
Sudah 3 pagi 2 malam Ar lewatkan dirumah Rian, dan selama keberadaannya Rian kembali sehat dan tak muntah setiap pagi, tidak ngeyel saat makan dan kembali terbiasa dengan aroma-aroma yang beberapa hari lalu membuatnya mual.
Fitripun sama, tidak menuntut ingin makan sesuatu atau apapun. Kata mbak Bunga, dedeknya suka sama Ar makanya saat Ar ada dia tak merepotkan bibi mungilnya itu.
Memang itu terjadi. Meski jika bukan Ar yang memasak berarti mereka berdua tak makan, jadinya selama tinggal di rumah Rian, Ar menjadi juru masak sementara. Awalnya Ar menolak karena malas, namun saat diberi uang, ia langsung mengiakan tanpa bernegosiasi lagi. Ia tau nanti uang yang diberikan Rian tak sedikit, dan pasti Fitri juga akan memberikannya.
Pagi ini katanya Harna sekeluarga akan pulang untuk tahun baru bersama keluarga Herman seperti yang direncanakan. Ar pun turut ikut bersama mereka, membuat Rian kesal saja, kalau bukan karena keluarga istri atau Ayah dari Fitri datang, dia akan ikut bersama Ar.
Tentu kedua suami istri ini tak mau melepaakan Ar, setidaknya dengan adanya Ar disini, mereka bisa menjalani aktifitas normal seperti Rian yang tak harus terbaring dikamar terus atau Fitri yang terus mengemil cemilan tanpa adanya nasi masuk keperutnya.
Katanya merwka akan sampai jam makan siang nanti jadinya sekarang Ar sedang memasak untuk mereka. Bunga hanya duduk saja, ia sedikit tau tentang saudara majikannya ini bahwa saat ia berada didapur untuk memasak, jangan ada yang datang untuk sekedar membantu tetapi nyatanya mengganggu. Akhirnya hanya Bunga sendiri yang diijinkan Ar menemaninya didapur tanpa bantuan dari pelayan didapur atau koki rumah ini.
Tugas Bunga juga hanya menonton Ar memasak saja, ia hanya diminta Ar untuk duduk saja dan akan dipanggil waktu dibutuhkan.
" Bibi..." suara anak-anak yang lebih dari satu memanggil dari ambang pintu dapur.
" Kenapa sayang, sebentar ya bibi lagi buatin kalian makanan siang, main dulu ya..." kata Ar menoleh sekilas terdapat 8 bocil dengan 3 orang pemuda berdiri menatapnya.
" Lagi masak?" tanya yang paling tertua diantara rombongan mereka yaitu Ronald.
" Iya buat makan siang, selesai makan siang baru kita pulang..." jelas Ar.
" Kok masih pakai bangku berdirinya?" tanya Andi dengan nada mengejek.
" Dua minggu lebih tak akan membuatku bertambah sejengak tingginya..." jawab Ar kesal.
" Gitu ya..." jawab Andi tak meyakinkan.
" Udah kalian sanah nanti gak aku kasih makan..." usir Ar.
__ADS_1
Mereka pergi dengan lesu, inginnya melepas rindu malah di usir karna mengganggu.
" Mbak, coba icip ini, kurang apa?" pangil Ar pada Bunga, ia memasak lumayan banyak menu, mulai dari seafood, ayam kecap, ayam panggang bumbu balado, kangkung tumis, daun singkong campur bunga pepaya dan beraneka makanan lainnya.
" Udah pas rasanya non..." jawab Bunga sopan. Nona kecil didepannya ini sangat pintar memasak pikirnya. Mamang setiap kali Ar datang, Ar biasanya memasak sendiri jadi kurang lebih ia bisa tau seperti apa kehwbatan nona muda adik majikannya itu.
" Kalau gitu mbak Bunga sama kakak pelayan yang lain tolong sajikan ya, Ar mau mandi dulu, siap-siap mau pulang..." jelas Ar.
Bunga mengangguk patuh kemudian Ar pergi bersamaan dengan pelayan lain datang
***
" Selamat Siang semua..." sapa Ar memasuki ruangan makan, disana ada Max, Nathan, Orlan yaitu anak dari kakak kedua Ar, Tristan dan Cristian anak dari kakak pertama, Harun, Harvin, Hervian, dan Herwin anak dari Harna kakak ketiga Ar, Andi, Ronald, Harna, Herman, Rian, dan Fitri menunggu.
Siang juga dek/Ar/bi..." jawab mereka serempak.
