
Hendri dengan geram menunggu ketiga orang yang akan bersamanya ke Eropa. Ia mendengar suara yang ia kenal sedang berbincang memasuki lobby hotel sedangkan ia duduk di kantin hotel yang tak terlalu jauh dari lobby tersebut.
" Dari mana saja kalian?" suara ini membuat Bruno dan Ema membeku, suara dingin nan tajam ini dapat membuat mereka menjadi gelandangan hanya dalam beberapa menit setelah ia bertitah.
" Papi marah?" tanya Ar.
" Ar duduk sini, papi mau bicara sama mereka..." panggil Hendri pada Ar.
" Gak, mereka gak salah, Ar yang masih main tadi makanya terlambat pulang, papi jangan salahi mereka..." kata Ar memelas berusaha menyelamatkan jabatan kedua orang yang menemaninya berkeliling ibu kota negara tadi.
" Gak bisa sayang, mereka gak bisa buat papi menunggu di sini sendirian..."
" Tapi papi gak sendirian di sini, masih banyak orang yang sejak tadi bolak-balik hotel melewati lobby itu..."
" Papi gak suka menunggu..."
Ar pergi meninggalkan mereka, kesal karena pembelaannya tidak mempan pada papinya kali ini. Ia dusuk sangat jauh dari mereka, ia menunduk menatap i-pad yang sengaja ia buka namun ia terus mencuri pandang pada dua orang yang sedang dimarahi diseberang sana.
***
Mereka tiba si Bandar Udara Internasional London Heathrow, Bandar udara Inggis. Keempatnya telah ditunggu oleh beberapa mobil utusan dari Nicolas.
Keluar dari lobby bandara Ar mengeratkan pelukannya pada tubuhnya sendiri untuk mengusik dinginnya ibukota Unitad Kindom.
" Sayang ayo satu mobil sama papi..." ajak Hendri pada Ar namun Ar memalingkan wajahnya menandakan ia masih marah dengan sikap papinya di hotel kemarin. " Ok kalau kamu masih marah sama papi..."
__ADS_1
Hendri dan Bruno memasuki 1 mobil dan Ar serta Ema 1 mobil sedangkan mobil lainnya mengawal mereka dengan membawa barang-barang bawaan mereka.
Mereka tiba di sebuah mansion besar, Ar keluar dan masuk kedalam mansion tersebut setwlah mobil mereka berhenti tanpa menunggu sambutan dari para pelayan juga Nicolas yang tengah berdiri didepan pintu.
Ar memang tidak tahan dingin dan setelah perjalanan 16 jam dengan pakaian tipis dan badan lengket karena tak mandi ia ingin berendam didalam mansion mewah ini.
" Harusnya kau menunggu sambutanku..." ucap Nicolas dengan gaya bahasa Indonesia yang masih tidak menutupi khas bahasa Inggrisnya itu.
" Dingin om..." balas Ar.
Nicolas meminta seorang maid untuk mengantar Ar kekamarnya. Ya, ia menempatkan Ar di kamar utama mansion ini.
" Kamu bisa mengikuti maid itu, barang-barangmu akan menyusul..." ucap Nicolas.
" Aku membutuhkan sepatu roda..." gumam Ar. Sekilas ia melihat dari luar tadi ukuran mansion yang terbilang sangat besar membuatnya akan membutuhkan banyak tenaga untuk berkeliling nantinya.
Tak membutuhkan waktu lama hingga Ar sampai kekamarnya karena mansion ini memiliki lift. Ia tak tau bahwa kamar yang ia tempati adalah kamar utama, ia cukup terkejut karena kamar ini memiliki ukuran yang tidak bisa dibilang kecil, bahkan Ar sempat menghitung dikepalanya sendiri bahwa kamar yang ia tempati ini berukuran 3,7x lebih besar dari kamarnya yang ada di kediaman Hendri dan 7,4x lebih besar dari kamarnya dirumah kakaknya.
Sejenius itulah Ar yang langsung menghitung dan mengetahui perbandingan luas kamarnya itu.
Ar berguling di kasur, ah ia rindu tempat tidur empuk yang menjadi tempat ternyamannya setelah ruang penuh buku. Tentu selama beberapa minggu berusaha melepaskan diri dari insomnia membuatnya menjadikan kasur sebagai salah satu tempat ternyamannya.
Tak lama berguling-guling dikasur melepas lelah, 3 maid mendekatinya dan mengatakan akan membantu Ar mandi namun Ar menolak.
Ar masuk kekamar mandi yang sangat-sangat berbeda dengan kamar mandi yang ia gunakan. Ah kamar mandi indah ini menyediakan badtube yang membuat Ar sangat nyaman berrendam ria air hangat.
__ADS_1
Ia memejamkan mata sebentar merasakan sensasi air hangat yang seperti memijit tubuhnya.
Setelah terasa lelahnya telah menguap bersama air hangat ini Ar keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono. Ia tak merasa kedinginan karena disetiap sudut kamarnya terdapat alat pengatur suhu yang jika diluar ruangan panas , kalian bisa menyetelnya menjadi dingin begitu pula sebaliknya.
Ar mengwnakan pakaian yang tersedia didalam ruang ganti alias walk in close. Ia tau bahwa Nicolas akan berbaik hati pada anak sahabat sekaligus mitra bisnisnya.
" I want to go around..." kata Ar yang keluar dari ruang ganti kepada ketiga maid tersebut. (Aku inggin berkeliling).
" Master gave this to you..." kata seorang maid memberikan kotak. (Tuan memberikan ini kepada anda).
Ar membuka kotak tersebut, ia cukup senang karena Nicolas tau apa yang ia inginkan, Ar tidak tau bahwa saat bergumam tadi Nicolas sempat mendengarnya.
Ar mengenakan sepatu roda tersebut, dengan mudahnya ia menjaga keseimbangan. Ia pergi meninggalkan ketiga maid.
Mengelilingi mansion ini tidaklah sulit jika Ar tidak berjalan kaki. Ia berhenti disebuah ruangan 2 pintu dengan tergantung tulisan LIBRARY.
Ia sangat ingin masuk kedalam, memegang knop atau gagang pintu berharap tak dikunci dan benar saja. Ia masuk dan menutup lagi. Ah suasana yang ia rindukan, ruangan penuh buku yang hampir seminggu tak ia rasakan nuansa menenangkan ini.
Menelusuri rak-rak buku tebal yang menjulang tinggi dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang menjadi bahasa ibunya. Meski begitu jangan salah karena Ar masih menguasai bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jepang, Jerman dan beberapa bahasa lagi dari belajar otodidak atau menonton film.
" Saya senang kamu menyukai mansion ini, saya ingin menghadiahkan mansion ini sebagai kesepakatan untuk tidak mengacak-acak data perusahaan saya..." kata Nicolas.
" Aku masih menginginkan 40% saham hotel di Bali..." kata Ar santai.
" Baiklah bocah keras kepala, dari mana kau dapatkan jenius ini Dri, aku ingin menculiknya..."
__ADS_1
" Jangan macam-macam Nick, sayang ayo duduk dulu, om Nick mau buat kontrak kerja sama yang papi katakan itu..."
" Baiklah..."