Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Berita


__ADS_3

Mereka kembali ke kamar masing-masing karena waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Hari ini Ar mencoba tidur lebih awal, ya ia tau bahwa ia akan sulit tidur tanpa obat tidur tapi beberapa hari ini atas saran dari Satrio ia mencoba untuk menghentikan konsumsi obat secara berkala dan memulai pengobatan dengan tanpa pil-pil yang memenuhi tasnya meski sulit.


Tanpa sadar hampir tengah malam ia tertidur pulas.


***


" ... Dek...dek...." Harna membangunkan Ar dengan menggoyangkan tubuhnya perlahan.


" Enghh...hm hm..." dengung Ar tah jelas. Ia sedang meringkuk di karpet di tempat tidur para baby dogs.


Anisha masuk dengan 3 botol susu untuk ketiga baby, ya, seperti biasa para baby harus meminum susu setiap pukul 5 pagi, 9 pagi, 12 siang, 4 sore, pukul 8 malam dan 10 malam.


" Nis, Ar-nya gak usah dibangunin ya, biarin aja dia tidur..." pesan Harna pada Anisa sembari mengangkat Ar ke kasur kemudian ia pergi.


*


Merenggangkan tubuh sehabis bangun, ia baru sadar bahwa ia sedang tertidur di kasur empuk. Ia melihat sekeliling, ok Anisa mungkin sudah belum datang, eh tapi udah agak terang ya di luar... Ia berjalan menuju jendela, membuka tirai dan oh menyilau, buru-buru ia melihat jam di meja belajarnya astaga 15 menit lagi pukul 7 dan dia baru bangun.


Ia bisa mendengar suara kak Andi yang sudah datang, dengan tergesa-gesa ia menuju walk in close, oh untunglah kak Anisa telah menyiapkan pakaian untuknya, mandi, ia harus mandi tapi tergesa-gesa membuat kepalanya menjadi sakit apalagi ia tak mengenakan kacamata, pandangannya yang buram akan tambah buram.


Mandi dengan cepat, berganti pakaian seragam, memasukan i-pad kedalam tas, untungnya buku pelajaran telah disiapkannya sejak malam.


Ia bisa mendengar suara mobil yang meninggalkan rumah artinya ia mungkin akan diantar sopir ke sekolah. Ya tergesa-gesa akan membuatnyamelupakan beberapa hal.


Ia turun keruang makan, masih ada Harna di sana, Harna yang tau bahwa Ar di saat seperti ini akan berangkat tanpa makan dan benar saja, Ar melewati ruang makan. " Dek, minum jus dulu..." Harna memberikan segelas jus jeruk pada Ar, Ar meminum dalam beberapa teguk besar. " Makanlah ini, kakak akan meminta Anisa untuk menyiapkan makan siangmu...."


" Iya kak, aku berangkat..."


*


" Wih, tumben telat..." Tentu saja pemilik suara yang menurut Ar paling menyebalkan ini adalah Cris. Sebenarnya ia merasa bersalah dengan kejadian kemarin tetapi ia sengj menyembunyikannya dengan guranan.


"..." Ar langsung duduk tanpa memedulikan suara tersebut. Masih ada jeda waktu sebelum pelajaran dimulai membuatnya mengambil kesempatan dengan menghabiskan sarapan yang disiapkak kakak perempuannya tadi.

__ADS_1


Emm, wangi enak yang muncul membuat Ar yang tengah sarapan menjadi pusat perhatian, namun karena sikap acuhnya itu yang bahkan tidak terasa ia menghabiskkannya. " Kepsek datang..." kata Ar membuat mereka duduk kembali dengan tenang.


Mereka semua mendengar Ar dengan sangat baik, awalnya mereka menganggap ucapan Ar sebagai sebuah candaan yang dibuat Ar untuk mereka, namun entah ia memang punya indra keenam atau bagaimana, semua yang ia katakan semuanya akan terjadi.


