Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Hari selanjutnya


__ADS_3

Ar keluar kembali ke kelas setelah berbaring di ruang kesehatan sebentar.


Ronald tampak sangat kawatir, ia tau bahwa Ar selalu memaksakan dirinya jika berkaitan dengan study, pernah waktu Ujian Nasional saat SD Ar ujian di bangsal rumah sakit karena kecapean belajar.


Ronald terus memperhatikan setiap gerakkan Ar selama ujian berlangsung hingga Ar keluar.


...***************...


Akhirnya ujian selesai, jangan ditanya bagaimana perasaan mereka, tentu saja sangat senang, itulah yang dipikirkan anak-anak SMA.


Ronald tidak menjadi pengawas sejak hari kamis kemarin, Ar sebwnarnya sudah sehat sejak hari rabu tapi karena Ronald yang bersikeras ingin ikut Ar hanya pasrah saja.


" Kita jalan yuk..." usul Jeisis, ia sedang duduk bersama Bian, Cris, dan Benny.


" Ayo, tapi ke mana?" jawab Cris mengiakan ajakan Jeisis.


" Ajak cewe-cewe..." ucap Benny yang dari tadi hanya mendengarkan saja.


" Boleh, jalan kemana? Gimana kalau ke karoke atau taman bermain gitu, patungan..." Ujar Betty, ia telah mendengar dari Bian.


" Ia sih, kita juga rencananya mau kesana..." jawab Jeisis.


" Kalian gak ngajak Ian ikut?" tanya Benny yang hanya melihat Betty, Priscilla, Joana dan Angel.


" Katanya udah punya rencana. Oh iya boleh aku ajak kakakku?" tanya Angel.


" Boleh sih, kita juga rencananya ngajak kak Reno, dia kan punya mobil jadi kita gak perlu repot soal kendaraan..." jelas Betty.


...****************...


BESOKNYA


" Kak, kita jadi kan ke klinik?" Ar sudah menggendong ketiga anjingnya di keranjang yang terlihat sangat nyaman.


" Jadi, tapi sekarang belum buka dek..." jelas Harna, sekarang ia sedang duduk di ruang tengah.


" Udah, kata kakak dokter itu, hari ini dia buka di jam yang lebih awal..." ucap Ar.


" Dari mana kau tau?" tanya Harna heran.


" Pemeriksaan terakhir aku meminta nomor telepon kakak dokter itu, oh iya kakak itu namanya Burhan, katanya kita bisa datang sekarang kalau bisa..." jelas Ar.


" Tunggu kakak ambil ganti dulu..." ucap Harna, ia bergegas kekamarnya untuk mengganti dengan pakaian untuk bepergian. Hari sabtu biasanya Harna memang selalu dirumah sedangkan Herman sedang pergi bersama teman bisnisnya.


" Ayo, jangan membuat orang menunggu saat kita yang membuat janji..." Ajak Harna.


" Padahal kakak yang lama, masa aku yang disalahin..." gumam Ar pelan tapi didengar Harna. Harna tesenyum sambil mengacak-acak rambut Ar yang telah disisir Anisa dengan rapi. Ar ingin menangkisnya karena ia merasa seperti dianggap bocah oleh kakak perempuan satu-satunya tapi tangannya penuh.


...****************...


" Untung aja mereka baik-baik aja ya..." kata Ar senang, mereka sedang dalam mobil karena telah selesai pemeriksaan.


" Mau jalan-jalan dulu, kita bisa main di taman yang minggu lalu kita datangi, kata Indah kamu gak main sama sekali..." ajak Harna tanpa menolehkan kepala pada Ar karena fokus menyetir.


" Tapi mereka gimana kak?" tanya Ar sambil melihat kebelakan dimana terdapat 3 anak anjing mungil disana.


" Tidak apa-apa, kakak parkir di belakang supaya kita bisa nitip mereka di sana..." saran Harna.


" Iya..."


