Diriku Yang Lain

Diriku Yang Lain
Kakek dan Rahasia Kelahiran Harun


__ADS_3

" Dek, handponemu terus bergetar sejak tadi, mungkin sesuatu yang penting..." kata Harna. Saat ini Harna sedang memasak di dapur bersama mbak Anin dan Ar hanya duduk disana tanpa membantu, ia sedang membaca di ipad.


" Kak, siapa yang akan datang?" tanya Ar. Saat makan tadi ia mendengar kalau ada tamu yang akan datang. sehingga kakaknya memasak cukup banyak.


" Ayahnya kak Herman sama Indah, 15 menit lagi, kamu bantuin kakak minta keponakan-keponakanmu mandi ya..." Minta Harna.


" Iya kak..."


***


Makan malam bersama keluarga Herman, hangat seperti keluarga pada umumnya tapi ada sesuatu yang aneh yang dirasakan oleh Ar.


Ia merasa Harun seperti takut pada kakeknya, Ar yang bisa mendengar detak jantung Harun saat ayahnya kak Herman bertanya tentang pendidikan anak-anak. Ar yang duduk di sebelah Harun sempat menyenggol tangan Harun dai ia merasa tang Harun yang begitu dingin.


Selesai makan mereka semua pindah dan mengobrol di ruang tengah.


" Kak, kalau kalian akan berbicara penting, aku bisa membawa yang lain bermain bersama Ad, Ri, An." kata Ar saat merasa bahwa sepertinya para orang dewasa ingin membicarakan hal penting tapi diam saja karena mereka berada di sana.


" Bawa keponakan-keponakanmu belajar..." kata Ayahnya kak Herman.


" Ayah mereka baru selesai uji..." bantah Herman.


" Belajar bukan hanya sebelum ujian saja..." kata sang Ayah.


" Papa, mereka baru selesai ujian, biarkan mereka beristirahat sebentar..." kata Indah ikut membujuk sang Ayah. Ia melihat wajah Harna yang sudah tak enak lagi.


" Papanya kak Herman, karena para keponakan saya mendapat nilaiĀ  diatas target belajar jadi kami membuat kesepakatan untuk libur seminggu belajar setelah ujian..." kata Ar, semuanya mengalihkan pandangannya ke Ar.


" Benarkah? Berapa target belajar kalian?" tanya Ayahnya Herman. Beliau adalah orang yang paling mementingkan nilai akademi para cucunya, dulu ia terapkan pada kedua anaknnya...


" Diatas 90, berdasarkan rata-rata nilai mereka, semuanya menjadi peringkat 1 disetiap angkatannya, ini berkat jadwal belajar yang telah terpola..." jelas Ar menggunakan kata-kata yang terdengar menarik bagi ayah dari kakak iparnya.


" Jadwal belajar yang telah diatur ya, karena itu Herman dan Harna menolak les tambahan sepulang sekolah..." kata Ayahnya Herman.


" Iya, em kak Herman dan kak Harna mempercayakan saya sebagai guru les mereka..." kata Ar.


" Kamu?"

__ADS_1


" Iya, saya juga ingin menyampaikan kepada ibu kepala sekolah untuk memberikan izin kepada kami untuk menggunakan Ruang kesenian lama..." Ar memanfaatkan situasi.


" Untuk apa Ruang Kesenian Lama?" tanya Si kakek galak ini lagi.


" Kami membentuk kelompok belajar..."


" Ah yang pak Frengky kirim itu, wah kelompok itu bisa saja mengikuti tour ke Jerman yang kita rencanakan beberapa waktu lalu..." sambung Indah, ia mulai memahami situasi Ar dan mencoba membantu.


Ar yang sengaja ingin mendapat pandangan yang lebih agar ia bisa membantu para keponakannya dari tekanan belajar oleh kakek mereka dengan cara memamerkan bahwa dia bergabung dan bahkan menjadi ketua dalam kelompok belajar berisi semua anak cerdas didalamnya.


" Kamu sudah menyetujui izin penggunaan ruangan tersebut?" tanya si kakek galak pada putrinya yaitu ibu kepala sekolah Indah.


" Sepertinya akan sulit papa, meski mereka memenuhi syarat untuk membuat sebuah kelompok belajar, perizinan penggunaan ruangan sekolah diluar jam kerja ti..."


