Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Pulang


__ADS_3

Dengan berat hati Merry melepas Ar beserta rombongannya kembali ke tanah air tercinta dengan diantar sang suami.


Ya, Merry istri dari Nicolas Flatea, seorang pengusaha dan pembisnis sukses di Eropa dan Amerika ini dulunya adalah sahabat suaminya sendiri dan Hendri. Ketiganya bertemu saat kuliah dan berakhir Marry bekerja menjadi salah satu orang kepercayaan perusahaan dan setelah menikah ia menjadi sekertaris sang suami.


Saat ini ialah yang harus mengambil alih perusahaan saat suaminya mengatar sahabat mereka pulang.


Ia cukup sedih berpisah dengan Ar, apalagi ia belum punya anak bersama suami sehingga menganggap Ar sebagai anaknya itu. Memang selama liburan Ar, ia juga sempat menemani tour Ar selama beberapa hari saat dirinya tak sibuk dan ia menyukai kepribadian Ar tersebut yang sangat hangat dan imutnya minta ampun.


Ia sempat terseduh-seduh saat mereka dibandara tadi tetapi Ar mampu menenangkannya dengan berjanji jika liburan nanti ia akan datang lagi atau jika Merry ada waktu, ia akan liburan ke Indoneaia dan bisa bertemu Ar.


***


Perjalanan melelahkan selama 16 jam ditempuh oleh Ar dan rombongan yang terdiei dari Hendri, Ema, Bruno, Nicolas, dan Justin asisten pribadi Nicolas yang selalu menemai Nicolas kemanapun ia pergi.


Mereka dijemput oleh Indah yang tak bisa menyusul ke Eropa sesuai rencana karena kakak laki-lakinya menitipkan perusahaannya kepada Indah selama libuaran ini.


Tak bisa menolak bantahan sang kakak, Indah pasrah, Herman yang kasihan dengan adiknya itu menjanjikan akan memberi cuti sebulan penuh kepadanya nanti setelah liburan mereka.


Indah sendiri bekerja sebagai salah satu sekertaris Herman, ya Herman memang membutuhkan setidaknya 3 sekertaris yaitu Harna istrinya sendiri yang menghandel Yayasan, Indah yang berada dibawah Harna menjadi kepala sekolah, dan Lino sekertarisnya di perusahan yang baru ia bangun sekitar 5 tahun dengan uangnya sendiri.


Indah menunggu mereka dengan beberapa mobil, tak ingin durhaka karena menolak permintaan orang tua meski sibuk, Indah menunggu pemilik Yayasan tempat ia bekerja alias sang papa yang menelponnya kemarin memberi kabar akan pulang.


***


" Kak Indah..." Ar berlari kegirangan melihat Indah yang berdiri tak jauh dari mereka.

__ADS_1


" Hai donat, Happy Christmas, enak banget jalan-jalan...." kata Inda sambil memeluk Ar sambil mengangkatnya jadinya ia menggendong Ar sambil berpelukan sekarang.


" Kakak jangan manggil Ar aneh-aneh, nama Ar udah terlalu banyak..." kata Ar sambil menaruh kepalanya di cekungan leher Indah. Indah menggendongnya ala koala, kaki Ar melingkat di pinggang Indah dan tangannya mengalungi leher Indah bersamaan dengan kepalanya yang sangat nyaman di cerukan lehernya.


" Emang nama kamu apa aja?" tanya Indah sedikit penasaran.


" Banyak kak Yana, Ian, Yan, Lin, Ar, Bunny, Swetty, My Heart, Prinses, Bocah, Cebol, Pendek, Mochi, masih banyak kak Ar lupa..." cerocos Ar, kalau bersama Indah ia akan sangat cerewet berbeda dengan saat bersama Harna.


Yang lain tak ambil pusing dengan keduanya yang seperti sekarang ini, para bodyguard yang membawa mobil terswbut membawa barang bawaan mereka semua ke ruma Hendri di ibu kota ini.