Mereka makan dalam diam, sudah kebiasaan jika dimeja makan Rian tak ada suara lain selain piring dan sendok, garpu atau alat pemotong yang berbunyi. Kata Rian, bercerita sambil makan itu tak sopan dan tak menghargai makanan. Beda halnya dengan acara makan dirumah Harna, pasti dipenuhi dengan cerita keempat anaknya atau perebutan lauk antara Andi dengan anak-anaknya.
Selesai makan, mereka beristirahat selama sejam dulu kemudian barulah melanjutkan perjalanan kembali karena sisa ¼ perjalanan yang harus ditempuh, tak selama dari rumah di desa ke rumah Rian yang memakan waktu berjam-jam, dari rumah Rian ke rumah mereka hanya membutuhkan waktu 2 jam lebih sedikit.
Mereka pindah ke ruang keluarga yang merupakan ruang terbesar dirumah ini, disana mereka berbagi kelompok untuk bercerita, sedangkan Ar terpisah sendiri dengan laptopnya.
" Lagi buat apa dek, serius amat?" tanya Herman mendekati Ar.
Dengan cepat Ar menutup laptopnya, tak mungkin ia memperlihatkan pada Herman bahwa ia sedang menelusuri data-data rahasia perusahaan Herman, sama saja ia menyerahkan diri sendiri.
" Eh ini.. itu.. ini.. Ar lagi belajar..." kata Ar gugup. Seisi ruangan mengalihkan pandangan ke dirinya.
" Bibi gugup, gak pacaran kan?" tanya Tristan.
__ADS_1
" Apaan..." Sewot Ar.
" Ya mungkin aja, dua minggu disana nyangkut ama mata biru..." kata Tristan lagi. Andi, Ronald dan Rian memicingkan mata menyelidiki Ar.
" Nyangkut apa maksudnya?" tanya Ar.
" Maksudnya kamu ada kenalan atau dekat sama cowo disana..." jelas Ronald dengan sabar. Ia tau adik perempuannya itu masih terlalu suci untuk dunia percintaan.
" Gak tuh, Ar hanya ketemu sama temen papi aja, trus jalan-jalan aja gak ada lebih dari itu, ketemu sama cowo ada sih tapi cuma liat dari jauh soalnya aku duduk sama papi sama om Nicolas di atas panggung, mereka duduk dibawa..." jelas Ar pada kakak-kakaknya.
" Buat apa duduk di panggung?" tanya Rian.
" Oh itu, ya papi kasih pidato singkat ke pelajar juga mahasiswa yang ada disana, mereka dapat beasiswa untuk sekolah dan kuliah disana, kata papi, kesana sebenarnya hanya mau liat perusahaan tapi sekalian aja supaya gak doble capenya, jauh lagi..." terang Ar lagi.
" Oh..." mereka hanya ber oh saja kemudian kembali dengan kegiata sebelumnya.
***
Mereka pulang dengan 3 mobil. Mobil pertama adalah mobil Herman berisi mereka sekeluarga, mobil kedua yaitu mobil Andi yang berisi ia, Ronald, Tristan, Cristian, Max, Nathan, dan Orlan. Sedangkan di mobil Ar berisi dirinya Jacob, dan Gabby.
Yap, awalnya mereka hanya 2 mobil dari rumah di desa hingga singgah dirumah Rian dan sekalian menjemput Ar. Saat berpamitan, sempat ada perdebatan karena kedelapan bocil + Tristan yang berstatus keponakan Ar sangat gencar ingin semobil dengan Ar. Ya, mereka akan betah jika bersama Ar daripada orang tua atau om mereka.
Mungkin karna setiap kali liburan sebelumnya mereka menghabiskan waktu seru bermain bersama bibi mereka sedangkan orang tua mereka hanya menitipkan mereka untuk libur ke desa dan kembali pulang untuk bekerja.
Ar memang menjadi sosok yang dicintai oleh kesembilan keponakannya itu, setiap liburan, otang tua mereka yang sibuk diganti oleh sosok Ar yang menjadi bibi penyayang untuk mereka, Ar pun tak menolak, karna ia juga merasakan hal yang sama yaitu tak diperhatikan.
Ar hanya tak mau kalau para keponakannya itu bernasib serupa dengannya. Ia berpikir bahwa cukup dirinya saja yang mengalaminya.
Dan akhirnya Ar hanya meminta Harun bersama mereka, selebihnya tetap pada mobil masing-masing.
__ADS_1