Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Ema


__ADS_3

Bergegas Ema sampai ke rumahnya, tanpa memberi salam kepada penghuni yang benaung pada atap yang sama ia langsung masuk kekamarnya yang letaknya berada dipaling belakang di sudut rumah.


Gadis 20 tahun ini menarik sebuah koper dari atas lemari yangbsudah lama tak ia gunakan. Melipat dan memasukan beberapa potong baju formal, pakaian sehari-hari beberapa dan 3 pasang piyama. Kopernya tidak terisi penuh karena ia hanya membawa beberapa potong pakaian, ia mengisi lagi laptop kedalam sana.


Ema turun kebawa dengan celanah kain berwarna coklat dan kemeja putih yang disisip dan dibalut cardigan cream menarik kopernya.


" Mau kemana kamu?" tanya seorang gadis dengan pakaian SMA yang duduk di sofa ruang keluarga.


" Kerja..." jawab Ema singkat.


" Ma, Ema mau pergi..." adu si gadis SMA itu.


" Gue mau kerja dodol, banyak omong gue potong uang jajan lo..." ancam Ema.


" Mama Ema gak mau kasih aku uang jajan..." adu si gadis SMA itu.


" Ema kamu apa-apaan, udah mama bilang kalau utang kamu buat mama sekolahin itu lunas jadi kamu gak bisa pergi gitu aja..." kata wanita paruh baya sambil merampas koper Ema.


" Ema mau kerja ma, kantor adain perjalanan bisnis, Ema dipilih..." jelas Ema.


" Gak usah percaya ma, dia itu bohong, bilang aja gak mau ngasih aku sama bang Dika uang lagi makanya lo mau pindah..."


" Bener itu Ema, mereka itu adik kamu, kamu kenapa sih mau banget pergi dari rumah, emang kenapa sama rumah ini?" tanya mama Heran.


" Mama bilang adik, aku ini anak tunggal mama kalau mama lupa, aku mau pergi dari sini karna mama udah bukan kayak mama yang dulu, kalau aja mama gak nikah lagi dan punya 2 anak tiri aku udah bahagia hidup bertiga sama mama papa, hanya karena pria busuk itu, dan mereka bukan adik aku, mereka ular yang moroti gaji aku tiap bulan..."


Plak


"Jaga mulut kamu, kamu mama besarin buat jadi kaya gini, kurang aja..."


" Mama bahkan udah gak peduli aku lagi dan hanya peduli keluarga baru mama, selama ini mama besarin aku harus dibalas gitu? Apa aku memang diinginkan dihidup mama?" Ema sudah berlinang air mata.


" Kamu hanya lahir dari kesalahan mama..." jelas mama tersebut membuat hati Ema seperti tertusuk ribuan jarum.


" Oke kalau gitu, aku memang tak pernah dianggap di rumah ini, oh ya, nomor rekening mama masih sama kan, mama tenang aja, aku bakal transfer tiap bulan kok..." Ema berlalu pergi meninggalkan rumah.


***

__ADS_1


Ema berjalan menyusuri kompleks menuju jalan utama. Di kawasan kompleks tak ada angkutan umum ataupun ojek yang lewat sehingga membuatnya harus berjalan kaki sekitar 5 menit.


Namun meski sudah dijalanan ramaipun ia tak ada niatan untuk menaiki salah satu angkutan umum tersebut. Ia hanya memiliki 10 uang ditangannya, mesin ATM terlalu jauh dari tempatnya berada, handponnya tak memiliki daya, dan sekarang tengah gerimis kecil.


Malang sekali nasib gadis ini. Tidak, hidupnya tak malang karena sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat dihadapannya.


" Kak, ayo masuk..." Ema bisa mendengar suara familiar itu namun tak dapat melihat karena ia sedang menunduk dan terisak pelan.


" Kamu ingin membuat nona menunggu..." suara dingin dari sekertaris utama bos besarnya atau orang nomor 2 di kantor ia magang.


" Maaf..." lirih Ema.


