Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Anak-anak


__ADS_3

Karena anggota yang tinggal dirumah bertambah menjadi 3 orang serta Ronald dan Andi ikut-ikutan tinggal bersama Harna dan Herman, akhirnya mereka pindah ke salah satu mansion keluarga pranata yang cukup dekat dengan sekolah mereka dan tak jauh dari kantor Herman bekerja.


Rumah ini berukuran 5 kali lebih besar dari rumah yang mereka tempati bisa disebut sebuah mansion tentunya, dari luar, struktur bangunan ini tak jauh berbeda dengan rumah sebelumnya, hanya yang ini tersusun atas 4 lantai.


Sebenarnya yang Herman tau, hanya 3 lantai saja namun si papi membuat sebuah kamar besar di atap dengan pagar keliling dan taman kecil, katanya untuk anak bungsu tercinta yaitu Ar. Herman hanya bisa pasrah pada pria tua itu.


Mereka hanya mampir untuk memilih kamar saja, karena kamarnya masih kosong dan belum diisi apapun. Hendri selaku pemilik rumah yang mengatakan pembagian wilayah kekuasaan dimana kedelapan bocil + Tristan yang berstatus cucunya memiliki zona lantai 3 yaitu zona aman dimana jauh dari dapur yang merupakan tempat berbahaya.


Sedangkan para anaknya memasuki zona lantai 2 yang dekat dengan dapur. Papi juga merencanakan akan membuat sebuah ruangan dilantai 2 untuk dijadikan gym, perpustakaan, ruang kerja.


Dan terkhusus lantai 4 yang hanya memiliki 1 kamar saja yaitu kamar milik Ar. Sebenarnya Ar memiliki 2 kamar di rumah ini yaitu di kamar utama lantai 3 yang memang aslinya untuk dia dan kamar dadakan yangbada di lantai 4 ini. Namun Ar meminta memindahkan piano yang ada di ruang santai lantai 1 ke kamarnya dilantai 3 yang ada balkonnya. Balkon yang dibawahnya terdapat kolam renang, kemudian taman, dan memiliki pagar pembatas kemudian rumah belakang.


Setelah kedelapan bocil yang memilih kamar dan bertengkar siapa yang kamarnya dekat tangga atau siapa yang kamarnya dekat kamar Ar dilantai 3 itu. Sungguh merepotkan berurusan dengan bocil akhirnya selesai juga.


Papi yang senang memiliki banyak cucu itu kemudian memesan semalam sebuah restourant milik kenalannya agar keluarganya bisa makan malam disama.


Dan disinilah mereka, meja bundar besar menggeser semua meja kecil disini, wartawan tak sedikit yang melihat agenda seorang Hendri Pranata yang makan malam besar-besaran bersama keluarga menyorot restourant tersebut.


Memang akhir-akhir ini nama Pranata menjadi semakin dikenal dalam dunia bisnis. Hendri yang menjadi pelopor bisnis, dimana seorang anak petani menjadi seorang yang disegani di Eropa dan Amerika. Juga anak sulungnya yang baru merintis karir bisnisnya dari nol tanpa bantuan keluarga sedang dalam masa berkembang kedepan menjadi maju ini membuat nama Pranata mulai dicari.


Apalagi keluarga ini memang tak mengekspos kehidupan pribadi mereka.


Tak memusingkan wartawan diluar kaca restoran yang dihalang bodyguard, kedelapan bocil + Tristan dan Ar makan sambil terkantuk-kantuk yang menyerang tiba-tiba. Bahkan Win, Max, dan Tian telah menaruh kepala mereka di atas meja makan. Vian, Vin, dan Orlan tengah mengunyah makanan dengan mata terpejam. Tristan, Harun dan Nathan sedang duduk bersandar pada kursi dengan kepala menengadah keatas sambil terpejam. Ar yang berbeda sendiri, ia duduk tak bersandan namun menunduk, tak lama kacamatanya jatuh kepangkuannya tapi ia tak sadar.


" Eiits, anak papi mau ada benjol dikepalanya toh..." kata Hendri sang papi sambil menahan pipi gembul Ar agar gadis imut itu tak terjatuh dari kursinya.


Padahal mereka baru memakan setengah makanannya. Karwna tak tega melihat itu akhirnya Herman menggendong Harun dan Win, Harna menggendong Vian, Ronald menggendong Vin dan Max, Andi menggendong Tristan dipunggungnya dan Orland didepannya, I dah menggendong Nathan, dan si papi menggendong Ar. Sebisa mungkin wajah mereka tak nampak dalam jepretan para wartawan. Wajah anak-anak yang digendong sedang berada di ceruk masing masing orang dewasa sehingga wajah mereka benar-benar tak dapat diekspos.

__ADS_1


Mereka pulang ke rumah lama mereka.


Ya meski setelah sampai mata yang tadi terkantuk-kantuk menjadi terang benderang cemerlang seperti sedang diguyur air dingin saat dibangunkan dari tidur mereka.


