Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Warna


__ADS_3

Pulang sekolah entah bagaimana Ar diantar oleh Lynden. Saat Ar sengaja menawarkan untuk masuk ke rumah sekedar basa basi ditanggapi serius oleh Lynden dan kini mereka sedang berada di ruang tamu.


" Sepi amat..." kata Lynden saat clenga clengo melihat sekeliling.


" Keponakanku biasanya sedang tidur siang, kakak-kakakku biasanya masih dikantor..."


" Sore bi..." kata keempat keponakannya yang baru turun dari tangga.


" Sore dek..." balas Ar, keempatnya yang melihat Ar masih mengwnakan seragam lengkap langsung memasang pipi mereka berjejeran meminta dicium. Ar tersenyum sambil mengecup satu per satu pipi keempatnya.


Merasa sudah dikecup di pipi mereka meninggalkan Ar ke ruang tengah mengabaikan Lynden yang memang tak mereka lihat.


" Keponakanmu? Lucu sekali, ta seperti adik-adikku yang nakal..."


Ar tersenyum dan itu memabukan Lynden. " Mau makan, atau langsung pulang aja?" tanya Ar. Sudah hampir dua jam Lynden duduk diruang tengah bersama dengan dirinya.


" Bawa kamu ke pelaminan..." goda Lynden.


Eh eh eh, Ar mau dibawa ke pelaminan, masih kecil juga..." seru Harna yang baru pulang dari kantor. Dikecupnya pipi Ar.


Lynden gelagap saat menggoda Ar namun di dengar oleh orang yang ia tau adalah istri pemilik sekolah.


" Kakak ih, kak Lynden hanya bercanda kok..." seru Ar menohok Lynden. Orang kode keras malah dianggap bercanda.


" Oh kakak kira apa, kalau mau pacaran bawa cowo kamu ke hadapan kakak dulu..." perintah kakak Harna kemudian meleset pergi.


" Sore..." sapa Herman memasuki rumah.


" Sore kak..." balas keduanya serempak.


" Loh ada tamu, kakak ganggu ya, kakak pergi dulu..." Herman meninggalkan Ar dan Lynden dengan senyum penuh arti namun Ar yang kelewatan polos tak mengengerti.


" Aku pergi dulu ya..." ujar Lynden.


" Gak makan dulu kak..." tawar Ar.


" Gak usah nanti ngerepotin..."


" Kakak bertamu aja udah ngerepotin..." uja Ar.


Lynden yang gemas dengan Ar hanya bisa mengacak-acak rambut Ar dan pergi.


***

__ADS_1


Ar saat ini sedang bergelut dalam pikirannya, ia sangat yakin bahwa ia bukan anak kandung dari mama papanya sekarang. Setelah mendengar suara gugup mamanya yang baru ia telpon dan persepsi yang Betty katakan.


Besok ia harus menanyakannya lagi kepada papa dan mamanya saat pulang. Ia harus mengetahui fakta mengapa setiap bulannya ia mengecat rambut setiap 2 bulan sekali.


Benar, Ar tak mengetahui rambut aslinya berwarna apa, yang ia tau rambutnya memang berwarna cerah dan berbeda dengan kakak kakaknya. Ia dulu sering diejek anak pungut sehingga mamanya memilih untuk mengecat rambutnya secara berkala.


Harusnya ia mengecat rambutnya 3 bulan yang lalu tapi karena penasaran itulah yang membuat ia tak mengecat rambutnya dan membiarkan warna alami kembali.


Ternyata penantiannya selama 5 bulan terakhir untuk mengembalikan warna rambut aslinya berbuah hasil. Rambut yang awalnya berwarna hitam kini berwarna coklat seperti melunturkan warna gelap.


Dugaan bahwa ia bukan anak kandung kedua orang tuanya diperkuat dengan warna matanya yang berbeda warna. Ia mulai menduga kalau orang tua aslinya adalah orang luar atau bukan orang Indo.



Warna matanya inilah yang membuat ia yakin. Pasalnya ia sangat tau bahwa silsilah keluarganya baik dari papa maupun mamanya adalah orang Indo tulen dari akar-akarnya. Lalu bagaimana dengan warna matanya yang berwarna aneh ini.


Ayo hentikan pikiran ini dan siap-siap untuk berangkat besok.


