
Mereka semua berkumpul di ruang tamu, para anak anak sangat tampan dengan jas, ada yang hanya memakai kemeja dengan dasi kupu-kupu yang melekat di leher, sangat mencerminkan penerus-penerus Pranata yang sekarang sedang berkembang pesat.
Ar duduk manis di sofa diam entah apa yang ia pikirkan, terlihat manis dengan dress mirip peri yang sangat cucu dengan wajah imutnya itu, namun sayang jika senyumannya tak terbit dikarenakan memikirkan keramaian yang akan menunggu.
Berjalan ke pekarangan rumah, mobil berderet rapi akan membawa sekeluarga besar ini menuju Mansion atau lebih tepatnya Ballroom pribadi milik keluarga Pranata. Yap, disini terjadi yang namanya perdebatan. Tentu tak bisa dihindari lagi saat peri mereka alias Ar harus memilih menaiki mobil yang mana dan bersama siapa.
Karena bosan dan malas akan menunggu perdebatan selesai, Ar memutuskan untuk pergi sendiri dengan mobilnya yang dikendarai oleh Gabby dan di sebelah bangku depan ada Jacob.
" Kalian ingin berdebat hingga tamu-tamu papi pulang?" tanya Ar yang hampir masuk ke mobilnya namun perdebatan mereka tak ada habisnya.
" Loh dek, kok mobil sendiri gak bareng kakak sama kak Fitri?" tanya Rian sengaja menumbalkan istrinya. Mereka berdua semobil bersama Tian dan Tristan.
" Kakak apa-apaan orang Ar sama aku sama kak Ronald sama Max, Nathan, dan Orland..."
" Aunty Ar harus sama kita..." kata Harun sambil melipat tangan didadanya bersama ketiga adiknya yaitu Vian, Vin, dan Win. Sejak pulang dari liburan di Eropa Ar mulai dipanggil Aunty oleh para ponakannya, katanya biar gak jadul-jadul amat kata Max dan Harun sebagai pencetus ide panggilan tersebut, namun sayangnya beberapa adik mereka kesulitan sehingga memanggil Ar dengan sebutan Any Ar.
" Bunny, ayo berangkat..." kata Hendri ia masuk kedalam mobil milik Ar dan Ar juga masuk kedalam mobilnya. " Jika kalian terus berdiri disitu kalian tak akan bisa masuk karena semua undangan ada ditangan bibi..." kata Ar kemudian Jacob menutup pintu mobil tersebut.
Mobil mereka meninggalkn pekarangan rumah megah tersebut menuju tempat pesta diadakam.
***
Banyak wartawan memenuhi luar pagar ballroom, keamanan diperketat, dibalik pagar terdapat ratusan bodyguard milik Hendri sang pemilik pesta, anaknya Herman juga memberikan semua bodyguardnya agar berjaga dikarenakan tamu-tamu ayahnya itu adalah orang-orang yang bukan orang sembarangan alias dengan sedikit kata yang diucapkan perputaran uang bisa berubah.
Gabby dan Jacob bergabung dengan teman-teman se-bodyguard-an, Ar menggandeng Hendri, Herman memeluk pinggang istrinya sama halnya dengan Rian, Ronald berjalan dipaling belakang bersama Andi sedangkan anak-anak berada didepan mereka.
Ronald dan Andi mengikuti para ponakannya karena merasa mereka tak cocok dengan dunia bisnis seperti kakak Rian dan Harna, sedangkan mereka tau bahwa malam ini Ar datang sebagai tuan rumah jadi mau tak mau ia harus mengikuti Hendri sang ayah mertua dari kakak perempuan mereka.
Ketiga pasangan yang saling merangkul ini terpisah untuk menyambut tamu, Rian dan Fitri menyapa teman bisnis mereka yang datang dari kota sebelah, saling berbincang mengenai kemajuan bisnis masing-masing.
Beralih ke Harna dan Herman yang menghampiri Siska Satya dan anak mereka Brian.
" Gimana, udah jadi anak cewenya?" tanya Siska menggoda mereka.
__ADS_1
Harna sudah memerah sedangkan Herman tersenyum tipis, Satya hanya menggeleng kepala karena entah kenapantingkah istrinya yang sangat suka menggoda Harna ini sangat berbeda dengan saat bersama teman lainnya yaitu bersikap tegas dingin dan kelihatan kejam serta angkuh.
" Heh sayang mulutnya?" Satya menegur gemas istrinya itu.
" kan aku nanya mas, lagian aku gak nanya mereka gaya apaan main kuda-kudaannya, aku tau gak ada gaya kayang kayak kata Herman itu, kan kuta pernah tuh tapi gak bisa..." ucapan aneh Siska.
" Mulit kakak musti ditabok nih bang..." ujar Herman.
" Ditabok pake bibir mas suami aku rela kok?" ujar Siska lagi.