Dan akhirnya mereka sampai, Harna sempat mengabari Ronald dan Andi agar menjaga keempat anaknya dan mengabari Herman suaminya tentang perihal mereka yang bermain berdua saja ini.


Ar selalu menarik Harna ke stand makanan, tentu saja Harna yang juga menariknya bermain, tapi beberapa permainan ditolak oleh Ar. Saat Ar menunjuk stand dengan papan pengenal bertulis es krim dan segala es buah Harna langsung menolak keras.


" Loh, kak Harna? Ian juga ikut, yang lain gak ikut kak?" tanya Betty, kebetulan mereka bertemu disini.


" Oh hai, kalian juga main kesini, pasti ngerayain selesai ujian deh..." gurau Harna.


" Selamat siang Bu..." sapa Angel dan kakaknya Angel menyapa. Mereka tidak tau bahwa Harna yang merupakan anggota dewan tertinggi sekolah juga istri dari direktur yayasan Pranata atau pemilik seluruh jenjang SSP adalah kakak Ar alias Ian.


" Kalian temennya Ar, ah maksudnya Ian?" tanya Harna pada m÷reka yang lain selain Benny, Betty, Cris, dan Reno.


" Iya bu, kami teman sekelasnya..." jawab Jeisis.


" Maaf bu kalau ini agak privasi, tapi apa hubungan ibu sama Ian?" tanya Bian mewakili yang lain yang juga penasaran.


" Saya kakaknya Ian, loh ibu kira kalian udah tau pas ibu panggil kalian ke ruang BKnya ibu Siska..." jelas Harna.


" Kami pikirnya ibu masih ada hubungan keluarga sama Betty bukan sama Ian..." ujar Bian lagi, masih mewakili yang lain.


" Kenapa kalian gak tanya sama aku, masa aku keluargaan sama kak Harna, kita hanya tetanggaan satu kompleks, lagian kalau aku keluargaan sama kak Harna mana mungkin aku temenan sama kalian..." kata Betty yang masih sempat-sempatnya bercanda.


" Pantas aja gaya Ian itu kadang bikin kita minder ya, apalagi setengah anak-anak dari kelas kita anak beasiswa semua..." gumam Priscilla.


" Kak, Iannya kemana?" tanya Cris melihat tidak ada Ian lagi disamping Harna.


Harna mencari tapi tidak kelihatan " Tadi udah masuk kedalam bu, sambil ngajakin Benny..." jawab Alfin, kakaknya Angel.


" Anak itu, padalah baru sehat dari demam karna es krim..." Harna masuk, ia mendapati Ar yang sedang melahap es buah di cup sedang. " Ayo, kita makan siang dulu, Benny Ar gak malak kamu kan?" tanya Harna.


" Gak kok kak, Ian malah yang beliin, katanya dia yang ngajak jadi dia yang bayar..." ujar Benny, ia memesan jus kemasan di botol saja saat tau niat Ian yang menraktirnya.


" Udah makan siang?" tanya Harna pada Benny.


" Belum kak, kita rencananya mau makan bareng di tempatnya Angel sama kak Alfin, trus datang main lagi disini." jelas Benny.


" Kalau gitu bareng aja..." mereka keluar dari dalam stand tersebut.


" Kakak sama Ian boleh gabung gak sama grup kalian?" tanya Harna.


" Boleh kak, kalau tambah kakak yang cantik sama adeknya yang imut kita gak masalah..." jawab Cris cepat, ia tidak masalah jika Ian dan Harna tidak jadi masalah.


" Kata Benny kalian mau makan, kita juga belum makan kan dek, ayo..."


...****************...


" Biar kakak aja yang bayar ya...." ujar Harna saat mereka mulai patungan untuk membayar makanan setelah selesai makan.


" Tapi kita jadi gak enak gini sama kak Harna..." jawab Betty mewakili yang lain.


" Sebagai gantinya kalian bisa bantu jagain Ar, maksud kakak Ian di sekolah, dia masih kecil jadi harus diawasi..." ujar Harna bangun dan pergi membayar.


