Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Berkunjung


__ADS_3

" Nih resepnya Ar, kali ini kakak gak tebus ya, ini hanya obat tidur aja, kakak tau kamu masih mengonsumsi pil antidepresan tapi, mulai kurang dosisnya ya, bila perlu berhenti mengonsumsi pil tersebut..." kata Fanessa. " Kakak permisi dulu ya, bapak bisa ikut ke ruangan saya..."


Di ruangan Fanessa


"Untuk bapak, disarankan untuk tidak memojokan pasien atau membuat pasien stres yang berujung depresi ya, sepertinya beberapa waktu lalu pasien mengingat kembali kenangan yang membuat pasien trauma sehingga pasien kembali mengonsumsi pil antidepresan..."


" Usahakan agar pasien selalu dalam emosi yang stabil..."


" Baik, terima kasih..." ucap Herman.


" Pak..." panggil Fanessa saat Herman beranjak.


" Saya cukup tau banyak tentang adik ipar bapak, saya tau ini lancang tapi adik ipar bapak sepertinya lebih terbuka dengan teman saya, jika bapak ingin tau tentang kesehatan adik ipar bapak secara menyeluruh, bapak bisa mengontak nomor tersebut..." ucap Fanessa seraya memberikan sebuah kartu nama dan pergi.


***


" Kakak lama sekali, apa yang masih kakak bicarakan dengan kak Echa?" tanya Ar. Mereka sedang menuju jalan pulang tapi karena jam sudah menunjukan pukul 13.17 akhirnya mereka duduk di sebuah ruang VVIP sebuah restoran.


" Dek, kakak tidak memintamu jujur pada kakak, tapi bisakah kau menceritakan sedikit bebanmu pada kakak, meski tak semua..." ucap Herman sedikit ragu.


" Maksud kakak?" tanya Ar balik, ia hanya ingin memastikan apakah yang dimaksud kakak iparnya itu sama dengan yang ia artikan dari pernyataan tadi.


" Kakak dengar dari dokter tadi, kamu sering curhat pada temannya, kakak tau ini masalah pribadimu tapi bisakan kamu sedikit terbuka pada keluargamu sendiri dari pada orang luar..." sara Herman.


" Emm, aku tak begitu nyaman dengan keluargaku sendiri..." jawab Ar.


" Lalu kakak harus bagaimana agar kamu bisa berbagi sedikit masalah dengan Harna mungkin atau Ronald, Andi?" tanya Herman.


" Tidak, kakak tak perlu berbuat bagaimana-bagaimana, tentang diriku, tanpa kakak membenahi diri kakak, kakak sudah menyimpan sebagian permasalahanku?" jawab Ar.


Herman bingung... " Tentang anak kandung..." kata Ar lagi saat melihat raut wajah Herman.


***


Ar mengambil tempat di paling belakang, dengan membawa sebuah bantal dari kamar tamu ia mengatur tempat duduknya senyaman mungkin agar bisa tidur tanpa bangun dengan badan pegal.


Saat memulai perjalanan, Ar meneguk obat tidur yang diberikan Fanessa tadi, ia benar-benar lelah namun tubuhnya tak bisa diajak kerja sama untuk mengistirahatkan raganya. Akhirnya obat tidurlah yang bertindak.


Mobil hening karena semua penghuninya tidur. Yap, sekarang adalah jam tidur siang anak-anak ditambah lagi dengan ruang gerak yang tebatas membuat mereka bosan dan memilih tidur.


Sampai di rumah Rian Hanya Harna dan Herman saja yang singgah. Wajib singgah karena jika Rian tau mereka pulang ke rumah orang tua mereka dan tak singgah dirumahnya maka ia akan memalak mereka jika pulang nanti.


Memulai perjalanan saat hari masih terang yaitu pukul 14.03 atau masih jam 2 siang mereka sampai setengah 8 malam.

__ADS_1


Ar yang enggan untuk makan disogok gitar yang memang sengaja Harna beli untuknya membuat ia terpaksa ikut makan malam walau perutnya mual menolak diisi.


