
" Dari mana saja kamu?" Tanya suara yang sangat Ar kenal, suara yang tak pernah lembut padanya, suara dingin dan tegas milik kakak pertamanya yang sangat ia tau membenci dirinya.
" Da, dari lapangngan kak..." jawab Ar dengan sedikit suara bergetar. Jantungnya serasa meronta keluar, sudah cukup lama ia tak bertemu sang kakak karena pekerjaannya sebagai dokter bedah di kota yang berlainan dengan kota ia dan Harna tinggal.
" Kamu itu masih gadis, jangan bodoh sampai menjerumuskan dirimu ke jalan yang salah, cukup mama dan kakak perempuanmu yang salah jalan apa kata orang nanti, buah jatuh tak jauh dari pohonya gitu, kau senang keluargamu diejek keluarga tak baik..." ceramah Ardan yang sebenarnya pertama kali Ar dengar kakak pertamanya panjang lebar untuknya.
" Maksud kakak?" tanya Ar tak mengerti.
" Duduk..." pinta Ardan. Sekarang ini mereka duduk diruang tamu. Ardan, papa, mama, Harna, dan Herman, juga Ar.
" Sudah saatnya kau tau, meski umurmu masih muda, kau cukup pintar sehingga sudah di jenjang SMA..." ujar Ardan lagi.
" Kamu bukan anak kandung papa..." ucap si papa.
"...Dirimu lahir dari kesalahan 1 malam oleh mamamu dengan pria entah dari mana, itulah kenapa papa membencimu..." ini suara papanya. Mencerna semua kata-kata itu membuat dada Ar sesak.
" Mas tak perlu menambahkan kata membenci pada Ar..." protes Mama.
" Tidak apa-apa ma, Ardan juga membencinya, kehadirannya membuat rumah tangga mama hancur, mama dan papa yang sering berkelahi karena anak yang ayahnya tak jelas..."
Plak
Sebuah tamparan panas Harna layangkan pada pipi kakak pertamanya, tangannya bergetar. Harna yang paling membenci Ar, tapi ia tak pernah mengungkapkannya namun jika adik bungsunya dihina ia tak akan terima. Sama halnya dengan Harna, Herman sejak tadi mengepal tangannya menahan emosi, ia ditenangkan oleh istrinya namun istrinyalah yang tersulut emosi hingga menampar kakaknya.
__ADS_1
" Kau menamparku Harna?" tanya Ardan dengan nadatinggi.
" Kak, harusnya kakak sadar dengan apa yang kakak ucapkan itu, Arsian tak pernah minta untuk lahir dikeluarga kita dan menjadi adikmu..." Ucap sang mama dengan berurai air mata. Kata itu dapat membungkam suami serta anak pertamanya itu.
" Minta maaf pada Ar sekarang..." pinta sang mama. Ia tak ingin karena keegoisan suami dan anak pertamanya anak bungsunya yang harus menjadi korban atas apa yang ia dan putri sulungnya.
" Tidak,dia keluarga kita hancur, kau pikir aku menerimanya, aku pernah berpikir untuk membuangnya dijalan dan bahkan aku pernah hampir membunuh anak yang kau cintai ini..." Ucap papa santai.
Hati Harna serasa ditikam, ia melihat Ar yang sejak tadi hanya diam. Ia juga dulu membencinya, entah sejak kapan ia mulai menerima Ar sebagai adiknya, tapi tak ada niatan seperti membunuh atau membuang Ar dalam hidupnya.
" Terima kasih untuk penyampaaian anda berdua, saya memang sudah tau fakta tersebut hanya saya bertanya-tanya kapan kalian akan memberi tau saya atau lebih buruknya lagi membuang saya, terima kasih atas kesempatan hidup yang kalian beri, saya akan mencoba hidup tanpa terlihat dimata anda berdua, saya permisi..." Ar pergi.
Bukan kelegaan melainkan rasa sesak yang diterima oleh kedua pria dewasa itu. Entah kenapa keduanya merasa bersalah yang entah sadar atau tidak.
Mama pergi tanpa sepata katapun, meninggalkan kedua pria dewasa itu yang sedang berperang dalam pikiran masing-masing.
***
Ar melewati ruang tengah, menaiki tangga dan masuk kekamarnya tak memedulikan para keponakannya yang sedang makan malam.
Masuk kekamarnya, mengkunci pintu. Sebisa mungkin ia tak mau ikut emosinya tak terkontrol. Kepala yang rasanya mau pecah menandakan ia tak bisa mengontrol emosinya. Entah sejak kapan ia divonis autis dan meminta untuk tetap mengontrol emosinya agar tetap menjaga kewarasannya.
Kepala yang sangat sakit itu menutup penglihatan dan pendengarannya. Dua dari 3 indah yang masih berfungsi di tubuhnya. Ya benar, dua kali kecelakaan menimpanya membuat dirinya yang memang memiliki tubuh lemah dibuat menjadi lebih lemah.
__ADS_1
Selain merenggut kedua orang paling berjasa dalam hidupnya, kecelakaan tersebut juga membuatnya tak bisa mengecap segala jenis rasa makanan dan tak bisa mencium bau apapun meski ia didekatkan pada bangkai busuk yang ditinggalkan berhari-hari.
Sejam
Dua jam
Ia tak mengingatnya lagi, saat kesadaranya menjadi pulih dan penglihatan serta pendengarannya berangsur membaik ia mencari sebuah benda yang akan membuatnya tenang.
Sret sret sret, goresan benda pipih nan tajam pada pergelangan tangannya, darah segar kang keluar membuat dirinya merasa lega. Tak ia perdalam sayatan cuter. Setelah banyaknya goresan yang membuatnya merasa sedikit bebannya terangkat ia berjalan dengan gontai kekamar mandi.
Mandi dan membersihkan diri. Setelah dirasa cukup segar ia keluar dari kamar mandinya dengan handuk kimono dan mencari piyama lengan panjang karna tak mau keponakannya tau.
Memikul gitar di punggungnya yang lucu jika dilihat. Turun kebawah. Di beberapa anak tangga sebelum sampai ke lantai dasar ia mengedarkan pandangan sekitar, apakah ada pap atau kakak pertamanya. Setelah dirasa aman barulah ia berjalan melewati pintu belakang menuju rumah Andi karena mendengar suara kedua orang yang ia hindari sedang bersuara diarah depan.
***
Tak bisa tidur, Ar berusaha memejamkan matanya hingga pukul 4 dini hari ia masih terjaga. Ia bangun, merapikan kasur yang ia gunakan. Ia tidur di kamar Andi karena 2 keponakan lainnya atau anak kakak pertamanya bergabung dengan Harun dan yang lain di ruang tamu.
Membuka pintu pelan takutnya menimbulkan suara dan masuk kekamarnya. Mandi dan bersiap ke gereja. Jam 5 ia membuat sarapan untuknya yaitu roti tawar tanpa selai dengan susu coklat favoritnya yang ia tau distok untuk dirinya.
Membereskan kembali dapur yang ia gunakan.
Dengan dres lengan panjang hingga menutup sayatan tangannya dan panjang menutupi betis, dipegangnya dengan hati-hati kitab suci. Ia keluar dari rumah dengan rambut yang digerai setelah disisir rapi.
__ADS_1
Masih terlalu pagi untuknya ke gereja, ia singgah di makam sang sahabat.