Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Kejutan


__ADS_3

Sekitar 10 menit keberangkatan Ar semua orang bergegas naik ke mobil masing-masing, tak lupa membagi para buntut alias bocil berjumlah 8 orang ini.


Ok dimobil Herman ada Win dan Vian dikendarai oleh Bruno, mobil Harna dan Herman diisi Harun dan Vin, dan terakhir ada mobil Andi berisi Max, Nathan, dan Orlan juga Ronald, mobilnya sedang berada di bengkel.


Mereka menuju kediaman Herman yang lama, disana sudah ada balon yang memang sengaja dibuat berserakan di lantai, sofa digeser ke pinggir tembok dan diganti oleh karpet besar di ruang tengah.


Kenapa diruang tengah? Karena teman-teman Ar juga ikut andil dalam kejutan ini dan ruang tamu tak cukup untuk menampung mereka.


Disajikan kue-kue langsung di meja besar namun tidak tinggi karena semua akan duduk bersimpuh di lantai nantinya.


Setelah dirasa pas, mereka semua diam-sangat diam agar Tristan menelpon Ar.


Mereka sendiri mendwngar Ar menyentak Tristan, atau membentak Gabby agar mengemudi dengan cepat.


Max menunggu di jendela, ia melihat mobil Ar sudah melaju dari gerbang depan membuatnya berlari kedalam untuk bersiap karena Ar telah berada di depan.


Terdengar pintu didorong keras.


Dan...


" KAJUTAN..." teriak seisi rumah memberikan kejutan untuk Ar.


" Dek kenapa kakinya..." kawatir Rian. Rian baru sampai sekitar setengah jam yang lalu.


" Kakak minggir Ar mau liat Harun..." sentak Ar lagi. Ia tak peduli dengan kejutan atau apalah itu, yang ada dipikirannya adalah salah satu keponakannya yang masih sakit dan dikabarkan kejang kejang tadi.


" Bi, surpise buat bibi ni loh..." kata Tristan terlihat senang.


" Minggir..." satu kata yang membuat semua orang dewasa bergidik ngeri mendengar suara Ar.


Tristan minggir dengan terhormat. Ar melihat Harun duduk bersimpuh didekat meja tersebut. Ar mendekat dengan perasaan kawatir.


" Bibi gak senang dengan kejutan ini, Happy Ultah bibi tercinta..." ujar Harun tersenyum dibalik bibir mungil yang sedikit pucat.


" Bibi gak peduli dengan ulang tahun bibi, bibi gak berharap ada yang rayain juga gak masalah buat bibi tapi keponakan bibi sakit bibi gak bisa, bibi gak tau harus gimana, jangan bikin bibi kawatir ya..." Ar memeluk Harun.


Oh ucapan Ar sangat sangat menyentuh hati orang dewasa maupun teman-temannya yang ada disini.


" Ar gak suka kejutan kaya gini pakai bawa kesehatan para ponakan Ar..." ucap Ar penuh penekanan.

__ADS_1


" ka, kan itu kejutan dek, selamat birthday dedek bungsu kita yang paling gemez, uh masih bocil gini udah SMA aja, bagi otaknya dong sama kakak..." canda Andi mencairka suasana.


" Iya de maaf, kita gak tau kalau kamu sampai segitunya sama Harun..." kata Harna.


" Betty, anak PMR kan? Minta P3K sama tuan rumah biar obati luka Ian tuh..." kata Cris.


" Eh iya lukanya tuh..."


" Ian gak sakit tuh, meleleh tu darahnya..."


" Bunny are you ok?" tanya Hendri kawatir. Ia mendudukan Ar dengan baik karena Ar tadi berjongkok didepan Harun sehingga daranya yang tadi berhenti keluar perlahan lagi.


" Ini kak, pelan-pelan ya, jangan sampai bibi kesakitan..." peringatan Win pada Betty yang menerima kotak P3K tersebut.


" Biar kakak aja ya..." kata Ronald menerima kotak tersebut dari Betty.


Dengan telaten ia membersihkan luka tersebut, yang terluka Ar tapi yang meringis adalah mereka yang melihat Ronald membersihkan luka itu. Mereka meringis dikala Ronald menggunakan pingset yang tadi direndam dalam alkohol agar steril dengan tujuan agar tak infeksi untuk mengambil pasir halus yang tak turus setelah disiram Air tadi.


" Gak sakit Yan?" tanya Angel. Sepertinya pertanyaan itu mewakili semua rasa penasaran mereka semua karena mereka tak mendengar rintihan sakit sedikitpun dari gadis yang hari ini menginjak 14 tahun.


