Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Perihal Kelompok Belajar


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi, Ar cepat-cepat menggunakan earpone miliknya (sekedar info kalau Ar itu memiliki pendengaran yang sensitif atau sangat tajam) agar tidak membuat kepalanya menjadi pusing. Betty dan yang lainnya masih duduk ditempat masing-masing, pagi tadi diskusi mereka terhenti dengan masuknya guru jadi mereka menyepakati untuk melanjutkannya saat pulang sekolah yaitu sekarang.


Mereka yang ingin membentuk kelompok belajar antara lain Betty, Benny, Cris, Jeisis, Bian, Priscilla, Joana, dan Angel, Rani Rina yang tadi mendengarkan pun ikut-ikutan ingin belajar bersama...


" Ah iya Yan, kak Reno katanya juga mau ikut belajar bareng, katanya Ujian Nasional dan Ujian Sekolah nanti ada materi dari kelas 10 sama kelas 11 jadi dia juga mau gabung..." jelas Benny.


" Gak apa-apa selama kalian setuju..." jawab Ar.


" Kalau gitu boleh aku ajak kakakku gabung?" tanya Angel.


" Ya..."


" Jadi siapa ketua kelompok kita ini?" tanya Jeisis.


" Sudah pasti Ian..." jawab Betty, Benny, dan Angel bersamaan.


" Kalian yakin, kalau aku sih pilih Jeisis..." kata Cris, ia sebenarnya enggan memilih Ar alias Ian karena sifat intimidasi yang pernah Ar tunjukkan kepadanya saat mengerjakan tugas kelompok membuatnya bergidik saat mengingat kembali.


" Gimana kalau kita lihat dari hasil ujian kali ini..." Rani


" Siapa yang nilainya paling tinggi dia yang ketuanya..." Rina


" itu bagus sih tapi ketua kan gak harus nilai bagus, atau kita minta kak Reno atau kakaknya Angel aja yang jadi ketua..."


" Siang..." sapa seseorang dari balik pintu yang tak lain adalah kakaknya Angel. " Kakak gak apa-apa kan masuk kelas kalian?" tanya Alfin sedikit bergurau.


" Halo..." Reno datang. Ia dan Alfin masuk bersama. Alfin tadinya dipanggil oleh Angel sedangkan Reno tadi dipanggil oleh Betty.


" Karena anggotanya udah lengkap jadi gimana?" tanya Bian.


" Kamu denger gak sih, bisa kamu lepasin earpone kamu..." tegur Cris pada Ar.


" Kamu ngajak ribut, aku denger kok..." bantah Ar, entah kenapa mereka berdua selalu bertengkar.


" Yan, Cris, tolong kalau kalian ribut gini gimana kita mau pulang..." selalu Betty yang menjadi penengah di antara mereka berdua.


" Kalau dia gak mulai aku gak akan ribut..." kata Cris.


Ar yang malas meladeni ucapan Cris diam saja.


" Yan, gimana pendapat kamu?" tanya Benny, dia mencoba membantu Betty menjadi penengah diantara Ian dan Cris.


" Pendapat? Aku? Kalau aku gak masalah siapa ketuanya, selama kita bisa saling berbagi ilmu dan saling membantu, tapi kalau mau jujur mungkin aku memilih kak Bian..." semua mata tertuju pada Bian "... Bukannya meragukan Kak Alfin sama Kak Reno sebagai kandidiat yang kalian pilih tapi ketua kan gak harus yang paling tua, kalau kalian gak ikut masukan dariku juga aku tak masalah tapi ya, menurutku pantas dan tak pantasnya seseorang menjadi ketua atau pemimpin ada dalam dirinya sendiri bukan dari pendapat orang lain, pendapat kita hanya pendorong untuk dia lebih menunjukan bagaimana dia mempertahankan kepercayaan yang dia terima..." kata Ar.


Reno merasakannya, perasaan yang sama dimana seperti waktu mereka pergi membeli buku bersama. Perasaan dimana ia seperti bertekuk setelah mendengar ucapan Ian, perasaannya meluap setiap kali ia mendengarkan kata-kata Ar.


Mereka semua terpukau, Ian adalah orang yang paling tidak suka sesuatu yang merepotkan, mereka mempelajari selama 1 bulan bersama Ian, tapi saat ia berbicara mereka semua akan tersihir oleh wibawa dan ketegasaannya, entak kenapa mereka seperti akan patuh padanya saat ia memerintahkan mereka.