Berjalan keluar dari lobby bandara Indah mendengar dengkiran halus serta nafas teratur Ar, ya Ar telah tertidur dalam dekapan Indah.


Tak mau membangunkan Ar, ia meminta tolong salah seorang bodyguard untuk menurunkan sandaran kirsi agar ia dapat berbaring dan membuat Ar lebih nyaman tertidur.


" Kamu siapa?" tanya Indah pada Ema.


" Saya Ema non, non Ardian milih saya jadi asistennya..." jawab Ema sopan.


" Pendidikan kamu, umur, keluarga, pengalaman?" tanya Indah menyelidik, ia tak mau adik kesayangannya itu dibohongi oleh orang.


" Saya sedang menyusun tugas akhir S1 saya nona, saya sekolah lebih awal dan ingin menyelesikan studi saya lebih awal, umur saya 20 tahun tanggal 4 januari nanti nona, swbelum berangkat ke Eropa bersama nona Ardian saya baru saja diuair dari rumah, saya waktu kelas 3 SMP sampai kelas 2 SMA pernah kerja di cafe, dan kelas 3 hingga kuliah saya jadi guru privat adik-adik teman saya..." jawab Ema sopan.


" Sebenarnya saya gak terima Ar tiba-tiba milih seseorang jasi asisten pribadinya, saya sendiri telah memilih dan menyeleksi sendiri calon asisten pribadi Ar, jadi kamu bisa kembali bekerja di perusahaan, saya tetap akan menghargai keputusan Ar jika ia memilih kamu, meskipun begitu kamu tetap harus dalam pantauan saya..." kata Harna tajam.


Justin hanya diam saja karena ia memang mengerti bahasa Indonesia tetapi tak terlalu paham dengan apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Di mobil lain, kedua pria dewasa ini tak bosan-bosannya membahas bisnis dan bisnis.


***


Ar merenggangkan ototnya yang kaku sehabis tidur nyenyak. Masih terlalu pagi, pukul 3 dini hari. Ia lapar, ia tertidur sejak sore hari setibanya di bandara dan dipesawat tadi ia tak makan banyak.


Menuruni tangga menuju dapur, ia ingin memakan roti panggang dengan susu panas. Selama hampir 3 minggu tak menginjakkan kaki di dapur karena di Eropa ia diperlakukan bak seorang pitri akhirnya pagi ini ia bisa memasuki dapur.


Dibukanya kulkas, mengambil 2 butir telur dan beberapa sosis. Berpindah ke lemari penyimpanan mencari keberadaan roti namun yang ia dapatkan adalah stoples berisi susu bubuk.


Ia menarik kursi di dekat sana, ia belum memeriksa rak paling atas dan ia membutuhkan kurai karena ta sampai. Melihat ada roti disana namun tak kesampaian, ia harus berjinjit namun kakinya tiba-tiba keram hingga tak sadar tubuhnya telah oleng dan...


Ar merasa empuk padahal harusnya sakit. Dibukanya mata yang terpejam, astaga, Justin dan Bruno sedang menahannya dari sisi kanan dan kirinya.


" Are you okey?" tanya Justin dengan tampang kawatir sedangkan Bruno yang dinginnya minta ampun diam saja, mengambil alih tubuh Ar kemudian membawanya dan mendudukannya diatas kurai dapur.


" Nona tolong duduk biar saya yang buatkan nona sarapan..." kata Bruno.


" Aku ingin makan roti dengan telur ceplok, dan sosis goreng..." ucap Ar pelan, ia takut jika Bruno marah padanya.


" Iya, nona harusnya lebih berhati-hati atau bisa panggil kami untuk membantu..." kata Bruno sambil menepuk satukali kepala Ar pelan pertanda ia tak marah.


" Maaf..."


" Iya..."

__ADS_1


__ADS_2