
Mereka pulang dalam keheningan. Setelah kepergian Satrio, mereka semua pulang dengan kecanggungan dan kini di dalam mobil milik Reno, kelimanya diam seribu bahasa.
Reno memasuki pekarangan rumah Ar, berpapasan dengan Harna yang juga pulang dari kantor.
" Mampir dulu, kakak lagi beli jajanan nih..." kata Harna sambil menunjukan isi mobilnya.
" Tapi kak..."
" Ayolah, kalian gak berpikirkan kalau Ar maksud kakak Ian menghabiskan ini semua..." kata Harna, ia tau bahwa mereka baru pulang karena masih bebersih ruangan kelas yang akan mereka gunakan untuk kelompok belajar mereka.
Ar masuk terlebih dahulu, tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada Reno karena telah mengantarnya pulang dan meminta maaf kepada mereka tentang keributan saat sebelum turun dari mobil.
***
" Kenapa kalian berempat diam saja, Capek ya?" tanya Harna karena ia telah menyiapkan jus jeruk dan menyajikan pizza kepada mereka tapi mereka hanya diam saja.
" Kak, sebenarnya ini tentang Ian..." kata Betty.
" Ar kenapa?" tanya Harna penasaran.
" Tadi asma Ian kambuh kak?" kata Benny.
" Asma? Bentar ya..." kata Harna. Ia menelpon seseorang yang adalah mamanya tapi tak diangkat. Jadi dia duduk kembali. " trus bagaimana, kenapa gak dibawa kerumah sakit, dia baik-baik saja kan?"
" Kak, tenang dulu, tadi aku telpon seorang kakak dia tapi sebelum ia datang Bian, teman kami udak beri pertolongan pertama..." jelas Betty.
" Ronald?"
" Bukan kak, kalau kak Ronald kami kenal tapi yang tadi datang bukan kak Ronald, dia juga mengenakan jas dokter sih, aku pernah liatin kakak itu jemput Ian..." kata Reno.
" Siapa ya?" tanya Harna. Sebenarnya siapa yang menolong adik perempuannya itu. Kemudian pikirannya berlarian ke beberapa minggu lalu saat Ronald, Andi dan keempat anaknya mengikuti Ar saat Ar bilang sedang berkencan.
" Bukankah tak baik jika kalian berbicara dibelakangku..." Kata Ar yang turun dari tangga.
" Dek, kamu gak apa-apa? masih ada yang sakit? kita kerumah sakit ya?" Desak Harna yang menghampirinya.
__ADS_1
" Kak ih, malu sama teman-teman..." kata Ar yang kemudian pergi meninggalkan mereka dengan warna rona pipi yang berubah. Ar kadang malu dengan hal-hal sederhana. Ia berjalan ke dapur, berniat makan, ia melewati ruang tengah menuju dapur. Melihat isi meja membuatnya enggan untuk makan sendiri. Ia kembali ke ruang tengah untuk makan jajanan yang dibawa sang kakak.
" Dek, kamu bener baik-baik saja kan?" tanya Harna lagi saat Ar bergabung dengan mereka.
"..." Ar diam.
" Dek, siapa cow..."
" Kak, kakak gak makan..." kata ar dengan penuh penekanan sambil tersenyum manis. Sampai sini Harna tau bahwa ia tak ingin mendengar lanjutan pertanyaan sang kakak. " Dan kalian..." Ar menghadap ke mereka. Keempatnya terkesiap.
" Kenapa mulut kalian gak bisa direm..." Sarkasme Ar mulai terdengar lagi.
Selanjutnya mereka makan dalam diam, oho tentu saja kehadiran Ar cukup untuk memberikan mereka tekanan batin sehingga mereka tak berbicara.
Harun dan yang lain yang baru pulang dari lapangan pun ikut bergabung dengan mereka.
***
"Dek, kamu bener udah baik-baik aja?" tanya Harna ke Ar lagi, sekarang ini mereka sedang makan malam. Harna sengaja bertanya sekarang karena kebetulan ada Herman, Harna tau bahwa Ar sangat sanjung pada Herman sehingga Ar tak akan mungkin diam saja.
" Gak apa-apa kak..." jawab Ar. Ia memelototi kakak perempuannya itu.