" Selamat pagi..." kata kepsek cantik mereka yang muncul dari ambang pintu.


" Selamat pagi bu..." jawab mereka bersamaan.


" Pelajaran apa kalian?"


" Bahasa dan Aksara mandarin bu..."


" Sudah di cek gurunya?"


" Baru mau keruang guru bu, soalnya ibu Ani baru keluar..." Jelas Jeisis


" Ya udah, tunggu apa lagi kamu..." Ucap ibu Indah kemudian meninggalkan kelas tersebut.


***


 Ia menelpon Andi untuk menjemputnya dan ternyata Andi telah menunggunya sejak bel pulang berbunyi.


" Kakak udah lama nunggu?" tanya Ar pada Andi.


" Gak juga, kakak tanyain Betty tadi, dia bilang jam terakhir kosong jadi kakak datang cepet, eh datangnya pas bel pulang..." jelas Andi sambil membuka pintu mobil untuk Ar, membiarkannya masuk dan menutup kembali pintunya. Ia kemudian memutari mobil agar masuk dan duduk di kursi kemudi.


Andi menghentikan mobilnya di depan pintu utama rumah besar milik kakak sepupunya itu. " kakak gak masuk lagi ya, kakak mau ketemu dosen sebentar lagi, kakak pergi ya..." kata Andi saat Ar berniat turun. Ar mengangguk, mengecup pipi Andi kemudian turun dari mobil.


Berjalan memasuki rumah melewati ruang tengah yang ia tau kosong karena pasti para keponakannya masih tertidur pulas, dan kedua kakaknya masih di kantor. Memasuki kamar yang sudah hampir 3 bulan lebih ia tempati, ditemani 3 teman baru yang sama-sama menjadi pemilik kamar ini.


Merebahkan tubuhnya di kasur empuk nan nyaman, tadinya ia meminta anisa untuk membawa anak-anak ke bawah, ia ingin beristirahat seperti yang dikatakan teman-temannya tadi.


*

__ADS_1


Meja makan.


" Ma, bi Ar mana?" Suara Win.


" Tidur sayang, jangan diganggu ya, jangan berisik juga kalau lewat depan kamar bibi kalian..." Nasehat Harna dibalas anggukan oleh keempatnya. Ia tau bahwa anak-anaknya itu pasti sangat ingin bermain dengan bibi mereka.


" Kapan para keponakanmu datang?" Tanya Herman pada Harna,pasalnya anak dari kakak pertamanya sangan ingin bersekolah di sekolah yang menaungi papanya dulu.


" Mungkin minggu depan, katanya sih dalam bulan ini karna surat perpindahannya masih diurus sama saudara kak Ria, nanti aku coba tanya lagi ya...." Jelas Harna pada Herman.


" Beneran ma kalau kak Tan sama kak Tian mau datang kesini?" tanya vian yang memang mendengar percakapan orang tuanya itu.


" Iya sayang..."


Setelah makan mereka pindah dari ruang makan ke ruang tengah menyisahkan mbak Anin dan Harna yang membereskan meja makan.


" malam kak, mbak..." sapa Ar dengan mengenakan piama merah maron polos sambil membawa sebuah komik di tanganya.


" Malam non..."


" Malam dek, mau makan? Tunggu kakak siapin ya..." ujar Harna. Ia membuka lemari penyimpanan dan menyiapkan makanan Ar yang tadi sempat ia pisahkan.


" Makasih kak..."


***


Sarapan.


Pagi ini sarapan ditambah dengan kehadiran Ronald dan Andi yang kata Andi beras mereka sedang habis tapi sebenarnya Ronal yang malas masak dan katanya kangen masakan rumah.


Selesai sarapan mereka semua langsung berangkat karena tak mau terlambat.


Harna dan Herman ke kantor, Andi mengantar 4 keponakannya, dan Ronald mengantar Ar ke sekolah.

__ADS_1


__ADS_2