
" Biar aku aja kak..." kata Ronald, ia mengambil napan dari Harna dan menuju kamar Ar.
Masuk kekamar itu, ia bingung dengan infus yang menggantung di salah satu sisi tempat tidur Ar.
" Kak Ronald..." suara Ar.
" Iya, kenapa kamu diinfus?" tanya Ronald penuh selidik.
" Tubuh bi Ar itu lemah apalagi bibi jarang minum air, jadi selain demam karna hujan, bibi juga dehidrasi ko, kemari Tan sama papa Herman denger dari dokter pribadi mama Harna, Tan tau tadi Om Ronald nanya mama Harna tapi kemarin mama Harna tak mendengar hasilnya dari dokter jadi tak tau..." jelas Tristan, ia tak berbohong hanya sedikit menutupi saja jadi tak salah kan.
" Tan, kalau muncul bilang-bilang, Om kaget..." Jujur Ronald, ia memang sempat tersentak mendengar suara Tristan dari sisi lain kamar.
" Om hanya fokus pada bibi..." sarkas Tristan. Ia bangun dan mencuci muka dikamar mandi Ar. Keluar dang mengambil napan yang dibawa Ronald.
" Loh kok diambil..." protes Ronald.
" Memang punya aku..."
" Ambil dibawa, Om bawa buat bibi kamu..."
" Om pengen bibi muntah, nasi goreng itu termasuk makanan berat untuk bibi..."
" Kakak keluar aja deh, Ar mau istirahat..." usir Ar.
" Kok kakak diusir?"
" Kepala Ar sakit, kakak mending pergi aja, ribut tau..." Kata Ar. Ronald dengan pasrah menurut, tentu ia tak mau adiknya bertambah sakit karena dirinya membuat keributan didalam kamar.
" Ya udah, kakak ke bawa ya..." ucap Ronald dan pergi.
" Bi, mau makan apa? Tadi Tan tanya ke dokter Emelia, bilangnya bibi boleh makan yang ringan yang gak bikin muntah, jadi bibi pengen makan apa?" tanya Tristan panjang lebar.
" Kentang..."
Tok tok tok
" Bi, kita mau pamit kesekolah..." suara Harun.
" Masuk aja dek, gak dikunci..." balas Tristannsetelah melihat Ar tersenyum.
" Bibi gak apa-apa?"
" Masih ada yang sakit?"
" Bibi jangan buat kami cemas..."
" Cepat sembuh bi..."
" Bibi harus sehat besok, nanti bibi yang dapat kue potongan pertama dari aku..."
Kelimanya tak mau kalah berebutan bertanya sambil berdesakan siapa yang berdiri paling dwkat dengan bibi mereka.
" Bibi gak apa-apa, kalian gak usah cemas sama bibi, bibi sehat kok, bibi besok tetap ikut, masa keponakan bungsu bibi yang paling imut ultah bibi gak ikut, padalah udah siap hadiah lagi..." jawab Ar pada mereka semua.
" Hadiahnya apa bi?" tanya Win dengan mata berbinar.
" Kalau kamu tau gak bakalan jadi kejutan..." sambung Tristan yang sejak tadi hanya mendengar saja.
" Belum berangkat, nanti telat..." Suara Ar lagi.
Mereka bergiliran mengecup pipi Ar, kemudian pamit kesekolah.
***
Siang ini diusikkan dengan suara ribut yang ia kenal.
Eengg, suara Ar yang keluar karena merasa terganggu.
__ADS_1
Seisi kamar membeku, menoleh pada suara tadi, bernafas lega karena si pemilik suara hanya mengeliat saja. Kembali fokus ribut entah apa tanpa menyadari.
" Kak..." Panggil Ar dengan suara serak antara bangun tidur dan flu.
" Dek, udah bangun makan dulu ya, kakak suapi..." Rian berhasil merebut bubur dari tangan Harna.
Ar menggeleng.
" Jangan ngelawan dek, lagi sakit itu harus butuh tenaga ekstra, ayo..." paksa Rian. Rian itu memang keras kepala.
" Ri, kamu apa-apaan itu bukan buat Ar..." protes Harna.
" Ya dibikin buat Ar aja apa susahnya..." Balas Rian.