" Ian abis ini kamu mau pulang? gak main bareng kita? ayolah kapan lagi kita bisa main bareng gini..." ajak Angel, ia yang paling friendly didalam grup ini selain Cris.


" Emm, gak tau, aku rencananya hanya datang cek up aja..." ujar Ar.


" Cek up? kamu masih sakit? harusnya kita gak ajak, Ian butuh istirahat..." ujar Betty.


" Gak kok, kita bukan cek up Ar, Ar mau main sama mereka? biar Ad, Ri, dan An biar kakak bawa pulang, Anisa bisa rawat mereka, kamu bisa main sama teman-temanmu..." Harna sudah kembali.

__ADS_1


" Kak Harna gak ikutan main sama kita, kali aja kak Harna traktir lagi..." Cris dengan mulut lemesnya mulai.


" Kalau kakak mau traktir harusnya gak usah bayar punya Cris, untung tadi kakak gak bilang traktir dari awal kalo ngak pasti Cris makannya gak tanggung kaya tadi..." ujar Benny yang yah paling mengerti Betty dan Cris.


" Kakak jadi gak enak sama temen kalian yang lain, kalau sama kalian sih kayaknya udah biasa tapi mereka kayaknya agak canggung gitu, suasananya kaku, lagian kakak udah berumur untuk main sama anak SMA..." jelas Harna.


" Tidak bu, ibu masih seperti anak kuliahan..." ujar Alfin dengan wajah yang sedikit merona.


" Kak, ibu Harna udah punya suami loh..." canda Angel melihat pipi kakaknya memerah.


" Apaan sih..."


" Kamu main ama mereka ya..." bujuk Harna.


" Iya.


...****************...


" Kakak pergi dulu ya..." kata Harna, Harna kembali ke taman bermain untuk mengambil ketiga peliharaan mereka dan yang lainnya masih ingin bermain.


Mereka melambaikan tangan pada mobil Harna yang sudah pergi menjauh.


" Oke, jadi karena udah kenyang kita main apa duluan nih?" tanya Reno.


" Gak ada yang seru. Aku ingin jajan." ujar Ar dan mulai melangkahkan kakinya ke kios-kios kecil tempat menjual salome, gorengan dan beberapa jajanan pinggiran.


Mendengar itu Cris jengkel, oh tentu ia dan Ar memang tidak pernah akur seharipun tidak. " Ya udah kalau kamu gak mau main..." Cris yang kesal melangkahkan kaki yang berlawanan dengan arah jalannya Ar.


" Kita bagi kelompok aja, Joana sama Priscilla ikut Cris, Angel sama Alfin ikut Ian, Betty sama Benny bareng aku, sekarang jam setengah 1, jam 2 kita kumpul lagi disini oke..." usul Reno dan merwka mengangguk.


Mereka mulai berpencar. Joana dan Priscilla menarik Cris dan membawanya berjalan-jalan, awalnya Cris menolak tapi karna dipelototi oleh kedua gadis ini membuatnya mengikuti dengan pasrah.


Mereka bertiga jalan ke tempat obral pakaian, meskipun Joana dan Priscilla cukup kaya, ia memiliki hobi membeli pakaian obral dan sekarang Cris adalah juri yang akan menilai cocok dan tidaknya mereka dengan pakaian tersebut. Dalam hatinya Cris mengeluh kemana perginya jiwa pendiam mereka dikelas.


Dikelompok Betty, Benny, dan Reno, mereka pergi ke tempat pemeliharaan hewan yang minggu lalu disinggahi Ar, mereka ditarik dan dipaksa ikut oleh Betty. Tentu tidak ada yang berani melawan Betty kecuali benda-benda imut atau novel romantis.


Betty tertarik dengan hewan peliharaan karena ia baru melihat 3 peliharaan Ian yang lucu sekali, ia juga ingin memelihara tapi sekarang ini dia kaknya alergi bulu kucing dan mungkin juga alergi dengan bulu anjing.