" Ian, kamu mau jadi ketuanya?" Tanya Alfin mewakili yang lain. Yang lain sepertinya setuju, Crispun sepertinya menyetujuinya walau ia enggan mengaku.

__ADS_1


" Kak yakin?" tanya Ar sambil melihat mereka satu per satu. Mereka mengangguk. " Kalian gak masalah kan kalau harus patuh pada orang yang lebih muda dari kalian?" tanya Ar lagi dan dijawab anggukan. " Jadi kalian tidak keberatan, Oke, kalau gitu bubar..." kata Ar yang sudah bangun dari duduknya. Mereka semua heran dengan sikapnya itu.


" Kok gitu?" tanya Semua serempak.


" Kan kalian yang nunjuk aku ketuanya, ayo bubar..." kata Ar sambil menjinjing tasnya, sampai di pintu ia berbalik melihat wajah keheranan mereka semua. " Kakak Betty..." panggilnya dengan suara imut, mereka merona mendengar suara Ar yang seperti anak kecil itu "... grup kelompok itu, kakak tambahkan mereka semua bisa kan?" tanya Ar yang masih dengan suara imutnya.


" I, Iya bisa..." Betty menjawab dengan gugup.


" Selanjutnya kita diskusi lewat situ saja soal waktu dan kendala masing-masing masing untuk membuat jadwal..." kembali menjadi Ar yang cuek. Dan pergi.


**********


" Permisi..." sapa Ar saat memasuki ruang guru. Ia mencari keberadaan ibu Ani selaku wali kelasnya. Saat ini ia melepaskan earponenya karena menjaga kesopanan didepan guru-guru.


" Ada apa Ardian?" tanya ibu Ani saat Ar sudah ada di depan mejanya.


" Begini bu, saya dan beberapa teman-teman dikelas membuat kelompok belajar, awalnya hanya 4 orang anggota saya sebagai ketua kelompok masih bisa menyediakan tempat belajar tapi sekarang anggotanya bertambah 9 orang menjadi 13 orang bersama saya, jika ibu tak keberatan apa saya bisa meminjam runga kelas kita setelah pulang sekolah untuk belajar kelompok kami bu?" jelas Ar.


" Em, agak susah juga situasinya, tapi ibu kalau kita minta pada Wakasek (Wakil Kepala Sekolah) Sarana dan Prasarana, kalian bisa mendapatkan sebuah ruang belajar..." gumamĀ  Ibu Ani "...Ayo ikut ibu, kita pergi ke pak Frengky..." kata ibu Ani.


" Jadi siapa-siapa anggotanya?" tanya Ibu Ani di perjalanan menuju ruangan Wakasek.


" Betty, Benny, Cris, Jeisis, Bian, Joana, Priscilla, Angel, Rani, Rina, kak Alfin kakaknya Angel, Kak Reno, dan Saya bu..." jawab Ar.


" Begitu, bagaimana sampai bisa terbentuk kelompok belajar?" tanya Ibu Ani lagi.


" Awalnya hanya kelompok untuk tugas Sastra tapi Betty bilang untuk buat kelompok belajar, mungkin didengar oleh teman sekelas jadi mereka juga ingin ikut bergabung..."


Ibu Ani mengetuk pintu, terdengar suara yang mengatakan masuk, dan mereka masuk.


" Ibu Ani dan..."


" Ardian pak..." jawab Ibu Ani.


"... Ardian, ada apa?" tanya pak Frengky, Wakasek Sarana dan Prasarana.


" Jadi begini pak, anak anak di kelas saya sedang membentuk kelompok belajar, karena anggotanya cukup banyak mereka memerlukan tempat, apa ruang kelas bisa digunakan setelah selesai jam sekolah?" Jelas Ibu ani.


" Hmm, itu agak susah bu, saya tak bisa meminjamkan ruang kelas sembarangan karena setelah kelas berakhir kurang lebih 30 menit setelahnya ada kelas tambahan yang menggunakan ruangan tersebut..." ucap pak Frengky.


" Begitu ya pak..." kata ibu Ani.


" Begini saja bu, Ruang Kesenian lama, sudah tak digunakan, saya akan berbicara dengan kapala sekolah untuk mengijinkan anak-anak ibu menggunakan ruangan tersebut, tapi ruangan tersebut sudah lama tak terpakai jadi harus dibersihkan terlebih dahulu..."


" Baik pak, terima kasih, kalau begitu kami permisi dulu..." pamit ibu Ani. Mereka keluar.