Ya, meski besok barulah hari jumat tapi Harna dan Herman telah ijin untuk dirinya dan keempat keponakannya untuk berlibur sebebentar.


***


Meski tidur larut, Ar sangat sensitif terhadap suara sehingga ia langsung terbangun saat mendengar para keponakannya yang berisik berlarian di depan kamarnya. Kamar yang memiliki tembok tebalpun tak mampu menahan kericuhan keempat bocak itu jika sedang dalam mode berisik.


Dengan langkah gontai ia memasuki kamar mandi. Tak berniat kramas, ia merendam tubuhnya kedalam bathtub, ah nyamannya, keluar setelah 30 menit kemudian. Mengambil pakaian asal namun tetap cool.



Turun untuk sarapan.


" Dek mata kamu dicoret pake spidol, hitamnya kelihatan banget?" tanya Harna yang melihat Ar sedikit lesu dan mata yang sedikit menghitam saat mereka duduk diruang meja makan.


" Tadi malam begadang kak, dikiranya bangun siang, Harun sama yang lain berisik depan kamar Ar, jadi Ar kebangun..." jawab Ar.


" Malam tadi tidur berapa jam?" tanya Herman.


" Gak sampe dua jam kak..." kata Ar. " ...Ar memang susah tidu kok..." tambahnya agar kakak serta kakak iparnya tak kawatir.


" Kita kedokter dulu ya, sore baru kita ke rumah mama..." Kata Herman.


" Gak us..."


" Jangan gitu Ar, kakak tau kamu gak suka merepotkan kakak tapi kakak sama kak Herman gak merasa direpotkan kok..." potong Harna sebelum Ar menolak.

__ADS_1


" Iya deh, tapi ke temen dokternya Ar ya..." minta Ar.


" Emang kamu punya temen dokter?" tanya Harna.


" Ya punya lah..." Jawab Ar bangga.


" Boleh, nanti kakak kamu beresin barang kita semua dibantu Harun dan yang lain, kak Herman temani kamu ke dokter..." putus Herman dijawab anggukan oleh keduanya.


***


" Kak, emm..." panggil Ar dengan ragu.


" Kenapa dek?" tanya Herman tampa memalingkan fokusnya pada jalanan.


" Kalau seandainya kakak bukan anak kandung papi, apa yang kakak lakukan?" tanya Ar.


" Kakak memang bukan anak kandung papi, Indah juga bukan anak kandung papi..." jawab Herman sambil tersenyum.


" Kok bisa?" tanya Ar heran.


" Bisa lah, trus kenapa kamu nanya gitu?"


" Em, aku, aku bukan anak kandung papa..." kata Ar "... Mungkin juga bukan anak mama..." lanjutnya lagi.


Herman terkejut, Harna, istrinya tak pernah mengatakan apapun soal itu. " Ar tau dari mana?" tanya Herman lagi.


" Saat papa dan mama bertengkar selalu papa membawa namaku yang katanya bukan anaknya, ya dan aku sadar sepertinya yang dikatakan papa benar kalau dulu mama berselingkuh dengan seorang bule mungkin dan mendapatkan aku yang memiliki gen ayah kandung yang lebih kental karena warna rambutku dan warna mataku yang berbeda dengan kakak kakakku..." jeda Ar.


" Itulah kenapa kak Ardan dan kak Dimas tak menyukaiku, karena kehadiranku, rumah tangga mama dan papa hancur..."


Herman yang mendengar itu merasa iba, ia mengelus pucuk kepala Ar.


" Mungkin kakak sudah pernah mendengar dari kak Harna, aku membunuh sahabat-sahabatku..." ucap Ar. Herman menginjak rem mendadak sehingga mereka terhempas kedepan namun ditahan oleh sabuk pengaman.


" Jangan berkata seperti itu, mereka akan sedih jika kamu terus menyalahkan diri kamu atas kematian mereka..."


" Tapi benar ka..."


" Shutt, udah kakak tau kamu masih kepikiran mereka kan, gini gini kakak dulu cita cita jadi psikiater jadi kakak bisa tau hanya dengan melihat saja..."


" Kakak jangan kasih tau kak Harna ya..." minta Ar.


" Iya, ayo turun...

__ADS_1


__ADS_2