" Benny, aku ingin memeliharanya tapi dia tinggal di rumahmu ya..." kata Benny.


" Bukannya itu namanya aku yang memeliharanya bukan kamu..." balas Benny.


" Tidak, kan aku yang memiliki keinginan untuk memeliharanya..."


" Lalu kenapa dia tinggal dirumahku?" tanya Benny.


" Karna kakak alergi bulu kucing..."


" Kan ini anjing Betty..."


" Mungkin aja kakak juga alergi bulu anjing... kak kalau mau adopsi anjing ini pakai bayar gak kak?" tanya Betty pada petugas yang lewat.


" Iya kak, kakak ingin jenis apa?" tanya si petugas.


" Yang seperti salah satu dari milik temen saya yang tadi sititipkan disini..."


" Kalau jenis seperti itu biasanya antara Rp 350.000 sampai Rp 5.000.000 kak ..." jawab petugas itu.


" Apa? kata teman saya dia gratis adopsinya..." Betty syok.


" Kakak dari teman nona adalah salah satu sponsor terbesar pameran kami, dan harganya memang dirahasiakan untuk teman kakak jadi beloau tahunya bahwa ia mengadopsi secara gratis..." jelas petugas tersebut. Petugas yang menjelaskan adalah petugas senior jadi ia cukup tahu batas-batas tertentu privasi pelanggan. "Harap kakak bertiga tidak memberitau pada nona Ardian mengenai ini, kalau ada keperluan lagi anda bertiga bisa memanggil saya atau petugas yang lain, saya permisi..."


" Bukankah Ian tidak sombong dan semberono seperti anak CEO-CEO kaya pada umumnya kan?" kata Betty memecah keheningan ketiganya.


" Kamu terlalu banyak baca novel..." balas Reno.


" Dia gak akan dijodohin kan sama kayak di drama atau novel gitu, orang kaya biasanya dijodohin, pernikahan politik, ikatan tanpa cinta..." Benny panik.


" Bukankah itu terlalu dewasa untuk anak usia 14 tahun seperti Ian..." Ujar Reno menenangkan sambil menahan tawa, sedangkan Betty meremas perutnya agar tawanya tidak pecah oleh pemikiran Benny.


Betty dan Reno adalah 2 orang yang tau perasaan Benny pada Ian, Benny jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ian tapi ketidak pekaannya itulah yang membuatnya bodoh apalagi Ian yang lebih masa bodoh dengan apa yang ada disekitar dan bahkan menjahili Benny membuat Betty dan Reno membiarkannya saja.


Beralih ke kelompok itu, kita melihat apa yang terjadi dengan kelompoknya Ian.


" Kalian juga pesen aja biar aku traktir..." ujar Ar yang sudah duduk di salam payung kios jajanan.


Mau tak mau mereka ikut duduk. Setelah mengetahui bahwa Ian adalah adik ipar pemilik yayasan mereka cukup takut dan merasa sepwrti terancam dan was-was dengan setiap pergerakan yang mereka lakukan tapi Ian dengan ke-masabodo-annya itu bikin greget.


" Anu nona..." Alfin.


" Kenapa kak Alfin manggil aku nona?" tanya Ian sambil menyantap salome kuah dengan dicampuri sedikit sambal kacang dan sedikit saos tomat.


" Nona kan saudara Direktur Yayasan..." jawab Angel.


" Iya sih tapi kan aku siswa disana jadi aku gak ada beda sama kalian, lagipula yang memanggilku nona hanya pembantu-pembantu dirumah kakak jadi kalian panggil aku biasa aja..." jelas Ar.


" Ok, jadi kalau boleh tau kenapa kamu mentraktir kami?" tanya Angel.


" Gak ada hal khusus, kakak tasi sempat beri aku uang jajan dan kalau makan sendiri pasti membosankan..."


