yang sepertinya baru dipanen.


" Siang ma..." sapa Ar.


" Siang dek, dari mana? Mau makan dulu apa mandi dulu?" tanya mamanya.


" Dari Lin ma, mandi aja dulu..." jawab Ar.


Mendengar jawaban tersebut mamanya bangun seraya memeluk anak bungsunya itu, ia bisa melihat mata sembab sehabis menangis. Ia sangat tau siapa Lin.


" Kamu baik-baik aja kan? Jangan biarkan dirimu tenggelam di masa lalu, mama tau berat buat kamu ngelupain Lin dan kejadian itu dan mama gak minta kamu lupain, mama mau kamu iklaskan dan biarlah itu menjadi salah satu dari sekian banyaknya kejadian yang pernah kau lupakan..." ucap mamanya masih memeluk Ar.


" Iya ma..." jawab Ar. Ah ia sangat rindu pelukan ini, pelukan hangat yang menenangkan jiwa dan raganya.


" Mama mau kamu bahagia, mama akan bahagia saat kamu bahagia sayang, apapun yang terjadi mama akan selalu ada dipihakmu..." ucap mama lagi, ia melepaskan pelukannya dan mencium keming putri bungsunya itu.


" Iya ma, em Ar ke atas dulu ya..." Mendapat anggukan dari mamanya ia masuk kekamarnya. Melepas kacamata dan tas selempangnya di meja belajar ia masuk kekamar mandi.


Hampir 30 menit ia habiskan untuk mandi. Dipilihnya pakaian apa yang harus ia gunakan



Setelah mencoba pakaian yang dibawa olehnya yang semuanya didominasi oleh rok, akhirnya ia menemukan celana pendek dalam lemarinya.


Ia turun kebawa untuk makan siang, tentu sudah sangat terlambat untuk disebut makan siang karena jam di dinsing sudah menunjukan jam 2 lewat seperempat .


" Ma, setelah makan mama bisa bantu Ar tidak?" tanya Ar sambil menyuapi dirinya dengan makanan yang tadi disimpan untuknya.


" Bantu apa sayang?" tanya mamanya sambil menoleh padanya.


" Bantu rapihin rambut Ar, teman-teman Ar tau Ar pulang jadi mereka ngajak main di lapangan..." kata Ar lagi.


" Biar kakak aja ya dek..." jawab Harna yang baru masuk.


" Duh kak, masuk itu salam kak kayak maling aja..." kata mam sambil mengelus dadanya mengusir rasa terkejutnya dengan kehadiran putri sulungnya itu.


" Hehehe maaf ma, siang semua..." kata Harna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Siang kak..."


" Siang, kamu mau buat rambut Ar?" tanya mama.


" Iya ma, dek, kalau udah selesai makan tunggu kakak diruang tengah aja ya..." minta Harna.

__ADS_1


Selesai makan Ar mengikuti kata kakaknya yaitu menunggu di ruang tengah setelah menyimpan dan membereskan meja makan.


Harna datang dengan membawa sisir dan beberapa kater gelang yang misa dipakai untuk mengikat rambut.


Harna mulai menyisir rambut Ar. Setelah dirasa sudah cukup mudah untuk dipintal, ia berhenti menyisir surai panjang Ar.


" Dek, kamu kriwilin rambut kamu? Warnai juga?" tanya Harna pasalnya rambutnya dan mamanya lurus, sedikit gelombang karena bekas diikat dengan cukup kencang sedangkan rambut Ar cukup bergelombang yang mendekati ikal.


" Tidak, ini rambut Asli Ar, ya awalnya mama minta Ar untuk mewarnai dulu saat Ar masih kecil, sekarang mama sudah melarang Ar mewarnai sih tapi Ar sudah biasa dengan rambut hitam, tapi baru-baru ini Ar penasaran warna rambut Ar seperti apa sih kalau tak diwarnai dalam waktu lama..." jelas Ar.


" Iya ma?" tanya Harna pada mamanya yang tak jauh dari mereka.


" Iya, mama udah bilang gak usah warnain lagi biar gak rusak rambutnya tapi adekmu itu tetap warnai..."


" Kenapa diwarnai?" tanya Harna dengan polosnya.


" Papa nuduh mama selingkuh sama bule, soalnya warna rambut kalian semuanya hitam pelat, hanya Ar yang warnanya beda, coklat terang..."


Harna dan mamanya membeku mendengar penuturan Ar, bagaimana anak ini bisah tau.


