Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Mengusik Tidur


__ADS_3

Makan malam mereka terlihat biasa saja. Beda dengan struktur kedudukan, Ar menempati kursi paling ujung dan Nicolas dengan Merry sang istri duduk disebelah kanan Ar serta Hendri duduk disebelah kiri Ar.


Makan dalam diam, hanya terdengar suara dentingan garpu dan pisau pemotong steak.


Alasan Ar menempati kursi yang berkedudukan itu karena saat ini ialah yang memiliki hak penuh didalam mansion ini.


Diruang kerja tadi, atas kesepakatan kedua pria dewasa itu, Ar mendapatkan 50% saham hotel di Lombok, dan sebagai hadiah yang sebenarnya samaran dari bocornya data perusahaan milik Nicolas, ia memberikan mansion ini agar Ar tidak mencuri data-data penting serta memanipulasi rahasia perusahaan.


" Om Nicolas apakah om kenal dengan perusahaan keluarga Darwin, pengusaha asal Italia itu sepertinya memiliki perusahaan yang cukup bagus..." kata Ar sambil mengelap mulutnya dengan tisu tanda telah selesai makan.


" Ma, mau apa kamu menanyakan perusahaan Darwin?" tanya Nicolas gugup, Keluarga Darwin adalah kerabat dari ibunya, meski masih keluarga jauh, mereka masih termasuk mitra bisnis.


" Tidak, Ar hanya tanya saja, sepertinya mereka cukup terkenal di dunia bisnis..."


" Bunny..." panggil Hendri.


" Aku tidak melakukan apa-apa kok, saham mereka memang murah dipasaran tapi Ar gak acak-acak datanya kok, orang-orang sana yang korupsi ya..." kata Ar keceplosan.


" Berarti kamu udah bobol keamanan perusahaan dong?" tanya Nicolas memancing kepolosan Ar.


" Ar hanya coba aja ngetes masuk, eh keterusan..." kata Ar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Jadi?" tanya Marry yang juga ikut nimbun dalam percakapan ini. Mereka telah berpindah keruang santai.


" Ya kan Ar baru belajar Teknologi Informatika, sebagai bahan uji coba Ar berhasil dapat 50% saham hotel di Lombok..." jawab Ar santai.


" HAH..." melongo ketiganya tak percaya. Jadi memporak porandakan data perusahaan Nicolas hanya sebagai bahan uji coba belajar otodidak versi Ar.


" Ar sedang mencari pekerjaan jadi belajar beberapa ilmu yang nanti Ar perlukan, salah satunya TI, kalau ilmu bisnis Ar sudah lama belajar, Ar kan baru dapat laptop sama komputer baru-baru ini jadi Ar baru belajar sekarang..." jelas Ar.


Ketiganya hanya bisa terdiam menyimak perkataan dari gadis jenius didepan mereka ini.


" Ar, kamu bisa bekerja menjadi kariyawanku kalau kamu mau..." usul Nicolas. Ia tak mau melepaskan Ar begitu saja.

__ADS_1


" Tidak, Ar gak suka diperintah, Ar lebih suka memerintah..." jawab Ar santai.


Ia kemudian pamit ke kamarnya. Ia ingi tidur, lelah tubuhnya yang tadi menguap saat mandi kini datang lagi, tentu saja ia harus mengistirahatkan tubuhnya yang dibawa bepergian selama 16 jam didalam pesawat.


***


Bunyi deringan telepon membangunkan Ar yang masih sangat mengantuk. Ar meraba-raba kasur tempat ia meletakan handpone, ipad, dan laptop.


Menekan asal agar menghentikan deringan telepon yang mengganggu tidurnya itu.


" Hallo, who am I speaking to?" tanya Ar. (dengan siapa saya berbicara?).


" Elah bibi akhirnya tersambung juga, kata mama lama kalau ke inggris jarus hitung sehari full tapi kita udah kangen sama bibi..." Suara Harun.


" Hwaa bibi, Win pengen ikut, gak ada yang nilai Win jujur pas main piano, mereka hanya bilang bagus tanpa memberitahu mana bagian yang salah..."


" Anak-anak, sarapan dulu, trus kita berangkat ke desa ya..." Suara Harna.


" Mama kita lagi telpon bibi ni, mama ribut amat..." protes Vian.


" *Ya ampun, maafin kakak ya, anak-anak sekarang bibi lagi tidur, jangan diganggu ya, ini belum sehari full loh dari yang mama bilang..."


" Tapi kami kangen sama bibi..."


" Jangan ganggu bibi tidur ya, pasti bibi kalian capek, dan disana masih malam..."


" Kok bisa ma..."


" Iya sayang, nanti kalian belajar di sekolah tentang perbedaan waktu, yang pasti bibi disana malam kita disini pagi, nanti bibi disana pagi kita disini malam, jadi sebentar saja ya baru telpon bibinya, kasihan tuh kalau kalian ganggu tidurnya*..." jelas Harna memberi pengertian.


Ar sendiri sudah kembali tertidur meski masih tetap mendengar suara dari seberang sana.


***

__ADS_1


Deringan telepon kembali mengganggu tidur Ar. Awalnya ia mengabaikan namun karena suaranya terus terdengar membuat Ar menerima panggilan tersebut.


" Ha..."


" Jika kalian tak punya kerjaan kalian bisa evaluasi mengenai ujian beberapa waktu lalu, jika kalian terlalu bodoh akan kuberitau bahwa disini masih tengah malam untuk kalian menelpon seseorang dari belahan bumi lain hanya untuk mengucapkan kata kangen..." sarkas Ar menerima panggilan.


Ia tak menyadari bahwa ia menerima panggilan video dari mereka.


" Kamu tidak kangen pada kami?" tanya Cris. Tentu Crislah yang mengusik tidurnya itu.


" Kita belum seharian penuh berpisah, lagipula merindukanmu sama saja aku merindukan perang urat bersamamu..."


" Hei aku beneran kang..."


Tut tut tut.


Ar memutuskan panggilan secara sepihak. 2 kali tidurnya terusik padahal ia sangat ingin tidur nyaman dibalik selimut tebal dimusim dingin ini.


Diseberang sana Cris ditertawakan karena diomeli oleh Ar.


***


Pagi-pagi sekali Ar telah bangun. Tentu, ia seperti memiliki alarm otomatis dimana ia akan bangun tepat pukul 5 pagi.


Senam pagi yang tak bisa dibilang senam juga melainkan perenggangan otot yang kaku sehabis mengistirahatkan tubuh.


Tak lama 3 maid yang melayani dirinya yang ia ingat nama adalah Ellie, Ana dan Lise. Ellie mengurus airnya untuk mandi, Ana mengatur pakaian yang akan digunakan dan Lise menata rmbut miliknya.


" Good morning lady..." sapa ketiganya.


" Good morning..." balas Ar.


Ketiganya terkejut karena Ar telah bangun dan saat ini sedang membaca buku didekat jendela.

__ADS_1


Ar meminta tolong pada mereka untuk membantunya menyiapkan air mandi karena ia tak begitu tahu menahu soal tersebut.


Ketiganya yang telah dibagi tugasnya langsung dengan sigap melakukan sesuai bidang masing-masing.


__ADS_2