" tapi kitakan bisa beli sendiri..." bantah Alfin.


" Anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih karena pernah kakak membantu aku dulu, ih kalian ngomong mulu, aku gak bisa konsentrasi makan..." keluh Ar dan tiba-tiba handpone-nya berbunyi. "Ish ganggu aja orang makan..." gumam Ar, ia membuka tas selempangnya dan menemukan nama


🐳~KAKAK~🐳 "Astaga..." ucapnya membuat Angel dan Alfin heran. Ia menggeser tanda berwarna hijau.


" Halo kak..." ucap Ian, ia mendengar,


"Lagi makan kak, tadi maaf ya Yana sempat mengumpat kakak karena gangguin Yana makan..."mendengarkan lagi,


" Aku ditaman bermain kok, sama teman-teman sekolah..." mendengar


" Gak apa-apa kok, aku di kios jajanan..." mendengarkan.


" Oh ya, di tempat salome kak..."


Angl dan Alfin dalam hatinya bertanya kenapa ada anak SMA sepolos ini yang memberi tau kalau ia memaki sasaran makiannya itu...


" Dek..." suara asing bagi Angel dan Alfin.


" Kenapa kakak bilang kalau kakak disini? kakak juga gak telpon atau chat aku seminggu ini..." Ian sangan manja dengan Satrio yang disebut kakak tadi Angel dan Alfin terus terkejut dengan Ian.


" Temen kamu? kenalin Satrio..." kata Satrio mengulurkan tangannya pada Angel dan Alfin dan dibalas. " Boleh gabung gak, kalau ngak aku pulang juga gak apa-apa kok..." canda Satrio.


" Ngak apa-apa kak, kakak temennya Ian ya, SMA dimana?" tanya Angel penasaran, dalam hatinya gak mungkin SSP, gak ada cowo tampan di SSP yang gak aku kenal...


" Aku keliahatan kaya anak SMA ya? aku udah kerja kok tapi kuliah lagi biar gajinya naik..." jawab Satrio debarengi candaan.


" Kakak belum jawab ya kenapa kakak gak balas chat aku dan gak angkat teleponku?" Ian ngambek.

__ADS_1


" Ya kakak ngerasa bersalah aja udah buat kamu sakit, jadi berhenti makan es atau kakak gak akan ngajak kamu jajan lagi, mengerti?" ucap Satrio tegas.


" Iya..." jawab Ian murung.


" Kakak minta maaf ya, kalau kakak gak ngajak kamu jajan kamu gak sakit, jadi kalau jajan dibatasi ya dek..." ucap Satrio sambil mengacak-acak rambut Ian.


" Ehem, kakak ini pacarnya Ian?" tanya Alfin.


" Iya" Ian alias Ar alias Yana.


" Tidak" Satrio.


Keduanya menjawab serempak.


" Cih..." desih Ar.


" Em jadi kakak saudaranya Ian?" kali ini ditanya Angel.


" Tidak" Ian.


" Iya" Satrio.


Kedua menjawab serempak lagi.


" Cih..." desih Ar lagi.


Angel dan Alfin jadi heran dengan keduanya " Apa hubungan kalian berdua?" tanya kedua bersaudara Angel dan Alfin.


" Adek" Satrio.


" Kekasih" Ian.


Jawabannya beda lagi membuat kedua penanya ini bingung.


" Cih..." Ar terus mendesih.


" Aku bayar dulu..." ujar Ar bangun dari duduknya dan berjalan ke tempat bayar.


" Biar kakak aja..." kata Satrio mengikuti.


" Ngak, kakak kan gak ikut makan..." balas Ar.


" Kakak mau bayar makanannya mereka..." Satrio tak mau kalah.


" Tapi aku yang ngajak mereka..." sambung Ar.


Angel dan Alfin jadi gak enak, apalagi mendengar bisikan dari meja lain.


" Kak, Ian biar kita bayar sendiri aja..." usul Alfin.


