
Pulang dari makan di sebuah resturant, Hendri dan Ar masuk ke sebuah butik yang sepertinya merupakan milik kenalan Hendri.
" Astaga Hendri, kamu culik dari mana anak ini? Sini sayang sama aunty..." ceplos wanita yang Ar tau ini adalah pemilik butik.
" Sembarangan, ganteng gini dibilang penculik, lagian dia anak aku bego..."
" Papi gak boleh ngomong kasar..." tegur Ar.
" Iya sayang..." Hendri langsung menurut.
" Ahahaha oke oke, bujang tua ini, baiklah, jadi kamu ingin mencari baju untukmu dengannya?" tanya Bella, si aunty tadi.
" Yang aku pesan, keluarin semua, yang paling bagus, paling cantik, paling paling untuk Ar, harus, berapapun biayanya..." kata Hendri tanpa basa basi lagi.
" Ck, iya iya, bawel amat, kak anterin anaknya uncle Hen ke ruang ganti sayang..." pinta Bella pada seorang.
Ar yang melihat beberapa orang mendekatinya itu langsung mundur dan bersembunyi dibelakang Hendri. Tubuhnya tertutup sepenuhnya oleh tubuh Hendri yang tingginya 192cm sedangkan tinggi Ar hanya 137,5cm, hanya sampai pinggang bagian atas Hendri, tak sampai dada.
Melihat Ar yang sepertinya ketakutan Bella berinisiatif mendekat. " Jangan takut ya, ini Delvi, anaknya aunty..." jelas Bella meminta anaknya mendekat.
" Halauuu degem, ayo ikut kakak cantik ya..." ajak Delvi.
" Halauuu apaan kak? Degem lagi..." tanya si mama yang jengah dengan tingkah anak bungsunya itu.
" Halauuu, itu kepanjangan dari halo, kalau degem tu artinya dedek gemes, ah si mama kayak tinggal dijaman old aja..." jelas Delvi.
Bella merotasi matanya malas mendengar tingkah anaknya itu sedangkan Hendri masih mengelus pucuk kepala Ar, ia cukup tau bahwa Ar tak terbiasa dengan orang baru.
" Sayang ayo ya, ikut sama kakak Delvi, di gak apa apa kok, papi kenal dia, dia anaknya aunty Bella, aunty Bella sama kaya Daddy sama Mommy, sahabatnya papi dulu, jadi papi udah kenal ko, mau ya, Ar cobain pakaian untuk pesta esok..."
Ar tak bergeming "... Kan pestanya kamu yang susun sendiri, masa kamu gak tampil wow di acara perdana kamu, ada daddy sama mommy, nanti mereka bilang kamu gak dikasih uang sama papi karna gak pakai baju bagus, aunty Bella punya baju bagus, dicoba ya sama kak Delvi ya sayang..."
Akhirnya Ar melepaskan cengkraman tangannya pada kaos santai Hendri dan menggengam tangan Delvi dengan erat, takut jika Delvi akan melepaskan.
" Kenapa takut hem, kakak ada di samping kamu kok..." Ujar Delvi.
" Mereka mau gigit aku, trus ada yang mau culik aku, ada juga yang mau karungin aku..." pernyataan itu membuat Delvi, Bella dan Hendri bingung mau merespon apa. Mereka tau itu pasti yang Ar dengar dari kariyawan disini. Ia memang terlalu imut sehingga ungapan itu tertuju padanya. Bukan apa-apa tapi hot pants setengah paha yang ditutupi oleh hoddie oversize yang menenggelamkan tubuhnya, rambut gelombang berwarna hitam yang memudar dan menunjukan warna coklat yang diikat asal sedikit acak-acak tapi menggemaskan, poni yang menutupi alis dan tak lupa kacamata kecil namun sedikit tebal menggantung di hidung yang mancungnya pas, jangan lupakan pipi yang sedikit cubby dengan sedikit rona merah muda alami disana, tubuh pendek, dengan kaki beralaskan sendal jepit yang memiliki 5 cm hells agar terlihat tinggi namun tetap saja pendek. Siapa yang tidak ingin menculiknya.
" Itu, itu karena kamu imut, itu hanya ungkapan memuji, pegawai mama memang agak geser sedikit otaknya..." jelas Delvi, yang mendengar itu langsung mendengus malas, apa-apaan dibilang otak sedikit geser.
" Geser otaknya itu artinya gimana kak? Temen-temen Ar sering ngomong gitu tapi pas ditanya malah ga dijawab..." tanya Ar. Polos sekali Ar ini, tak tahukan ia bahwa itu sindiran halus untuk orang gila.
" Oh Ar sekolah dimana, udah kelas berapa?" tanya Delvi mengalihkan pembicaraan, ia ditatap tajam oleh Hendri.
__ADS_1
" Ar udah SMA, kelas 10 loh..." kata Ar bangga.
" Oh ya, pasti Ar pintar deh ihh..." kata Delvi sambil mencubit pelan pipi Ar. " Nah ayo coba ini..."
***
" Papi, udah dong, kan tadi cuma beli baju, kenapa sekalian nata rambut Ar juga, ini 10 dress aja udah 1 jam, ini udah setengah 5 pi, udah 4 jam lebih bada Ar udah pegel semua ih..." rengek Ar, ia sudah cukup cape bolak balik ruang ganti dan depan cermin hanya untuk pesta esok.
" Ok ya udah deh, Bell, antarkan semua yang dicoba Ar kerumahku, kayak biasa ya, ingat besok setengah 7 ya..."
" Ok, tampan, kalau gini kan pengen kupepet teross..." goda Bella sekedar bercanda.
" Mama kaya tante genit kurang belaian, Evy bilangin papa loh..." ancam Delvi.