" Gak, ini luka kecil..." ucap Ar. Entah sengaja atau tidak sengaja dan entah sadar atau tidak kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir mungilnya membuat mereka semua menatapnya heran.


Sekitar setengah jam akhirnya kedua lutut Ar telah diperban dengan sangat baik ditangan pak dokter yang sebentar lagi bergelar magister itu.


"Jadi?" tanya Ar duduk menghadap pada mereka semua.


" Idenya temen-temen kamu dek..." kata Andi, tentu ia dan saudara-saudaranya serta para keponakannya tau bahwa Ar sedang dalam mode marah.


" Ok, aku hargai kejutan ini, aku bahkan lupa ulang tahunku sendiri, tapi aku gak suka kalian libatkan kesehatan mereka..." Ar menunjuk kesembilan keponakannya yang duduk dan berdiri berdekatan.


" Aku bisa saja mengabaikan kesehatan kakak-kakakku karena mereka telah dewasa dan mampu memahami dirri sendiri, tapi tidak dengan keponakanku..." lanjutnya.


" Sebesar apapun mereka, meski tinggi mereka melebihi aku, umur mereka yang sama denganku atau Tristan yang lebih tua dariku, mereka tetap ponakan yang aku harus jaga, dan aku tak suka dipermainkan seperti ini meski untuk kejutan..." sambungnya. Teman-temannya takut, ini pertama kalinya Ar berbicara panjang lebar selain menyangkut pelajaran.


" Kakak-kakak yang lain juga..."


" Baik..." jawab mereka serempak.


" Tristan..." panggil Ar membuat Tristan membeku. " Sini..." ah, berat sekali Tristan menyeret kakinya seakan menyeret timah.

__ADS_1


" Iya bi..." jawab Tristan menunduk.


" Lain kali jangan gitu ya..." kata Ar lembut sambil mengusap rambut Tristan penuh kasih sayang.


" Iya bi..."


" Nah jadi mana kue yang harus Ar tiup terlebih dahulu?" tanya Ar.


Mereka semua berebutan kue siapakah yang dipilih Ar. Tqk ada yang dipilih. Ia meminta mereka untuk meletakan semua kuenya kembali diatas meja, meminta juga para keponakannya mengelilingi meja tersebut.


Seseorang temannya berkata untuk membuat permohonan. Diturutilah ia, dikatupnya tangan di depan dadanya, dengan tangan kanan ia membuat simbol salib sebagai tanda dirinya seorang Katolik, dan diucapnya doa dalam hatinya.


Banyak keinginannya namun ada yang paling ia inginkan adalah kesehatan ponakannya, dan menemukan ayah kandungnya.


" Sekarang kakak hitung ya, tiup dalam hitungan ke 3..."


Dan setelah Andi mengatakan ke 3, semuanya langsung meniup lilin pada kue.


" Loh belom dihitung?" tanya Andi bingung.


" Kan om sendiri yqng bilang dalam hitungan ke 3, berarti udah 3 nah kita tiup aja..." kata Orlan.


" Ya ya ya, terserah kalian saja..."


Selesai tiup lilin mereka memotong kue dan membagikannya 1 per 1 kepada semua yang ada,namun tak sengaja Nathan tersenggol dan kuenya melayang ke mukanya Tristan. Tristan yang geram wajahnya dipenuhi krim kue langsung mencoel crim dari kue dan mepap pada muka Natan.


Karena aksi kejar kejaran antara Nathan dan Tristan, terjadilah perang krim kue antara mereka. Ya seluruh teman Ar juga ikutan dalam perang krim ini, ditambah Andi, tentu Ronald tak ikut.


Ar tertawa lepas melihatnya, ia sangat senang, semua keponakannya bergabung ditambah teman-temannya yang hadir disini.


Teman-teman Ar tertegun melihat untuk pertama kalinya Ar tertawa lepas, dalam hati merwka serasa berbunga, tawa nyaring itu pertama kali dilihat setelah 4 bulan mereka sekelas dengan Ar.


" Anak-anak, udah ya, kita mau siap-siap buat pestanya opa kalian..." ujar Harna yang baru masuk.


" Kalau gitu kami pamit juga kak, takutnya telat nantinya..." pamit David mewakili yang lain.


" Oh iya, jangan lupa datang ya, dek, Tan, anterin temannya ke depan ya..."


" Iya kak/ma..."

__ADS_1


__ADS_2