Saat ini dikamar Ar dipenuhi dengan Harna, Fitri, Rian, dan Tristan yang tadi juga tidur tapi dibangunkan oleh Harna. Tepat, bubur itu milik Tristan, Harna tak mengijinkan Tristan memakan makanan berminyak karena sejak ia membuka matanya, Tristan terus batuk.
" Gak apa-apa kak..." kata Ar.
Harna yang mendengar itu hanya diam dal langsung pergi setelah Ar menerima suapan pertama.
Di suapan kelima Ar sudah menolak. " Dikit lagi dek, belum sampai setengah loh..."
" Udah mas jangan dipaksa..." kata Fitri lembut. Ia dan Tristan sejak tadi hanya mengamati. Harna yang baru masuk dengan napan berisi bubur baru untuk Tristan, semangkung sup kentang dan air hangat untuk keduanya.
" Masih dipaksa?" tanya Harna sambil memberikan bubur pada Tristan.
" Makasih ma, Om Rian masih suapin bibi padahal sudah ditolak..." jawab Tristan, kemudian ia memakan buburnya, ia ingin cepat sembuh dan mengganti menu makanannya yang ada didepannya ini.
Ar merasakan gejolak diperutnya. Alasan ia menolak bubur di suapan kelima tadi karena mual dan Rian yang tak tau apa-apa terus memaksanya makan.
Dicabutnya infus ditangan, dan berlari kekamar mandi, mengabaikan kekawatiran Rian.
Huueekk huueekk uhuk uhuk... Ar memuntahkan bubur yang tadi disuapi Rian di westafel. Tristan memijat pelan tengkuknya.
Ar membersihkan mulutnya dari bekas muntahannya. Ia berdiri dari bungkukannya, sedikit goyah keseimbangannya namun ditahan oleh Tristan.
" Makasih Tan..." kata Ar selesai meneguk air.
Tristan memapah Ar, ia tau bahwa Ar masih lemah dan bisa saja terjatuh.
Keluar dari kamar mandi, Rian memasang wajah kawatir, ia yang paling kawatir dari pada Fitri dan Harna.
" Dek, kakak minta maaf ya, kakak gak tau kalau kamu mual, kakak maksa kamu makan, kakak..."
" Kakak gak salah kok, lain kali tanya dulu ya..." saran Ar. Tristan mendudukannya di kasur, Harna memberikan sup kentang kepadanya, dan Fitri datang dengan Ronald.
Harna meminta tolong Fitri memanggil Ronald untuk kembali memasang infus. Ronald memasa infus dalam diam, ia masih kesal karena Ar membiarkan Rian masuk sedangkan tadi pagi dia diusir dari kamar tersebut.
" Kenyang Tan..." kata Ar. Ar meminta Tristan yang menyuapinya, hanya dengan Tristan ia tak merasa mual. Berbeda dengan yang lain, Tristan menghaluskan kentang yang ada dalam sup tersebut dengan sendok seperti diulek.
Ia tau bibi tercintanya tak menyukai wortel, sehingga ia memisahkan wortel. Sesuap bubur kentang dibarengi dengan 2 suapan kuah sup. Ar memakannya hingga hampir habis.
" Bibi mual?" tanya Tristan, dijawab Ar dengan. "... Minum obatnya sekarang atau?"
" Sekarang aja, biar sekalian istirahat supaya bisa ada tenaga untuk besok..." kata Ar bersemangat.
Mereka tersenyum antara lucu dengan keimutan Ar dan terharu dengan niatan Ar untuk tak mumbuat yang lainnya kawatir.
Tristan menurut, diambilnya 3 pil dengan warna dan ukuran yang berbeda. Diberikannya pada Ar. Ar meneguknya.
" Bentar lagi baru tidur ya, bibi jangan langsung berbaring..." kata Tristan sambil mengambil gelas air dari Ar.
Keempat orang dewasa yang melihat interaksi kedua bocah besar didepan mereka memiliki perasaan campur aduk. Antara mengagumi Tristan yang sangat telaten merawat Ar, dan Ar yang mau menerima bujukan Tristan, hanya Tristan. Ar memang hanya mau dirawat Tristan dan Tristan tak bisa menolak.
***
Dokter Emelia memeriksa kondisi Ar meski ia masih telelap, memeriksa denyut nadinya, suhu tubuhnya dan beberapa lainnya.
