
Ar dibuat kesal oleh sang papi, sore menjelang malam papinya datang membuat teman-temannya membeku. Tentu, mereka tau hanya dengan melihat wajah tegas pria paruh bayah yang sangat disegani seluruh siswa maupun orang tia mereka.
" Papi ngapain? Kan Ar bilang nanti Ar kesana kalau udah selesai ujian..." kata Ar karena sejak tadi papa Herman itu duduk di ruang tamu bersama teman kelompok belajarnya membuat mereka tegang dan tak fokus.
" Bunny jangan marah dong, papi mau ijin sama kakak kamu kita keliling eropa sehabis ujian..." bisik si papi. Ia terswnyum saat melihat respon yang sangat ia harapkan muncul di wajah gadis mungil nan imut, adik dari mantunya yang ia panggil Bunny.
" Papi ke dalam dulu... Kalian, kalau gak bayarin jasa anak saya buat ngajar kalian gak usah ngerepotin, ia udah cape jasi guru privat keenam cucu saya, kamu juga Itan, bukannya ngelarang bibi imut kamu biar gak kelelahan malah bikin dia repot, kalau kamu bukan ponakan Harna dan pelindung Bunny dalam sekolah, saya sudah menendang bokong ayah kamu itu..." omel Papi dengan suara tegas.
" Papi ih, udah sana, nanti Ar marah loh..." negosiasi Ar berhasil, si papi meninggalkan ruang tamu setelah dikecup kedua pipinya oleh Ar. Entah sejak kapan Ar menyadari kelemahan papi itu adalah wajah imutnya, ia mengenakan cara cerdik alis cerdas dan licik untuk membujuk orang tua satu ini.
" Njir gue gak bisa napas..." Cris.
" Sesek gue, auranya itu loh..." Betty.
" Hot dady..." pekik Priscilla, Joana, dan Angel, tak lama diikuti dengan bunyi tamparan di lengan juga jitakan di kening yang dihadiahkan oleh mereka yang dekat dengan ketiga cewe tersebut yang telah menjadi 3 serangkai atau dipanggil Cris 3 batu di tungku api.
" Jangan ya, papi gak suka sama kalian, kalian bertiga terlalu berisik, yang ada papi bakal ngusir kalian kalau bertamu..." kata Ar polos, ia kembali pada buku paket dan buku catatannya. Earpone menggantung ditelingannya, ya, biasanya dirumah memang tidak berisik karena bangunan ini memiliki dinding tebal hingga membuat penghuninya tak akan tau jika ada yang tauran atau bahkan membakar mereka dari luar.
Tapi diruang tamu rumah kakaknya, sedang berisik dengan teman belajar kelompoknya yang membuat kepalanya berdenyut mengharuakan ia memasang kabel pengantar musik yang menyalurlan lagu ke kepalanya.
Mereka kembali belajar hingga jam makan malam telah tiba, tak ingin merepotkan, dan hampir semua yang tinggal bersama orang tua sudah menelpon sejak tadi mengharuskan mereka berpamitan sebelum kakak dari Ar memesan makan malam untuk mereka.
***
__ADS_1
Dari ruang makan yang sunyi karena kehadiran seseorang, mereka berpindah ke ruangan tengah.
Biasanya ribut dengan suara perdebatan kelima bocil atau suara perdebatan para om kini hening. Hendri muncul di rumah anaknya dengan tekanan besar.
" Papa ingin minta ijin pada Harna untuk mengajak Bunny natal di Eropa..." ucap Hendri to tht point, membuka pembicaraan.
Ar dan kelima bocil serta Tristan sedang fokus membaca buku menoleh. Herman dan Harna terkejut dengan penuturan orang tua didepannya ini. " Kita rencananya mau natalan di desa pa, nanti tahun baru gantian di papa..." jelas Harna.
" Bunny juga ikut?" tanya papa pada Ar.
" Gak papi, Ar rencananya mau tinggal disini aja tapi kak Indah bilang natalan bareng aja..." kata Ar.
" Loh dek, kok gak ke rumah liburnya? biasakan gitu?" tanya Harna.
" Dek..."
" Tan, bawa adik-adik kamu ke atas ya, di kamar belajar sebelah kamar kamu..." minta Herman. Tristan memang berniat begitu tapi ia bingung mau ijin pada siapa.
" Iya pa, eh bocil ayo..." ajaknya, ia membantu membereskan barang-barang mereka kemudian naik keatas.
" Ar libur bareng papi aja, Ar udah rencanain kok hanya belum beritau kakak..."
" Dek..." panggil Harna, dia bingung dengan adiknya ini.
__ADS_1
" Kenapa kak, emangnya salah dengan rencana Ar, Ar gak akan muncul dihadapan ayah sama kak Ardan lagi, itu kan yang mereka mau. Sebenarnya Ar mau natalan bareng kak Rian tapi mereka ke kampung halamannya kak Fitri jadi Ar biar sama papi aja. Setidaknya papi mau menampung anak pembawa sial ini..." kata Ar getir.
" Dek kamu apa-apaan sih, mereka orang tua sama kakak kamu, gak boleh ngmong kayak gitu..." nasehat Harna.
" Kalau mereka keluarga ya mereka naungi Ar dong, bukan nuduh Ar pembawa sial, jadi selama ini mereka besari Ar buat apa, buat Ar jadi pencetak uang buat mereka, ya gak apa-apa Ar udah punya kerja jadi tahun depan mereka gak perlu lagi ngalirin dana dengan alasan sekolahan untuk Ar..."
" Dek..." lirih suara Harna.
" Apa lagi kak, kakak juga mau benci Ar lagi kaya dulu, Ar gak apa-apa kok, Ar udah biasa dibenci, kalau bukan kematian Susan, atau kematian Melan kalian gak mungkin baik sama Ar yang stres ini, yang hampir gila ini, anak yang tak diinginkan ini, tapi kak papi nerima aku jadi anaknya, libur nanti pas ada kakak-kakak yang lain kakak kasih tau ke mereka, kalau Ar udah dapat keluarga baru, keluarga yang menerima Ar apa adanya dan mau membantu Ar mencari ayah kandung Ar..." kata Ar, ia pergi.
" Mas, Ar..." Harna sudah menangis dalam pelukan Herman.
" Papa apa-apaan lagi buat rencana adopsi Ar segala..." marah Herman.
" Loh gak kok, papa hanya nanya dia mau jadi anak papa tidak, ya dia anggukin aja, itu setelah dia cerita ke Indah sama papa kalau ia mau kabur dari rumah. Kalian mau dia kabur dari rumah atau diadosi papa?" tanya papa.
" Jangan dua-duanya pa, Harna belom jadi kakak yang baik sama Ar..."
" Kalian kapan ke desa?" tanya papa.
" sabtu depan pa, setelah anak-anak pulang sekolah..." jawab Herman.
" Papa mau bawa Ar malam ini, papa mau beritau kalian, Ar udah setuju kok..."
__ADS_1
" Kalau Ar mau ya diikutin aja pa..."