
Ar menjalani sekolahannya seperti biasa, ya, Ar tak memiliki waktu untuk mengikuti eskul seperti teman-teman lainnya karena ia harus mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran selama ia absen karena sakit.
Ar seakan memiliki jadwal yang sangat padat, mulai dari kesekolah di pagi hingga menjelang sore, sepulang sekolah ia belajar kelompok bersama untuk membahasa materi yang baru mereka pelajari hari ini, pulang keruma biasanya ia lanjut belajar otodidak hingga makan malam, dan selesai makan malam ia harus membeikan pelajaran singkat kepada kelima keponakannya.
Harna kawatir dengan jadwal Ar yang tak memiliki waktu iatirahat awalnya sempat melarang seperti menunda belajar kelompok bersama atau tidak mempekerjakan adik bungsunya itu untuk mwnjadi guru les anak-anaknya.
Herman tak sepwndapat dengan Harna, ia mendapat informasi dan solusi dari Doktee Fanessa alias kak Echa bahwa sekarang ini beberapa kenangan yang membuatnya trauma dan depresi mulai muncul di ingatannya sehingga Ar harus dialihkan perhatiannya.
Ar tidak boleh dibiarkan duduk melamun, Herman juga menanyakan apakah Ar bisa diminta untuk bekerja dan menyibukan diri. Fanessa mendukung niatan tersebut, sambil berkata selama itu dapat mengalihkan perhatian Ar Ar cara tersebut bisa digunakan, saya akan mengurangi penggunaan obat tidur dengan kandungan penenang tinggi yang tidak terlalu baik untuk tubuh sehingga tidak menimbulkan evek kecanduan yang juga dikombinasikan dengan vitamin yang dibuat dalam 1 pil saja dwngan banyak manfaat.
Begitulah terakhir mereka berkonsultasi dwngan dokter Fanessa.
Jadwal konsultasi Ar sendiri yaitu setiap hari selasa dan sabtu ia akan berkonsultasi dengan Fanessa dan hari kamis Ar akan berkonsultasi dengan Dokter Emelia.
***
Ar mengumpulkan nyawanya untuk bangun juga mengumpulkan niat untuk pergi mandi.
Tanpa menoleh jam, Ar melakukan perenggangan dan senam singkat sekitar 15 menit dipagi hari setelah membuka gorden kamarnya.
Ar baru-baru ini menerapkan pola hidup sehat dengan makan, minum, tidur, dan olahraga teratur.
Ar merasa sedikit bangga dengan kemajuannya dalam pengobatan terhadap insomnia yang diidapnya itu. Beberapa kali pertemuan dengan Fanessa, masukkan dan saran Fanessa sangat membantunya.
Sama halnya dengan Fanessa, dokter Emelia juga harus diberi ucapan terima kasih oleh Ar. Sejak cek up rutin seminggu sekali, obat-obatan yang Ar konsumsi berkurang banyak, dan yang masih tertinggal diganti dengan resep baru dengan khasiat yang sama.
__ADS_1
Selama perenggangan dan senam paginya, Anisa datang untuk memberwskan tempat tidur Ar juga mengurus baby dog. Setelah mengetahui asma-nya Ar, Harna melarang keras Ar merapikan kamarnya meski baru bangun tidur, disaat itulah Harna mengangkat Anisa sebagai asisten pribadi Ar yang bertugas sepenuhnya membantu Ar saat beraktifitas.
Ar dan Anisa telah sepakat beberapa saat yang lalu saat Ar mulai tidur nyenyak dan bangun tidur dipagi hari pada pukul 5.30 membuat keduanya membagi tugas untuk menjaga baby dog ini. Pagi-pagi Anisa akan mengurus mereka sedangkan sepululang sekolah hingga hari berganti barulah mereka bertukar sift.
Ar mandi, sesikit berendam. Ia menghitung waktu, tidak tidur di bak mandi melainkan menghitung 30 menit waktu yang cukup untuknya beranjak dari badtube dengan air hangat yang membuatnya masih betah.