__ADS_1
Ar terengah dalam tidurnya, ia merasa sedikit sesak saat bernafas. Mengerjap mata menyesuaikan cahaya.
" Nona, bagaimana perasaan anda?" tanya Dokter Emelia pada Ar yang sedang mengumpulkan kesadarannya saat bangun tidur.
" Sesak..." jawab Ar dengan suara serak.
" Pak, tolong beberapa orang saja yang ada didalam ya..." kata Dokter Emelia.
Tentu saja Ar merasa sesak, kelima bocil ini sedang duduk di sisi kasur sebelah Ar tidur, ada juga Andi, Ronald, Rian, Fitri, Harna dan Herman.
Mereka semua berniat keluar dan menyisakan Harna dan Rian saja namun.
" Kak Herman sama Itan mau kemana?" tanya Ar, ia memandangi mereka yang berniat keluar, sementara Dokter Emelia masih sibuk memeriksanya.
" Keluar bentar dek, kamu sesak nanti kalau banyak orang disini..." kata Rian memberi pengertian.
" Kakak aja yang keluar, biar kak Herman sama Itan sama kak Harna yang tinggal..." pinta Ar pada Rian.
" Kakak mau tau kondisi kamu, kakak kawatir sama kamu..." kata Rian.
" Gak, kakak keluar aja..." pinta Ar lagi.
" Kakak tetap disini..."
" Maaf pak, sebaiknya bapak menuruti permintaan nona, mungkin nona sedikit tak nyaman..." Kata dokter Emelia.
" Tak nyaman gimana, orang aku kakaknya..." bantah Rian. Keras kepala orang yang satu ini memang bikin orang harus sabar menghadapinya.
" Bi, minum dulu, serak suaranya..." kata Tristan perhatian, ia sudah duduk di tempat kelima bocil tadi duduk.
" Makasih Tan..." Ar menurut, ia meminum air yang diberikan Tristan.
" Tristan aja boleh disini, kenapa aku enggak..." bela Rian pada dirinya sendiri.
" Gak boleh, pokoknya gak boleh..." Ar juga sama keras kepala seperti Rian.
" Ri, masa kamu gak mau ngalah sama adek kamu..." suara Harna akhirnya menengahi.
" Tau nih kak, udah tua juga gak mau ngalah sama yang masih muda..." tambah Ar.
" Ar gak boleh ngmong gitu sama kakak kamu..." nasihat Herman pada ipar bungsunya.
" Habis, kak Rian keras kepala..." Ar membela diri.
" Biar Tan aja yang keluar ya..." Tristan mengalah, ia berniat turun dari kasur namun tangannya ditahan oleh Ar.
" Gak, Itan gak boleh pergi, Ar gak makan..." ucap Ar.
" Mas, udah ayo, ngalah sama Ar, dia itu lagi sakit, lagi butuh ketenangan bukan temen ribut..." Fitri membuka suara. Hanya ia yang masih tinggal disini, sedangkan kelima bocil, Ronald dan Andi sudah duluan.
Akhirnya Rian mengalah dan pergi bersama istrinya.
Selepas Rian pergi, dokter Emelia memeriksa lidah dan bagian dalam mulutnya.
" Kondisi nona sudah mengalami perubahan, tentu perubahan yang lebih baik lagi, disarankan untuk nona banyak minum ya, juga makan ya, jangan meminum obatnya tanpa makan sama sekali..."
" Infusnya kapan dilepas?" tanya Ar.
" Setelah nona tak mual dan memuntahkan makanan nona..."
" Ar bisa ikut pesta besok tidak?" tanya Ar lagi. Harna, Herman, dan Tristan hanya mendengarnya saja.
" Sepertinya akan sulit..." jawab dokter Emelia membuat Ar sedikit kecewa. "...jika nona tak mual dan muntah makan malam nanti dan esok pagi dan siang mungkin nona bisa mengikuti pestanya..." tamba Emelia.
"Yes..." senang sekali Ar mendengarkan hal itu.
" Tapi nona tak boleh kelelahan... Sebelum pestanya dimulai, saya akan memeriksa lagi kondisi nona..."
__ADS_1
" Baik..." Jawab Ar patuh.