
" Bunny mau ikut papi sama om ini ke kantor papi disini tidak?" tanya Hendri saat mereka sedang sarapan.
" Boleh?" tanya Ar balik.
" Boleh, disana bisa sekalian kamu jalan-jalan, Ema temani ya, nanti papi minta anaknya om ini ngajak kamu keliling kota..." kata Hendri sambil menunjuk Nicolas.
Nicolas dengan tidak tau malunya menginap di mansion yang ia berikan pada Ar dengan alasan ingin melakukan perpisahan dengan mansion kesayangannya itu.
" Om Nick tidak keberatan?" tanya Ar.
" Tidak, om malah mau dia dekat dengan kamu biar bisa ketularan jenius dikit..." jawab Nicolas.
Setelah itu sarapan pagi mereka kembali diam karena semuanya fokus pada makanan masing-masing.
Selesai sarapan Ar kembali kekamarnya untuk mengganti pakaian bepergian dengan jaket tebal, penutup telinga berbulu untuk menghangatkan kuping tipisnya yang telah disumbat earpone, sarung tangan yang senada dengan warna jaket, kacamata yang ia lupakan tadi sudah ia gunakan sekarang dan sepatu juga dilapisi kaos kaki karena ia mengenakan rok.
Ar siap berangkat.
***
Ar sangat asing dengan lingkungan ini. Lingkungan dengan pucuk kepala yang bukan hitam pekat seperti yang selama ini berada dipandangan Ar, tentu di salah satu benua biru ini warna rambut hitam pekat tak banyak ditemukan, atau iris mata coklat cerah dan biru menjadi mayoritas disini.
Ar, Ema, dan Erika menusuri jalanan kota London dengan kaki yang ditapak pada tanahnya. Pagi tadi sebuah kamera keluaran terbaru yang tak kalah bagus dari yang diberikan Rian padanya, diberikan Hendri.
Hendri tau Ar lumayan suka memotret, ia juga tau kalau kamera milik Ar sengaja ditinggalkan untuk sang ponakan tersayangnya. Dengan inisiatifnya sendiri ia memberikan kamera tersebut.
Kamera yang diberikan sang papi tidak akan dianggurkan. Sepanjang jalan Ar memotret sesuatu yang dianggapnya perlu dijepret agar bisa dipamerkan pada keponakannya itu.
Akhirnya Erika mengajak mereka untuk masuk ke dalam kafe langganannya. Erika sendiri adalah seorang anak yang dibiayai oleh Hendri untuk bersekolah dan kini ia kembali mengabdi dan menjadi salah satu orang kepercayaan Hendri sendiri. Erika ditugaskan Hendri untuk memandu Ar selama Hendri sibuk.
" Nona, telepon nona berdering..." kata Ema, Ar memang menitipkan handponenya pada Ema saat sarapan tadi.
Ar menerima telepon tersebut, nama Lynden tertera disana. Ia menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan. "...Hallo..."
" Kamu di Eropa bagian mana?" tanya Lynden dari seberang sana.
" Di London, kenapa?" tanya Ar.
" Aku orang Eropa kalau kamu lupa..." kata Lynden. Lynden memang siswa transfer, orang tua Lynden satunya orang Amerika dan satunya orang Eropa membuatnya menjadi terkenal karena seorang bule tulen yang tinggal di Indonesia untuk perusahan cabang keluarga yang berkembang di negara kepulauan itu.
" So?" tanya Ar.
" Aku ingin pulang kampung, mungkin aja deketan, bisa sekalian kamu mampir kerumah kan?" jelas Lynden dengan sabar memberi perhatian.
" Oh kirain, ya aku di London, mungkin 3 harian disini trus mau kemana lagi aku lupa..."
__ADS_1
" Minggu depan mungkin aku kesana..." kata Lynden membuat Ar bingung.
" Oh gitu, ya udah, aku mau sarapan dulu..."
" Ok..."
tut tut tut.
Ar memutuskan panggilan telepon secara sepihak dengan Lynden. Karena sedang menggenggam handpone ia berpikir sekalian saja ia menelpon para keponakannya yang tengah malam tadi menelponnya.
Ia mencari kontak salah satu keponakannya, Win Paling Imut ditelponnya.
" Bi, alihin ke panggilan video..." suara Win.
Ar menurut, tak lama wajah mereka dari seberang sana membuat Ar tersenyum karena terlihat sekali mereka kelimanya berkumpul didepan layar handpone Win membuat tampilan kepala mereka saja yang kelihatan.
" Jauhin dikit biar bibi bisa liat kalian semua, ini muka Win sama Harun aja yang kelihatan..." Ucap Ar.
Mereka menurut, terlihat mereka mendudukan handpone tersebut ke suatu tempat agar tak berdesakan seperti tadi, kemudian mereka duduk sedikit memundurkan badannya.
" Bibi dibawa opa kemana?" Win.
" Inggris..."
" Wih, Tian juga pengen kesana..." ujar Tian dengan mata berbinar.
" Bi liatin kota di Inggris buat kita dong..." kata Tan yang baru saja ikut masuk ke jangkawan kamera karena sejak tadi ia berada di belakang kamera saja.
Ar menekan tombol kamera pada layar handponenya sehingga menggunakan kamera belakang, Ar kemudian berjalan keluar.
Ema dan Erika langsung dengan sigapnya bangun dari duduk, satu dari mereka menyimpan uang di bawah gelas minuman sedangkan satunya mengambil kamera yang Ar letakan diatas meja.