" Papa mau kok diduain kalau yang duanya itu om Hendri ini..." canda Bella lagi.
" Iya, papa gak masalah kok, kita kuras hartanya kemudian kabur..." kata seorang dari belakang. Ia merangkul Bella dengan posesif
" Apaan dasar pasangan mata duitan..." timpal Hendri.
" Apa kabar bro, makin cakep aja, gebetan mana?" canda suami Bella, ya dia adalah Jovan, sahabat Hendri.
" Kabar baik, gak ada gebetan-gebetan..."
" Masih gamon sama Putri, ayolah dia ama Ridwan udah tenang disana, sampe segitunya kamu sama mereka..." cerocos Jovan.
" Papa apaan ada anak kecil disini..." kata Delvi sambil menghalangi pandangan Ar.
" Maaf sayang mamamu ini candu banget..." jawab Jovan. "...aww." ringisnya saat sang istri mencubit pinggangnya.
" Gamon apaan is, ditanya juga.." kesal Bella.
" Gak bisa move on mamaku tercinta..." jawab Delvi.
" Biarin, toh aku masih punya Herman sama Indah, ini anak ketiga aku, anak bungsu sekaligus anak terakhir..." jelas Hendri.
" Iya ya, anak mereka udah besar semua udah sukses lagi..." kata Jovan.
" Sekarang mereka anak aku ya..." tegas Hendri.
" Ya ya ya, jadi ini anak siapa yang kau culik?" mata Jovan jatuh pada Ar yang berada diantara Delvi dan Hendri.
" Nanti aja, kita masih mau kencan, ingat ya Bell, kalau gak sampai malam ini aku bakar butikmu ini trus aku ratain mall suami kamu ini..." ancam Hendri sekedar bercanda. Ketiga bapak mama anak itu sudah biasa dan hanya menanggapinya dengan merotasi malas bola mata mereka.
__ADS_1
" Ayo sayang kita ke spa, perawatan kamu lebih penting dari pada bergosip dengan mereka..." ajak Hendri menggenggam tangan mungil Ar.
***
" Kita ke salon ya, warnain rambut kamu, papi gak suka kamu fake gini, papi mau kamu apa adanya, kalau keluarga kamu gak nerima kamu papi akan ada selalu buat kamu..." kata Hendri. Mereka masih berada di parkiran mall.
" Gak apa-apa kan pa?" tanya Ar takut.
" Kalau ada yang marahin atau buat kamu sakit papi akan balas mereka, enak aja anak papi digituin..." kata Hendri lagi.
Mereka kemudian turun dari mobil memasuki mall tersebut.
Pertama adalah mereka pergi ke lantai 3 dimana banyak salon salon kecantikan disana.
" Mau buat seperti apa dek..." tanya ramah pekerja salon tersebut. Ar tengah duduk di salah satu kursi didepan cermin besar.
" Ar mau ngembaliin warna rambut coklat tua, tapi yang natural, kakak punya browsur warnanya?" tanya Ar.
" Sebentar ya dek..." si kakak tadi bergi kemudian kembali dengan sebuah buku berisi warna rambut.
" Yang ini aja kak Dark brown..." jawab Ar.
" Ok, ditunggu ya dek, kakak ambil bahan-bahannya dulu..." kemudian kakak itu pergi.
" Sayang, kenapa gak langsung aja, rambut kamu kan warnanya pirang, blonde kan bukan brown?" tanya Hendri.
" Biar bertahap pi, kalau perubahannya langsung ******* plot twins-nya gak ada gitu loh..." kata Ar.
Hendri tak mengerti dengan pikiran gadis didepannya ini. " Papi nurut aja dek..."
Hendri kemudian duduk disamping Ar. " Buat warna rambut saya sama dengannya..." kata Hendri.
Dan terjadilah perubahan warna rambut Hendri dan Ar. Setelah Ar dan Hendri masuk tak ada lagi pelanggan yang masuk karena Hendri memesan salon ini sampai keduanya selesai. Selesai warna mewarnai rambut, Hendri meminta Bruno mengantar makanan jadinya Hendri dan Ar makan malam bersama para pekerja salon ini.
Pukul setengah 8 malam barulah mereka pulang setelah makan malam bersama tadi. Eits tak langsung pulang karena Hendri menuntun Ar untuk singgah di tempat spa.
Sepertinya jalan-jalan ini telah dipersiapkan Hendri dari Ar pergi menginap di rumah Rian.
Tempat spa tersebut kosong tak ada pengunjung, Hendri menunggu dilobby sedangkan Ar masuk kedalam bersama pekerja disana.
Hingga pukul 10 malam barulah mereka pulang. Ya meski agak sedikit kesal karena tak terlalu suka berada diluar rumah terlalu lama, Ar tidak bisa mengomeli Hendri karena hari ini, Hendri memanjakan dirinya, mulai dari jalan-jalan, membeli pakaian, dan lain lagi.
" Makasih untuk hari ini pi..." kata Ar. Ia mencium pipi Hendri sebagai ucapan terima kasih kemudiam berlari masuk kedalam rumah tanpa menunggu Hendri.
__ADS_1
" Menggemaskan sekali, papi harap kamu bahagia sayang..." gumam Hendri sambil tersenyum.
Ah Hendri sangat tau bagaimana keadaan Ar, Ar lahir bukan dari keinginan keluarga, Ar adalah anak yang tak diinginkan. Ia juga pernah merasakannya, ia juga pernah berada diposisi Ar, namun tak berlangsung lama karena semasa SMA, ia langsung menerima beasiswa penuh diluar negri membuatnya sedikit bernafas lega saat ditekan dan diabaikan keluarga.