
Ar menata pakaiannya dibantu dengan Anin, ia membereskan pakaian-pakaian rumahan, dan beberapa pasang pakaian bepergian, ia tau karna pasti ia akan diajak bersama asik dari kakak iparnya yang menjabat menjadi kepala sekolah di tempatnya menimbah ilmu.
Ar tidak membawa novel atau komik, ia hanya membawa beberapa buku pelajaran. Ia beberapa hari lalu dibelikan koper kecil oleh Indah karena rencana liburannya itu. Jadilah koper besar berisi pakaian dan koper kecil berisi buku-buku, ransel berisi dompet, laptop, i-pad, dan handpone, serta notebook yang memang belum pernah ia gunakan. Ia tidak membawa kamera dan membiarkan Tristan menggunakan.
" Dek..." panggil Harna, ia masuk dan duduk di kasur milik Ar sambil melihat Ar mengepak buku yang akan dibawa.
" Iya kak..." jawab Ar tanpa memalingkan wajahnya dari rak buku, ia sedang memilih beberapa buku. Buku-buku dikamar Ar hampir 80% telah dibaca, diantaranya tentang bisnis, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan buku dari berbagai bidang. Ar sangat mudah mengingat dang menghafal isi buku hanya dengan sekali baca.
" Kamu benar-benar ingin libur bersama papa dan Indah? Tak ingin ke desa? Kak Dimas katanya datang loh..." pancing Harna.
" Kalau kakak tidak tau, kak Dimas sering memukulku jika kita bertemu..." info Ar.
" Maaf, kakak gak maksud gitu, kakak hanya berpikir mungkin kamu rindu padanya..." kata Harna lirih.
" Rindu dianiaya?" tanya Ar.
" Dek..." panggil Harna sedikit membentak.
" Apa lagi kak, kalau kakak memang ingin aku disiksa secara mental dan fisik ya kakak bilang agar aku batalkan liburan bersama papi dan kak Indah..." kata Ar juga dengan suara tinggi. Ah peningnya datang lagi.
" Kakak gak maksud gitu sama kamu..."
" Tapi aku mengartikan maksud kakak seperti itu, aku tau kakak memang mencoba mendekatkan kembali aku dengan keluarga kita yang sekarang merenggang tapi dengan sikap kakak seperti ini dan keadaan keluarga kita, ini hanya akan membuat kalian semakin membenciku dan aku yang semakin menjauh..." terang Ar.
" Aku ingin mengikuti program pertukaran pelajar..."
" Gak, kakak gak mau, kamu itu masih kecil dek, masih belum dewasa, masih harus berada dalam pengawasan orang tua..." bantah Harna pada ide Ar.
" Aku udah dewasa, oku bukan anak kecil seperti yang dipikirkan kalian, aku bahkan tau bahwa orang tuaku tengah berbohong, aku bahkan tau bahwa hubungan Tristan tidak baik dengan Ayahnya, aku bukan anak kecil lagi yang gampang dibohongi, aku bukan anak kecil yang tak bisa mengambil keputusan, dan aku dewasa karena keadaanku memaksakanku seperti ini..." geram Ar pada kakaknya.
" Kakak gak akan setuju jika kamu pergi..." putus Harna kemudian pergi.
__ADS_1
" Aku tak mau lagi diam..." kata Ar kepada kakaknya. Ia tau bahwa Harna masih berdiri disebelah pintu yang dibiarkan terbuka.
***
Gabby dan Jacob membawa masing-masing koper milik Ar. Ar sendiri telah pergi terlebih dahulu bersama papa Hendri karena seorang klien dari luar negri akan pulang dan meminta pertemuan mendadak.
Di sebuah kafe duduklah 3 pria dewasa dan seorang anak gadis manis yang menyantap puding coklat.
" Apakah nona kecil ini juga peserta meeting?" tanya si pria bermata biru dengan rambut berwarna hitam ini.
" Disini tempat makan bukan tempat untuk rapat, lagi pula, om tidak cocok memakai rambut palsu berwarna hitam, bukannya rambut asli om lebih cocok dengan warna mata om..." kata Ar tanpa menatap si lawan bicaranya karena ia sibuk memakan puding lembutnya itu.
" Kupikir kamu mewarnai rambutmu?" tanya Hendri pada si tamunya itu.
" Aku tak pernah mau mewarnai rambut indahku ini..." kata si om tadi sambil mengelus rambutnya.
" Tapi om pakai rambut palsu..."
" Papi, om ini terlalu sinis, kalau dia tidak kaya pasti om disebelahnya tak mau bekerja dengannya..." bisik Ar yang sengaja dibesarkan untuk didengarkan oleh kedua orang didepannya.
Si teman om yang duduk disebelah hanya menahan tawa karena bosnya siejek anak kecil.
" Kau ingin dipecat?" tanya si om bos itu pada sekertarisnya.
" Cih ambekan kaca cewe putus cinta..." kata Ar. Papa Hendri tak mampu lagi menahan tawanya, ia tertawa membahana memenuhi VVIP room ini.
" Oh iya om, nama om siapa?" tanya Ar.
" Kalau kamu tak mendengarnya tadi namaku Nicolas, Nicholas Belencia..."
" Apakah papi orang Indo pertama yang bekerja sama dengan anda?" tanya Ar dwngan tampang serius.
__ADS_1
" Iya, sampai saat ini saya hanya datang ke sini untuk bertemu dengan Pak Hendri.
" Bisakah Ar menanam saham untuk pembangunan hotel ala Jepang anda di Lombok?" tanya Ar.
Merwka bertiga sedikit tertegun, mereka tadi tidak membahas tentang pembangunan hotwl tersebut namun bagaimana bocah ini tau. " Me, memangnya kamu tau dari mana tentang saham atau hotel itu?" tanya papi.
" Data perusahaannya tak memiliki keamanan yang cukup bagus, aku melihatnya dari proposal tuan William, ada beberapa hotel tapi sepertinya grafik hotel itu yang paling bagus..." kata Ar sepele.
" Jenius..." gumam sekertaris.
" Berapa persen saham yang kamu inginkan?" tanya Nicolas sedikit menyelidik, ia dwngan cepat ingin mengetahui rencana bocah jenius didepannya ini.
" Ar ingin 40% papi dan om Nic bisa memberikan masing-masing 20% sebagai modal Ar memasuki dunia bisnis..." jawab Ar santai.
Mereka bertiga terbelalak, bagaimana bocah ini tau bahwa sampai sekarang hanya baru Hendri dan Nicolas yang berinvestasi di dalam pembangunan ini.
" Jangan kawatir, Ar membobol keamanan karena memeriksa apakah kalian menipu papi atau tidak, Ar tidak mencuri data-data..." kata Ar lagi.
" Bunny..."
" Papi tenang saja mereka orang baik, kalau mereka penipu Ar bisa mengalihkan pemasukannya langsung ke rekening papi..." santai Ar.
" Wait, bocah kamu menerobos sistemku utuk mencari tau aku penipu atau bukan? Aku dan papimu ini sudah bekerja sama dari kamu belum direncanakan oleh orang tuamu..." geram Nicolas.
" Memangnya berapa lama?"
" 13 tahun..."
" Desember ini Ar 14 tahun ya, Ar udah lahir ih, om pikir Ar umur berapa?" kesal Ar.
" 12..." jawab Nicolas sambil terswnyum melihat tingkah imut bocah ini. Bocah tetaplah bocah biar jenius, pikirnya.
__ADS_1
" Ih, papi ayo pulang, nanti bisa ketemu lagi dia minggu dwpan juga, buat apa lama-lama dengan om menyebalkan ini..." Ar bangun.