Ar membuka pintu dan turun, mengabaikan Bruno yang melarangnya terkena hujan agar tidak sakit. Mau tak mau Bruno turun dengan mereka dan memayungi kedua gadis berselisih 7 tahun itu.


" Kak Ema kenapa nangis disini?" tanya Ar kawatir. Entah mengapa ia sangat peduli dengan perempuan didepannya itu.


" Ema, bisakah kamu mengajak nona masuk ke dalam barulah kalia bercerita?" tanya Bruno dengan nada memerintah.


" Baik pak... Nona masuk dulu, nanti sakit..." kata Ema, ia kemudian memegang payung yang ada ditangan Bruno, dengan mata Ar, ia memerintahkan Bruno menaruh koper Ema di bagasi.


" Jadi?" tanya Ar.


" Saya dituduh minggat dari rumah oleh mama dan saudara tiri saya, keluarga saya cukup berantakan..."


" Tidak perlu jelaskan lagi? Apa masih ada barang penting dirumahmu, kita bisa membuatmu minggat beneran... Kak Uno, kerumah Ema sekarang ya..."


***


" Mama, ada tamu..." teriak seorang gadis SMA yang Bruno yakini adalah adik tiri Ema.


" Disuruh masuk sayang..." balas mama dengan teriakan pula.


Gadis tersebut mempersilahkan kedua orang ini masuk. Bruno dan tepat dibalik punggungnya ada Ema disana sedangkan Ar masih menerima telepon dari papi.


" Loh Ema, ngapain lagi kamu disini, mau bayar semua utang kamu?" tanya mama yang baru masuk keruang tamu.


"..." Ema diam.

__ADS_1


" Jadi kamu laki-laki yang menghasut dia untuk pergi dari sini, kau apakan anak saya hingga memberontak seperti ini..."


" Memang berapa utang Ema pada keluarga ini?" tanya Ar yang baru datang.


" Puluhan juta, utang ia sejak saya mengurusnya hingga ia kuliah hari ini..." jelas mamanya.


" Di dalam ATM ini ada 120 juta, Ema ambil barang kamu yang ketinggalan..." ucap Ar sambil meletakan sebuah kartu diatas meja kaca tersebut.


Ema tidak terima tapi saat ingin protes pada Ar soal uang utang yang dikatakan mamanya juga uang yang Ar berikan tetapi ia urung karena ditatap tajam oleh Bruno.


Ia bangun dan pergi kekamarnya. Disana, ia mengambil sebuah tas yang letaknya berada di paling bawa pakaiannya berisi ijazah dan surat-surat penting miliknya yang ia ambil diam diam karena pernah ditahan oleh sang mama waktu ia ingin minggat beberapa bulan lalu. Ia juga mengambil sebuah kalung emas dengan tulisan Ema yang ia simpan karena adiknya pernah menginginkan itu.


Ia kembali ke ruang tamu yang sedang hening saja entah karena apa.


" Sudah?" tanya Ar.


" Sudah nona..."


" Ayo pergi..." ajak Ar.


***


" Nona, bukannya kita harus kebandara sekarang?" tanya Ema, merwka sedang berada disupermarket.


" Penerbangannya diundur karena cuaca yang kurang mendukung, nona juga harus membeli pakaian tebal karena tempat yang kita tuju sedang bersalju..." jelas Bruno.


Jangan menanyakan dimana Ae karena belum selwsai Ema bertanya Ar audah pergi untuk melihat dan memilih jaket twbal yang akan ia gunakan nanti.


" Kamu punya pakaian?" tanya Bruno.


" Saya menggunakan pakaian saat ini dan ada pakaian saya di koper Pak..." jawab Ema, ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan aneh pria disampingnya itu.


" Bodoh, pakaian tebal. Kau ingin mati kedinginan di Prancis dan tinggal nyawa saja. Seterusnya pakai ini..." Bruno memberikan sebuah kartu yang berisi uang didalamnya.


" Tapi pak..."


" Sampai hotel nanti barulah buat kontrak dengan nona, aku tidak bisa ikut campur..." kata Bruno kemudian berlalu meninggalkannya, sepwrtinya ia mengikuti Ar

__ADS_1


__ADS_2