Karena baru jam 8 dan masih libur mereka dibiarkan bermain diruang keluarga bersama ketiga baby dog Ar, dengan ditemani cemilan buah dan roti bakr karena mereka tak selesai makan tadi.


***


Guk guk guk...


Ar merasa geli, merasa sesuatu yang lembek dan basah menempel di wajahnya juga dirasa hembusan nafas. Samar-samar ia mendengar suara para pelayan rumah, dari arah yang ia yakini itu dapur.


Bunyi langkah kaki yang berat, ia tau ini pasti Harna dan Herman. Pendengaran yang tajam membuatnya dapat dengan cepat mengetahui bunyi langkah kaki siapa yang berjalan apalagi ia ingat dengan jelas bahwa tadi malam, ia dan kesembilan keponakannya keasikan bermain hingga tidur bersimpuh pada lantai ruang tengah yang beralaskan karpet.


Meski kedua indra tubuhnya tak berfungsi ditambah yang satunya bermasalah membuat indra yang lainnya menajam. Dengan otak yang cerdas yang ia tutupi itu ia bisa langsung tau pergerakan-pergerakan disekelilingnya dari bunyi yang ditimbulkan. Jelas sekali didunia tak ada yang tak menimbulkan suara. Sendirian diruang dedap suarapun masih ada suara detak jantungnya sendiri.


" Gak apa-apa kak, biar Ar gak perlu cuci muka lagi..." kata Ar dengan suara khas bangun tidur.


" Gak gitu juga kan dek..." kata Herman tak habis pikir dengan iparnya yang menganggap seperti itu.


" Hehehe... Kalian pasti kangen ya, umm cayang gemes deh..." Ar mendudukan dirinya dengan hati-hati karena ia diapiti Max dan Win sedangkan baby dog mengganggunya dari atas kepalanya. Ar pelan-pelan bangun dan menggeser sedikit tubuhnya menjauh agar tak mengusik tidur para ponakannya itu. Ia merangkul ketiga baby dognya yang sangat ia rindukan.


" Umm, udah besar sekarang, kalian gak lupa kan sama mama kalian ini? Udah ditinggal sakit, trus bangun dari sakit sibuk persiapan ujian semester, trus liburan ke Eropa, mama tinggalin kalian sendiri, ampuni mama sayang..." kata Ar pada ketiga baby dognya seakan mereka mengerti. Dirangkul ketiganya kedalam dekapannya dan dihujani dengan ciuman.


Harna dan Herman yang melihat itu hanya bisa menggeleng pasrah dengan adik mereka yang sangat mencintai peliharaannya dan dianggap anak sendiri.


" Kalian diajari apa sama kak Nisha, gak aneh-aneh kan? Ayo kita makan ya..." ajak Ar. Ia menggendong baby dognya sambil berjalan menuju dapur.

__ADS_1


" Kak Nisha, mereka udah makan belom kak?" tanya Ar yang muncul di dapur, rambut masih berantakan, muka bantal tapi tetap imut.


" Belum non, mereka baru minum susu jam 6 tadi, sekarang harusnya mereka udah makan sih jadwalnya..." kata Anisha menjelaskan.


" Kemarin dicek up gimana hasilnya?" tanya Ar lagi.


" Mereka udah bisa makan dari beberapa minggu yang lalu harusnya tapi karena beberapa hal jadinya baru seminggu ini mereka diberi makan, sebelumnya hanya susu saja, dokter juga membuat jadwal makan mereka yang diselinggi dengan susu untuk memperkuat daya tahan tubu mereka yang lemah dari sananya nona..." jelas Anisha pada Ar.


" Nanti kak Nisha kasih jadwalnya ke aku ya, kakak gak usah repot repot lagi sama mereka biar Ar aja yang ngurus mulai sekarang, aku ada perlu sama kakak jadi nanti siang habis makan kakak temui aku di kamar ya..." kata Ar lagi.


Ia kemudian menurunkan ketiga baby dog dan menerima piring makan serta makanan kaleng milik babynya itu. Ia sajikan untuk mereka makanannya dan membiarkan disana namun ketiganya tak bergeming. Ia mengambil apel di atas meja dapur dan bersimpuh dilantai dekat ketiganya.


" Tabemashou..." Ujarnya kemudian menggigit apel tersebut. Ketiganya yang menengok sebentar kemudian memakan makanan didepan mereka.


" Kakak ajari mereka makan bersama?" tanya Ar pada Anisha yang tak jauh darinya.


" Tidak, mereka malah sering berebutan makanan, saya heran sekali kenapa mereka sopan seperti ini, padahal saat besama saya mereka sangat rusuh..." ujar Anisha tak percaya.


" Kok bisa?" Ar pun heran.


" Mungkin mereka tau mana mommy-nya mana babysitter-nya..." kata mbak Anin seperti mengejek anaknya.


" Begitu ya mbak?" tanya Ar.


" Iya..." jawab Anin kemudian menjauh anak dan majikannya dan kembali ke kompor.


" Wih mereka pintar nih, oke sekarang kalian harus mommy didik baik-baik supaya jadi anak pintar..." kata Ar sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2