Selesai makan, mereka mengambil tas masing-masing di mobil yang satunya. Mereka berangkat dengan 2 mobil, mobil keluarga yang memuat mereka semua dikendarai oleh herman dan diikuti dengan mobil yang dibawa mang Dadang berisi perlengkapan seperti beberapa potong baju, snak, permainan milih 4 bocil dan juga sogokan Ar yaitu gitar yang Harna diam-diam siapkan untuknya.


" Mama, kasur cadangan kita ada di gudang atau dirumahnya kak Andi?" tanya Ar.


" Jangan macam-macam, katanya malam ini hujan..." peringattan mamanya saat tau apa yang direncanakan anak bungsunya.


" Yaudah deh, yuk dek kita tidur di rumah sebelah aja..." ajak Ar pada keempat keponakannya. Mereka berempat langsung berlari menuju kamar Ar, mengacak isi tas yang telah dirapikan mama mereka untuk mencari piyama. Berebutan kamar mandi kamar Ar akan digunakan oleh siapa duluan.


" Bibi yang pakai kamar nandi ini..." kata Ar yang berjalan masuk.


" Yah bibi..." protes keempatnya.


" Eh eh, bibi tuan kamar ya, tuh masih banyak kamar mandi lain, kalian pikir kamar mandi bibi apaan, kamar mandi umum, bayar 50 ribu kalau gitu sekali mandi..." oceh Ar saat melihat wajah protes keempat keponakannya.


" Kok bibi cerewet banget kayak mama lagi ngomel..." celut Win dan dibalas anggukan oleh ketiga lainnya.


" Kalian mau bibi beneran jadi mama kalian?" tanya Ar pada keempat ponakannya itu. " Hei Pranata Brother kalian mau mama potong uang jajan kalian..." ucap Ar berlagak seperti kakak perempuannya.


" Oh gitu ya kalian..." ucap suara merdu sang kakak yang ia peragakan sekarang ini.


" Hehehe ampun kak, mereka yang minta..." ucap Ar kemudian secepat kilat masuk kekamar mandi. Ia paling bisa melimpahkan salahnya pada keempat keponakannya yang lugu itu ( lucu dan dungu ) maksud Ar. Beginilah ia kalau berada dirumah.


Selesai mandi Ar bersama keempat keponakannya pergi ke rumah Andi yang tepat berada di sebelah rumah mereka. Tak lupa ia mengambil gitar yang dimaksud Harna tadi dengan i-pad dan earpone. Ia yang sekarang mencoba untuk tidak bergantung pada obat-obatan dan berniat memperkuat fisik dengan olaraga ringan sehingga ia hanya membawa pil yang membantunya tidur dan bukan seperangkan tas berisi obat-obatan.


" Tau lah, apa sih yang bibi gak tau, gebetan kamu aja bibi tau..." balas Ar tepat sasaran.


" Bibi tau dari mana?" tanya Vian takut-takut.


" Rahasia bisnis..." ucap Ar sombong. Padahal ia saat Vian bergumam membaca ulang surat cinta yang ia tulis untuk gebetannya.


Malam semakin larut tapi mereka tak berhenti berceloteh, yang mereka tau, bangun terlambat esok pagi tak masalah karena mereka sudah ijin dan sedang berada di luar kota.


***


Cahaya menerobos masuk melalui sela-sela gorden ruang tamu yang menjadi tempat tidur keempat bocah Pranata bersama bibi mereka.


Mungkin karena capek perjalanan dan begadang tak ada tanda tanda kelima orang ini untuk bangun meski jam sudah menunjukan pukul 07.41.


" Dek, udah pagi, bangun ya..." panggil Harna sambil mengguncang pelan tubuh Ar yang .asih terlelap dibawa selimut tebal.


" eeng..." Ar bangun dengan mengucak mata pelan, mencari ikat rambut yang biasa ia lepas saat tidur.

__ADS_1


" Nih, tolong bangunin yang lain ya, udah lewat sarapan kalian..." ucap Harna.


