
Sepulang dari greja Ar berjalan pulang bersama teman-tamannya, mereka berpisah tepat di pintu gerbang yang terbuat dari kayu-kayu yang hanya ditancapkan pada tanah dan menjadi tanaman hidup.
Ia berdiri cukup lama. Menajamkan pendengaran agar dapat mengetahui keberadaan papa sertap]] kakak pertamanya yang saangat ia hindari.
" Dek buat apa disitu? Ayo masuk..." ajak Mariana, istri Ardan.
" Nggak kak, Ar ke sebelah aja ya..." kata Ar, ia mendengar suara Ardan di ruang tengah yang artinya baik ia melewati pintu depan atau pintu belakan akan bertemu dengan Ardan.
Ar melempar dirinya keatas kasur yang milik Intan, mamanya Andi. Dari jendela kamar yang letaknya di lantai 2, Ar bisa melihat mamanya sedang berada didapur memasak makan siang untuknya.
Diambilnya handpone diatas nakas, dicari kontak Harna.
" Halo kak, eemm, aku bisa pulang duluan?"
"..."
" Aku lupa kalau ada tugas yang belum kukerjakan..."
"..."
" Kan kalau bareng kakak sampainya pagi, mana sempat aku kerjanya..."
"..."
" Sama mang Dadang kak, kakak bisa minta Harun dan yang lain tolong bawa barangku ke mobil?"
"..."
" Sudah diberesin tinggal dibawa ke mobil kak..."
"..."
" Iya, rencananya tadi pagi mau langsung pulang tapi udah janjian sama teman ke greja bareng..."
"..."
__ADS_1
" Gak usah kak, Ar juga mau langsung jalan nanti keburu sampe sana malam, gak sempat kerja..."
"..."
"Iya, kak aku gak sempat, tolong ya kak, hehehe..."
Setelah percakapannya selesai dengan sang kakak, ia berniat mandi dan bersiap berangkat, pakaiannya sudah ia siapkan tadi malam sehingga ia tak perlu ke rumah sebelah.
***
Baru separuh perjalanan, ia sempat singgah dirumah Rian untuk numpang makan katanya.
" Dek, gimana sekolah kamu?" tanya Rian disela makan siang mereka.
" Kakak akan terkejut jika kakak tau..." ucap Ar sengaja memanas-manasi Rian. Ia sangat tau bahwa kakaknya yang satu itu sangat kepo dengan dirinya.
" Ayolah..." bujuk Rian, sedangkan Fitri, istrinya hanya tersenyum melihat interaksi suami dan adik iparnya itu.
" Kak, kakak hamil?" tanya Ar pada Fitri sontak membuat Rian maupun Fitri kaget dan heran, pasalnya sudah 5 tahun mereka menikah mereka belum dikaruniai seorang bayi yang menjadi pengerat hubungan keduanya.
" Gak mungkin dek, jangan bercanda yang kayak gitu..."
" Kakak pikir aku buat nyawa jadi bercanda, kakak gak liat kak Fitri jadi tambah beda, kalau kakak gak percaya kakak minta tolong mang dadang beli tu alat yang tes kehamilan pake air kencing supaya kakak percaya..." ujar Ar panjang lebar.
Fitri yang sejak tadi melamun, ia memang sudah telat datang bulan hampir dua minggu, padahal biasanya hanya telat paling lama 3 atau 4 hari dari perkiraan.
" Mas..." Panggil Fitri sambil menggenggam jemari Rian dengan cukup kiat.
Rian yang sadar akan itu, bangun dari kursinya namun terhenti oleh suara Ar. " Makan dulu kak, nanggung, lagian kakak udah beli kan dari bulan lalu hanya belum dipake itu alat tes kehamilannya, namanya Jonathan ya kak..."
Rian dibuat heran dengan Ar yang ceplas ceplos ini. Tak mau ambil pusing ia menyuap nasi dan lauk makan siangnya dengan sendok yang penuh sedangkan Fitri memakan seperti bisa.
Ar disuruh menunggu saat Fitri menggunakan alat itu, dengan disuguhkan jajanan keripik, ia menerimanya saja, meski tak bisa merasakan enak atau tidaknya, Ar senang dengan bunyi saat ia menggigit peripik kemasan itu. Sedangkan Rian duduk menunggu dengan gelisah.
Fitri datang dengan raut wajah yang tak bisa ditebak. Ia berjalan mendekat dan memeluk Ar sambil menodongkan alat tes yang berbentuk seperti pensil itu.
__ADS_1
" Kakak pasti akan memberi nama Jonathan seperti keinginanmu..." ucap Fitri terharu.
Muka Rian memerah, ia menahan air mata dikala senang bercampur haru. Masih ingat dengan jelas yang dikatakan dokter saat mereka melakukan cek up untuk program hamil mereka. 'Sulit bagi anda berdua untuk hamil karena kondisi fisik dari ibu Fitri...'
" Kalau gitu Ar pamit ya, Ar hanya singgah karena kemarin Ar ketiduran pas pergi ke rumah jadi gak ikut turun, sekalian makan, kasian mang Dadang lapar..." ujar Ar seraya bangkit dari duduknya.
" Dek kalau ponakan kamu cewe gimana?" Tanya Rian.
" Kakak kaya gak punya otak, kan Jonatan bisa diselipin jadi nama tengahnya, aku aja nama laki-laki, lagi pula ia pasti laki-laki kok..." ujar Ar.
" Uang jajan kamu masih ada?" tanya Rian.
" Burwkku gak pernah kering kak..."
" Apa burek dek?" tanya Rian.
" Buku Rekening, lagian kalau kakak mau ngasih uang jajan juga kan tiap bulan kakak kasih aku gaji, kan bisa kakak naikan gajiku, 10% naik perminggu juga aku tau kok, kalau kakak mau buat aku terkejut kan kakak bisa naikin 2 kali lipat dari yang biasa, gak perlu naik tiap minggu, aku takut kakak rugi..." ceplos Ar.
Mendengar kata ia akan rugi membuat harga dirinya tercontreng. Ia menjadi yang terkaya setelah Harna diantara saudaranya, Harna pun kaya karena suaminya memang kaya sedangkan dirinya karena usahanya sendiri dan otak jeniusnya itu. " Jangankan 10% kakak bisa naikan uang jajan kamu 10 kali lipat..." ucap Rian menggebu-gebu.
Ar mendekati Rian, Rian yang taunya Ar ingin pamit memberikan tangannya untuk disalim, ternyata Ar malah menjabat tangannya dan berseru deal.
Rian menepuk jidat dan Fitri tertawa kencang, sejak tadi ia hanya diam dan menonton saja.
" Dek..." panggil Rian lirih seakan ia menderita.
Ar yang tau bahwa ini akan terjadi akhirnya mengambil handpone dari dalam sakunya dan memutar ucapan menggebu-gebu Rian.
" Hayo yang mau jadi ayah, gak baik narik ucapan sendiri loh..." ejek Ar.
" Oke, itu mah kecil..." ucap Rian meremehkan.
" Kak Mpit, Ar pergi dulu, jaga Jonathan ya kak, kalau kakak ngidam tapi gak dikasih sama kak Rian, kakak bisa nendang pantat kak Rian..." ucap Ar yang mencium pipi Fitri dan bergegas pergi sebelum Rian mengamuk dengan ajaran Ar tadi.
" ADEK..." teriak Rian kesal saat Ar sudah berada di depan mobil.
__ADS_1
Sejak