" Kamu ini ya gak ada malu-malunya sama atasan kamu..." geram Satya.
" Lah, atasan aku yang satunya adik kelas di SMA, yang satunya adik tingkat pas kuliah dulu, diospekin semua sama aku..." ujar Siska sombong.
" Aku tau kak Siska itu malu-maluin tapi kak Siska jangan buat istri aku malu tau ngak, lagian anak kakak betah amat dengernya..." kata Herman sambil melirik Brian yang sedang berada di belakang Satya.
" Loh dek gak samperin Ronald sama Andi?" tanya Ssiska pada anaknya.
" Mau nanyain kak Harna sama om Herman tapi mama sama papa main ngerocos terus..." kata Brian cemberut. Niat ingin menanyakan teman setongkrongannya namu mamanya itu sangat cerewet saat saat bersama dengan kakak temannya itu.
" Makasih om..."
" Bri, kamu udah ditempatin di RS mana?" tanya Harna.
" Belum ada yang lowong kak, didekat sini, rencananya aku mau rantau aja..." jawab Brian.
" Kamu mau jadi dokter di sekolah? dokter SSP di SMA yang satunya pindah ngikut suaminya yang satunya mau pensiun dini februari nanti..." jelas Harna.
" Boleh kak, kapan mulainnya? aku bisa sekarang kok..."
" kalau kamu lupa 5 jam lagi tahun baru dan semua siswa sedang berlibur..." balas Herman.
" Ah maaf om Brian terlalu semangat dapet kerjaan jadi lemot biasanya..." jawab Brian dengan polosnya. Ya, Brian memang agak srek mirip dengan sang ibu.
__ADS_1
Beralih ke Hendri dan Ar, Ar diperkenalkan sebagai anak bungsunya, saat Hendri berkata bahwa Ar yang mendekor ballroom ini mereka semua memujinya dan berkata bahwa ia memiliki bakat.
Pidato singkat dari Hendri yang menyampaikan tujuan pesta ini yaitu untuk lebih mengikat tali pertemanan dan kerja sama untuk tujuan bersama, ia juga memperkenalkan bahwa Ar adalah putri bungsunya.
Selesai melakukan pidato ia turun dari panggung dan disambut oleh Ar. Dikecup singkat kening Ar. Ia sangat tau apa yang dirasakan Ar lebih dari Ar sendiri, memang ia sempat menyelidiki keluarga dari menantunya dan ia tak sengaja mengetahui fakta mengejutkan, dan ia hanya ingin Ar bahagia.
" Sombong sekali kamu dikandang sendiri..." kata Nicolas berjalan kearah Hendri sambil merangkul pinggang sang istri dengan posesif.
" Kalau kamu ingin gelut ayo..." Ajak Hendri.
" Apa itu gelut?"
" Hai Marry makin cantik aja..." kata Hendri. Ar dan MArry sedang mengobrol, atau lebih tepatnya Marry sedang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ar.
" Baik..." jawab Marry singkat. ia berbalik pada Ar. " Mommy membawa beberapa teman serta saudara mommy seperti yang kamuu minta..." tunjuk Marry pada beberapa pasang mata yang sedang mematap mereka dengan berbagai pandangan.
" Aku ingin menemui mereka tapi aku memiliki janji penting dengan orang yang sedang berada di panggung itu, dan lagi Ar juga mungkin akan membawa lagu karena Ar ada bisnis mom, mom tau kam maksud Ar..."
" Tentu saja sayang..."
Seperti yang dibilang Ar, ia kemudian menghampiri Ica, gadis yang kemarin ia temui. Berbincang sebentar. Terlihat seru, tak lama ia naik keatas panggung setelah piano telah selesai di tata didepan panggung tadi, dengan anggunnya ia naik keatas panggung.
Tak memedulikan tatapan tanya dari kakak-kakaknya ia mencoba fokus. Tak ada yang menyadari dibalik rambut yang digerai-nya ia menyumbat telinganya dengan musik yang membuatnya menahan berbagai kebisingan, untunglah pesta kelas menengah keatas ini tidak berisik.
Ia menengadah keatas rambutnya terjun hingga hampir menyentuh lantai, memejamkan mata, tangannya telah berada diatas tuts dan...
Suara awal nada membuat semua kesibukan dan semua obrolah langsung terhenti dan memfokuskan pada titik suara.
Ar berhasil membawa mereka ke padang bunga matahari dengan cuaca hangat yang menyegarkan. Seakan terhanyut dalam imajinasi yang Ar alunkan ditelinga mereka, Ah menyegarkan sekali mendengarkan.
Dipenghujung lagu dengan sedikit memperlambat tempo Ar mengakhirinya.
Ar tidak turun panggung melalui tangga yang tadi ia naiki melainkan ia berjalan menuju belakang panggung.
__ADS_1
Mempersiapkan lagu kedua, ia memegang biola.
***