Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Sadar


__ADS_3

Suara bising mengganggu perdengaran Ar.


Engghh... suara yang Ar keluarkan antara tak nyaman dan ingin merenggangkan tubuhnya namun terasa berat.


Suara yang ia dengar semakin berisik, ia menyadari sebuah benda dingin yang menempel sesaat kemudian diangkat langsung pada kulitnya(stetoskop), ia juga merasa silau dikedua matanya disaat bergantian dengan cepat.


" Nona setengah sadar, biarkan nona beradaptasi dengan lingkungan baru setelah bangun ya..." dokter Emelia kemudian pergi.


" Dek gimana? Mau minum?" Harna antusias, ia cukup sadar saat melihat Ar membuka mata meski tak sempurna. Mata indah itu sedikit menyipit untuk menyesuaikan cahaya.


Ar hanya diam, ia memandangi Harna dan mamanya juga Andi. Mereka terlihat menantikan apa yang akan dikatakan Ar.


Ar tak ingin berbicara, tak ingin ia keluarkan sekatapun dari bibir mungilnya itu.


Harna semakin frustasi saat Ar dengan wajah masam memalingkan wajah dengan kasar seperti tak ingin melihat mereka sedangkan Andi keluar entah kemana.


Ar dengan sekuat tenaga bangun dari tidurnya, Harna ingin membantu namun Ar menghindar seakan Harna akan dapat menyebarkannya bakteri, akhirna Harna mengurung niatnya untuk membantu.


Tak lama Andi kembali dengan Rian, Fitri, Tristan, Mariana, dan Herman juga Ronald. Mereka diam saja sambil memandangi Ar yang masih terbaring memalingkan wajahnya dari pintu arah mereka datang.


Kedua kalinya ia berusaha untuk duduk, Ronald dan Rian mendekat meski sudah melihat isyarat Harna yang menggeleng tapi tak dihiraukan.


Ar menolak, seperti halnya Harna, ia kembali menarik dirinya agar tak disentuh oleh keduanya.


" Kenapa dek?" tanya Rian seraya mengelus kepalanya namun Ar sedikit menurunkan kepalanya sehingga tangan Rian mengenai bantal.


" Tan, bantu bibi duduk..." Minta Ar. Suaranya barulah keluar setelah hampir seminggu tak terdengar.


Tristan menurut. Ia memandangi Rian dan Ronald, kemudian mereka sedikit menjauh dari kasur Ar.


" Bi, bibi kenapa kaya gini?" tanya Tristan sambil membantu Ar duduk dengan nyaman.


" Harusnya mereka kabulin keinginan Ayah sama kak Ardan..." kata Ar.


" Ayah sama opa emang bilangin apa?" tanya Tristan.


" Bibi ini anak yang tak diinginkan, buat apa dibiarkan hidup..." ucap Ar.


Suram, ruangan ini diselimuti suasana yang cukup suram. Seisi ruangan tak menyangkan alasan Ar menolak dibantu saat duduk dan mendiami mereka karwna mereka merawatnya saat sedang sakit dan tidak membiarkannya mati.


" Bi, Itan minta maaf ya..." cicit Tristan lirih.


Yang lain sedang dengan pikirannya masing-masing meski tetap menajamkan pendengaran mereka. Mereka lebih memilih diam dan mendengar daripada ikut bersuara dan berakhir diusir. Satu-satunya harapan mereka adalah Tristan.


" Emang kamu salah apa sama bibi, bikin saldo ATM bibi kurang berapa nol kamu? Ayo ngaku?" tanya Ar dibarengi kekehan. Ah mereka senang Ar masih bisa tersenyum.

__ADS_1


" Ih bibi orang lagi serius juga..." protes Tristan. Ia duduk kasur Ar meski ada kursi tepat didepannya.


" Ya kamu aneh..."


" Maafin ayah Itan sama Tian ya kak? Itan gak tau kenapa Ayah sama Opa ngomong gitu tapi meaki mereka menolak kehadiran bibi, Itan bersyukur bibi ada, bukan hanya Itan, Tian, Harun, Vian, Vin, apalagi Win, dia seneng banget dapat biola dari bibi, Itan juga mau kameranya bibi..." kata Tristan dibarengi candaan.


" Bibi hanya udah capek..." kata Ar. Ia menyandarkan cekungan leher Tristan.


" Sabar ya bi..."


Fiks, dunia serasa berdua.


Pintu terbuka menampakan Mario yang datang dengan kotak bekal yang entah berisi apa.