Ar video call sambil berjalan, ia benar-benar memperlihatkan kota London kepadanya sejam lebih.
Ar bisa mendengarkan mereka dari seberang sana dipanggil namun tak ada sahutan balasan, mungkin mereka terlalu asik dengan cerita Ar, mulai dari cerita dongeng, kisah sejarah Indonesia, pelajaran-pelajaran, bahkan imajinasinya seperti pengen jadi putri duyung pun ada.
" Kalian mama panggilin... Loh dek, ternyata lagi video call sama kamu? Pantesan gak dibales, ayo sana bantu oma kalian dibelakan, gantian mama yang mau cerita sama bibi kalian..." ucap Harna membuat mereka mengerut kesal pada mama mereka ini.
" Gimana kamu disana? Enak disana... Udah ada salju belom?" tanya Harna antusias, Ar tau bahwa kakaknya itu ingin melihat salju secara langsung, namun belum kesampaian karena Harna tak pernah keluar Asia Tenggara yang memang tak memiliki selimut putih dingin pada masanya itu.
" Belom kak, perkiraannya beaok bakal turun salju pertama trus lusa ada badai dikit..." jelas Ar yang melihat berita tadi pagi.
" Gitu ya, yaudah kakak mau lanjut bantuin mama dilebun belakang..."
" Iya kak, bilangin sama anak-anak kalau telpon aku pas makan siang aja sa, kalau mereka telepon pagi pas bangun tidur itu aku baru mau tidur kak..." minta Ar.
__ADS_1
" Iya, ya udah kalau gitu, baik-naik dan jangan nakal disana..." nasehat Harna dibarengi candaan.
" Kakak pikir aku anak kecil yang nakal gitu, Ck, ya udah..." kesal Ar ia menutup panggilan secara sepihak.
Melanjutkan jalan-jalannya yang tertunda. Hari ini seharian penuh ia hanya jalan-jalan, Hendri sempat menelponnya saat jam makan siang tapi ia memutuskan untuk makan siang bersama Ema dan Erika.
Mereka mengobrol cukup seru apalagi Erika yang mudah bergaul dan ikut nimbung saat Ema bercanda. Ar sendiri diam mendengar, sesekali tersencum saat candaan Ema dan Erika dianggap lucu.
Ia cukup senang dengan dua orang ini yang mau menyesuaikan diri dengannya yang dia sendiri menganggap bahwa ia aneh.
Mereka kembali ke kantor milik Hendri sekitar pukul 14.35 GMT.
" Papi, pulang belum? Ar tidur di sofa ya..." ujar Ar.
" Jangan disofa ya, di kamar papi aja..." kata Hendri kemudian mengajak Ar ke kamarnya di sebelah menja kerjanya yang ternyata memiliki sebuah kasur.
Ar cukup merasa nyaman dengan kamar yang hanya berisi kasur saja tersebut. Kantuknya terasa datang tiba tiba hingga akhirnya ia terpejam damai dengan nafas teratur.
***
Ar merasa sedikit sesak saat bernafas, badannya terasa berat, ah asmanya kambuh disaat yang tidak tepat, tas selempang berisi inhaler sedang berada di sofa.
Ah, kepalanya juga terasa berat, harusnya tadi berkeliling ia menggunakan mobil saja bukan berjalan kaki.
Dengan tubuh yang tak seimbang ia mencoba menopang agar berdiri. Tidak memedulikan Hendri yang dusuk dikursinya atau Nicolas yang ada disofa berniat menjemput mereka Ar melewati keduanya, tujuan utamanya adalah tas selempang atau ia akan mati kehabisan nafas.
Menggunakan inhaler sudah biasa untuk Ar. Hendri dan Nicolas sendiri hanya mengamati saja tak berniat membantu. Ya, Hendri memberi tahu Nicolas kalau Ar tak suka dikasihani yang juga ia tau dari Herman anaknya.
Ar berulang mengenakan inhaler hingga pernafasannya terasa tak tercekik lagi. Setelah dirasa cukup ia mengambil pil pereda nyeri untuk mengusir pening dikepalanya itu. Tanpa menggunakan air untuk menelan pil pahit itu Ar meneguk sekitar 3 butir.
" Pulang yuk, udah makan malam, kita makan di luar..." ujar papi.
" Ema sama Erika?"
" Udah pulang duluan, om Nico yang traktir jadi kita bisa makan sepuasnya..." ujar papi.
" Enak aja..."
" Kamu emang mau bangkrut ya makanya gak mau traktir kita saat disini?" papi ini.
" Ya gak juga sih tapi kamu sama bocah ini morotin aku selama disini..."
" Ck, bilang aja om pelit..." timpal Ar. Entah kenapa Nicolas membuatnya teringat Cris yang ingi terus ia jahili.
" Enak aja pelit, mansion itu kurang, saham hotel itu juga kurang, aku udah berbaik hati kamu malah ngelunjak ya..." canda Nicolas dengan wajah dibuat cemberut.
__ADS_1
" Jadi om mau bangkrut beneran?" tanya Ar.
" Eh eh jangan, maaf, iya deh om traktir selama kalian disini..." kata Nicolas pasrah, lebih baik ia pasrah dari pada bangkrut beneran. Ia tau bahwa bocah setan didepannya ini memang bisa menghancurkan perusahaannya.