" Kak, kacamata Ar dimana?" tanya Ar sambil mengikat asal tabut panjangnya itu, ia ingat ia menyimpannya di sisi Harna duduk sekarang, kalau Harna menindihnya serarti selamat tinggallah kacamata yang baru seminggu dibeli.


" Kakak pindahin, nih..." Harna memberikan kacamata Ar.


" Makasih kak..."


" Tolong bangunin mereka ya, papa bilang setelah sarapan ajak yang lain ke sawah..."


" Ar mau keluar sebentar, mungkin siang baru pulang..."


" Ya udah nanti bilang ke Harun ya, kakak tinggal ya..."


Selepas Harna pergi, Ar membangunkan keempatnya, bersama-sama mereka membereskan kasur yang mereka gunakan dipindahkan kembali ke kamar.


Kembali kerumah sebelah, mereka mandi di masing-masing kamar dan sarapan. Herman yang memang menunggu mereka barulah kesawah saat mereka selesai sarapan, sedangkan Ar, ia kembali ke kamar, mengambil tas selempang dan pergi setelah berpamitan pada Harna dan mamanya dikebun belakang



Entah sejak kapan Ar mulai memikirkan penampilannya saat keluar rumah, mungkin keracunan sifat ribetnya Harna yang selalu mempermasalahkan style saat bepergian dan banyaknya pakaian yang Harna belikan untuk dirinya, dari pada disimpan mending ia gunakan.


Hari ini, ia memantapkan hatinya untuk mengunjungi sahabat sekaligus penyelamat hidupnya satu setengah tahun yang lalu.


Ah, entah kenapa, saat memasuki jalan setapak menuju tempat peristirahatan terakhir sang sahabat serasa kakinya berat seperti ditimpa timah.


Ar berhenti di sebuah makam berkramik putih dengan nisan berwarna hitam. Dipandangnya ukiran bertinta emas bertuliskan nama Maria Melania.


Jantung Ar berpacu semakin keras sampai ia merasa nyeri di dada kirinya. Tak terasa cairan bening tanpa sadar lolos dari mata indahnya.


Ia berjalan menuju kepala makam, melihat bekas lilin dan rumput yang dengan loar tumbuh, ia berjongkok dan mengambil lilin serta pemantik, ia membakar lilin dan berdoa.


Amin. Kata itu bersamaan dengan ia membuka matanya, ada perasaan lega ia rasa setelah memberikan doa dan mengharapkan ketwnangan sahabatnya itu.


" Kau tau Lin, aku ingin memotong rambutku, tak banyak tapi aku ingin membemberitahumu saja dan jangan marah ya aku baru kesini, aku takut kau menyalahkanku atas apa yang terjadi pada kita satu setengah tahun yang lalu..." monolog Ar.


" Baru-baru ini aku mencoba bermain piano, kau tau, seperti katamu aku memang berbakat dalam bidang kesenian, nilai-nilaiku juga bagus meski aku sekolah di sekolah elit yang katanya banyak kumpulan anak-anak pintar..." sambungnya.


" Aku mendapat nilai tertinggi di seangkatan dan aku memiliki beberapa teman. Kau tau aku sebwnarnya takut dekat dengan teman-temanku sekarang tapi, mereka seperti entahlah, aku tak tau harus mendeskripsikan mereka seperti apa, yang pasti aku cukup senang bersama mereka..."


" Oh iya, aku masuk kelas Bahasa, aku mengadopsi 3 anak anjing..."


Ar bercerita panjang lebar didepan makan sahabatnya. Bercerita sambil tangannya mencabut rumput liar yang mulai menjalar naik ke atas kramik putih.

__ADS_1


Ia baru pulang saat melihat anak-anak berseragam putih biru sedang berjalan berlawanan arah dengan sekolah berarti sekarang sudah jam setengah 1 siang.


Untungnya jarak tempat pemakaman dan rumahnya tak terlalu jauh untuk ditempuh saat berjalan kaki dan masih banyak pohon rindang disepanjang pinggiran jalan sehingga ia tak merasakan panasnya matahari secara langsung.


__ADS_2