" Kalau kamu ada apa-apa atau ada masalah bilang aja ya jangan dipendam sendiri kamu bisa minta bantuan kakak-kakak kamu..." nasehat Herman.
" Iya kak..."
Selesai makan, seperti biasa mereka ke ruang tengah. Karena Ar yang sebagai bibi yang membantu para keponakannya belajar telah membuat jadwal belajar, setiap selesai makan keempat anak tersebut selalu bertanya apa yang akan mereka lakukan nanti.
Tetapi karena ia berjanji akan meliburkan mereka setelah ujian tengah semester berakhir makan sekarang keempat keponakannya itu sedang berada di depan televisi.
" Dek, kakak tanya lagi kamu masih sakit? atau apa gitu, kasih tau kakak atau kak Herman ya jangan dipendam sendiri ya, kamu itu dititipin mama ke kakak jadi kamu itu udah masuk ke tanggung jawab kakak sama kak Herman..." jelas Harna saat Ar kembali denga i-pad ditangannya.
" Iya kak..." Ar sengaja mengambil tempat duduk yang jauh dari Harna dan Herman yaitu du sudut lain tempat duduk karena keempat keponakannya duduk di tengah ia menjadikan mereka mengapiti antara dirinya dan Harna serta Herman.
Ar mulai fokus dngan i-padnya. Ia baru saja diberitahu Priscilla dan Joana bahwa ada aplikasi untuk membacakomik dan novel secara online, sekarang ini ia sedang mencobanya.
__ADS_1
" Dek, kakak dangar dari Andi kamu lagi tertarik belajar gitar ya?" tanya Herman.
" Iya kak, sebenarnya Ar udah pengen belajar tapi gak punya gitar, kalau keluar biasanya yang dipikir Ar hanya buku..." kata Ar.
" Tertarik gimana maksud kamu?" tanya Herman lagi, Harna hanya mendengarkan saja.
" Saat SMP dulu Ar hanya belajar dasarnya aja, trus Ar kepengen main tapi Ar gak mau nyusahim papa mama hanya karena sekedar penasaran dengan sebuah alat musik." tutur Ar.
" Gini aja, gimana kalau Ar kan udah jadi pengelola ruang kesenian lama, di ruangan itu kedap suara, kakak bisa minta pengurus alat musik untuk membawa gitar ke ruangan itu, nanti kalau kamu udah jago kakak bisa beliin kamu gitar paling bagus..." saran Herman.
" Tapi kak Herman sama kak Harna udah kasih Ar terlalu banyak, Ar jadi gak enak sama Harun sama yang lain, lagi pula Ar masih punya uang jajan, Ar rencananya mau beli pake uang jajan Ar sendiri tapi kelupaan terus..." kata Ar lagi. Semua barang yang ia gunakan kebanyakan memang dibeli oleh Harna dan Herman. Uang jajannya yang tak bisa ia habiskan, juga sejumlah buku yang ia beli adalah hasil pemberian dari mereka. Ar tau bahwa kakaknya itu memang orang kaya dan banyak uang tapi kadang ia juga ajak sungakn pada mereka.
" GAk apa-apa, hitung-hitung hadiah ulang tahun..." kata Herman.
" Papa, Win juga ulang tahunnya udah dekat loh..." singgung Win yang tak sengaja mendengar kata ulang tahun.
'' Kapan ya? papa sama mama lupa, ma kapan sih ulang tahun Win?" tanya Herman pura-pura.
'' Papa boong, Win tau ya kalau papa pura-pura gak tau supaya Win sedih dan mau buat kejutan buat Win..." kata Win yang mulai mendekat dan duduk di pangkuan Herman.
'' Yah, gak seru deh, Win-nya udah tau kalau mau dikasih kejutan..."
'' Gak apa-apa ma, win bisa ko pura-pura gak tau dan terkejut nanti..."
" Emang bisa gitu?" tanya Ar yang juga mendengar sejak tadi.
" Bisa dong, bi Ar gak tau kalau Win ini jago akting..." Win membela diri.
" Ya iya deh..." jawab Ar malas.
" Bi Ar gak tau, gini-gini Win jago akting karna pengen jadi model loh bi, jadi Win harus pintar atur ekspresi wajah..."
" Wih, anak papa punya cita-cita bagis..."
dan percakapan terus berlanjut hingga hampir pukul 10 malam barulah mereka kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1