" Selamat siang semua..." sapa Mario. Dijawab Anggukan atau 'siang...' oleh yang lain.


" Siang Del..."


" Del?" tanya Tristan. Ia menerima bekalnya.


" Iya, Adeliana kan nama tengahnya, kalau Ardian kayak nama laki-laki, masa imut aww aww gini namanya laki..." kata Mario sambil mencolek pipi Ar.


" Sehat lo, gak belok kan?" tanya Tristan.


" Enak aja, gue masih cowo tulen, belok-belok, lo pikir gue banci perempatan?" kesal Mario.


" Enak aja, papi sama mami gue pengen anak cewe jadi nama gue Maria, bukan Maria aja tapi Mariano, makanya Delia pangil Yo, itu diambil dari Yano, disingkat Yo..." jelas Mario panjang lebar.


" Oh..."


" Cuma oh doang tanggapannya? Cik, balikin makanannya, gue bawa buat Delia bukan buat monyet..."


" Gak baik kalau makanan diambil kalau udah dikasih..." nasehat Tristan.


" Lah gue bukan ngasih ke elo, elo aja yang rakusnya kayak gak dikasih makan seminggu..."


" Gue emang belom makan seminggu..."


" Bener Tan gak makan seminggu?" tanya Ar kawatir.


" Nunggu bibi bangun..."


" Emang aku tidur berapa lama? Sekarang hari apa?" tanya Ar.


" Hari sabtu Del, kamu tidur gak bangun-bangun, fans fans kamu linglung semua nanyain kamu, ayo makan biar aku suapin..."

__ADS_1


" Ini apaan?" tanya Ar.


" Kentang, kan kamu muntah kalau makan yang lain, udah diblender kok, pake bumbu istimewa juga jadi gak bakalan kamu muntahin, enak kok..." Kata Mario. " Bu, Delia udah boleh makan?" tanya Mario lagi pada Harna.


" Boleh kok, kata dokter yang gampang dicerna aja ya, lambungnya belum kuat cerna makanan keras..." jawab Harna.


" Delia boleh makan ini kan bu?" tanya Mario lagi.


" Boleh kok..."


Mario ingin menyuapi Ar namun Tristan yang melahap isi sendok yang diarahkan untuk Ar.


" Biar aku aja..." sambar Tristan. Ia kemudian mengambil alih makanan yang dibawa Mario untuk Ar.


***


Sore ini kamar Ar penuh dengan teman sekelasnya, juga teman kelompok belajar yang berada dikelas berbeda.


Mereka cukup banyak hingga sedikit sesak namun dengan keputusan Tristan, setiap 30 menit 10 masuk secara bergiliran sedangkan yang lain menunggu diluar.


Saran tersebut diterima, kalau tidak mereka siap diuair oleh Tristan.


Mereka pulang sebelum makan malam dan yang tersisa dikamar ini hanyalah kelompok belajar mereka, minus Rani Rina, Jeisis, Bian. Mereka katanya diauruh pulang cepat karena ada sedikit urusan.


Mereka bercerita tentang pelajaran, Cris dengan senang hati akan mengajari Ian materi yang tertinggal selama ia sakit.


Memesan makanan agar makan bersama namun Ar menolak, saat mereka makan Mario datang dengan menu seperti makan siang tadi.


Mereka terheran-heran dengan Mario yang terlihat cukup dekat dengan Ar dan Tristan itu.


" Eh Mario udah datang, ibu pikir gak datang jadi bawain makanan juga buat Ar?" kata Harna setelah ia menyapa mereka yang masih duduk.


" Nggak bu, Tristan ngancam saya katanya kalau saya gak datang nanti dia gak gijinin deket sama bibinya..." jawab Mario.


" Tan, jangan gitu, temen jangan milih, nah ayo makan, ibu pesen lagi ya..." kata Harna yang mempersilahkan pengantar makanan masuk dengan beberapa boks makanan.


" Makasih bu..."


***


" Kondisi nona sudah membaik, nona diharapkan jangan kelelahan dan jangan banyak pikiran ya, nanti tak bisa sembuh total..."


" Kapan bibi bisa pulang?" tanya Triatan.


" Nona bisa pulang sebentar sore namun harus rawat jalan ya, saya akan memeriksa anda secara berkala setiap hari..."

__ADS_1


" Kapan saya bisa kesekolah?" tanya Ar.


" Jika kondisi nona terua mengalami perubahan ke yang lebih baik, nona bisa secepatnya pergi kesekolah...


__ADS_2