" Udah selesai..." ucap Harna kaku.



" Ar ke atas ambil gitar dulu ya..."


Tak sampai 5 menit Ar turun dari kamarnya dengan lebih lengkap. Sendal rumahan diganti dengan sendal jalan, kacamata, dan gitar yang ada dipunggungnya.


" Ar berangkat dulu..." ucap Ar, ia mengecup pipi kakak perempuan serta mamanya itu dan meleset pergi.


***


" Sore semua..." sapa Ar pada teman-temannya yang sudah ada. Ada yang bermain bola dan ada yang duduk main hp masing masing.


" Sore Yan..." Balas mereka meski tak semua.


" Wih rambut Ian makin panjang, siapa yang pintal, kayak barbie rapunsel tapi bukan pirang..." ucap salah satu temannya.


" Kamu warnai rambut, kek coklat gitu warnanya gak sih?" tanya seseorang lainnya.


Meski diajak berbicara, Ar sedang sibuk sendiri mencari tempat duduk yang nyaman.


" Oiiy, diomongin gak dibalas dikira kita batu..." canda seseorang lagi.

__ADS_1


" Sabar, orang duduk dulu napa..." protes Ar karna belum duduk dengan nyaman.


" Ya maaf, kan kamu diam aja..."


" Ok, jadi???" tanya Ar, ia tau banya yang menantinya dari grup chat, saat ia mengabarkan akan datang, mereka langsung ribut menanyakan ini itu dan dibalas dengan 3 kata yaitu tunggu nanti pulang.


" Rambut kamu..."


" Gimana sekolahnya?"


"Banyak yang cakep gak?"


" Pasti kamu banyak saingan pintarnya..."


" Ian nambah imut deh..."


" Pnjam gitarnya dong..."


Dan masih banyak lagi pertanyaan serta pernyataan yang diucapkan oleh mereka kepada Ar.


Ia menceritakan semuanya, tentang bagaiman ia sekolah, ia bertemu teman sekelasnya yang ternyata tetangganya, tentang Lynden dkk yang merupakan most wanted sekolah, pelajaran-pelajaran, dan masih banyak lagi.


Udah magrib, teman-temannya yang muslim pulang duluan untuk menunaikan ibadah mereka sedangkan teman-teman yang lain pulang namun pulang bersama.


Biasanya, saat pulang sampai magrib seperti ini, mereka jalan bersama meski rumah berbeda arah. Mengantar teman-teman cewe duluan barulah para cowo pulang kerumah masing-masing.


" Besok ingat ke gereja, Bram, kamu paling sering bolos tuh..." peringatan untuk Abraham dari Ar. Abraham termasuk teman yang paling dekat dengan Ar. Setelah Melani meninggal, Abraham menjadi satu-satunya sandara untuk Ar dan alasan kuat Ar tidak pindah sekolah. Bukan hubungan cinta melainkan persahabatan bertiga dengan antara Ar, Melan, Abraham dan Akbar telah melegenda, namun Akbar pindah mengikuti orang tuanya saat mereka tamat SD.


" Iya bawel, sana masuk, kamu mau kita diamuk tante Adrin..." kata Ar.


" Iya lah, bawa anak tante magrib gini baru pulang, pasti marah lah..." Suara mama Ar dari balik pintu.


" Eh tante Adrin, sore tante, makin cantik aja..." sapa Abraham disertai godaan karena takut mama sang sahabat benar-benar ngamuk saat anak gadisnya pulang saat hari udah gelap.


" Sore juga, tante gak marah kok, kalau kalian antar pulang anak tante dengan tanpa lecet sedikitpun..." ucap si mama.


" Tante nenang aja, Lia kalau sama a'a Jojo..."


" nenang, apa nenang?" tanya salah satu temannya. Mereka sejak tadi hanya mendengar saja.


" Tenang maksudnya, lidah a'a Jojo lagi keseleo, gara-gara gugup didepan calon mertua..." ucap Abraham membuat teman-temannya menggeleng pasrah.


" A'a Jojo siapa?" tanya si mama lagi. Yang lain tau siapa yang di maksud.

__ADS_1


" Aku tan, aku..." ucap Abraham aok drama.


" Najis Jo..." ucap Ar. Abraham menganga dengan mulut setengah terbuka. " Makasih ya kalian udah anterin aku, aku masuk dulu..." ucap Ar. Setelah mendapa berbagai tanggapan dari pamitnya ia masuk kedalam rumahnya.


__ADS_2