" Apa yang kau katakan aku masih kepala yayasan..." akhirnya si kakek galak memakan umpan Ar dan ibu Indah.


Herman dan Harna tersenyum dan sedikit heran, bagaimana mereka berdua bisa meluluhkan hati keras si kakek tua didepan mereka ini, tapi baguslah bukan si kakek yang mengatur belajar para anak mereka.


Terakhir kali si kakek mengatur jadwal belajar dan menggunakan les, nilai anak-anak malah lebih rendah dari tak menggunakan guru les, bahkan mereka seperti tertekan saat mengikuti les.


" Sabar Herman, Ardian dikelas berapa sekarang?"


" Sekarang kelas X Bahasa I pak..."


" Panggil saya papa, sama seperti Indah panggil, kamu adiknya Harna kan?" kata si kakek.


" Iya..."


" Iya...?"


"Iya papa..."


" Nah pergilah bermain, papa percayakan nilai cucu-cucu papa kepadamu..." Kata Si kakek.


Dan kelimanya pergi. Ar, Harun, Vian, Vin, dan Win, kelimanya pergi dengan cepat sebelum si kakek galak berubah pikiran.


Di kamar Ar, terdapat beberapa boneka dengan ukuran besar. Ar menurunkannya agar mereka bisa bermain bersama, ia membiarkan para keponakannya bermain bersama para baby dog dan ia membaca sebuah buku yang belum ia selesaikan.

__ADS_1


*


Di dapur.


" Mas, aku gak suka ayah kamu membeda-bedakan Harun dengan yang lain..." ucap Harna kesal.


" Mas gak tau harus bilang apa lagi, kita gak bisa pergi ke masa lalu dan menghapus kesalahan kita...." kata Herman frustasi.


" Kita udah sepakat untuk tak membahas ini setelah menikah, kenapa ayahmu lagi-lagi mengungkitnya?" tanya Harna.


" Mas masih penasaran sama kamu dek, kamu bilang kamu memiliki anak sebelum denganku, dimana anak itu? kamu gak mungkin membunuhnya kan?" Tanya Herman.


" Mas, kita udah janji untuk tidak membahasnya..."


" Tapi kau tau mas hanya sebatas saja, tak ada maksud lain..."


" Anak itu masih hidup..." pernyataan Harna membuat sedikit kelegaan pada Herman.


" Dimana dia sekarang?"


" Mas..."


" Baiklah, kalau gitu dia laki-laki atau perempuan?" tanya Herman lagi.


" Aku tak ingin membahasnya, yang penting sekarang, aku gak ingin Harun merasa minder pada ketiga adiknya karena ia bukan anak kandungku..." kata Harna lagi, ia hampir menangis, saat pertama kali melihat Harun di hari peminangannya, Harun seperti tak mendapat kasih sayang, setelah menikah dengan Herman ia mulai merawat Harun dan mengetahui bahwa Harun sebenarnya sangat membutuhkan sosok seorang ibu.


" Harun tetap anak kita..." kata Herman kemudian memeluk Harna. Kemudian keduanya pergi dari dapur.


Apa? Harun bukan anak kandung kakak, lalu kakak juga memiliki seorang anak sebelum menikahi kak Herman? Sebenarnya ada apa dengan pernikahan kakak dan kak Herman. Ar yang sedang berada di tangga mendengar semuanya dengan jelas. Ia sedang kehausan dan ingin kedapur tapi terhenti saat melihat Harna dan Herman yang sedang berbicara di dapur.


Tak jadi ke dapur, ia kembali kekamarnya. Menidurkan dirinya di samping ketiga anak anjingnya, mencoba memejamkan matanya tapi pikirannya sedang berlarian....


*


Akhirnya ia tak bisa terpejam sedikitpun. Padahal ia sedang mengikuti program kesehatan untuk menghilangkan insomnia akutnya itu dengan cara mengosongkan pikiran saat bersiap untuk tidur agar bisa mengantuk, tapi karena percakapan Harna dan Herman membuatnya masih terjaga hingga pukul 04.39.


Bangun dari tidurnya, ia mulai membereskan buku-buku ke dalam tas sekolahnya, melihat perkiraan cuaca... cerah sehingga ia hanya memakai vest saja tanpa hoodie atau sweater, dan pergi mandi....

__ADS_1


__ADS_2