" Ngak..." serempak Satrio dan Ar membalas. membuat Alfin dan Angel yang tadi ingin menengahi jadi menciut nyalinya.


" kakak ih..." Ar udah mulai malas berdebat.


" Biar kakak yang bayar..." Satrio lagi-lagi.


" Permisi, jadi siapa yang bayar?" tanya sipemilik kios.


" Aku..." serempak kedianya menujuk diri mereka dengan tangan kiri dan menunjuk dompet dengan tangan kanan.


Yang melihatnya merasa lucu seperti pertengkaran antara sepasang kekasih atau bisa juga seperti pertengkaran kakak beradik.


Keduanya saling menghadap. " Oke, gunting batu kertas..." semua gerakan sama, seperti bercermin tapi Satrio jaul lebih tinggi dari Ar.


" Kakak ngikutin ya..."


" Yana ngikutin ya..."


Kata keduanya serempak, lebih dari 5 kali percobaan tapi tetap sama.


Mereka menjadi tontonan didalam kios ini, yang awalnya mengantri atau mengobrol sambil makan mulai mengalihkan perhatiannya pada mereka.


Dan sekali lagi gunting batu kertas, dimenangkan oleh Satrio. Ia membayar makanan untuk ketiga orang ini sedangkan Ar, jangan ditanya, saat tau ia kalah ia sudah berjalan ke kios lainnya meninggalkan Satrio yang sepertinya gembira.


" Mas pacarnya ngambek tuh..."


" Mas pacaran ama bocil..."


" Awas diputusin mas..."


" Masnya lolicont..."


" Pasti otaku akut, pacarnya mirip waifu..."


Begitulah kata para pengunjung pada Satrio.


" Saya masih 16 tahun dan dia masih 14 tahun, bukan saya yang otaku tapi dia kok, dan juga saya masih PDKT sama dia, belum pacaran..." balas Satrio dan ia berlari setelah membayar, " Ambil aja kembaliannya..." ujar Satrio.


Angel dan Alfin hanya plenga plengo.


Di kios jajanan lainnya kedua orang ini terus berulah seperti di kios salome tadi.


Mereka berkumpul di tempat yang dijanjikan. Angel dan Alfin serasa kehilangan jiwa mereka, sepanjang perjalanan, Ar dan Satrio bertengkar soal siapa yang menraktir.


Sementara kelompoknya Cris, Cris seperti berjalan tanpa nyawa membawa kresek di kiri kanan tangannya, di kiri punya Joana dan di kanan punya Priscilla.


Di kelompoknya Benny, Betty adalah orang yang nyawanya hilang separuh, selepas dari kandang hewan peliharaan, mereka hanya duduk di bangku taman dan Benny serta Reno membahas tentang ujian hingga waktu berkumpul.


Dan sampailah di tempat pertemuan, mereka melihat ada penambahan orang dalam grup mereka.


" Siapa?" tanya Joana.


Angel dan Alfn tutup mulut, mereka sudah cukup mendengar perdebatan sejak tadi.


" Ngak kenal..." Ujar Ar sewot.


" Dek, kok gitu sih..." ujar Satrio meminta penjelasan atas jawaban Ar, tapi Ar sudah terlanjur kesal sejak tadi karena tidak menang satupun pertarungan gunting batu kertas dengan Satrio jadi ia marah.


" Ya aku gak kenal kakak siapa ya?" ujar Ar pura-pura tidak tau.


Mulai lagi mereka. Batin Angel dan Alfin.


" Saya Satrio, panggil aja gitu."


" Ish, kak Reno, kita ke toko buku yuk, aku traktir deh..." ajak Ar yang masih marah.


" Dek, kamu gitu ya sama..." ujar Satrio lagi.


" Ish apaan sih, gak kenal juga..." kata Ar sambil menarik tangan Reno.

__ADS_1


Benny yang melihatnya seperti pertengkaran sepasang kekasih membuat dadanya serasa membara...


__ADS_2