" Tidak apa-apa kan kalau kalian menggunakan ruangan tersebut?" tanya Ibu Ani.


" Iya bu, mereka pasti tak akan keberatan..." Kata Ar.

__ADS_1


" Kamu belum pulang, mau keluar dengan ibu?" tanya Ibu Ani bermaksud mengajaknya untuk istirahat sebentar karena ia termasuk guru di kelas tambahan jadi ia belum pulang.


" Tapi kakak mengajarkan untuk tidak boleh ikut orang sembarangan..." ucap Ar.


" Hahaha...bagus, kakakmu mengajarkan sesuatu yang benar, jadi kamu masih disini?" Tanya Ibu Ani lagi, Ibu Ani mengantarkannya ke lobi.


" Iya bu, kakak saya masih dalam perjalanan menjemput saya..."


" kakak yang itu?" maksudnya yang mengajarkannya.


" Bukan bu, kalau yang mengajarkan saya itu suaminya kakak perempuan saya, kalau yang menjemput saya ini kakak sepupu saya..." jelas Ar. Ia melihat mobil Andi sudah nampak masuk dari gerbang utama ke depan lobi sekolah tempat ia dan ibu Ani berdiri.


" Ini jemputan kamu?" Ar mengangguk." Kalau gitu hati-hati."


*


" Tadi itu wali kelas kamu?" tanya Andi, mereka sedang dalam perjalanan pulang.


" Iya kak..." Ar sedang menggunakan earpone.


" Udah lama kakak pengen nanya, kenapa kamu sering mengenakan earpone?" tanya Andi.


" Hanya mengenakan saja, emangnya kenapa kita ingin mendengar musik?" tanya Ar balik.


" Ya karena ingin mendengarkan musik..."


" Nah itu jawabannya..."


" Tapi bukannya kamu terlalu keseringan? Sering mengenakan earpone bisa mempengaruhi saraf pada otak..." kata Andi menasehati.


" Emang kakak dokter?" ejek Ar.


" Baiklah kau menang, ayo turun..." Mereka sudah sampai.


Ar melepaskan earpone miliknya dan masuk mengikuti Andi. Andi menuju menuju ruang tengah sedangkan dia naik kekamarnya.


Di kamarnya ia melihat anak-anak anjing yang ia pelihara beberapa hari yang lalu sedang tertidur pulas, ia melepas tasnya dan menggantungnya di sebelah meja belajarnya. Sejak memelihara ketiga anak anjing ini, ia mulai memerhatikan kebersihan kamarnya. Tentu saja buku-buku yang ia beli dan yang diberikan oleh kakak-kakaknya tak mau ia rusaki jadi ia mengaturnya agar mencegah teman-teman kecilnya menghancurkan dengan cara mereka.


Mandi, ia ingin mandi, berendam air hangat mungkin akan mengangkat sedikit lelahnya. Hampir 30 menit ia keluar dari kamar mandinya, ia sudah mengenakan stelan olahraga yang dibeli kakak perempuannya beberapa waktu lalu berwarna abu-abu. Selesai mandi dan berganti pakaian ia keluar dan mendapati teman-teman kecilnya susah bangun. Ia memindahkan mereka ke kereta dorong mirip kereta dorong bayi, memasang sabuk pengaman pada ketiganya dan mendorongnya ke bawa agar bermain dengan para keponakannya.


Ia berpapasan dengan Anisa di pintu " Nona, biar saya bantu..." kata Anisa.


" Oh tak apa-apa kak..."


Saat turun kebawah, keempat keponakaan yang melihat kereta dorong punya mereka saat masih bayi yang kini telah dimodifikasi menjadi milik Ad, Ri, dan An berlari ingin bermain dengan ketigannya.


" Stop..." Ar menghentikan mereka, mereka berhenti. " Tidak bo..."


" Tidak boleh menggendong, tidak boleh menjahili dan membuat mereka kesusahan..." serempak keempat keponakannya mengucapkan larangan saat bermain bersama ketiga dog baby milik bibi mereka. Mereka yang melihat tersebut tersenyum, keempatnya sudah menghafal nasehat bibi mereka.

__ADS_1


" Bagus kalau kalian paham..." kata Ar, kemudian ia menurunkan satu per satu teman kecilnya itu membiarkan mereka bermain bersama keempat keponakannya karena sejak Ad, Ri, dan An ada, keempat keponakaannya ia larang untuk masuk ke kamarnya.


__ADS_2