Ar keluar, mengganti seragam dengan handuk kimono, seragam yang ia pilih adalah seragam berbentuk gaun abad pertengahan juga jas yang terlihat serasi.
Menjinjing tas berisi ipadnya dan handpone yang memang senganja ia simpan didalam tas agar saat makan ia tak disibukan dengan kedua benda tersebut.
" Selamat pagi semua..." sapa Ar yang baru turu datang dari kamarnya.
" Pagi juga bi/ dek..." sapa mereka secara bersamaan.
Ar sendiri, diantar oleh Jacob dan Gabby, ia memasuki pekarangan SMA Swasta Pranata tepat waktu, 1 menit sebelum bel.
Buru-buru ia berjalan cepat menaiki tangga menuju kelasnya, keasikan mendengarkan musik, Ar terlelap dimobil sekitar 10 menit saat mereka tiba di parkiran.
Hari ini hari kamis, Ar ijin tak ikut belajar kelompok seperti biasa, meski ditanya Ar selalu menjawab bisnis. Memang itulah alasan yang dia pakai untuk berdalih pada keluarga maupun teman sekelompok belajar dengannya.
Untungnya Herman mendukung jawabannya, Hermanlah yang mengantarnya ke dokter Emelia maupun Fanessa.
Bel pulang berbunyi, Ar merapikan tasnya kemudian mengenakan earpone, ia pamit pada mereka dan pulang terlebih dahulu. Ia berjanji akan menguliahkan mereka full sepulang sekolah besok.
***
__ADS_1
" Kondisi nona mida sudah memiliki banyak sekali kemajuan, peetahankan pola hidup sehat yang nona terapkan saat ini ya, tapi jangan berlebihan karena tubuh nona memang dasarnya lemah, jika diberi banyak kerja bukannya menjadi bugar mala nanti nambah sakit..." kata Emelia.
" Jadi, bagaimana dengan obat-obatan saya?" tanya Ar, ia sudah dengan banyaknya obat yang ia konsumsi dulu.
" Saya akan meresepkan vitamin dan beberapa obat tambahan yang akan nona minum hanya jika diperlukan..." kata Emelia. Ia menulis di sebuah kertas.
Sambil mengobrol merwka berjalan menuju apotek rumah sakit untuk menebus obat yang diresepkan untuk Ar itu.
***
" Kak, minggu depan selesai ujian Ar libur, tapi Ar gak mau pulang..." kata Ar pada Herman. Mereka sedang berada didalam mobil milik Ar, sedangkan mobil milik Herman mengikuti dibelakang dengan Jacob yang mengendarainya sedangkan mobil ini dikendarai oleh Gabby.
" Nanti kakak ngomongin sama kak kamu, gak apa-apa kan kalau kamu tinggal bareng Indah sama papanya kakak? Nanti natalan Harun sama yang di rumah orang tua kalian, tahun baru kita sama papa Hendri..." jelas Herman memberi pengertian.
***
Ruang tengah setelah makan mereka berkumpul dwngan buku masing-masing. Tristan juga dipaksa ikut belajar bersama meski sudah belajar kelompok tadi siang.
Karena para keponakannya berada dikelas yang berbeda-beda Ar membagi agar setiap anak mendapat waktu 30 menit belajar bersamanya.
Tentu Ar tak ingin makan gaji buta, ia dengan telaten mengajari mereka, menjawab pertanyaan mereka meski waktu mwreka telah habis dan sudah berganti orang.
Harna baru menyadari bahwa adiknya yang satu itu ternyata pintar dan berbakat. Ia tidak tuli mendengar Ar mengajari putra bungsunya yaitu Win membaca not balok pada patritut, atau Ar yang menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi gitar di malam sebelum tidur di balkon kamar Ar.
" Tak ingin menyinggung soal bakat sang adik, Harna berekspetasi adik bungsunya itu membuat pencapaian yang lebih bagus lagi daripada Rian.
__ADS_1